
Badai sama sekali tidak mengeluarkan suaranya sejak tadi selama mereka di perjalanan, laki-laki tersebut memilih diam dan tidak mengeluarkan sedikitpun suaranya, dia memejamkan bola matanya dan menyandarkan dirinya pada kursi mobil di mana dia berada.
Anggun yang membawa mobil tersebut hanya bisa diam dan sesekali melirik ke arah kakak laki-lakinya tersebut, dia pikir bapaknya tersebut mulai kehilangan akal warasnya setiap kali mengingat soal Pelangi. Menyimpan penyesalan yang mendalam atas perlakuan buruk nya di masa kemarin, padahal realitanya laki-laki tersebut pernah benar-benar menginginkan Pelangi di masa lalu nya.
Gadis cantik yang membuat laki-laki tersebut jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi dendam karena masa lalu yang salah bisa membuat cinta tersebut menghilang menjadi dendam. Dia tidak menyalakan kakak nya, dia menyalahkan orang-orang yang memanipulasi keadaan termasuk soal diri nya di masa lalu.
Dia ingat bagaimana kemarahan menerjang Badai ketika dia terjaga dari tidur panjangnya.
"Apa?." Badai memundurkan langkahnya saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Anggun malam itu.
"Kau bilang apa?."
Bayangkan bagaimana kemarahan menghantam Badai, laki-laki tersebut menyeret siapapun yang terlibat termasuk tim dokter yang membuat keterangan palsu soal kondisi dan keadaan nya.
__ADS_1
"Brengsek." Umpat Badai pada masa itu.
Anggun menghela pelan nafasnya, masih mencoba melirik ke arah kakaknya untuk beberapa waktu kemudian dia memfokuskan pandangannya pada jalanan.
Haruskah dia berkata, Pelangi sudah tiada?, kenapa sulit sekali untuk kakaknya melupakan istrinya tersebut dan mencoba untuk membuka lembaran baru?!.
"Kakak ingin makan sesuatu?." Pada akhirnya Anggun bertanya, memecah keheningan di antara mereka.
Badai yang masih memejamkan bola matanya terlihat tidak menjawab, laki-laki tersebut sebenarnya tidak tidur, dia mendengar apa yang diucapkan oleh adiknya tersebut.
Sejenak Badai membuka bola matanya secara perlahan, kata paman cukup bisa membuat Badai sadar akan lamunannya.
"Tidak perlu, aku pikir akan kembali dan langsung memilih untuk beristirahat." Badai menolak, dia bicara dan membiarkan bola matanya kini fokus menatap kearah jalanan.
Mendengar jawaban dari kakak nya membuat Anggun diam sejenak.
__ADS_1
"kakak tidak ingin pergi berkunjung melihat Paman juga?." gadis tersebut kembali bertanya tanpa melirik sekarang laki-laki di sampingnya itu.
"Sampaikan salamku dan katakan aku sedang memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Badai menjawab dengan cepat ucapan dari adiknya tersebut.
"Masih merasa bersalah atas Pelangi?."
Saat Anggun melesat kan tanya itu kepada dirinya, seketika membuat Badai menggerakkan kepalanya dan menoleh ke arah adiknya tersebut.
"Paman tidak lagi menyalahkanmu, dia berkata jika dia sudah melupakan semuanya, paman berharap kakak membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama yang telah usai. Paman mengizinkan kakak untuk menikah lagi dan melupakan Pelangi." lanjut gadis tersebut lagi kemudian sembari dia melirik ke arah kakak laki-lakinya tersebut untuk beberapa waktu.
Badai memilih tidak menjawab, dia sempat menatap para adiknya kemudian membuang lagi pandangannya, menjelajahi tiap baris jalanan yang ada di hadapannya di mana kendaraan lain terlihat saling menyusuri jalanan di gelapnya malam yang diterangi gemerlap ibu kota.
Alih-alih menjawab ucapan dari pada adiknya tersebut, Badai malah berkata.
"Katakan pada ku, kapan laki-laki itu akan masuk ke perusahaan?." tanya Badai berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Aku pikir tubuhnya sudah pulih total saat ini." Lanjut Badai lagi kemudian.