Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 31 Rumah Ace


__ADS_3

Borgol di tangan Ace sudah dibuka mereka masih berpelukan. Inspektur tadi sudah membukanya. Melihat Ace yang begitu mencintai perempuan yang ada di hadapannya dia hanya bisa tersenyum.


Mengigat bagaimana dirinya dulu mencintai istrinya, seperti ini tak bisa terpisahkan. Semoga saja suatu saat nanti dirinya dan istrinya bisa bertemu lagi dan bersama lagi seperti itu.


Mama Ace yang memang takut anaknya ditangkap polisi langsung mendekatinya "Ace apa sebenarnya dengan anak saya Inspektur, sampai-sampai dia ditangkap apa ada sesuatu yang terjadi dengannya "


"Tidak ada masalah kok, hanya masalah kecil saja sudah selesai semuanya bu. Apakah ibu ini ibunya Ace Ibu ini Ibu Margaretha kan istrinya dari tuan Adyatma Mahavir ? "


"Benar sekali Pak Inspektur"


"Baiklah Bu, aku turut senang melihat anak ibu yang mungkin sebentar lagi akan menikah saya permisi dulu. Saya senang sekali melihat perjalanan cinta mereka yang begitu panjang dan banyak sekali rintangan "


"Baik Pak silakan"


Pak Inspektur segera pergi dari sana, mamanya Ace yang melihat itu tersenyum senang. Anaknya masih berpelukan dengan Dedes. Dengan perlahan dia mendekati mereka berdua yang sedang jatuh cinta.


"Jadi kalian berdua ingin pesta apa, kita ke rumah Ace ya kita perkenalkan Dedes pada ayahmu. Dia pasti akan senang saat melihat calon istrimu yang cantik ini. Dia pasti akan sangat bahagia sekali"


"Tidak, Ace pulang saja ke apartemen. Lebih baik aku tinggal di apartemen saja mah, aku tidak mau pulang"


"Tidak, kamu harus menemui ayahmu kita sudah janji kan akan kembali bersatu lagi. Mama juga sudah bilang pada ayahmu dia juga setuju untuk bertemu denganmu. Bagaimana Dedes kamu setuju kan dengan apa yang Mama rencanakan ini"


Ibu Margareta mencoba mencari dukungan dari Dedes pasti kalau Dedes mau dan bilang iya Ace juga akan mau. Dia tak akan bisa menolak.

__ADS_1


Dedes tersenyum dan menganggukan kepalanya "Dedes senang Dedes juga setuju kalau ini demi kebaikan Ace. Dedes pasti akan mendukung Ace apapun yang terbaik untuk Ace "


"Baiklah Mama sudah mempertemukan kalian berdua, eh meskipun Ace sendiri datang ke sini. Mama akan pulang dan menyiapkan segalanya untuk kalian jam 08.00 malam ingat harus datang ke rumah ya kamu harus membawa Ace ke rumah Dedes, pokoknya nanti kita akan berbicara tentang pernikahan kalian berdua. Mama akan sangat senang sekali membicarakan semua hal ini ayahmu juga pasti akan senang juga Ace"


Diciumnya kening Dedes, lalu mamanya pergi dari sana. Dedes menatap Ace yang masih diam sepertinya dia masih enggan untuk bertemu dengan ayahnya. Padahal ini adalah sebuah kesempatan.


"Kita akan bertemu kan dengan ayahmu, ini demi kebaikanmu juga kamu harus melupakan semua dendam itu. Kamu jangan seperti aku dibenci oleh ayah sendiri. Kamu harus mulai berbicara dengannya dari hati ke hati, aku tahu mungkin itu akan sangat canggung tapi setidaknya kalian bisa saling memulai dengan baik"


"Akan aku usahakan sayang ayo kita pulang"


Ace menggandeng tangan Dedes dan keluar dari toko buku itu. Mereka juga berpapasan dengan Andreas yang akan masuk ke sana. Andreas melihat Ace dan Dedes yang bersama saling rangkul seperti itu.


