Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Tak ada yang perlu di jelaskan


__ADS_3

Mansion Utama Badai


Kamar tidur utama.


"Kenapa kau melakukan semua ini pada ku?"


Badai menatap tajam kearah pelangi yang bertanya pada nya dalam posisi berdiri setelah laki-laki tersebut menyeret istri nya agar kembali ke kamar.


Dia meminta Hera untuk menikmati sesi membersihkan diri dibantu oleh para pelayan di kamar ke dua, membiarkan Perempuan tersebut mendapatkan kenyamanan dalam mandi rempah panjang atas rasa lelap yang menerjang dan tidak menemui nya lebih dulu, dia enggan membuat perempuan tersebut bertanya soal Pelangi.


Hera menganggap pelangi pembantu baru nya, dia pikir cukup sampai disana pemikir Hera, jangan sampai dia melihat pelangi kembali dan membuat satu pertanyaan lain yang memusingkan kepala nya.


Hera cukup sulit untuk di ajak bicara jika menyangkut soal para perempuan yang ada di sekitar Badai, satu-satunya orang yang ada di sisi badai selama ini hanya Hera, ketika dia jatuh satu-satunya orang yang terus menggenggam nya hanya Hera bahkan yang memeluk dan mencarikan berbagai macam solusi untuk membuat Badai naik hingga setinggi ini dan berhasil seperti ini juga berkat Hera.


Perempuan itu yang membantu nya mencari relasi bisnis untuk membuat perusahaan nya berdiri hingga seperti hari ini, pengorbanan Hera terlalu banyak dan dia tidak akan menyakiti Hera karena melihat pelangi di sekitar nya.


Dia menikahi pelangi tanpa sepengetahuan Hera.


Laki-laki tersebut kini menatap sang istri nya dimana tubuh nya masih terbalut handuk mendominasi berwarna putih, pelangi bertanya dengan nada suara yang ditahan, bisa dia lihat jika pelangi tidak baik-baik saja saat melihat sesi percintaan mereka yang tertunda di kamar mandi pada kamar ke dua.


"Kau menyakiti ku baik secara fisik maupun mental bahkan kau menyakiti ku baik secara lahir maupun batin"

__ADS_1


Perempuan tersebut terus bicara, ada getaran hebat pada nada bicaranya, menatap Badai dalam keadaan penuh rasa sakit. Nyata nya ekspresi pelangi yang terlihat sangat menyedihkan membuat dia senang melihat nya, dia tidak menampilkan rasa ibanya sama sekali, tapi dia marah karena perempuan itu menampilkan tatapan penuh perlawanan dan kata protes pada dirinya.


Selama lebih dari satu bulan menikah dia baru tahu pelangi mampu mengeluarkan suara protes nya dalam banyak penyiksaan yang dia ciptakan, dia pikir perempuan itu tidak akan mampu membuka suaranya, menjadi perempuan patuh sesuai dengan keinginan nya.


Badai yang baru bergerak menuju ke arah lemari walk in closet langsung berbalik dan menatap tajam ke arah pelangi, dia mengeratkan leher nya dan dan menatap pelangi penuh dengan kebencian.


"Kau bertanya?"


Nada suara Badai jelas terdengar mengeram, dia kesal saat tahu Pelangi tidak sepatuh yang dia bayangkan.


"Kau bersama Perempuan lain saat status ku adalah istri mu, aku mungkin masih diam saat kamu menyiksaku secara fisik, aku diam saat kamu memperkosa ku dalam tiap waktu, tapi... bagaimana bisa aku diam saat kamu berhubungan dengan seorang perempuan lain dan berbuat menjijikkan seperti itu saat kamu berstatus suami orang lain?"


Mendengar ucapan pelangi Badai seketika langsung mencengkeram leher pelangi, sangat benci saat mendengar pelangi sudah mampu mengeluarkan keluhan dan protesan nya.


"Bukankah sejak awal aku sudah bilang? kau hanya sekedar memiliki status istri di rumah ini tidak lebih, bahkan ketika di luar jangan coba-coba untuk berkata pada siapapun jika kamu adalah istri ku"


Ucap laki-laki itu cepat, dia tidak membiarkan sedikit pun leher pelangi melonggar atas kemarahan nya, mencengkeram erat leher Perempuan itu tanpa ampun, membuat pelangi cukup kesakitan, meringis dan sedikit tersengal-sengal.


"Dan aku peringatkan kamu jangan pernah bicara pada Hera, kau tahu kau hanya bagian keset kaki dirumah ini dan dia ratu yang sebenarnya, jika kau berani bicara pada nya dan membuat dia terluka, aku bisa saja menyakiti kamu lebih dari ini"


Dan Badai memperingati pelangi, tatapan nya penuh dengan kebencian, dia jijik melihat perempuan dihadapan nya tersebut.

__ADS_1


"Kenapa...kenapa kamu memperlakukan aku seburuk itu? jika sejak awal tidak mencintai ku, seharusnya kamu tidak menikahi ku"


Dan perempuan tersebut bertanya dalam nafas yang cukup kepayahan, bola matanya jelas terlihat berkaca-kaca, dimana wajah perempuan tersebut mulai memerah.


"Apa salah ku pada mu?"


Tanya pelangi lagi kemudian.


mendengar apa yang di ucapkan dan pertanyaan dari pelangi membuat Badai mendengus dan mengejek, dia menaikkan ujung bibirnya kemudian berkata.


"Kau ingin tahu?"


Laki-laki tersebut bertanya sambil terus mencekik leher pelangi.


"Aku tidak perlu menjelaskan nya, seharusnya ayah dan kakak mu tahu apa yang telah mereka lakukan pada keluarga Dirgantara di masa lalu termasuk pada putri bungsu mereka"


Ucap badai dengan intonasi nada yang begitu dingin dan mengerikan, dia mendorong tubuh pelangi hingga tersungkur ke lantai kemudian Badai langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan ucapan Badai Seketika membuat pelangi membulatkan bola matanya karena terkejut.


"Ya?"


Nama Dirgantara jelas membuat dia terkejut setengah mati, Perempuan tersebut pada akhirnya terbatuk-batuk karena rasa sakit atas cekikan yang diberikan oleh Badai.

__ADS_1


__ADS_2