Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 22 Datang ke undangan


__ADS_3

Ace melihat penampilan Dedes yang sudah sangat cantik sekali. Ace mengangkat infusnya dan memasangnya ke Dedes.


"Apakah kita akan pergi ke pesta dengan membawa infus ini "


"Ya tidak masalah, aku akan terus memegangnya"


Ace mencoba untuk tersenyum tapi sangat sulit sekali. Melihat keadaan Dela yang seperti ini membuatnya sangat sedih sekali.


Takut-takut kalau dirinya akan ditinggalkan. Dirinya tak akan siap kalau ditinggalkan oleh Dela. Bisa mati rasa dirinya ini.


...----------------...


"Boleh tunjukan undangannya "


Ace mengeluarkan undangannya dan memberikannya pada pager ayu "Silahkan masuk "


"Bagus sekali Ace. Lihatlah bunganya sangat segar sekali, hebat ya Desi bisa memilih dekorasi cantik ini"


"Nanti juga kamu akan merasakannya"


Dedes hanya tersenyum saja "Kita duduk di belakang saja ya Ace. Aku tidak mau Ayah atau Ibu sampai melihatku. Yang terpenting aku sudah datang kemari dan melihat pernikahan adikku"


"Iya "


Mereka benar-benar duduk dibelakang. Dedes tersenyum saat adiknya sudah ijab kabul. Sangat cantik sekali adiknya.


"Lihatlah adikku cantik sekali kan, itu tuh yang di sebelah adalah pamanku. Dia itu paling baik dia adalah adiknya Ayahku. Di sini Ayahku terlihat tampan ya"


"Dan ibuku juga cantik segar"

__ADS_1


"Lihatlah mereka akhirnya memasangkan cincinnya Ace "


Ace hanya bisa mendengarkan setiap kata yang diucapkan Dela. Menjawab pun rasanya sulit. Dirinya sangat ketakutan.


Takut Dela akan menghilang dari hidupnya. Bahkan selama tahu penyakit Dela tak henti-hentinya Ace memikirkan tentang keadaan Dela.


Apakah dia akan baik-baik saja atau tidak. "Ace dekor dalamnya lebih bagus ya "


Saat Dedes mengalihkan pandangannya pada Ace dia kaget, karena wajah Ace ada dihadapannya. "Kamu mengagetkan saja, dari tadi kamu tidak melihat pernikahan ini"


"Aku hanya fokus sama kamu aja. Ada yang sakit" tanya Ace dengan sungguh sungguh.


"Tidak ada Ace, aku sangat bersemangat saat melihat pernikahan adikku. Ini adalah impian terbesarnya dia sangat ingin menikah dengan dekor yang begitu indah, apalagi dengan bunga hidup yang segar seperti ini. Ini adalah impiannya dari kecil"


"Lalu impianmu ? "


"Impianku cuman satu, selalu bersama keluargaku itu saja tidak ada yang spesial dalam hidupku. Jangan berharap kalau aku akan bermimpi seperti adikku akan menikah semewa ini. Karena sampai kapanpun tidak akan pernah ada pria yang mau denganku"


"Menikah karena iba, kamu menikah karena keadaanku seperti ini. Tidak aku tidak mau, aku tidak menikah karena rasa iba kamu. Aku tahu aku perempuan penyakitan yang ada aku hanya akan menyusahkan mu saja "


"Kata siapa, aku tulus mengatakan ini bagaimana agar kamu percaya. Aku akan buktikan semuanya, aku benar-benar ingin menikahimu bukan karena iba"


Dedes malah mengambil cairan infusannya dan keluar dari gedung, Ace tentu saja mengikutinya. Tidak mungkin Ace meninggalkan Dela sendirian.


"Dedes kamu kenapa "


Dedes membalikan badannya, ternyata ibunya yang mengejarnya. Ayahnya juga ada di belakang ibunya.


