Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Dalam sisi yang berbeda


__ADS_3

Laki-laki tersebut terlihat menatap sejenak ke bagian kasir, bisa dia lihat barisan antrian cukup banyak, itu yang terkadang membuat dia enggan untuk masuk ke tempat seperti itu, tapi rokok membuat dia mau tidak mau masuk kedalam sana.


Secara perlahan dia melangkah masuk kedalam Alfamart tersebut, awalnya berniat untuk langsung bergerak menuju kearah kasir, tapi sepertinya meja kasir bukan pilihan yang paling baik untuk dirinya, karena antrian yang cukup panjang membuat kepalanya berdenyut-denyut melihatnya.


Pilihan Badai, mungkin membiarkan adik perempuannya yang membeli rokok pilihan nya, mencoba mencari sosok gadis tersebut untuk beberapa waktu. laki-laki itu sejenak berdiri mencoba untuk menelisik seluruh ruangan Alfamart tersebut, mencari keberadaan sang adiknya dengan seksama.


cukup lama dia mencari namun sayangnya dia tidak menemukan anggun, pada akhirnya membuat laki-laki tersebut melangkah maju ke arah depan, dia berusaha untuk menyusuri beberapa bagian tempat dimulai dari rak paling ujung sebelah kiri. Melangkah perlahan dengan tatapan tajam dan dinginnya. Terlihat cukup mencolok di antara banyak orang karena dia masih menggunakan jas tapi dengan setelan terbaiknya, menampilkan sisi kharismatik dan mahal dirinya, membuat beberapa gadis dan ibu-ibu menatap dirinya dalam kekaguman yang sangat luar biasa.

__ADS_1


Dia seperti CEO yang terdapat di film layar lebar atau drama-drama pada kaum hawa dengan sisi tidak tersentuh oleh sembarang perempuan, masuk ketempat yang salah dimana seharusnya tempat laki-laki seperti dia di mall-mall besar dengan kwalitas produk limited edition ditemani perempuan cantik dengan kaki jenjang dan beberapa pelayan juga pengawal nya.


Bagaimana mungkin kehadiran nya tidak mengganggu para kaum hawa yang tengah berbelanja.


Badai terus melangkah, mencari Anggun untuk beberapa waktu, cukup lama hingga pada akhirnya bola matanya kini tertuju pada adik perempuannya tersebut, dia menaikkan ujung bibirnya kemudian melangkah mendekati anggun di ujung sana.Dari arah rak yang berbeda Daisy yang tadinya menjongkok cukup lama mencari sesuatu kini terlihat berdiri dari posisi nya, perempuan tersebut pada akhirnya memilih berjalan kearah depan nya, dari arah berlawanan dengan Badai, dia masih bicara dengan seseorang di balik headset bluetooth miliknya tersebut sembari secara perlahan perempuan tersebut menghentikan langkah kakinya.


Bola mata Daisy menatap bagian tumpukan tisu yang ada di sisi kirinya, membiarkan tangan kirinya meraih satu pak tisu secara perlahan.

__ADS_1


"Aku pikir tidak perlu kemari, Zion. Meninggalkan perusahaan bukan pilihan yang baik." Disisi lain Daisy bicara dengan tunangannya dari headset bluetooth nya.


Badai yang melangkah mendekati adiknya seketika langsung menghentikan langkah kakinya saat dia mendengar suara yang jelas tidak asing juga sangat familiar untuk nya, laki-laki tersebut langsung mematung untuk beberapa waktu, didetik berikutnya dia menoleh kearah sisi kanan nya.


"Kak?." Anggun bicara mendekati dirinya dalam senyuman indahnya.


Daisy melirik ke sisi kanan nya secara refleks, kata kak dia pikir panggilan untuk nya, nyatanya saat dia menoleh dia sama sekali tidak melihat siapapun yang dikenalnya dan memanggil nya. Perempuan tersebut membuang pandangannya dikala pandangan Badai menangkap sosok dirinya.

__ADS_1


Bagaikan gerakan slow motion bagaimana mereka dari arah berbeda bergerak berlawanan arah dimana Daisy yang sempat menoleh ke arah Badai langsung membuang pandangannya karena memang dia tidak mengenali sosok tersebut lagi, sedangkan Badai jelas mengingat baik sosok Pelangi dalam penampilan dan balutan pakaian yang berbeda.


"Pelangi!." Badai tercekat untuk waktu yang cukup lama.


__ADS_2