
"Nak pulang"
Ameera sampai kaget melihat ayahnya yang tiba-tiba ada di hadapannya. Ayahnya sudah basah kuyup "Mau apa ayah nyusul aku, udahlah ayah urus aja perempuan itu. Ga usah ayah urus aku, aku ga masalah kok "
"Pulangnya Ayah tahu ayah salah, tapi tolong jangan seperti ini pulangnya, Ayah minta maaf. Ayah sungguh minta maaf sayang. Ayah tidak mau ditinggalkan oleh kamu "
"Gak perlu ada yang dimaafkan, aku sudah terlalu kecewa sama ayah udah biarin aku bebas aja ya, Ayah nggak usah cari-cari aku lagi mending Ayah fokus sama hidup ayah sendiri aku bisa kok hidup sendiri aku udah pernah hidup sendiri ayah. Aku udah pernah ngerasain gimana cari uang, hidup sendiri banting tulang pokoknya serba sendiri aku udah pernah. Jadi ayah ga usah khawatir sama aku "
"Jangan seperti itu, ayo pulang ibu kamu Mita tanyain kamu ayo kasihan. Kami tak mau kamu pergi kemana-mana "
Ameera tersenyum sinis "Tanyain aku yakin Ayah, yakin dengan kata-kata ayah itu bukan tanyain aku tapi dia ingin aku pergi aku denger kok semua ucapan yang ayah dan ibu tiri bicarain, dia itu nggak suka sama aku Ayah, aku mau tanya kapan dia masuk kamar aku yah kapan, dia bujuk aku, deket sama dia kapan aku ingin mempertanyakan semua itu. Kapan di mana dia ajak bicara aku baik-baik selain bentakan dan cacian dari dia"
"Pulang ya, ayah akan ikuti apa yang kamu mau, asal kamu pulang jangan seperti ini ayah akan bicara dengan ibu kamu ya. Kita harus bicara baik-baik sayang. Pasti semuanya akan selesai jika kita bicarakan dengan baik-baik"
"Terus semuanya akan baik-baik aja gitu kalau Ayah bicara sama perempuan itu. Semuanya akan kembali ke semula seperti saat ada Mama nggak dan itu ga akan pernah terjadi ayah, mama itu nggak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Kenapa sih aku harus terlahir kembali ayah, kenapa aku harus selalu disakiti oleh Ayahku sendiri kenapa ayah"
Aldi langsung memeluk anak semata wayangnya itu, dia sangat menyayangi Ameera sangat-sangat menyayangi Ameera melebihi dari apapun. Ameera adalah hidupnya, Ameera adalah segalanya baginya tak akan pernah bisa tergantikan sampai kapan pun itu.
Ameera yang kasihan melihat ayahnya yang begitu basah kuyup akhirnya mengikuti langkahnya untuk pulang. Selama perjalanan mereka sama-sama diam namun tangannya selalu digenggam oleh ayahnya, tidak dilepaskan sama sekali bahkan saat masuk ke dalam rumah pun masih digenggam. Ameera diantarakan ke kamarnya oleh ayahnya langsung.
"Segeralah ganti pakaianmu sayang, jangan sampai nanti kamu sakit ya. Ayah sangat menyayangimu jangan berpikir kalau Ayah ini akan menyakiti hati kamu. Besok kamu sudah mulai sekolah Ayah tadi menelpon teman dekat Ayah katanya dia bisa membantu kamu untuk masuk ke sekolah baru kamu itu dengan cepat"
"Padahal Ameera pengen istirahat dulu ayah. Kenapa sih langsung sekolah padahal Ameera pengen santai-santai dulu sebentar" Ameera menjadi lesu mendengar itu semua kenapa cepat sekali coba ayahnya menemukan sekolah barunya.
