
Hotel xxxxxxx,
pusat kota.
"Terlalu aneh bukan?, saat tuan Badai melihat nona ekspresi wajahnya langsung terlihat sangat aneh dan bahkan tidak kah anda melihat bagaimana respon yang dia berikan ketika dia melihat nona tadi pagi?." Sekertaris Daisy bertanya kepada atasannya tersebut di mana dia sibuk membaringkan tubuhnya di atas kasur yang terletak bersebelahan dengan kasur atasannya tersebut.
Bisa dilihat Daisy baru saja menyelesaikan sesi mandinya, nona nya sengaja meminta satu kamar untuk mereka berdua, memutuskan untuk tidak berpisah kamar karena sejak dulu perempuan itu memang tidak berani tinggal di dalam kamar seorang diri dan dia cukup takut dengan suasana gelap juga kesendirian seolah-olah mendapatkan satu tekanan yang tidak dia pahami sejak dulu hingga kini.
Naila kebetulan masih merupakan sepupu dari tunangan Daisy, Zion Alexander. Jadi kebersamaan mereka memang sengaja di berikan oleh Zion untuk mengawasi Daisy kemanapun calon istrinya itu berada.
__ADS_1
"Berhentilah memanggil ku nona saat hanya ada kita berdua dan tidak di dalam jam kerja." Daisy bicara sedikit protes ke arah Naila, gadis itu selalu seperti itu memanggilnya dengan begitu resmi padahal mereka tidak berada pada jam kerja.
"Aihhhh aku terkadang khilaf." Naila menjawab sembari terkekeh kecil dia benar-benar membaringkan tubuhnya saat ini dan membiarkan diri menatap Daisy yang tengah merapikan pakaiannya.
"Tidak kah kamu lihat bagaimana cara laki-laki pemilik pelangi group menatap mu tadi?, seolah-olah dia mengenal kamu dengan baik sebelum nya, yang lebih aneh lagi dia ingin membawa kamu untuk pergi makan malam bersama tapi tidak tertarik membawa ku ikut serta." Naila terus bicara kemudian dia terkekeh kecil.
"itu adalah hal lawas yang sering dilakukan oleh seorang laki-laki untuk mendekati perempuan, terlalu pasaran dan membuatku cukup muak melihatnya." Daisy pada akhirnya menjawab ucapan dari garis yang ada di hadapannya tersebut.
Setelah memastikan rambutnya rapi perempuan itu meletakkan sisir yang dia pegang ke atas nakas, kemudian dia memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur yang akan dijadikan tempat pelabuhan tidurnya malam ini.
__ADS_1
"jangan terkecoh dengan tipe laki-laki seperti itu dan apakah kamu tidak melihat wajahnya yang menyiratkan wajah seorang playboy kelas kakap?, aku sangat benci dengan tatapan matanya, membuatku cukup risih dan gerah juga sedikit muak melihatnya." Lanjut Daisy lagi kemudian.
Entahlah kesan pertama laki-laki tersebut sangat tidak menguntungkan untuk dirinya, karena baginya laki-laki itu menampilkan satu kesan yang cukup buruk di pertemuan mereka di mana laki-laki itu tidak menggunakan waktunya dengan baik dan benar dan dia paling benci pada tipe laki-laki yang suka mengulur waktu dan juga menganggap waktu itu tidak berharga.
ditambah lagi tatapan laki-laki tersebut membuatnya cukup tidak nyaman karena tatapan pemilik pelangi grup sangat tidak menyenangkan untuk dirinya, terlalu tajam dan dalam seolah-olah memiliki satu niat jahat di balik tatapannya tersebut.
"karena kita bekerja sama dengan mereka jika tidak aku pastikan tidak akan pernah mau mengenal tipe laki-laki seperti itu dalam seumur hidup ku." dan setelah perempuan itu berkata seperti itu dia langsung membuang pandangannya dan memilih untuk memejamkan bola matanya secara perlahan.
Mendengar ucapan Daisy membuat Naila diam, dia memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya karena takut mungkin itu akan membuat Desi tidak menyukainya karena dia tahu saat perempuan itu tidak menyukai sesuatu maka jangan harap dia akan menyukainya.
__ADS_1