"Ibu, kenapa ibu keluar masuklah Desi pasti akan mencari Ibu. Dedes mau pulang dulu bu, Dedes tidak mau mengganggu pernikahan ini Dedes sudah menepati janji Dedes, untuk datang ke pernikahan Desi hanya datang saja. Dedes tidak akan mengacaukan semuanya Dedes janji bu"

__ADS_1


"Kamu kenapa kenapa kamu diinfus seperti ini. Kamu sakit apa kenapa ga pernah hubungin ibu "


Ibunya malah menangis. Dedes langsung menghampirinya dan mengusap air matanya" Ibu jangan menangis. Lihatlah riasan ibu akan hilang, ibu sudah sangat cantik sekali, jangan menangis ya. Aku baik-baik saja, aku cuman kecapean saja karena bekerja Bu. Selebihnya aku baik-baik saja Ibu bisa tanya pada Afe yang selalu menemaniku di rumah sakit aku baik-baik saja, coba ibu tanya sama dia"


Ace membalikan badannya dan mengusap air matanya.Rasanya berat sekali untuk berbohong pada ibunya Dela.


"Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang, karena saya tidak mengundang anda, saya tidak mau pernikahan anak saya hancur karena kedatangan anda kesini "ucap ayanya dengan ketus.


Dedes menatap Ayahnya dia tersenyum "Tentu saja ayah. Aku akan pergi aku kemari hanya mendatangi undangan dari Desi saja, kalau pun aku tidak diundang aku pasti akan datang karena aku sudah berjanji pada Desi kalau dia menikah aku akan datang. Meskipun aku tidak bisa berdiri di sampingnya seperti kemauannya. Aku tahu disini aku bukan siapa-siapa untuk ayah "


Dedes menggapai tangan Ace dan melangkah pergi dari sana. Ibunya akan mengejar tapi ayahnya sudah menggenggam tangannya dengan erat.


"Sudah jangan kejar dia, aku sudah bilang kan jangan pernah mengundang Dedes, kalau aku tahu dari awal dia ada di sini aku akan membatalkan pernikahan ini seperti apa yang aku katakan"


"Kamu sangat keras sekali Dedes. Apa kamu tidak lihat anakmu begitu pucat. Dia sedang sakit bahkan dia datang kemari dengan memakai infus. Apa kamu tidak kasihan dengannya, Apa kamu tidak khawatir dengan keadaannya. Selama ini kita mengurusnya dari kecil sampai dewasa, tapi saat ada kesalahan satu kesalahan yang dia buat kamu tidak memaafkannya bahkan mengusirnya ran menganggap dia sudah tiada. Apakah rasa sayangmu itu hanya sedikit untuk Dedes atau memang tidak ada "


"Jangan tanyakan kata kasih sayang padaku, cepat masuk jangan membuat Desi menunggu di sana dan jangan membuat malu di hadapan besan"


Ayahnya Dedes langsung masuk sedangkan ibunya malah menangis dipojokan. Sungguh dirinya sangat khawatir dengan keadaan Dedes sekarang. Sebenarnya dia sakit apa tidak mungkin kalau dia hanya sakit biasa, hanya demam atau mungkin kecapean dia tidak akan datang dengan membawa infus seperti itu.


...----------------...


"Bisa kita jalan-jalan saja. Aku ingin menenangkan hatiku misalnya kita ke pasar malam naik permainan atau apapun itu"


"Kamu harus kembali ke rumah sakit. Aku hanya membawa satu cairan infus saja, kita tidak boleh lama-lama di luar seperti ini"


"Tapi aku ingin berkeliling, hanya sebentar saja. Aku ingin naik kincir angin merasakan angin yang begitu sejuk seperti saat kecil, aku selalu menaiki itu bersama Desi. Tolong kabulkan satu hal itu untukku hanya itu saja, aku tidak akan meminta yang lain lagi Ace "


"Baiklah kita akan pergi ke pasar malam, kita akan menaiki apa yang kamu ingin kita akan naik kincir angin ya"

__ADS_1


"Terima kasih Ace, karena kamu selalu mengerti aku dan selalu membuat aku bahagia, bahkan selalu membuat aku bahagia. Aku tidak tahu kalau kamu ga ada disamping aku "


Dedes menyandarkan kepalanya di dada Ace, tanpa segan lagi Ace memeluk tubuh mungil itu yang makin hari makin kurus dan pucat.


__ADS_2