"Ga bisa sayang, nanti yang ada kamu ketinggalan pelajaran. Jadi anak yang baik ya di sana jangan nakal-nakal lagi. Jadi anak yang pintar seperti dulu lagi selalu mendapat rangking satu ya"
"Aku nggak bisa jamin itu semua Ayah, apa yang ada dalam diriku udah melekat jadi mungkin kalau Ayah pengen aku berubah Ayah harus tinggalin perempuan dedemit itu, aku nggak suka sama dia bukan karena dia pilihan Ayah atau enggak sama kayak Mama tapi perempuan itu cuman mau harta Ayah aja. Seharusnya sebelum menikah dengan dedemit itu Ayah pikirkan dulu latar belakangnya dan kenapa dia tiba-tiba mau menikah dengan ayah, setelah mama baru meninggal 2 bulan. Dia itu sangat mencurigakan sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan "
Tanpa mau mendengarkan jawaban dari ayahnya dulu, Ameera langsung menutup pintunya. Ameera langsung saja pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya, tanpa mandi dulu. Yang sekarang dirinya pikirkan adalah kakinya dan juga tangannya yang masih sakit harus segera diobati.
Ameera mengobatinya sendirian. Biasanya kalau sedang terluka seperti ini mamanya yang selalu mengobatinya. Mamanya begitu sangat berarti dalam hidupnya, mamahnya adalah orang yang paling dirinya sayangi dan mamanya tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Meskipun nanti dirinya menemukan wajah yang sama dengan mamahnya tapi tetap saja tidak akan pernah sama dengan mamanya.
...----------------...
Pagi-pagi sekali Ameera sudah melihat seragam baru, sepertinya ayahnya memang sudah benar-benar menyiapkan semuanya "Kenapa sih harus sekolah ini. Ini kan bukannya sekolah yang elit itu padahal aku pengen sekolah di SMA biasa aja, nggak yang kayak gini. Ayah tuh yah tahu anaknya nakal kayak gini dimasukin ke sekolah kayak gini. Pasti banyak aturannya, mau tidak mau aku harus mengikuti aturan mereka menyebalkan sekali akh "
Ameera yang malas-malasan segera pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap, kalau tidak cepat-cepat bersiap pasti ayahnya akan menyusulnya ke dalam kamar dan menyuruhnya untuk cepat-cepat memakai seragam tanpa harus mandi dulu. Itu kan jorok sekali.
Ameera memakai seragamnya itu, setelah selesai melakukan rutinitas paginya dia turun ke lantai bawah dan sudah ada ibu tirinya dan juga ayahnya yang sedang menunggunya untuk makan bersama.
"Ayah akan mengantarmu ke sekolah, kamu akan masuk sekolah baru. Bagaimana kamu suka sekolahnya sudah terlihat kan dimana sekolahnya setelah kamu memakai seragamnya "
"Iya yah, tapi kenapa harus sekolah itu. Padahal aku mau SMA bisa aja jangan yang kayak gini " protes Ameera langsung pada ayahnya. Semoga saja ayahnya memindahkannya.
"Awas aja nanti di sana kamu bikin onar lagi, jangan bawa rokok kamu itu bukan laki-laki jadi nggak usah aneh-aneh deh ngerokok segala. Jadi perempuan tuh harus anggun, harus baik juga jangan kayak gitu. Nanti kalau kamu ga berubah mana ada laki-laki yang mau sama kamu coba "
Ameera menatap Mita sekilas, lalu memakan rotinya "Memang kamu siapa aku sampai-sampai harus ngatur-ngatur. Mau aku bawa rokok, mau aku bawa pisau mau aku bawa apapun itu bukan urusan kamu, emangnya kamu yang bayarin aku sekolah bukan kan kamu juga di sini numpang. Jadi jangan sok nasehatin deh. Lihat dulu hidup kamu udah bener belum "
"Ameera jangan seperti itu dia ibumu, dia juga ingin yang terbaik untuk kamu. Jangan seperti itu Ameera dengarkan nasihatnya"tegur Aldi pada anaknya
__ADS_1
"Jangan sampai nanti Ayah kamu datang ke sekolah hanya untuk mengurus kamu yang masuk ruangan BK, itu sangat memalukan sekali. Pekerjaan ayah kamu itu bukan itu saja pekerjaannya sangat banyak jadi jangan terus membuat masalah"kembali ibu tirinya itu berceloteh.
