Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 13 Mengajak menikah


__ADS_3

Dedes yang sudah kembali ke tempat kerjanya dikagetkan dengan Andreas yang ada di hadapannya. Dedes yang sedang melihat berkas yang diberikan oleh Ace langsung menutupnya takut Andreas melihatnya.


"Hai Des"


"Hai "


Dedes menundukkan kepalanya, dia berjalan dengan perlahan dan Andreas mengikutinya dari belakang. Tapi Andreas segera menyusul Dedes dan mensejajarkan langkahnya.


"Apakah kamu sudah baik-baik saja, kamu sudah sembuh "


"Sudah, aku sudah sehat kembali"


"Baiklah, selama beberapa hari ini aku sangat ingin bertemu denganmu. Bahkan aku bolak-balik ke sini hanya untuk mengecek keadaanmu "


Dedes menatap Andreas sekilas. Lalu kembali menundukan kepalanya sungguh dirinya sangat malu ditatap seperti itu oleh Andreas. Apalagi laki-laki itu adalah laki-laki yang selama ini dirinya sukai.


"Apakah kamu sibuk"


"Hari ini ? "


"Nanti untuk 50 sampai 90 tahun lagi"


Dedes hanya diam saja, dia menuruni tangga dan Andreas masih mengikutinya "Bisakah kita berkencan, ya makan atau berbincang untuk lebih saling mengenal lagi. Aku tahu kita sudah lama berteman tapi sepertinya kita harus lebih dekat lagi dan mengenal satu sama lain "


Dedes memberhentikan langkahnya dan berhadapan langsung dengan Andreas "Kamu tahu kamu telah memikat laki-laki yang ada di hadapanmu ini, aku begitu mencintaimu Des, aku sangat tertarik padamu "


"Aku sangat cemburu saat kamu pergi bersama laki-laki itu, laki-laki yang bersamamu aku merasa marah dan cemburu "


"Aku berharap kamu merubah penampilan ini untukku, untuk bisa bersamaku Des. Aku sangat berharap besar padamu "


Wajah Dedes sudah sangat senang sekali. Bahkan senyumnya sudah terbit meski masih malu-malu. Dedes mencoba untuk menatap kedua bola mata Andreas.


Jantungnya sudah berdetak begitu kencang, hatinya begitu hangat laki-laki yang selama ini dirinya cintai menyatakan perasaannya. Apakah ini mimpi, tidak mungkin ini bukan mimpi ini adalah kenyataan.


"Maukah kamu menikah denganku Des, aku janji akan membahagiakanmu aku akan selalu ada di sampingmu. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan mu"

__ADS_1


Tiba-tiba saja ponsel Dedes berdering ternyata Ace yang menelponnya. Dedes menatap ke arah Andreas lalu kembali menata ponselnya, karena dirinya tidak mau kehilangan Andreas makannya Dedes tidak mengangkat telepon dari Ace dan menjawab ajakan dari Andreas tadi.


"Iya aku mau menikah denganmu"


Dengan cepat Dedes langsung menjawab dan mau menikah dengan Andreas. Tanpa pikir panjang tanpa memikirkan bagaimana kedepannya dan tanpa memikirkan apakah Andreas benar-benar mencintainya atau mencintai penampilannya yang baru ini.


Kalau memang Andreas mencintainya Dedes dari dulu mungkin saja saat penampilan Dedes masih biasa saja, Andreas akan mengejarnya dan mengajaknya menikah.


Tapi itu terjadi saat penampilan Dedes berubah baru dia mengajak Dedes menikah, menurut kalian Andreas hanya mencintai penampilan Dedes atau memang sudah mencintai Dedes dari dulu ?


Andreas langsung memeluk Dedes tanpa malu sedikitpun, Dedes hanya bisa diam diperlakukan begitu oleh laki-laki yang dia cintai.


Tak terasa air mata Dedes menetes saking bahagianya, dirinya bisa menikah dengan laki-laki yang selama ini dirinya cintai dan sayangi.


...----------------...


Dedes turun ke lantai bawah dan menemui Ace yang sudah menunggunya di lobby "Ada apa kamu meneleponku, tadi maaf ya saat menelpon pertama aku tidak mengangkat teleponmu"


"Tidak masalah, ada salah satu orang yang ingin melamar mu dan ingin bertemu dulu denganmu. Dia ada di lantai 9 dan menunggumu, ayo akan aku antar"


Ace memencet lift dan masuk ke dalam, sedangkan Dedes hanya diam dan tidak ikut masuk. Dia menatap Ace dan tersenyum juga padanya.


"Katakan iya saja"


Ace tak lagi menahan liftnya, dia langsung pergi meninggalkan Dedes, wajahnya menunduk dan matanya sudah berkaca-kaca. Tapi Dedes yang mendengar jawaban dari Ace tersenyum senang, temannya setuju kalau dia menikah dengan Andreas.


