Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 45 Bertemu dia


__ADS_3

"Kenapa sih kamu itu selalu aja belain anak itu. Kenapa kamu nggak masukin pesantren gitu atau sekolah yang ada asramanya, biar kamu tuh nggak pusing dia itu selalu aja dipanggil sama guru BK. Kamu nggak bosen ke sekolah terus seminggu sekali kamu datang kesekolah cuman buat urusin anak nakal itu dan sekarang dia dikeluarin. Apa kamu akan masukin dia ke sekolah negeri lagi terus kamu menjamin dia tidak akan membuat onar lagi"


"Aku yakin Mita, Ameera tidak mungkin membuat ulah lagi dia hanya sedang kehilangan ibunya. Sudahlah dia akan baik-baik saja di sekolah yang baru, aku tidak mau memasukkannya ke dalam asrama. Aku tidak mau dia jauh dariku. Dia adalah anak satu-satunya, kenapa kamu seperti membenci anakku itu"


Mita mendelikan matanya dengan kesal "Makanya aku bilang sama kamu buat program hamil tapi kamu nggak mau, kamu tetap ingin punya Ameera aja aku ini sebenarnya kamu nikahin itu buat apa buat urus kamu sama Ameera aja, gantiin Dita gitu aku juga mau punya anak dari kamu "


"Bukan gitu sayang, aku tuh mau urus dulu Ameera sampai dia lulus, sampai dia kuliah atau mungkin sampai dia nikah. Setelah itu aku bisa tenang dia udah ada yang jagain, aku ga mau kalau dia berfikir kita ga perhatian sama dia "


"Terus kita kapan bahagianya, kalau kayak gini terus. Ameera itu udah gede dia sudah 16 tahun. Seharusnya dia juga udah punya adik masa cuma karena di tinggal ibunya ditinggal Dita sampai kayak gitu, sampai jadi anak nakal. Itu mah cuman alesan dia aja cari-cari perhatian kamu "


"Kamu nggak bisa nyalahin Ameera dong di itu kehilangan seseorang yang selalu ada di sampingnya, makanya kayak gitu. Dari awal aku udah bilang kan kamu dekatin Ameera biar kamu bisa deket sama dia biar dia tuh bisa sedikit melupakan mamanya saat ada kehadiran kamu. Tapi yang aku lihat kalian tidak ada berubahnya padahal sudah 2 tahun kalian tinggal bersama"


"Aku tuh udah pernah deketin anak kamu, tapi nyatanya apa, dia nggak pernah respon aku malah dia selalu usir aku dari kamarnya. Dia tuh nggak pernah mau ada aku di sini. Dia itu benci sama aku Aldi, dia itu inginnya aku pergi dari sini "


Ameera tiba-tiba saja tidak lapar, mungkin dari awal sebaiknya dirinya pergi dari rumah ini tidak ada gunanya kan dirinya juga di sini. Ameera perlahan mundur dan dia tidak sengaja menabrak vas bunga sial sekali padahal kan mau mengendap-endap malah ketahuan kan.


Hal itu membuat ayah dan ibu tirinya melihat ke arahnya "Ameera kamu sudah bangun mau makan apa sayang, mau ayah belikan sesuatu "tawar Aldi


"Gak usah perhatian deh ayah, kalau Ayah emang gak mau urus aku lebih baik aku pergi dari awal kan aku udah bilang kalau Ayah nggak mau urus aku, aku bisa pergi kok aku bisa urus diri akh sendiri, ayah lebih baik urus aja tuh istri baru ayah dan jangan peduliin aku. Emang dari awal seharusnya aku ikut mama aja. Ayah tahu perempuan yang ayah nikahi itu dedemit, dia itu nggak suka sama aku dia itu cuman mau harta Ayah aja"


Ameera langsung berlari keluar rumah, dia tidak peduli dengan malam yang mulai tiba. Dirinya kecewa dengan keluarganya. Dirinya paling kecewa dengan ayahnya. Kenapa dirinya harus selalu dikecewakan dengan seorang ayah. Apakah ada yang bisa menjawabnya. Aku dari dulu selalu bertanya-tanya tentang hal yang satu ini.

__ADS_1


Hujan juga tiba-tiba saja turun, seperti tahu kalau Ameera sedang sedih dan butuh air hujan untuk menghilangkan jejak air matanya. Ameera melihat ke arah belakang ayahnya tidak ada mengejar, berarti ayahnya memang tidak peduli padanya.


Dasar ayahnya itu jahat sekali, ayahnya memang memilih dedemit itu. Dirinya tak suka dengan ibu tirinya itu. Dia hanya suka belanja-belanja dan belanja menghabiskan uang ayah. Padahal mamah dulu selalu menabung dan menyimpan uangnya dengan baik.