"Capek ya dengerin dedemit ngomong, mending pergi aja deh. Pagi-pagi ini telinga udah sakit aja ah "
Ameera langsung pergi tanpa meminum susunya dulu. Aldi hanya bisa menggelengkan kepalanya harus bagaimana berbicara pada Ameera agar bisa menerima ibunya maksudnya ibu tirinya ini. Mau bagaimanapun istrinya tidak akan pernah bisa kembali lagi sampai kapanpun.
"Lihat kan gimana kelakuan anak kamu. Dia nggak pernah dengerin kata-kata aku. Bahkan dia ngatain aku dedemit. Aku ini bukan dedemit Mas aku itu sakit hati loh dibilang kayak gitu sama anak kamu, bisa nggak sih dia patuh sama aku kenapa sih dia ga bisa patuh sama aku sama sekali, aku tuh udah coba jadi ibu yang terbaik buat dia "
Mita mengatakan itu sampai menangis, Aldi yang memang merasa bersalah dengan istrinya langsung memeluknya "Nanti aku akan berbicara pada Ameera aku akan memberitahunya. Maafkan anakku yang seperti itu ya asal kamu tahu saja Ameera itu anak baik. Mungkin dia masih sangat kehilangan ibunya. Ameera itu sangat dekat sekali dengan ibunya jadi saat ibunya tiada dia sangat kehilangan dan tidak bisa menerima orang lain "
"Selalu saja itu alasannya sudah 2 tahun, sudah 2 tahun Ibunya nggak ada tapi dia tetap aja nggak anggap aku sebagai ibu penggantinya, apa sih kekurangan aku. Padahal nggak ada sedikitpun kekurangan dalam diri aku. Aku mengurus kalian berdua bahkan aku tidak serakah dalam melakukan hal apapun, aku menjadi ibu dan juga menjadi istri yang baik"
"Yang sabar ya, semuanya akan baik-baik saja. Lambat lain juga Ameera akan menerima kamu sudah ya jangan menangis sayang. Mau aku belikan apa hemm"
"Aku tidak mau minta apa-apa nanti anak kamu malah bilang aku cuman mau harta kamu aja, udah sekarang lebih baik kamu antar saja dulu Ameera ke sekolah barunya, jangan sampai dia kecewa dan nanti marah-marah padaku. Aku baik-baik aja kok"
Aldi mencium kening istrinya dan langsung pergi untuk menyusul anaknya yang sudah ada di dalam mobil. Lagi-lagi seperti biasanya hanya ada keheningan di dalam mobil itu. Aldi juga tidak mencoba untuk berbicara pada Ameera.
Nanti kalau dirinya terus berbicara pada Ameera tentang ibu barunya itu yang ada Ameera malah akan makin marah padanya, dan bisa saja nanti Ameera kabur lagi dan tidak pulang ke rumah. Itu akan sangat membuatnya kelimpungan untuk mencari sang anak lagi.
Setelah sampai di sekolah banyak sekali orang yang menatap Ameera. Karena pakaian Ameera yang tidak rapi, bahkan dasi saja tidak benar. Almamater saja bukannya dipakai malah disampirkan di bahunya kancing atasnya dibuka begitu saja. Tidak ada rapih-rapihnya.
"Ameera rapikan dulu pakaianmu itu, pakai almamatermu jangan disampirkan seperti itu saja itu bukan cucian kotor, ayo pakai yang benar lihat banyak yang menatapku ayo nak gunakan yang benar ya "
Ameera tanpa banyak bicara menggunakan almamater itu, tapi dasinya masih sangat berantakan. Mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan ternyata itu teman ayahnya dan akan menjadi wali kelasnya, setelah berbincang-bincang beberapa saat barulah Ameera diantar ke kelasnya dirinya dapat kelas 11 IPA 1.
