
Restoran xxxxxxxx,
pusat kota.
Badai terlihat duduk di salah satu kursi dan meja yang telah dipesannya sejak semalam di mana diri nya dengan sengaja memesan tempat tersebut untuk bisa bertemu dengan Daisy.
Tidak mudah memang menggunakan trik lawas untuk bisa bertemu dengan Daisy dan membawa perempuan itu pada acara pertemuan makan seperti ini, karena dia harus sedikit memanfaatkan situasi serta melakukan trik murahan untuk membuat perempuan itu masuk dalam kondisi terjepit. Meskipun dia tahu Daisy cukup keberatan kata sekretarisnya untuk bisa mengikuti kemauannya saat ini, tapi dia harus melakukan trik yang cukup licik untuk bisa membuat perempuan itu berada di tempat ini.
Sejenak bola matanya meletup ke arah bagian depan menunggu kehadiran perempuan tersebut sejak tadi, berharap jika Daisy tidak akan berbohong untuk datang dan menemuinya. Karena dia tahu dia membuat kondisi perempuan itu harus datang saat ini bagaimanapun caranya, jika tidak dia akan mempersulit urusan kerjasama antar perusahaan mereka.
__ADS_1
Cukup lama dia menunggu hingga pada akhirnya di depan sana bisa dilihat Daisy bergerak melangkah memasuki restoran tersebut secara perlahan sembari bola mata perempuan itu melirik ke arah sisi kiri dan kanan mencari keberadaan dirinya.
Badai tidak langsung menyapa dan memperlihatkan posisinya, dia sengaja menatap perempuan itu cukup lama dan memperhatikannya dengan baik juga benar jika dia meyakinkan diri bila itu adalah Pelangi nya, dia begitu yakin perempuan itu adalah Pelangi, orang yang sama dengan istrinya. Dari pertemuan pertama mereka dia terus merasakan jika Daisy adalah pelangi dan hatinya tidak mungkin berbohong. Setelah dia cukup lama memperhatikan perempuan itu pada akhirnya Badai melambaikan tangannya dan memberitahukan dimana posisinya, membuat perempuan tersebut seketika langsung menatap ke arah Badai, hingga akhirnya dia bergerak mendekati laki-laki itu dengan cepat.
Lucu nya hal yang unik terjadi alih-alih meminta maaf karena terlambat, perempuan itu langsung duduk kemudian melipat kedua tangannya lantas berkata.
"Apakah anda sedang berusaha untuk menyulitkanku dalam kerjasama kita, tuan?," dia langsung bertanya pada intinya menatap sedikit tidak suka kepada Badai.
Mendengar penuturan Daisy, Badai menaikkan ujung alisnya untuk beberapa waktu kemudian pada akhirnya laki-laki itu berkata.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak menyulitkan urusan kerjasama kita, tapi pergi meninggalkan urusan proyek dan membiarkan sekretaris yang mengerjakannya aku pikir itu bukanlah sifat seorang pemimpin yang profesional. Karena aku bahkan tidak mengizinkan sekretarisku terlalu banyak ikut campur tangan pada proyek yang kita sepakati untuk pertama kalinya, miss Daisy," Badai akhirnya menjawab ucapan perempuan yang ada di hadapannya tersebut.
"Ini soal profesional kerja dan bukan soal sengaja atau tidak sengaja, untuk jam terbang perusahaan tinggi seperti kalian pasti sudah tahu prosedurnya bukan? mementingkan urusan pribadi dan meninggalkan urusan pekerjaan, aku pikir itu sangat tidak profesional." lanjut Badai lagi kemudian.
"Ini bukan soal profesional atau tidak, bukankah sebelum aku menandatangani proyek kerjasama kita, aku sudah bilang aku butuh waktu di minggu pertama untuk tidak hadir karena ada urusan yang harus aku kerjakan, minggu kedua aku akan kembali untuk memantaunya secara langsung dan aku pikir sebelumnya kalian sudah menandatangani kesepakatan tersebut dan menyetujuinya." Daisy mencoba mengingatkan laki-laki dihadapannya tersebut atas persyaratan yang pernah diajukan pada masa sebelum menandatangani proyek kerjasama mereka.
"Sayangnya aku tidak tahu tentang itu, nona Daisy." Dan laki-laki tersebut berkata dengan cepat.
"Bahkan aku tidak pernah menandatangani persetujuan tentang hal tersebut dan jika anda tetap bersikeras untuk pergi maka aku meyakinkan diri untuk membatalkan proyek kerjasama kita serta aku akan menulis nilai denda atas rasa kecewa ku pada kerjasama kita yang gagal." Dia sengaja berkata seperti itu untuk menekan perempuan yang ada di hadapannya tersebut.
__ADS_1
"What?." bayangkan bagaimana ekspresi Daisy saat dia mendengar laki-laki dari depannya tersebut berkata seperti itu.
"Hah... yang benar saja."