
Di sisi lain
Pelangi masih mencoba mengintip pada bagian daun jendela bersekat kain hitam di samping nya, melihat apakah para penjaga telah berganti dan dia bisa masuk melihat kak Dewa nya didalam sana, kerinduan yang membuncah membuat Pelangi cukup nekat melarikan diri sejak semalam, tapi sepertinya keinginan nya untuk bisa melihat sang kakak tidak lah semudah membalikkan telapak tangan.
Ini sulit.
Itu yang dia pikirkan.
Untuk melihat kakak nya saja rumit, apalagi untuk melihat ayah nya dipenjara, dia hanya ingin melihat sekali ini saja orang-orang yang di cintai, selebihnya tidak ada lagi, dia pasrah setelah itu hidup di dalam cengkraman Badai.
__ADS_1
Cukup lama dia menunggu para pengawal pergi dari sana, mencoba mencari kesempatan kapan dia bisa masuk ke dalam ruangan di mana kakaknya di rawat, bola matanya tidak lepas mengintip pada bagian ujung disana. Terlalu lama menunggu dia pikir mungkin berakhir sia-sia, harus mencari cara bagaimana bisa masuk kesana tanpa bersusah payah, dia butuh cara untuk bisa masuk kesana bagaimanapun caranya. Hingga pada akhirnya satu ide terbesit dikepala nya saat ini.
"Bisakah dia?" Membatin didalam hati nya.
Pelangi berusaha membalikkan tubuhnya secara perlahan, memikirkan ide berat yang akan dia ambil, mungkin ini merupakan ide paling gila yang ada di kepala nya, tapi yang jelas dia tidak memikirkan cara lain yang lebih baik untuk melakukan nya. Gadis tersebut bergerak dengan cepat, mengendap-endap menuju ke arah sisi kanan nya, mencari satu ruangan persis seperti pencuri saja, ingin mengambil sesuatu untuk melancarkan aksinya.
Pelangi telah menggunakan begitu dia keluar dari sebuah ruangan yang ada di hadapannya saat ini perempuan itu bergerak cepat dengan perasaan gugup, berusaha untuk berpikir semua akan baik-baik saja dan berharap tidak ada yang mencurigai penampilannya saat ini karena mengingat mungkin tidak ada banyak yang tahu tentang dirimu yang merupakan istri Badai.
Perempuan itu bergerak dengan cepat menuju ke arah ruangan di mana kakaknya di ruang mencoba untuk bersikap senormal mungkin seolah-olah dia adalah seorang dokter yang profesional dimana tubuhnya lengkapi dengan berbagai macam alat dokter yang biasa digunakan oleh dokter pada umumnya.
__ADS_1
begitu hampir tiba di depan ruangan di mana kakaknya berada Pelangi berusaha untuk menetralisir perasaannya sejenak di mana dia berhenti sembari menatap ke arah depan, dia mencoba untuk menghela nafas yang beberapa waktu kemudian kembali berjalan dengan gerakan perlahan. ketakutan jelas terpancar di balik wajahnya saat ini tapi dia berusaha untuk bersikap senormal mungkin agar tidak dicurigai oleh dua pengawal yang ada di hadapannya tersebut.
Saat dia tiba di depan kedua pengawal itu, tanpa banyak bicara Pelangi menyeruak masuk ke dalam ruangan tersebut di mana salah satu pengawalnya membuka pintu dengan cepat dan membiarkan Pelangi untuk masuk ke dalam , ada rasa lega yang menghantam dirinya karena semua berjalan dengan lancar ketika dia masuk ke dalam ruangan tersebut. begitu dia telah masuk ke dalam ruangan itu tersebut tertutup dengan sempurna. Pelangi seketika menetap ke arah sesosok tubuh yang bergeletak tidak berdaya di atas kasur mendominasi berwarna putih di dalam kamar rumah sakit tersebut.
jangan ditanya bagaimana perasaan perempuan tersebut saat ini, begitu bergetar dia mendekati sosok itu sembari mencoba untuk menahan tangisannya.
Sang kakak terlihat berbaring tidak berdaya dibantu oleh beberapa selang di tubuhnya, Pelangi bergerak semakin mendekati tubuh laki-laki tersebut sembari menahan getaran di dalam hatinya.
Sedangkan di luar sana Badai terlihat bergerak melangkah menuju ke arah kamar di mana Dewa dirawat, laki-laki tersebut sama sekali tidak mengeluarkan suaranya sejak tadi membiarkan dua pengawal di sisi kiri dan kanan nya bergerak mengikuti langkah nya.
__ADS_1