Setelah ada di dalam kelas, Ameera memperkenalkan dirinya memang sekedar basa-basi saja. Lalu Ameera disuruh duduk di bangku tengah-tengah tanpa banyak bicara lagi, Ameera pergi ke sana dan membuka almamaternya.
Di kelas juga banyak yang menatapnya seperti menatapnya aneh, padahal tidak ada yang aneh dalam dirinya sama-sama saja. Apa mungkin mereka baru melihat perempuan cantik sepertinya. Hemm bisa jadi kan karena memang dirinya cantik.
Saat istirahat Ameera sama sekali tidak keluar dia masih di dalam kelas sambil memainkan permainan cacing, mau pergi ke kantin juga mau beli apa di kantin itu makanannya cuman itu-itu aja nggak ada yang lain.
Jadi lebih baik didalam kelas dulu. Menjadi anak baik dulu sebelum tahu tentang sekolah ini, dirinya harus menjelajahi sekolah ini agar tahu dimana teman aman untuk bolos dan tanpa ketahuan oleh siapa-siapa.
"Hai boleh kenalan"
Ameera menyimpan ponselnya dan menatap perempuan berkacamata di hadapannya, Ameera menatap sinis ke arah perempuan itu"Yakin mau kenalan. Ga akan nyesel nih kenalan sama aku"
"Iya yakin, aku Agnes salam kenal ya mau ke kantin bareng. Siapa tahu kamu mau beli apa gitu atau mau titip atau mau keliling sekolah juga boleh aku akan antar kamu keliling "
"Boleh deh, keliling sekolah pengen tahu setiap detail sekolah ini dan di mana juga ruangan tersembunyi yang jarang dilalui murid-murid. Aku pengen tahu"
"Kenapa cari tempat tersembunyi buat apa"
"Nanti juga kamu tahu mau nggak ngajak aku keliling-keliling di sini, kalau ga mau sih ga apa-apa nanti aku keliling sendiri "
Agnes langsung menganggukan kepalanya dengan semangat "Iya mau. Ayo aku antar untuk kamu berkeliling di sini, ayo kamu bakal suka deh sama sekolah ini "
Ameera dia segera bangkit dan melipat tangan seragamnya mereka berdua berjalan beriringan. Banyak orang yang menatapnya kembali, tapi Ameera tidak peduli. Mau mereka menatapnya sampai mata mereka copot pun dirinya tidak peduli. Itu mata mereka bukan mata punyanya jadi tak masalah.
__ADS_1
Setelah puas berkeliling akhirnya Ameera menemukan tempat yang sepertinya enak dipakai nongkrong, kapan-kapan dirinya akan pergi ke sini sendirian tanpa Agnes. Kasian kalau Agnes dibawa-bawa dia pasti anak baik bukan anak nakal seperti dirinya.
