Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Gadis tanpa identitas


__ADS_3

Rumah sakit xxxxxxx


London.


Suara derit branker terdengar memecah keheningan, Aaron terlihat panik membawa gadis muda berwajah Indonesia dengan kulit putih bersihnya saat dari boat mereka, awalnya mereka pikir gadis tersebut sudah meninggal, tapi istrinya menyakinkan diri gadis tersebut masih hidup.


"Dia masih hidup." Itu ucapan istrinya tadi, memberikan pertolongan pertama karena air sudah cukup banyak masuk ke paru-paru dan perut nya.


Istri nya, Carolina adalah seorang perawat dirumah sakit xxxxxxx di Manhattan dulu sebelum menikah dengan dirinya, jadi sedikit banyak jelas tahu soal denyut nadi, pertolongan pertama dan ahhh sudahlah Aaron sakit kepala memikirkan nya.


"Apa yang terjadi? apa dia memiliki kartu identitas? coba periksa kantong nya." Ibu Aaron bicara cepat.


"Mom ini bukan waktu yang tepat memikirkan identitas nya, kita harus membawa nya ke rumah sakit, aku tidak punya alat apapun untuk bisa membantu nya." Caroline bicara dengan cepat.


"Kita harus segera menepi dad." Aaron dengan cepat bicara.


Dan kini disinilah mereka, dikala keuangan mereka memburuk, dikala mereka jatuh miskin, mereka yang memiliki belas kasihan tinggi mencoba mengutamakan keselamatan orang lain.

__ADS_1


"Bagaimana dengan biaya perawatan nya, Crish?." Dan nyonya Daniati bertanya pada suaminya.


"Apakah ada yang ingin membeli rambut palsu ku?." Masih sempat laki-laki tersebut menciptakan lawakan didalam kondisi buruk mereka.


"Boat kita besok pagi akan terjual, itu harta sisa paling berharga yang kita punya, kita bisa menyisihkan sedikit uang nya untuk amal kemanusiaan." Pada akhirnya tuan Crish berkata cepat.


Sungguh keluarga yang terlalu baik.


"Itu bukan masalah." Dan istri Crish hanya bisa mengangguk kan kepalanya.


******


"Aaron bukankah mommy sudah bilang, kita butuh kartu identitas nya." wanita tersebut bicara dengan berbisik.


Dia sudah mengatakan untuk mencari kartu identitas gadis tersebut, tapi semua orang tidak mendengarkan, pihak rumah sakit menginginkan nya, pada akhirnya mereka baru sadar gadis yang mereka temukan tidak memiliki kartu identitas.


"Mungkin kita bisa menggunakan kartu identitas Daisy sementara, mom." Caroline memberikan ide tercepat, terlalu bertele-tele memikirkan kartu identitas asli.

__ADS_1


Nyonya Daniati yang biasa membawa dompet Daisy bergegas mencari kartu identitas mendiang putri nya. Karena kartu identitas tersebut pernah ikut dalam tenggelamnya Daisy dalam aksi bunuh dirinya, maka jangan tanyakan bagaimana rupa fotonya, tergores dan sedikit tidak jelas.


Untungnya bagian pihak resepsionis percaya dan menerima data diri gadis yang mereka temukan.


Mereka pada akhirnya menunggu gadis tersebut untuk waktu yang cukup lama di ruang tunggu operasi, gadis tersebut katanya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Air yang masuk ke paru-paru dan tubuh cukup membuat gadis itu sekarat, keluarga Chris hanya bisa berdoa semoga gadis tersebut baik-baik saja.


Entahlah berapa lama waktu berlalu mereka tidak tahu, di mana mereka terus mengubah posisi bahkan sudah cukup terkantuk-kantuk hingga jelang pagi, bahkan Aaron dan istri nya telah terlelap sejak tadi hingga akhirnya setelah waktu berjam-jam berlalu dan matahari sudah nyaris terbit pintu ruangan operasi terbuka dengan cepat.


Hal itu membuat nyonya Daniati dan tuan Crish langsung berdiri dari posisi mereka dan bergerak mendekati para tim dokter.


"Bagaimana, dok?." wanita tersebut bertanya dengan perasaan cemas.


"Dia baik-baik saja, hanya saja-," salah satu dokter bicara sembari berusaha untuk menjelaskan sesuatu kepada kedua orang tersebut.


"Ya?." Nyonya Daniati langsung mengernyit kan dahinya.


Dan mereka berdua cukup terkejut atas penjelasan yang diberikan para dokter.

__ADS_1


"Oh my god." Dan nyonya Daniati seketika memundurkan langkahnya, dia mencoba berpegangan pada suaminya.


Sejenak sepasang suami istri tersebut saling menatap antara satu dengan yang lainnya.


__ADS_2