Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Pagi mencekam


__ADS_3

Badai baru saja menyelesaikan makan pagi nya, dia berbalik dan berencana untuk pergi ke perusahaan dengan cepat.


"Biarkan pelangi yang membereskan semua nya"


Badai memberikan perintah pada pelayan paruh baya di kediaman nya, bergerak pergi dari meja dapur dengan cepat, sedangkan pelayan tersebut menundukkan kepalanya di waktu yang cukup terlambat.


Badai belum jauh melangkah, di sisi kiri nya terdapat kaca transparan besar yang langsung menembus ke arah taman bunga bagian samping halaman mansion, disana memang sengaja terkonsep dengan sempurna dimana biasanya Badai memiliki duduk di hari libur sesekali untuk menikmati pemandangan yang bisa menghilang kan rasa lelah dan penat, terdapat sebuah kolam besar yang sengaja di desain di kala pembangunan tempat tersebut berjalan guna untuk Badai menghabiskan waktu untuk sekedar memancing ikan yang sebenarnya tidak benar-benar pernah di isi dengan banyak disana.


Bola mata laki-laki tersebut tiba-tiba menangkap pemandangan yang cukup membuat dia mampu menghentikan langkah kakinya.


Samudra terlihat menyentuh ujung kaki pelangi dan tampak bicara soal sesuatu, pelangi berulang kali mencoba menundukkan kepalanya berkali-kali seolah-olah berkata sesuatu yang tidak bisa Badai dengar, posisi mereka sangat tidak membuat mata nyaman melihat nya.


"Apa yang mereka lakukan?"


spontan suara Badai keluar dengan intonasi nada yang cukup tinggi dan penuh penekanan, dia bertanya pada siapa sebenarnya tidak tahu, tapi bibi pelayan rupanya masih menunggu kepergian nya, mendengar pertanyaan Badai jelas saja wanita paruh baya tersebut terkejut, memilih menoleh kearah di mana tatapan Badai berada.


"Pelacur dan bajingan"


Laki-laki tersebut mengeram, tidak pernah bisa mengendalikan ucapan nya, dia suka mengumpat dan membuat orang benci mendengar ucapan nya.

__ADS_1


Laki-laki tersebut seketika berbalik dengan cepat, mengurungkan niatnya untuk pergi ke perusahaan, percayalah dia lebih memilih untuk memutar ke halaman samping hanya untuk membuat kedua orang tersebut terkejut dengan kehadiran nya.


Bibi pelayan jelas terkejut setengah mati melihat ekspresi Badai dan kemarahannya, wanita itu menegang dan berpikir apakah laki-laki yang tuannya akan menyeret yang begitu polos dan tidak tahu apa-apa di dalam api kemarahannya.


"Apa yang kalian lakukan hah?"


Badai bicara dengan nada membentak, muncul secara tiba-tiba hingga mengejutkan pelangi dan Samudra. bisa dilihat Samudra menggenggam pergelangan kaki pelangi, entahlah apa yang terjadi, tapi sang paman benar-benar penuh perhatian memperlakukan Pelangi.


"Kau belum pergi ke perusahaan?"


Bisa-bisa nya Samudra tidak menjawab pertanyaan Badai, dia terlihat biasa-biasa saja, masih menggenggam pergelangan kaki kiri Pelangi, laki-laki tersebut membuang pandangannya dari Badai, menatap pelangi dengan tatapan hangat kemudian berkata.


Ucap laki-laki tersebut dengan nada suara yang begitu hangat dan lembut.


Pelangi jelas menegang, perempuan tersebut berusaha menarik pergelangan kaki nya, tatapan membunuh Badai membuat nya takut dan bergetar.


"Maafkan aku tuan, aku bisa mengobati nya sendiri"


Nyata nya Samudra memaksa, laki-laki tersebut kembali berusaha menarik pergelangan kaki Pelangi.

__ADS_1


"Ini bukan masalah, aku akan bantu memijat nya, BI bisa bawakan minyak hangat untuk kaki terkilir?"


Dan Samudra bicara, menoleh kearah bibi pelayan yang rupanya mengikuti langkah Badai dan kini berdiri di belakang Badai.


"Kau mengabaikan pertanyaan ku, paman"


Badai tiba-tiba bicara, dia mengeram dengan bola mata yang mulai terlihat memerah.


"Bangun dan kembali ke kamar mu"


Dan laki-laki tersebut kembali bicara, menoleh kearah Pelangi, memerintahkan perempuan tersebut agar segera bangun dan beranjak dari sana.


Hal tersebut sontak membuat Samudra mengernyitkan kening nya.


"Ada apa dengan mu, Badai?"


Dia menahan gerakan Pelangi, membiarkan tangan nya masih menggenggam pergelangan kaki Pelangi,dia tidak mengizinkan perempuan tersebut berdiri dan menjauh dari nya. Bola mata Samudra jelas penuh dengan tantangan, menatap Badai dalam ketidaksukaan nya.


"Dia bukan siapa-siapa mu, bahkan jika kau memecat nya, aku jelas mampu menggaji dan membiayai hidup nya, dia hanya pembantu mu tapi kau memperlakukan dia seolah-olah dia adalah milik mu"

__ADS_1


Lanjut Samudra lagi kemudian.


__ADS_2