"Mau ke kantin juga nggak"
"Bukannya sebentar lagi bel ya Agnes, terus langsung pelajaran apa sih soalnya ayah aku masukin baju olahraga juga ke dalam tas. Emangnya udah ini pelajaran olahraga ya aku belum dapat mata pelajaran apa aja nih setiap harinya. Soalnya tadi juga langsung dibawa masuk"
"Ya udah nanti aku kasih kamu ya. Emang udah ini olahraga mau ganti baju sekarang aja biar nanti ga berebutan kamar mandi sama yang lain "
"Boleh, ambil dulu bajunya kali nggak bisa langsung pergi ke kamar mandi"
"Iya ayo balik dulu ke kelas"
Mereka berdua segera mengambil pakaian mereka yang ada di dalam kelas. Saat akan pergi ke kamar mandi tiba-tiba ada yang mengejek Agnes" Baru dapat teman baru ya, siapa sih yang mau berteman sama Agnes selain anak baru itu, dia belum tahu kalau Agnes itu perempuan cupu dia nggak malu emang temenan sama perempuan cupu kayak Agnes, kalau aku sih bajak malu"
Ameera menyimpan pakaiannya di mejanya, lalu menatap perempuan yang tadi berbicara itu bahkan Ameera berkaca pinggang di hadapan perempuan itu"Emangnya kalau cupu apa masalahnya buat kamu, emang ganggu kamu ya. Apa mungkin kamu mau juga penampilannya kayak Agnes. Makanya bilang kayak gitu. Emang apa yang salah dari Agnes ga ada yang salah "
Perempuan itu menatap sinis pada Ameera "Jadi anak baru jangan songong deh, sok berani kayak gini "
"Songong emang di sini siapa yang songong. Udah nggak zaman buli-buli orang. Tahun berapa sekarang sampai-sampai masih tren tuh buli-buli anak orang'
Ameera mengambil pakaiannya dan menarik tangan Agnes, Agnes masih diam sambil menundukkan kepalanya. Ameera juga tidak mau menanyakan apa-apa, dia tadi reflek langsung membela Agnes karena dulu dirinya pernah ada di posisi Agnes dan dirinya tidak mau melihat orang lain diinjak-injak seperti itu.
"Kenapa sih kamu ga ngelawan aja kenapa harus diam aja, kalau mereka didiemin mereka akan merasa kalau mereka itu kuat dan bisa memang "
"Udah capek juga mau balas gimanapun, nggak akan pernah ada yang bela aku. Mereka malah akan tertawain aku kalau aku lagi dikerjain sama mereka. Jadi buat apa bela diri juga nggak ada gunanya. Ya emang penampilan aku kayak gini ya udah sih mereka mau bicara apapun aku nggak peduli yang terpenting aku nyaman "
"Sekuat itukah kamu"
"Mau gimana lagi, aku juga ga mau ubah penampilan aku, toh sebentar lagi juga aku bakal lulus kan nggak akan lama tinggal 1 tahun lagi juga lulus selain itu aku bisa jauh dari mereka, makasih ya udah mau jadi teman aku selama ini emang nggak pernah ada yang mau temenan sama aku"
Ameera hanya menganggukan kepalanya, dia masuk ke dalam salah satu kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya menggunakan pakaian olahraga. Mungkin untuk pertama kalinya dirinya mengikuti pelajaran olahraga ingin tahu saja dulu bagaimana sekolah di sini.
Mereka sudah dikumpulkan di lapangan dan sekarang adalah saatnya main basket, itu adalah salah satu permainan yang sangat Ameera sukai dia dengan semangat langsung mengambil bola basket itu. Dia bermain bola basket dengan sempurna teman-teman laki-lakinya yang di sana bersorak menyemangati Ameera.
Ameera begitu senang saat apa yang dirinya sukai dimainkan olehnya. Ameera sudah memasukkan beberapa kali bola basket itu setelah tubuhnya lelah Ameera duduk di samping Agnes.
Ameera menatap lurus ke arah laki-laki yang sepertinya dari tadi ada dari sana, tapi tidak memakai seragam sepertinya maksudnya tidak memakai baju olahraga berarti bukan murid kelas dirinya kan.
"Agnes siapa sih laki-laki itu, dilihat-lihat tuh dari tadi lihatin aku terus"
"Oh itu namanya Kevin, dia anak 11 IPA 2"
"Kevin ya, emang kalau ada yang olahraga suka lihatin kayak gitu ya"
"Ga juga sih malahan dia tuh acuh banget dingin dan ya gitu deh baru pertama lihat juga aku, dia ada di lapangan dan lihat yang lagi olahraga"
"Terus gak ada yang negur dia gitu"
"Ga ada sih "
__ADS_1
"Hemm,"