Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Membuat nya cukup tertekan


__ADS_3

Hotel xxxxxxx,


pusat kota.


"Aku tahu ini sedikit sulit, Zion." Daisy terus bicara dari balik handphonenya sembari dia membiarkan tangan kirinya mengelus kasar bagian pelipis kiri dan kanannya.


"Semua jadwal berubah dan aku tidak bisa kembali ke Swiss saat ini, bahkan aku tidak bisa melakukan fitting pakaian pengantin kita di awal minggu ini, bisa kah pihak galeri mencoba menerka-nerka ukuran tubuhku sayang? aku benar-benar tidak bisa kembali pada minggu ini karena jika tidak semua proyek akan dibatalkan." Daisy terus bicara pada tunangannya di seberang sana.


"Ada sedikit kesalahan informasi tentang semua kerjasama ini, mungkin lebih tepatnya Antara aku dan pemilik perusahaan angkasa group kurang melakukan komunikasi sebelumnya, Zion. Aku benar-benar minta maaf." perempuan itu terus bicara dengan nada penuh penyesalan.


Daisy cukup tertekan dengan keadaan di satu sisi dia harus menyelesaikan proyek kerjasamanya sedangkan di sisi lain persiapan pernikahan mereka semakin mendekat sedangkan dia bahkan belum melakukan fitting pakaian pengantin sedangkan undangan sudah dicetak dengan sempurna. Hal paling utama di antara semuanya bagi seorang perempuan adalah pakaian pengantin, moment sakral harus terjadi disertai dengan gaun impian yang selalu di harapkan oleh pengantin perempuan.


Dia dan Zion sudah membuat jurnal untuk semuanya sebelum nya, dia tidak pernah membayangkan jika semua nya akan cukup kacau seperti ini.

__ADS_1


"Berikan aku waktu untuk menyelesaikan semuanya sejenak, aku akan bicara pada CEO angkasa group, mungkin dia mau memberikan sedikit saja waktu luang untuk aku kembali meskipun hanya 1-2 hati saja." Lanjut Daisy lagi kemudian.


Dia terlihat diam untuk beberapa waktu, menunggu dan mendengarkan jawaban kekasih nya di seberang sana.


"Atau apakah mungkin untuk kita melakukan fitting pakaian pengantin di sini? oh no, aku tahu pekerjaanmu juga sangat sibuk sekali, kita tidak mungkin menunda pernikahan nya."


Tiba-tiba Daisy merasa kepalanya ingin pecah saat dia memikirkan tentang keadaan ini, tidak menyangka semuanya akan menjadi serumit ini, dia hanya bisa menghela nafas nya berkali-kali dan memikirkan cara bagaimana dia bisa menyelesaikan semuanya saat ini.


"Mari diskusikan ini lagi nanti dan biarkan aku bicara dengan laki-laki itu kembali besok." Pada akhirnya Daisy bicara pada laki-laki di seberang sana mencoba untuk saling memberikan waktu.


Daisy meletakkan handphonenya ke atas meja dan berniat untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya namun tiba-tiba saja pintu kamar hotelnya diketuk oleh seseorang, dia mengerutkan keningnya dan berpikir apakah mungkin itu Naila?. Tapi rasanya tidak mungkin, Naila baru saja pergi pamer untuk pergi membeli makanan tapi sebelum nya dia berkata akan membeli beberapa barang yang dia inginkan, terlalu cepat untuk kembali hanya dalam waktu tidak lebih dari 10 menit.


Perempuan tersebut pada akhirnya bergerak mendekat ke arah pintu kamar di mana dia menginap, mencoba untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Bisa dia lihat seorang perempuan menundukkan kepalanya ke arah Daisy, membuat dia mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Siapa?," Daisy bertanya.


"Nona Daisy Alexander?," alih-alih menjawab,perempuan itu bertanya dengan cepat.


"Ya."


"Ada kiriman untuk anda, nona." lanjut perempuan itu lagi kemudian dia menyerahkan beberapa paper bag 🛍️ ke arah Daisy.


Hal tersebut jelas saja membuat Daisy bingung.


"Kiriman? untuk ku? dari siapa?," jelas dia bertanya sedikit bingung, dia menerima paper bag tersebut secara perlahan.


"Dari tuan Badai, nona."

__ADS_1


Dan saat perempuan itu berkata seperti itu jelas saja membuat Daisy terkejut setengah mati.


"Apa?."


__ADS_2