Dalam Cengkraman Sang Badai

Dalam Cengkraman Sang Badai
Pertemuan sekian lama


__ADS_3

**Disisi lain**,


**Ruangan berbeda**.


Daisy terlihat menyandarkan tubuhnya di atas kursi dimana dia duduk saat ini, dia memperhatikan ruangan di mana dia duduk untuk beberapa waktu, menulis perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan mereka dengan seksama. perempuan itu pada akhirnya berdiri dari posisi duduknya secara perlahan, sengaja melakukannya karena dia ingin bergerak menuju ke arah beberapa bagian gantungan foto dan lukisan yang ada di ruangan tersebut.


Kini perempuan itu bergerak menuju ke arah tempat yang dia ingin mencoba memperhatikan beberapa gambar dan juga lukisan yang ada di ruangan tersebut, dia cukup suka dengan orang-orang yang memiliki jiwa seni.


Daisy menunggu sekretaris dan pemilik perusahaan tersebut untuk datang menemui mereka saat ini, jadwal hari ini adalah penandatangani kesepakatan di antara dua perusahaan guna mendapatkan keuntungan untuk bersatu dengan yang lainnya.


"bukankah mereka cukup memiliki jam karet yang tinggi?." Dan seketika suara Daisy memecah ke dalam ruangan tersebut, dia bicara dan bertanya pada sekretarisnya sembari melirik kearah jam ditangan nya.


Kurang 2 menit dari waktu yang ditentukan, dia sangat jijik bekerjasama dengan orang-orang sok penting yang mengulur waktu. Sejak awal perjanjian bukankah sudah di tentukan kapan waktu yang mereka sepakati, seharusnya datang lebih awal beberapa menit bukan hal yang buruk, itu bisa menambah tingkat integritas tinggi yang membuat lawan bisnis menjadi tidak meragukan kemampuan kerjasama yang di tanamkan bersama.


Mendengar ucapan Daisy, sang sekretaris terlihat diam, dia ikut melirik kearah jam ditangan nya untuk beberapa waktu. Dia pikir jika nona nya merasa sedikit kecewa cukup wajar, ini seharusnya menjadi waktu mereka bertemu meskipun hanya kurang lebih dari 1 menit.

__ADS_1


"Masih ada waktu-," dia ingin bicara namun tiba-tiba pintu ruangan tersebut di buka secara perlahan oleh seseorang, membuat dia menoleh dengan cepat.


Daisy sama sekali tidak menoleh, dia menatap dengan seksama sebuah lukisan yang dia lihat di atas dinding tepat dihadapan nya, memperhatikan dengan seksama lukisan tersebut untuk beberapa waktu seolah-olah ada rasa tidak asing untuk dirinya saat melihat lukisan tersebut.


Bagaikan satu flash kilat yang menyambar kepalanya.


"Kak."


"Pelangi."


"Maafkan aku karena datang di waktu terjepit."


"Bukankah kita sudah mengatur jadwal pertemuan nya dengan baik, cara kalian terlihat sedikit tidak profesional." Sekretaris Daisy bicara agak kesal, menatap sekretaris Badai dengan tatapan yang rumit.


"Maafkan kami, kita bisa langsung menandatangani kontrak kerjasama nya." Ada sesal yang terselip di wajah sekretaris Badai, dia menundukkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


Ini kesalahan mereka, benar kata sekretaris Daisy company, mereka membuat janji jelas dari jauh-jauh hari, tapi Badai mengubah jadwal rapat perusahaan mendadak pada hari ini, seolah-olah kali ini bekerja kurang profesional pada perusahaan baru yang bekerjasama dengan mereka.


"Nona?." Sekretaris Daisy melirik kearah Daisy.


Perempuan tersebut terlihat berusaha menyentuh kepalanya, dia masih menghadap kearah dinding dimana tiba-tiba suara tapak kaki tegap dan kokoh menyeruak masuk dari arah pintu masuk.


Daisy yang mendengar panggilan sekretaris nya mencoba untuk memijat pelipisnya beberapa waktu, dia pikir ingatan apa yang barusan menghantam dirinya?.


Badai terlihat bergerak ke dalam, mendekati semua orang sambil berkata.


"Mari menandatangani surat kontrak kerjasama nya."


Dia berhenti tepat di depan sekretaris Daisy, kemudian menatap ke arah depan nya dimana Daisy secara perlahan berbalik dan menatap kearah Badai kemudian melangkahkan kakinya secara perlahan kearah semua orang.


Bayangkan bagaimana ekspresi wajah Badai kala ini saat dia melihat sosok perempuan yang kini melangkahkan bergerak mendekati dirinya dan semua orang.

__ADS_1


Persis seperti melihat hantu, Badai membeku dan mematung untuk beberapa waktu.


__ADS_2