Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Dendam di atas dendam


__ADS_3

Rumah sakit xxxxxxx


Pusat kota.


Badai menepikan mobilnya dengan gerakan terburu-buru, bola mata laki-laki tersebut terlihat memerah di mana dia tampak menggerakkan rahangnya untuk beberapa waktu, kemarahan jelas menghantam Badai saat ini ketika dia mendengar apa yang diucapkan oleh bawahannya.


"Bunuh diri?" Badai mendengus, dia memukul stir mobilnya dengan perasaan kesal, laki-laki itu pikir betapa lemahnya gadis tersebut.


begitu dia sampai pada bagian parkiran mobil dengan cepat dia langsung mematikan mesin mobilnya kemudian melesat turun dari sana, laki-laki itu bergegas mencari di mana posisi pelangi saat ini.


"di mana dia?' bada bertanya pada laki-laki yang menyambutnya di bagian pintu masuk.


dia terus melangkahkan kakinya dengan gerakan yang cepat masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


"mereka baru saja memindahkan noda ke ruangan rawat inapnya"laki-laki itu menjawab dengan cepat sembari merindukan kepalanya kemudian dia mengikuti langkah Badai tepat di samping laki-laki tersebut.


"jadi dia belum mati sama sekali? apa dia dalam kondisi yang cukup sekarat?" baru bertanya sambil sekali tidak menghentikan langkah kaki nya.


mendengar pertanyaan dari tuan nya membuat laki-laki di sampingnya tersebut terlihat melirik ke arah Badai dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


"aku tidak berani memberikan jawaban nya karena takut salah, Anda bisa langsung bertanya kepada dokter dan melihat langsung bagaimana keadaan nona" dia menjawab sambil mencoba untuk menjaga internasional sebenarnya cukup terkejut dengan kekejaman Tuhannya yang seolah-olah mengharapkan kematian sang istri.


mendapatkan jawaban yang seperti itu dari anak buahnya membuat Badai tidak melanjutkan pertanyaannya soal kesekaratan Pelangi.


"di mana dia dirawat?" pada akhirnya Badai bertanya soal tempat dimana Pelangi saat ini.


"Di ruangan xxxxxxx, tuan" laki-laki tersebut kembali menjawab dengan cepat.


mendengar jawaban bawahan nya, laki-laki itu buru-buru langsung berbelok ke sisi kanan ya dan dia mencoba mencari ruangan di mana Pelangi berada saat ini.


belum dia tiba pada ruangan yang dicari tiba-tiba saja dia melihat seorang dokter yang bergerak mendekati dirinya hal tersebut seketika membuat badai langsung menghentikan langkah kakinya.


saat ini mereka saling menerapkan antara satu dengan yang lainnya di mana badai tampak mencoba untuk menarik berat nafasnya.


"aku cukup terkejut kau berada di sini, apa tempat tugasmu telah berpindah?" alih-alih menjawab ucapan gadis yang ada di hadapannya tersebut, Badai lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kau berusaha untuk mengalihkan pembicara dan tidak menjawab pertanyaanku?" gadis itu bicara dengan cepat sembari dia membiarkan kedua lengan nya saling bertaut.


"aku dengar usia nya baru 20 tahunan, dia masih terlalu muda untuk terbelenggu di dalam cengkraman" gadis tersebut bicara dengan cepat sembari dia menatap tajam bola mata Badai.

__ADS_1


"kau tahu apa kehidupan di dunia ini yang paling sia-sia?" gadis itu bertanya pada Badai.


laki-laki itu sama sekali tidak menjawab membiarkan netranya menatap gadis yang ada di hadapannya tersebut.


"Menciptakan dendam hanya karena sebuah dendam" jawab gadis tersebut dengan cepat.


"dan kamu tahu? Kau tidak ubahnya dari mereka yang menghancurkan kehidupan Anggun" setelah berkata seperti itu gadis tersebut langsung bergerak tepat di bagian sisi kanan Badai, membuang pandangannya dan melewati laki-laki tersebut tanpa memperdulikannya.


"Jadi kamu datang kemari hanya untuk menceramahi ku?" Bandai bicara dengan cepat, ketika gadis tersebut baru saja melewati dirinya.


Gadis tersebut sejenak menghentikan langkah kakinya, dia memiliki untuk diam beberapa waktu hingga pada akhirnya gadis tersebut kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa menjawab pertanyaan Badai.


Di ujung sana tiba-tiba beberapa dokter bergerak dengan cepat, di mana salah satu nya yang melihat kejadian Badai seketika bergegas mendekati laki-laki tersebut.


"Ini buruk badai" Ucap dokter laki-laki di hadapannya itu cepat.


Badai sama sekali tidak menjawab, dia memilih untuk menaikkan ujung alisnya.


"Istri mu menghilang" Ucap laki-laki tersebut lagi kemudian.

__ADS_1


__ADS_2