Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Menyelidikinya hingga ke akar-akarnya


__ADS_3

Dirgantara company Indonesia,


Ruang kerja Badai.


"Aku tidak terbiasa untuk pergi makan dengan siapapun apalagi dengan orang asing yang baru aku kenal, jadi maafkan aku karena tidak tertarik atas tawaran anda tuan Badai."


Dia ingat bagaimana perempuan tersebut menjawab dan menolak apa yang menjadi permintaan nya tadi. Tersinggung?, jelas ada. ketika tawaran baiknya ditolak mentah-mentah oleh perempuan tersebut. Seolah-olah perempuan itu tidak menghargai sama sekali ajakan nya. Tapi setelah dipikir-pikir itu juga merupakan hal yang wajar, mungkin perempuan manapun juga akan menolak jika tiba-tiba diajak untuk pergi makan malam bersama dunia laki-laki yang baru dikenalnya meskipun laki-laki itu merupakan relasi kerjanya.


Laki-laki tersebut duduk di ruang kerja miliknya sembari membiarkan kedua belah tangan yang menekan-rekan bagian kepala dan pelipisnya untuk beberapa waktu, berbagai macam pemikiran demi pemikiran menghantam dirinya, ingatkan tentang mendiang istrinya sungguh-sungguh menghantam dirimu


Badai pikir Daisy terlalu berbeda dengan istrinya tapi ada beberapa hal yang membuat ragu dirinya atas status dari perempuan tersebut. mungkin boleh penampilan mereka berbeda ada sedikit ciri yang membedakan mereka berdua di balik wajah cantik Daisy, tapi suara mereka jelas tidak ada menyiratkan sedikitpun perbedaan diantara kedua orang tersebut, suara mereka sama persis antara satu dengan yang lainnya. Bahkan mereka berdua jelas memiliki persamaan tentang tinggi tubuh bentuk tubuh dan lain sebagainya.


Tapi meskipun seperti itu tetap dia tidak bisa mengatakan jika taicy adalah pelangi mengingat betapa berbedanya cara kedua orang tersebut ketika bicara dengannya ditambah lagi seandainya Daisy adalah Pelangi, perempuan itu tidak mungkin mengeluarkan ekspresi yang terlalu biasa mengingat bagaimana buruknya dia terhadap pelangi dulu dan mengingat bagaimana pelangi begitu takut menghadapi dirinya karena sifat buruknya di masa lalu jadi dia pikir seharusnya di pertemuan pertama mereka gadis tersebut mengeluarkan ekspresi yang tidak asing dan cukup gemetaran namun nyatanya alih-alih mengeluarkan ekskresi seperti itu, Daisy terlihat terlalu menantang dirinya dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Sejenak bola mata laki-laki tersebut menetapkan arah dokumen yang ditandatangani oleh Daisy, dia memperhatikan tanda tangan perempuan itu untuk beberapa waktu.


Daisy Alexandria Christopher.


Tokkkkkk.


Tokkkkkk.


Tokkkkkk.


"Masuk." laki-laki itu berucap dengan cepat siapa yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam.


Seseorang terlihat menyeruak masuk ke dalam ruangan tersebut secara perlahan, seorang laki-laki berusia sekitar 35 tahunan. Dia bergerak mendekati badan kemudian setelah berada tepat dihadapan Badai laki-laki tersebut menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Lakukan sebuah pekerjaan untuk ku." ucap Badai pada laki-laki tersebut kemudian sembari dia menyerahkan sebuah berkas ke arah dirinya.


laki-laki itu menerima berkas yang diberikan oleh Badai, dia mengambilnya kemudian menatap ke arah Badai.


"Periksa semua latar belakang keluarga nya dan juga dia, baik dimana dia sekolah, teman-teman baiknya dan juga seluruh data dirinya termasuk ijazah sekolahnya." perintah laki-laki tersebut kemudian, dia merasa ke arah bawahannya itu dengan tatapan penuh keseriusan.


"aku ingin ijazah aslinya masuk dalam format email ku secepatnya." lanjut Badai lagi kemudian.


Laki-laki yang diberikan perintah langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat, dia paham dengan apa yang diinginkan oleh sang tuan nya.


"Baik tuan." Jawab nya cepat.


Yah Badai sedang berencana untuk menyelidiki tentang Daisy hingga ke akar-akarnya.

__ADS_1


__ADS_2