
Badai jelas saja tertawa puas ketika dia tahu Pelangi memilih dirinya, tekanan demi tekanan yang diberikan pada garis tersebut sangat manjur dan juga membuatnya bahagia, dia tuh pelangi tidak akan pernah memiliki pilihan selama bersama dirinya karena dia akan terus menekan gadis tersebut dengan kebebasan ayahnya dan juga keselamatan kakak laki-laki nya.
Laki-laki tersebut benar-benar merasakan satu kemenangan tersendiri ketika Pelangi dengan tatapan takut dan tertekan berkata pada Samudra pagi tadi.
"Maafkan aku, tuan" Pelangi menundukkan kepalanya, memiliki bergerak menjauhi Samudra dengan kondisi kaki tidak baik-baik saja yang tidak badai pedulikan kenapa, gadis itu pada akhirnya memilih untuk menuruti ucapannya.
bayangkan bagaimana perasaan badai pagi tadi, bisa dilihat wajah dari pamannya menandakan bagian dari kesalahan dan juga kemarahan melihat pelangi yang tidak mau memilih dirinya.
"aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada pelayanmu kali ini, tapi bagiku kau jelas mengancamnya dengan sesuatu hingga pelangi rela menuruti segala ucapanmu dan tidak memperhatikan kondisi dirinya sendiri" Ucap Samudra dengan tatapan mengejek.
"Tuan?" Dan satu suara mengejutkan Badia atas ingatan nya tentang pagi tadi.
Badai langsung menatap kearah asal suara.
"Ada apa?" nggak ada suara dingin ya terdengar memenuhi ruangan tersebut di mana dia menatap sang sekretarisnya untuk beberapa waktu.
"Anda harus menghadiri rapat perusahaan segera, para dewan direksi telah hadir sejak tadi" Laki-laki berusia sekitar 30 tahunan bicara sambil menundukkan kepalanya, menunggu jawaban dari laki-laki dihadapi ini tersebut untuk beberapa waktu.
__ADS_1
Badai terlihat melirik ke arah jam yang ada di tangannya kemudian laki-laki itu kembali menatap ke arah sekretarisnya tersebut.
"siapkan semuanya, aku akan pergi ke ruang rapat dalam 5 menit" badai menjawab dengan cepat dan dia pada akhirnya mencoba untuk memutar tubuhnya, mengabaikan sang sekertaris dan membiarkan laki-laki tersebut untuk segera pergi dari ruangannya.
yang dia butuhkan saat ini sedikit merokok dan juga wine, ada beberapa persoalan yang membuat badan merasa ada sesuatu yang pikirkan. mungkin benar dia memiliki segala sesuatu yang dia inginkan saat ini tapi nyatanya dia tidak merasakan satu titik kebahagiaan sedikitpun di dalam dirinya saat ini.
tidak tahu kenapa tapi dia merasa ada satu ruang kosong yang tidak berhasil untuk diisi dengan apapun di dunia ini, di mana dia merasa ruang tersebut merupakan satu rumah yang membuat dia berpikir jika dia tidak mengerti apa sebenarnya yang dia inginkan lagi setelah ini.
laki-laki tersebut secara perlahan yang ada di atas meja kerja kemudian dia menyulut api dari pematiknya, Badai menyeret tubuhnya untuk bergerak menuju ke arah jendela besar yang menghadap ke arah langit di mana pada akhirnya dia berdiri di sana sembari mencoba untuk menikmati rokoknya ditambah gelas wine yang awalnya berisi penuh gimana kini saya perlahan dia sesat dikit hingga gelas tersebut kosong melompong.
dia membiarkan bola matanya menatap ke arah bagian langit di atas sana, memperhatikan betapa luasnya bagian daripada dunia yang dia lihat sekarang ini di atas sana.
"aku ingin kita terbang melintasi langit melewati liburan bersama antara kakak, aku, ibu dan ayah" Suara itu menggema di balik telinganya dimana rona wajah cantik gadis di samping nya tersebut bicara sembari menatap indahnya cakrawala.
"jangan terlalu sibuk dengan kehidupan kalian, sesekali Mari menghabiskan waktu bersama untuk membuat kenangan di antara kita" gadis itu berucap lagi sembari membiarkan bola matanya terus menetapkan langit.
Badai melirik ke arah adik kesayangannya tersebut untuk beberapa waktu.
__ADS_1
"kakak terus pergi dan mengabaikanku belakangan ini karena beberapa kegiatan dan pekerjaan kakak, ulang tahun kali ini aku hanya ingin minta kalian berkumpul bersama dan membawaku untuk menikmati liburan begitu berarti di antara kita" Lanjut gadis tersebut lagi kemudian, dia kali ini menurut para badai sembari melebarkan senyumannya namun bisa Badai lihat bola mata gadis itu tampak berkaca-kaca.
"Tuan celaka" Tiba-tiba suara seseorang menyeruak masuk kedalam ruangan tersebut.
Hal itu membuat Badai membuyarkan ingatan nya, dia berbalik ke belakang sembari masih menggenggam sisa rokok di tangan nya.
"Ada apa?" Badai bertanya sambil menggerutkan keningnya.
"Nona Pelangi" Dan laki-laki yang baru masuk ke berkata dengan nada yang tidak baik-baik saja.
Badai semakin mengernyitkan dahi nya.
"Katakan?" Ucap Badai kini dia menaikkan ujung alisnya.
"Dibawa ke rumah sakit xxxxxxx pusat kota" Ucap laki-laki tersebut cepat.
Hal tersebut seketika membuat Badai cukup terkejut.
__ADS_1
"Apa?"
"Dia mencoba melakukan percobaan bunuh diri"