Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Serupa tapi tak sama


__ADS_3

Bayangkan bagaimana ekspresi badai saat ini ketika dia melihat sosok perempuan yang jelas sangat mirip seperti pelangi yang kini berjalan melangkah ke arah dirinya dengan langkah yang begitu pasti.


laki-laki tersebut mematung persis seperti melihat hantu untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya ketika perempuan di hadapannya tersebut memilih untuk duduk tepat di atas kursi yang ada di depannya badai langsung menyadarkan dirinya dengan cepat kemudian satu kalimat lolos dari bibirnya.


"Pelangi?." dia bicara dengan suara tercepat seolah-olah saat ini tenggorokannya ada yang menyumpal, rasa rindu yang menggebu selama berbulan-bulan seolah-olah ingin di luapkannya saat ini dan dia ingin sekali memeluk perempuan yang ada di hadapannya tersebut tanpa rasa malu namun tiba-tiba hal mengejutkan terjadi.


"Maaf, tuan?." perempuan di hadapannya bicara sembari menatap ke arah dirinya sambil menaikkan ujung alisnya.


tidak ada perbedaan antara wajah secara signifikan dan juga suara mereka sangat mirip antara satu dengan yang lainnya tapi cara bicara pelangi jelas sangat berbeda dengan perempuan yang ada di hadapannya, cara penampilannya juga berbeda jauh bahkan ada satu dua perbedaan lain di bagian wajah yang tidak dimiliki oleh pelangi termasuk tahi lalat yang ada di ujung hidung perempuan tersebut.

__ADS_1


"Anda bicara dengan saya, tuan?." Daisy kembali bertanya sembari masih menaikkan ujung alisnya.


Dia menatap laki-laki yang ada di hadapannya tersebut dengan tatapan yang begitu tajam, cukup tidak suka dengan cara laki-laki yang ada di hadapannya itu saat ini. Pertama karena dia merasa laki-laki itu terlambat datang pada pertemuan mereka, yang kedua laki-laki tersebut berani menatap dalam bola matanya dan wajahnya dan yang ketiga laki-laki itu bahkan menyebutnya dengan nama orang lain.


"kau Pelangi?, apa yang terjadi pada mu?." Dan laki-laki tersebut berusaha untuk menggerakkan telapak tangan nya, dia ingin sekali menyentuh wajah perempuan yang ada di hadapannya saat ini namun nyatanya bisa dia lihat ekspresi perempuan itu terlihat begitu dingin dan datar.


Terlalu berbeda dengan tatapan Pelangi yang selalu ketakutan, patuh dan selalu mendengarkan apa yang diucapkan nya.


"Sebenarnya saya sangat keberatan dengan kontrak kerjasama saat ini di mana tuan melakukan tiga pelanggaran sekaligus terhadap saya." Ucap Daisy dengan cepat.

__ADS_1


Badai masih berusaha untuk menetralisir detak jantungnya dan dia berusaha untuk tidak keluar dari akal waras yang saat ini karena demi apapun dia benar-benar ingin mencengkeram perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Dia berulang kali berusaha berkata perempuan itu bukan pelangi namun tidak tahu kenapa hatinya menolaknya untuk mengatakan hal tersebut karena dia tahu perempuan itu pasti Pelangi nya.


"Pak anda baik-baik saja?." Sekretaris Badai berusaha untuk mengingatkan tuannya dengan cepat, dia pikir laki-laki tersebut tidak pernah mengeluarkan ekspresinya seperti itu sebelumnya saat bertemu dengan seseorang.


"apakah kita akan melanjutkan kontrak kerjasama ini atau kita harus membatalkannya karena sifat tidak profesional yang terjadi pada anda, sir?." Dan Daisy bertanya kepada badai sembari menaikkan ujung alisnya dia memilih meraih berkas yang ada di hadapannya tersebut dan mulai menggenggam pulpen yang terletak tepat di hadapannya.


"Mari lanjutkan tanda tangan kontrak nya, maafkan aku, miss."


Badai berusaha untuk menekan akal warasnya dengan cepat kemudian dia menatap Daisy untuk beberapa waktu dan dia mencoba untuk memperhatikan gerakan tangan perempuan tersebut saat ini, dia ingin melihat dengan benar bagaimana tanda tangan dari perempuan tersebut saat ini.

__ADS_1


Laki-laki itu ingin tahu apakah perempuan itu adalah pelanginya atau memang orang asing yang kebetulan terlihat sama dengan mendiang istrinya.


__ADS_2