Ameera terus saja berlari sekuat tenaga, dia tidak peduli dengan kakinya yang tidak menggunakan apa-apa yang terpenting sekarang adalah pergi dari ayahnya dan keluarganya itu. Benci rasanya dirinya ini pada sosok ayah.


Saat Ameera akan menyeberang dia tidak melihat kanan kiri dan brak. Ameera melihat tangannya yang berdarah dan juga lututnya yang berdarah. Dia menutup matanya dengan tangannya karena sorot lampu dari mobil itu sangat menyilaukan matanya.


"Sialan kenapa bisa ketabrak kayak gini sih, nyebelin banget dah. Tau mau kabur malah ketabrak emang bener-bener ya hidup ini penuh cobaan dan kesialan"


Orang yang menabrak Ameera langsung keluar. Ameera masih belum menatap orang itu dia masih fokus melihat darah di tangannya dan juga kakinya yang mulai memudar.


"Delana"


Ameera menelan ludahnya dengan susah payah, dia bangkit dengan merasakan sakit di kakinya yang terus berdenyut dia menggelengkan kepalanya "Bukan, aku Ameera aku bukan Delana aku Ameera, kamu salah orang kamu keliru "


Ameera menggusur kakinya pergi dari hadapan laki-laki itu, tapi laki-laki itu terus mengejarnya dan mencekal tangannya "Dela jangan tinggalkan aku lagi, aku tahu ini kamu. Aku mengenal kamu kenapa kamu tidak menemuiku Dela kenapa, aku begitu merindukan kamu Dela "


"Kamu ini siapa, kamu salah orang aku Ameera. Aku ini masih sekolah. Lihatlah kamu tidak melihat seragamku, aku masih menggunakan seragam sekolah. Aku masih muda umurku baru 16 tahun tolong lepaskan apakah kamu ingin aku hajar"


"Biar aku antar ke rumah sakit ya, kita pergi kerumah sakit sekarang "

__ADS_1


"Tidak perlu. Terima kasih aku bisa ke rumah sakit sendiri tolong lepaskan tanganmu ini dariku. Lepaskan Pak aku bukan Delana "


Ace langsung melepaskan genggaman tangannya, dia diam saat melihat perempuan yang mirip dengan istrinya itu pergi. Ace melihat punggung itu, mungkin yang sedikit membedakan adalah ini muda maksudnya tidak sedewasa istrinya dulu, tapi wajahnya tidak bisa dibedakan mereka sama. Tak ada yang berbeda sama sekali.


"Dela apa kamu kembali untukku, kenapa kamu mengabaikan ku. Aku begitu merindukan kamu sayang "


...----------------...


Ameera masuk ke dalam supermarket, dia duduk di pojokan dan tidak mau sampai kelihatan oleh Ace. Kenapa mereka bisa ketemu kenapa dunia ini begitu sempit, mungkin dulu ingin bertemu tapi sekarang tidak dirinya tidak mau bertemu dengan laki-laki itu.


Ameera melihat luka di kakinya, darahnya sudah hilang mungkin karena air hujan. Ameera menatap kearah jalan takut-talut Ace malah mengikutinya. Wajahnya masih sama tak ada yang berubah. Mungkin yang berubah dia lebih dewasa.


Kenapa Ace makin tua malah makin tampan, padahal umurnya sudah jauh lebih darinya mungkin sudah 30 ke atas atau mungkin sudah 40 tahun. Entahlah dirinya tidak menghitung berapa umur Ace sekarang. Malahan tidak peduli.


Tapi tak banyak perubahan dari dirinya. Ameera menjadi bingung haruskah menjauh. Apakah harus mendekat dan mengakui semuanya, kalau dirinya terlahir kembali tapi tidak dirinya tidak mau, dirinya tidak mau merusak rumah tangga orang lain. Dia sudah baik dengan istrinya dan dia juga sudah punya anak.


Aku harus bisa melupakannya. Dia adalah masa laluku aku tidak boleh mengingatnya kembali, tidak aku harus melupakan segalanya melupakan tentangnya, melupakan tentang kenangan-kenangan yang dulu pernah kami lalui.


Meskipun kenangan itu tak lama, tapi membekas di hatiku dengan dalam. Tidak tidak Ameera mengelengkan kepalanya, lupakan lupakan kamu sekarang adalah Ameera bukan Delana. Kalian adalah orang yang berbeda, berbeda ya berbeda tak sama.


Ameera terus saja meyakinkan dirinya untuk melupakan segala hal tentang masa lalunya, tapi makin mencoba untuk melupakan makin sulit untuk melupakannya juga, kenapa dirinya harus terlahir kembali kenapa.

__ADS_1


__ADS_2