
**Beberapa hari kemudian**
**London**
**Inggris**.
Pranggggg.
Pecahan kaca memenuhi seluruh Kediaman di mana Pelangi berada, perempuan tersebut memundurkan langkahnya secara perlahan saat dia menyadari seseorang telah berdiri dihadapan nya sembari membawa sebilah pisau ke arah dirinya.
"Paman....?," Pelangi jelas bergetar, menatap sosok yang ada dihadapan nya dengan pandangan penuh ketakutan, dia mengenal laki-laki tersebut, sangat.
Seorang laki-laki berusia lebih dari 45 tahunan terlihat menyeringai, menatap Pelangi dengan tatapan yang begitu mengerikan.
__ADS_1
"Aku benci mengatakan ini tapi aku terpaksa mengatakan nya sebagai ucapan perpisahan" Laki-laki tersebut bicara, memajukan langkahnya secara perlahan kehadapan Pelangi, membuat perempuan tersebut seketika bergetar ketakutan, mencoba untuk melarikan diri dan membutuhkan pertolongan tapi nyatanya dia tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut.
"Saat nenek tua bangka Suzan memaksa Badai menikahi kamu aku cukup was-was jika Badai lamban laut akan mengetahui peristiwa lama tentang kematian orang tuannya, pada masa itu aku cukup khawatir, berusaha untuk terus membisikkan Badai pada cerita-cerita yang bisa membuat seluruh isi kepalanya terkontaminasi dan terpengaruh pada kisah mengerikan yang aku ciptakan untuk keluarga angkasa," Laki-laki tersebut bicara, dia mulai bercerita dengan cara yang begitu mengerikan tentang sebuah kenyataan yang terus disembunyikan.
"Dan setelah menikahi mu dia benar-benar menciptakan sebuah neraka untuk kehidupan mu, Pelangi." Demi apapun ucapan laki-laki dihadapan nya terdengar sangat mengerikan, membuat Pelangi seketika membulatkan bola matanya, menatap tidak percaya atas pendengaran nya.
"Aku cukup lega semua ucapan ku didengar kan oleh dirinya, membuat kamu tidak tidur bahkan mengenyam kebahagiaan dalam pernikahan kalian, dengan begitu aku bisa menonton semua hal sambil tertawa dibelakang layar," Suara laki-laki tersebut penuh dengan tekanan, sangat mengerikan, membuat Pelangi perlahan mengeluarkan air matanya tanpa henti.
"Tapi kepulangan Hera membuat ku mulai cemas." Dan laki-laki tersebut menyebutkan nama Hera di antara mereka.
Yah Pelangi sejak tadi mencoba menghubungi Perempuan tersebut melalui handphone yang ada di tangan kiri nya, dia menggenggam handphone nya dan meletakkan tangan kirinya di punggung nya, berharap Hera mengangkat panggilan nya sekarang juga dan menyelamatkan diri nya.
"Aku tahu kau mencoba menghubungi dirinya Pelangi, lakukanlah tapi apa kau tahu? orang-orang ku bersiap untuk melenyapkan dia jika kamu mengatakan soal kenyataan tentang diri mu saat ini."
Dan seketika Pelangi membelalakkan bola mata mendengar ucapan laki-laki tersebut saat ini.
__ADS_1
"Apa yang paman mau?," Pada akhirnya Perempuan tersebut bertanya, mencoba melepaskan genggaman nya dari handphone nya, mengurungkan niatnya untuk menghubungi perempuan tersebut.
"Lenyaplah dari muka bumi ini dan jangan pernah kembali lagi." Intonasi suara laki-laki tersebut terdengar begitu mengerikan, membuat Pelangi seketika tercekat.
"Aku ingin kau menghilang ditelan bumi, jangan pernah kembali ke hadapan ku juga Hanni." Dan didetik berikut nya laki-laki tersebut menyambar tubuh Pelangi, mencengkeram rambut Pelangi tanpa rasa kasihan sama sekali.
Pelangi terkejut dan meringis, mencoba menahan lengan laki-laki tersebut, dia menangis sambil berusaha untuk mempertahankan dirinya.
"Kenapa paman? kenapa melakukan hal ini pada ku?." dia bertanya, ingin tahu apa kesalahannya.
Dan seketika laki-laki tersebut mendekati wajahnya ke telinga kiri Pelangi.
"Kau ingin tahu?," dia bicara sambil mengeram.
"Karena seharusnya apa yang menjadi milik Amrullah dan kamu adalah milik ku dan Hanni." Dan setelah berkata begitu, laki-laki tersebut menyeret Pelangi dengan kasar sembari menjambak kasar rambut Pelangi dengan cara yang begitu mengerikan.
__ADS_1