"Dedes kamu baik-baik saja "sambil akan memegang tangan Dedes, tapi dengan cepat Dedes menjauhkan tangannya.


"Maaf kamu baik-baik saja kan, kamu tidak ada apa-apa Des "


Andreas Diam dia menatap Ace, lalu kembali menatap Dedes ada rasa kecewa yang tersirat di mata Andreas melihat kalau mantan calon istrinya akan menikah dengan laki-laki lain.


"Kamu menikah dengan Ace apa orang tua_"


"Tidak orang tuaku tidak masalah dengan apa yang terjadi pada Dedes, mereka tahu cerita yang sebenarnya jadi mereka itu bijak memilih perempuan yang baik untukku tidak melihat dari latar belakangnya seperti apa. Yang terpenting aku mencintainya. Aku bisa mempertahankannya dan aku bisa memperjuangkannya sampai nanti. Terima kasih Andreas karena kamu telah melepaskan berlian untukku dapatkan "


Ace menepuk bahu Andreas dan pergi meninggalkannya yang masih mematung diam di depan pintu titik. Dedes pun tidak melihat ke belakang lagi, dia begitu bahagia hari ini ternyata selama ini cintanya ada di sampingnya.

__ADS_1


Selama ini laki-laki yang sesungguhnya mencintainya adalah laki-laki yang selalu ada untuknya, yang selalu membantunya dan inilah sosok laki-laki yang akan hidup bersamanya.


Tapi apakah hidupnya akan selamanya. Apakah usianya ini akan panjang. Seperti apa yang selalu Ace harapkan kita lihat saja kedepannya bagaimana.


...----------------...


"Apakah aku bagus memakai pakaian ini Ace. Apakah terlihat sopan di depan ayahmu. Aku tidak mau terlihat jelek di depannya maksudku anggapannya yang jelek padaku dengan mengunakan pakaian ini"


"Tidak ini sangat tertutup, ini adalah pilihanku. Ayo sekarang kita pergi kamu baik-baik saja kan. Kalau memang lelah kita tidak usah pergi, tidak usah memaksakan diri untuk pergi ke sana. Lalu apakah kamu sudah meminum obat sayang"


"Sudah Ace, aku sudah minum obat tadi apakah kita akan pergi sekarang"


"Tentu ayo kita pergi sekarang sayang"


Ace langsung menggandeng tangan Dedes. Dia berjalan keluar dari apartemen banyak orang-orang yang melihat mereka, tapi Ace dan juga Dedes acuh tidak memperdulikan mereka semua, yang terpenting mereka berdua saling mencintai tidak usah memikirkan tentang tanggapan orang lain mau bagaimanapun nantinya.


Ini adalah hidup mereka, bukan hidup tetangganya jadi bebaskan. Bahkan Ace menyewa mobil untuk dirinya pergi ke rumahnya sendiri. Dedes rasanya makin mencintai Ace.


Mungkin baru muncul rasa sayang itu dan rasa cinta itu, saat membaca semua surat-surat yang Ace tuliskan dalam buku yang selalu dia pinjam, tapi entah kenapa begitu cepat dirinya mencintai seorang Ace. Padahal selama ini mereka selalu bersama tapi dirinya tidak pernah sedikitpun memendam rasa cinta itu.


"Ada apa sayang. Kenapa kamu melihatku seperti itu. Kamu baru pertama kali melihat aku menyetir seperti ini. Tenang aku akan hati hati "


Dedes menggenggam tangan Ace yang ada di sampingnya lalu mengecupnya "Aku bahagia bisa ada di sampingmu, tapi apakah aku bisa bertahan lama"

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu, kamu akan bertahan kamu akan bisa bertahan aku akan mengobati mu kemanapun asal kamu bisa sembuh, asal kamu bisa terus bersama aku tidak usah khawatir"


Dedes hanya bisa tersenyum , karena dirinya tidak yakin dengan kehidupannya ini. Dirinya benar-benar tidak yakin apakah dirinya akan hidup lama, rasanya badan ini sudah lemas sekali rasanya badannya ini makin kemari makin kecil dan tidak sebugar dulu.


__ADS_2