
Badai jelas tercekat saat ini dan dia terlihat mematung untuk beberapa waktu, di mana bola matanya seolah-olah akan lepas saat melihat perempuan yang benar-benar mirip dengan mendiang istrinya.
"Kak?." Dan suara anggun seketika mengejutkan laki-laki tersebut, membuat dia tersadar dari keterkejutannya dan menatap ke arah anggun beberapa waktu.
Di detik berikutnya Badai berusaha kembali menoleh ke arah perempuan yang dia lihat persis seperti Pelangi tadi, namun nyatanya dia tidak melihat perempuan tersebut lagi saat ini dan hal tersebut membuat Badai cukup gelagapan. Laki-laki itu mengabaikan panggilan sang adiknya dan dengan cepat ia bergerak berlari untuk mencari sosok yang dia yakini adalah Pelangi. Tanpa berpikir dua tiga kali di mana laki-laki itu bergerak dengan cepat mencoba berlarian menuju ke arah depan, dia pikir apakah mungkin perempuan itu bergerak menuju ke arah kasir atau bergerak ke arah mana yang tidak diketahui.
Bola mata batin terus mencari perempuan tersebut namun nyatanya berkali-kali dia berusaha mencari dia tidak menemukannya, lagi-lagi itu panik dia pikir dia tidak mungkin berhalusinasi karena dia benar-benar telah melihat pelangi dalam beberapa detik sebelumnya.
dia mencari sosok tersebut di barisan antrian pada bagian kasir namun tidak mendapatkannya dia bahkan mengelilingi Alfamart tersebut dan juga tidak menemukan perempuan itu kemudian hingga akhirnya dia berinisiatif untuk keluar dari Alfamart yang tersebut dan mencari sosok itu dengan cepat. persis seperti orang gila dia mencari Pelangi saat ini, menahan gemuruh di dalam dadanya sembari menahan jutaan kerinduan yang tidak bisa diungkapkan sama sekali dengan kata-kata.
bagaikan sebuah gerakan yang membuat dia berputar-putar dalam satu titik mencari perempuan tersebut tanpa akhir dan tanpa titik pertemuan, laki-laki itu berusaha untuk mencengkeram rambutnya dengan keras dan bahkan dia mencoba untuk meraup wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku belum gila." berulang kali Badai berkata seperti itu kepada dirinya sendiri.
Yah dia belum gila, dia bener-bener yakin melihat pelangi tadi dan dia tidak mungkin salah lihat. Sosok yang sama persis meskipun dengan penampilan yang berbeda, dia melihatnya dengan jelas dari arah samping tapi belum melihatnya dengan jelas dari arah depan tapi dari suaranya dia sangat yakin itu adalah Pelangi, istri yang begitu dia rindukan.
"Kak, ada apa?." Anggun mengejar langkah laki-laki tersebut dengan pandangan bingung saat dia melihat sang kakaknya seperti orang linglung mencari sesuatu yang tidak dia pahami apa.
Kekhawatiran menghantam garis tersebut ketika dia melihat ekspresi sang kakaknya yang tanpa aneh dan juga seperti orang yang kebingungan.
"Aku melihat nya, tidak kah kamu melihat nya? Pelangi, aku benar-benar melihatnya barusan." Badai bicara dengan cepat kepada adiknya tersebut.
Siapa sangka kematian kakak iparnya membuat sang kakak kandungnya tersebut hampir menjadi gila setelah mengetahui tentang sebuah kenyataan jika pelangi sama sekali tidak bersalah bersama keluarganya pada masa lalu di mana Badai salah paham atas peristiwa di masa itu.
__ADS_1
Begitu mengetahui tentang kenyataan kakaknya benar-benar menyimpan luka yang mendalam bahkan tidak bisa melupakan pelangi dalam keadaan apapun.
Dia pikir laki-laki itu sudah bisa melupakan tentang masa lalu, malam ini kakaknya sedikit membuat satu pernyataan yang membuat dirinya khawatir.
"Itu hanya halusinasi kakak, aku tidak melihat pelangi dan tidak ada pelangi sama sekali di dalam tadi." ucap gadis tersebut dengan cepat dalam jutaan kekhawatiran.
"Tidak, aku benar-benar melihat nya tadi, Anggun." Badai tetap menjawab dalam keyakinannya.
"Itu adalah Pelangi ku, Anggun." lanjut Badai lagi kemudian.
Sedangkan dari arah yang berbeda Daisy yang tidak lain adalah Pelangi telah berada didalam mobil nya, menunggu sekretaris nya membayar belanjaan ya sedangkan dia memilih untuk memejamkan bola matanya di dalam mobil tersebut dan membiarkan waktu berlalu dengan cepat.
__ADS_1
2 hari berada disana dia harap semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja sehingga dia bisa kembali ke London secepatnya, namun siapa sangka kedatangannya ke Indonesia akan mengubah kembali kehidupannya.
Nyatanya sejauh apapun dia melangkah dan selupa apa dia dengan masa lalu, Badai tetap akan mencengkeram nya dan tidak akan pernah mau melepaskan dirinya.