Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Pil kontrasepsi


__ADS_3

Mansion Utama Badai


Kamar tidur utama


Lewat tengah malam.


Wajah sombong dan angkuh dimana disekitar nya dipenuhi peluh yang bercucuran di sepanjang bagian pelipis dan rambut nya membuat perempuan dibawah Badai menatap nya dengan tatapan penuh kemarahan.


Dia meniduri pelangi lagi-lagi dengan cara paksa, tanpa hati membangunkan pelangi pada tidur lelap nya dan menggagahi Perempuan tersebut tanpa menampilkan sedikitpun sisi lembut nya.


Bisa dia dengar ringisan dan erangan rasa sakit yang keluar dari bibir pelangi, berkali-kali perempuan tersebut memohon untuk berhenti tapi tidak di gubris oleh Badai.


Percayalah, pelangi selalu takut menghadapi sepasang bola mata indah milik nya yang selalu dipenuhi kabut kemarahan dan kegelapan, bisa dia lihat perempuan yang ada dibawahnya tersebut kini mencoba menggenggam bagian sisi kiri dan kanan sprai kasur dengan jemari-jemari indah dan pucat nya.


Pelangi tidak dalam keadaan baik-baik saja, bisa dia rasakan ketika tubuh mereka menyatu kulit gadis tersebut terasa cukup dingin, dia tidak tahu apakah Perempuan itu sakit atau hanya merasa dingin karena suasana kamar yang diliputi AC.


Badai tanpa perasaan terus menggerakkan tubuhnya di atas tubuh pelangi, hanya memikirkan pendapatan kenikmatan untuk diri nya sendiri tanpa tahu apakah pelangi menikmati permainan nya atau tidak.

__ADS_1


Bahkan dalam sesi percintaan mereka, Badai selalu berlaku kasar, dia mendominasi, memimpin tapi tidak berperasaan, bahkan tidak enggan dia menjambak atau mencekik leher pelangi dengan jemari-jemari panjang nya saat dia merasa nikmat nya penyatuan di antara mereka.


Bahkan dia dengan kasar menyatukan bibir mereka, tidak jarang Badai mengubur bibir pelangi dan menggigit nya dengan sangat kasar, seolah-olah dia tidak memberikan jeda sedikit pun akan rasa sakit yang dia ciptakan untuk perempuan yang ada di bawah kungkungan nya.


"Menangis, berteriak lah dan memohon ampunan pada ku, mungkin aku akan berbaik hati menjadi sedikit lembut pada mu"


Suara serak dan berat Badai terdengar memenuhi ruangan kamar tersebut, dia terkekeh kecil persis seperti psikopat gila yang sangat suka bermain kasar dengan lawannya.


Nyata nya pelangi hanya mampu menangis, memohon berhenti beberapa kali kemudian membiarkan air mata nya keluar berkali-kali, dan meskipun hanya sebatas itu, Badai tetap merasa puas telah menyiksa Perempuan yang telah menjadi istri nya tersebut dengan cara yang begitu ekstrim.


"Akhhhhh"


Laki-laki tersebut memejamkan bola matanya sejenak, merasa puas ketika dia tiba pada titik ternikmat nya.


Benar-benar brengsek.


Badai mengumpat didalam hati nya, pelangi benar-benar terasa sempit dan nikmat bagi dirinya.

__ADS_1


Begitu selesai pada puncak kenikmatan nya, bisa dia lihat pelangi mencoba menarik selimut di sisi kanan perempuan tersebut, perempuan itu menghapus sisa air mata nya dengan bibir dan tubuh bergetar, dan didetik berikut nya dia berusaha untuk memunggungi Badai tanpa mengeluarkan suaranya.


Badai bergerak cepat, meraih handuk mendominasi berwarna putih dan bergerak menuju ke lemari nakas, dia meraih sesuatu di dalam laci dengan gerakan yang begitu tenang, dan setelah mendapat kan apa yang dia inginkan, laki-laki tersebut langsung melempar bungkusan yang ada ditangan nya ke arah pelangi dengan gerakan kasar.


"Minum dan pastikan kau tidak pernah hamil anak ku hingga kita bercerai nanti"


Suara dingin Badai terdengar kembali memecah keadaan, tanpa perasaan dia bicara seperti itu, kemudian bergerak perlahan menuju ke arah kamar mandi.


Tentu saja dia tidak sudi keturunan keluarga Dirgantara hidup didalam perut dari keturunan keluarga Angkasa, karena bagi Badai mereka tidak pada posisi dengan level yang setara.


Begitu laki-laki tersebut bergerak menuju ke arah kamar mandi, pelangi terlihat menatap pil kontrasepsi yang ada dihadapan nya yang dilempar oleh Badai dengan tatapan berkaca-kaca, seketika tubuh nya bergetar, dia bergumam pelan.


"Aku tidak sabar menunggu kau menceraikan ku secepat nya, Badai"


Setelah berkata begitu gadis tersebut langsung menjatuhkan air matanya, dia menangis kecil dan sedikit sesegukan dengan tubuh yang terus bergetar.


Hati nya begitu sakit seperti di hunus sembilu nyata nya tidak ada darah yang terdapat didalam sana saking sakit nya perasaan nya.

__ADS_1


__ADS_2