Berati semua berjalan dengan lancar, hatinya begitu tenang dan semuanya pasti akan baik-baik saja. Ayahnya akan menyayanginya lagi.


...----------------...


Selepas pulang dari tempat kerja, Dedes mendapat telepon dari Andreas dengan cepat dia langsung mengangkat teleponnya.


"Iya Andreas"


"Masih memanggilku dengan nama, apa tidak ada sebutan spesial untukku sayang "

__ADS_1


"Emm, bagaimana ya " Dedes mengigit kukunya saking gugupnya ditanya seperti itu oleh Andreas.


"Baiklah aku tidak akan memaksa, lambat laun kamu juga akan mengatakan itu padaku kan. Kita sebentar lagi akan menjadi suami istri. Kita jadikan kencan mungkin lusa kita pergi berkencan dan untuk membahas pernikahan kita juga, aku ingin cepat-cepat pernikahan ini dilaksanakan karena aku juga akan dipindah tempatkan kerjanya. Apakah kamu setuju"


"Tapi apakah kamu sudah bilang pada kedua orang tuamu akan menikahi aku. Apalagi tadi aku sudah menceritakan bagaimana orang tuaku yang sudah menganggap kalau aku mati. Apakah keluargamu menerimanya mungkin kamu menerimaku, tapi keluargamu apakah mereka bersedia menerimaku"


"Masalah itu hal gampang, keluargaku pasti menerimamu, mereka tidak akan banyak menuntut. Yang terpenting aku bahagia, nanti saja aku berbicara padanya saat dia datang kemari mungkin kita tidak akan ada pesta dulu ya Des. Kita hanya menikah biasa terlebih dahulu di KUA setelah itu, setelah kita pindah baru kita adakan pesta di sana yang sangat mewah "


"Aku ikut kamu saja, jika itu yang terbaik untuk kita berdua aku akan mengikutinya. Tapi kamu yakin nanti tidak akan ada masalah aku takut nanti kedepannya malah jadi rumit, kamu lebih baik hubungi dulu orang tua kamu "


"Sudah tenang, itu hal gampang, kamu bisa tenang. Besok aku jemput ya"


"Sepertinya tidak usah, boleh aku membawa Ace"


"Kenapa harus membawa laki-laki itu. Kenapa tidak kita berdua saja yang pergi sepertinya berkencan ada orang ketiga tidak enak, dia juga pasti akan menganggu saja "


"Aku harus bersamanya, maksudku dia yang selalu ada untukku. Aku harus membawanya kita akan membicarakan tentang pernikahan dan dia akan menjadi waliku, karena aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi. Aku tahu dia bukan keluargaku, tapi tidak akan mungkin keluargaku datang untuk mendatangi pernikahanku. Jadi hanya dia satu-satunya yang aku punya jangan egois tolong"


"Baiklah kalau itu maumu, aku akan terima laki-laki itu tapi jangan buat aku cemburu. Ingat aku tidak suka jika kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain"


Dedes tersenyum mendengar ucapan Andreas, begitu bahagianya akan menikah segera dengan laki-laki yang memang sangat dirinya cintai. Mungkin selama ini dirinya berpikir kalau dirinya tidak akan pernah menikah dengan Andreas, tidak mungkin akan bersama dia.


Tapi ternyata semua ini terjadi, semua yang terjadi berkat Ace dia yang sudah menolong dirinya untuk bisa berubah menjadi lebih baik dan menjadi lebih berharga lagi di hadapan laki-laki.


"Ada apa. Kenapa kamu diam saja"


"Tidak aku hanya senang saja, kita akan menikah. Memangnya pernikahan kita akan diadakan kapan"


"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita ke KUA dan satu minggu lagi pernikahan kita akan diadakan, mungkin ini terlalu cepat tapi aku ingin cepat-cepat untuk memilikimu, agar laki-laki lain tidak bisa memilikimu. Kamu tahu kan aku ini laki-laki pencemburu, tidak suka kalau pasangannya sampai didekati oleh laki-laki lain. Setelah kita bersama laki-laki itu tak akan mendekatimu, aku janji akan selalu bersamamu ingat itu "


"Baiklah aku senang pernikahannya akan segera diadakan, aku bahagia bisa bersama denganmu"


"Apalagi aku, aku lebih bahagia lagi. Ya sudah besok kita ketemu di restoran ya aku akan mengirimkan alamatnya padamu. Jangan sampai telat sayang dandan yang cantik untukku"


"Baiklah"

__ADS_1


Sambungan langsung dimatikan. Dedes menggenggam erat ponselnya rasanya masih tidak percaya dirinya akan segera menikah.


Akhirnya ada laki-laki yang mau dengannya, perjuangannya selama ini ternyata tidak sia-sia. Ayahnya juga pasti akan senang Andreas adalah laki-laki yang pas untuk menjadi menantu Ayahnya. Seperti yang Ayahnya inginkan.


__ADS_2