
Beberapa minggu kemudian,
Kembali ke rumah kediaman keluarga Chris,
London.
Dokter terlihat baru saja selesai memeriksa keadaan pelangi, memastikan jika pelangi baik-baik saja dan semua luka-luka hanya mulai memulih ditambah kesehatannya yang jelas mulai membaik.
Mereka terlihat diam untuk beberapa waktu di mana sang dokter menyuntikkan sebuah obat untuk membuat Pelangi terlelap beberapa waktu didalam selang infus yang terhubung pada tubuh Pelangi, membiarkan perempuan tersebut menjadi tenang dan membiasakan diri dengan keadaan.
Setelah memastikan semua selesai, dokter tersebut beranjak dari sana, menutup pintu kamar Pelangi dan mulai bicara pada tuan Chris dan nyonya Daniati.
"Kemajuan nya sangat pesat, seluruh luka telah memulih, hanya mencoba untuk menghilangkan beberapa bekas lukanya saja dan itu tidak akan memakan waktu terlalu lama," sang dokter mulai bicara panjang lebar ke arah tuan Chris dan nyonya Daniati.
__ADS_1
"Kesehatan fisik juga mentalnya sangat baik, hanya saja kita tidak bisa mengembalikan ingatannya dalam waktu dekat, ingatan nya akan kembali jika dia melihat beberapa kenangan masa lalu atau orang-orang yang dia kenal, tapi mengingat kita sama sekali tidak mengetahui keluarganya jadi aku pikir akan sangat seru sekali untuk membuat dan mengembalikan ingatannya pada masa lalu dan itu butuh perjuangan panjang untuk bisa melakukannya." lanjut sang dokter lagi kemudian.
"itu bukan masalah, malah aku pikir itu lebih baik. Kita bisa menganggapnya sebagai Daisy, disini dia akan memiliki kenangan yang berbeda dan dia tidak perlu untuk mengingat soal masa lalunya." Nyonya Daniati terlihat begitu egois dan dia tidak ingin mengembalikan perempuan tersebut kepada keluarga manapun ia mungkin akan mengakui nya nanti.
Kehilangan Daisy hampir membuatnya gila dan kini setelah mendapatkan perempuan yang usianya sama dengan Daisy juga nyaris memiliki persamaan seperti mendiang Daisy nya jelas dia antusias bukan main. Perempuan itu sempurna, bentuk tubuh, warna kulit, tinggi badan, bola mata nya persis seperti Daisy mereka.
"Kita hanya tinggal mengubah penampilan nya, membenahi rambutnya dan meletakkan sedikit tahi lalat di bagian hidung nya." Wanita tersebut terus menekan agar semua orang mendengar kan apa yang di inginkan nya.
"Sayang itu ilegal, jika katahuan kita bisa dipenjara." Tuan Chris jelas keberatan.
Mendengar permintaan dan perintah istrinya jelas saja membuat laki-laki itu membelalakkan bola matanya.
"Sayang kamu bener-bener keluar dari akal sehatmu saat ini."
__ADS_1
"Anggap saja begitu, aku sudah keluar dari akal sehat ku, kau lakukan itu atau aku akan mati malam ini juga." Dan tiba-tiba saja wanita itu bergerak menuju ke arah belakang, meraih sebuah pistol yang ada di lemari mata dan bersiap untuk menembakkannya ke arah kepalanya.
Bayangkan bagaimana situasi terjadi saat ini, seketika semua orang menjadi panik bahkan Aaron dan istrinya yang ada di lantai atas seketika langsung turun ke bawah dan melihat apa yang terjadi kepada ibu mereka.
ketika melihat nyonya Daniati meletakkan senjata di samping kepalanya bayangkan bagaimana perasaan semua orang saat ini.
"No honey apa kamu sudah gila?, please baby berikan senjatamu pada ku." Tuan Chris jelas saja panik setengah mati, dia berusaha untuk merayu istrinya agar meletakkan senjata api yang ada di tangan wanita tersebut.
"aku hanya menginginkannya menjadi Daisy apakah itu sulit?," wanita itu bertanya sembari bercucuran air mata.
"jika itu tidak memungkinkan maka biarkan aku mati mengikuti Daisy ku di alam sana." lanjut wanita itu lagi kemudian.
"Oh shi..t, mom please berikan senjata itu padaku dan jangan berlaku nekat." Aaron jelas panik setengah mati berusaha untuk memajukan tubuhnya sembari mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan memberikannya sebelum daddy mu membiarkan perempuan itu menjadi Daisy ku." wanita tersebut mulai meninggikan suaranya, dia menggerakkan jemari tangannya dan bersiap untuk menarik pelatuk pistol yang ada di tangannya tersebut, dan sepertinya ancamannya kali ini tidak main-main.
"No....no...no.... please... please...ok...ok Daniati please..."