Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Terus menyimpan rasa bersalah


__ADS_3

Disisi lain,


Perusahaan Dirgantara group.


"Kenapa mengambil lembur seorang diri lagi?." satu suara kembali terdengar memecah keadaan, dimana Badai terlihat menyesap perlahan kopi yang ada di atas meja kerjanya.


Dia mengabaikan orang tersebut dan memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaan nya.


"Sudah cukup larut, mari pulang ke rumah, kak." Kembali suara itu terdengar, kali ini jemari-jemari indah tersebut bergerak perlahan mencoba merapikan berkas-berkas yang ada di hadapan Badai.


"Aku tidak suka jika kakak terus begini." Anggun bicara, menatap sang kakaknya dengan wajah sedih.


Sejak dia sadar dari tidur panjangnya dulu, laki-laki dihadapan nya berubah drastis, apalagi saat Badai bertanya pada nya tentang kejadian malam itu dan tahu tentang sebuah kenyataan pahit apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, Badai semakin menyalahkan dirinya sendiri dan memilih mengurung diri dalam diam.

__ADS_1


"ini semua bukan salah kakak tapi hasutan seseorang dan juga dendam yang buat kakak seperti ini." berulang kali gadis tersebut berkata seperti itu, meyakinkan badan kita semua tidak sepenuhnya salah laki-laki tersebut.


Tapi nyatanya Badai terus tenggelam dalam rasa bersalah ditambah ucapan pedas madam Suzan.


"Dia memang seharusnya merasa bersalah dan dia pantas mendapatkan hukuman dari Tuhan atas segala kejahatannya." Berulang kali wanita tersebut berkata begitu pada kakaknya.


"Ini tidak lama lagi, kakak harus menyelesaikan nya." Badai masih bersikeras untuk mengerjakan pekerjaannya.


Tapi Anggun menggelengkan kepalanya dengan cepat dan langsung menyingkirkan seluruh berkas-berkasnya.


Badai terlihat diam dan menatap dalam wajah adiknya untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya laki-laki tersebut menghela kasar nafasnya.


"He em." pada akhirnya dia menganggukkan pelan kepalanya, pasrah pada apa yang diucapkan oleh Anggun saat ini.

__ADS_1


Laki-laki tersebut secara perlahan berdiri dari posisi duduknya, memilih meraih jaketnya yang terletak tidak jauh dari kursi kerjanya secara perlahan menyebarnya kemudian membawanya untuk segera keluar dari ruangannya bersama sang adik. Anggun terlihat menatap punggung kakaknya beberapa waktu di mana dia terlihat hanya mampu menghela nafasnya secara perlahan.


"Biarkan aku saja yang menyetir, aku pikir kakak tidak dalam kondisi yang baik." Ucap Anggun cepat.


Badai sama sekali tidak menjawab apa yang diucapkan oleh adik perempuannya tersebut dia hanya diam dan melangkah perlahan menuju ke arah pintu elevator. Nyatanya ini dia baru sadar betapa gelapnya hari ini di mana di setiap ruangan yang ada hanya terlihat kegelapan saja, hanya ada beberapa ruangan yang lampunya masih menyala dan ketika mereka turun pun terlihat dua security menundukkan kepala mereka, sisanya tidak ada seorangpun yang ada di sana.


Kembali Badai khilaf dalam bekerja hingga lupa waktu dan dia benar-benar terkadang melupakan segalanya. Bagi Badai saat ini bekerjasama adalah satu-satunya cara untuk dirinya tidak mengingat soal apapun, itu dia terkadang memilih jadwal pekerjaan yang jauh lebih lama daripada orang-orang di sekitarnya bahkan dia berusaha untuk mengabaikan apapun dan siapapun yang ada.


setiap kali dia tidak memiliki pekerjaan atau dia tidak menyibukkan diri dia hanya akan merasakan kesedihan dan juga rasa bersalah yang terus menghadap dirinya.


Begitu tiba di area parkiran Anggun buru-buru langsung masuk ke bagian kemudi dimana Badai duduk tepat di samping adiknya tersebut. Gadis tersebut secara perlahan mengendarai mobilnya, bergerak perlahan untuk keluar dari Dirgantara group secara perlahan.


di sepanjang perjalanan mereka terlihat diam dan tidak mengeluarkan suara mereka sama sekali di mana pemikiran Badai berkelana entah ke mana, bola mata laki-laki itu terlihat sibuk menatap ke arah jalanan di mana dia mencoba untuk menyadarkan tubuhnya di atas kursi sofa mobil dan menenggelamkan dirinya sejenak disana.

__ADS_1


"Aku akan membeli sesuatu di Alfamart, apakah itu masalah kak?." Suara anggun memecah keadaan, membuat Badai membuka perlahan bola matanya.


"He em, bukan masalah." Jawab Badai kemudian.


__ADS_2