Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 14 Kesedihan Ace


__ADS_3

Ace yang baru saja bangun dikagetkan dengan dering ponselnya yang sangat melengking. Dengan malas Ace mengangkat teleponnya.


"Hallo "


"Ace "


Ace yang mendengar suara Dela langsung bangun dan terduduk "Dela ada apa "


"Bisa kamu menemaniku, hari ini Andreas mengajakku untuk makan malam, tapi aku tidak pede kalau pergi sendiri. Bisa kamu datang dan temani aku"


Ace langsung lesu dirinya kira akan memberitahu kabar gembira, kalau Dela tak jadi menikah dengan Andreas tapi nyatanya malah kebalikannya.


"Apalagi yang membuatmu tidak pede, kamu sudah berubah kamu sudah cantik lalu apa yang membuatmu segan untuk bertemu berdua. Rasanya tidak enak saja aku tiba-tiba ada di tengah kalian"


"Tolong aku, aku hanya ingin berangkat bersamamu saja. Kita juga akan membahas tentang pernikahan aku akan meminta pendapatmu nanti disana "


"Baiklah aku akan menemanimu jam berapa "


"Jam 08.00 malam, aku tunggu dirumah ya "


"Baiklah, nanti aku menjemputmu "


Sambungan sudah berakhir, Ace mengambil alkohol di lemari esnya, sungguh cintanya bertepuk sebelah tangan. Apakah sesakit ini mencintai orang yang telah mencintai orang lain.


...----------------...


Dedes tersenyum pada Ace yang sudah menunggunya didalam mobil, Dedes segera masuk dan duduk disamping Ace.


"Kamu bahagia "


Dedes yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung menganggukan kepalanya "Aku begitu bahagia, akhirnya ada laki-laki yang mau menikah denganku. Semua ini karenamu semua bantuan darimu sungguh sangat berarti bagiku"


"Aku senang bila kamu senang seperti ini. Aku bahagia melihatnya"


Dedes menganggukan kepalanya dan menatap keluar jendela, hatinya sedang senang, bahagia intinya tak bisa di deskripsikan.

__ADS_1


Mereka yang sudah sampai langsung saja turun, Ace hanya mengikuti langkah Dedes. Dia tak banyak bicara. Bahkan saat mereka sudah ada dimeja itu dan duduk bertiga Ace masih diam.


Ace menatap bagaimana interaksi mereka berdua. Ace melihat Dela begitu bahagia dan banyak sekali tersenyum bahkan mereka makan saling suap.


"Ku kira kalian dulu berpacaran " ucap Andreas sambil menatap Ace.


"Kami tidak berpacaran, tapi kami lebih dari itu "jawab Ace dengan datar.


"Apa maksud dia sayang "


"Maksudnya kami seperti keluarga, aku sudah menganggap Ace seperti kakakku sendiri, dia yang selalu membantuku dia yang selalu ada untukku. Disaat aku sedih ataupun bahagia dia selalu ada. Aku bahagia bisa ada di sampingnya"


Andreas mengangguk-anggukan kepalanya, kembali menatap Ace, lalu kembali menyuapi Dedes. Sepertinya Andreas sedang membuat Ace cemburu.


Mata Ace sudah sangat merah, bahkan urat-urat tangan Ace sampai menonjol. Ace menggenggam gelas dengan sangat erat sampai pecah.


Tapi mereka berdua tak menghiraukan itu malah asik saling suap dan bermesraan dihadapan Ace. Ace bahkan sama sekali tak menyentuh makanan yang ada disana.


"Em kamu tidak memakan ini Ace ada apa " tanya Dedes yang binggung.


"Kalau mau pulang silakan pulang terlebih dahulu, biar nanti Dedes aku yang mengantarkannya. Kamu tidak usah khawatir dia akan aman bersamaku, kamu tahu sendiri kan siapa aku. Aku adalah calon suaminya maka aku akan bisa menjaganya dengan baik"


Ace langsung bangkit dia sudah sangat muak dan marah, Dedes yang mau mengejar Ace langsung ditahan tangannya oleh Andreas.


"Mau kemana sayang, jangan kejar dia biarkan saja. Dia sudah dewasa kamu mau membuat aku marah dengan kamu mengejarnya "


Dedes kembali duduk, tak mau menyinggung perasaan Andreas. Baikan biarkan nanti dirinya menelfon Ace. Semoga saja Ace tak marah. Semoga saja dia bisa membujuk Ace.


"Kita harus membahas tentang pernikahan kita sayang, apakah kamu tidak antusias tentang pernikahan ini "


"Tentu saja aku sangat antusias, jadi kita akan membahas yang mana dulu "


"Emm, undangan. Aku sudah memilih beberapa undangan tinggal kamu pilih yang menurut kamu bagus "


Dedes segera menatap beberapa pilihan dari Andreas, ada yang memikat pilihannya "Ini aku suka "

__ADS_1


"Benarkah apakah tidak terlalu sederhana "


"Aku suka yang ini "


"Baiklah aku akan memesannya yang ini, aku akan mengikuti mu sayang "


Dedes menganggukan kepalanya dia kembali lagi melihat kebaya pilihan Andreas "Emm, aku belum memikirkan tentang kebaya mana yang akan aku pakai "


"Ini bagus sayang, aku suka ini "


"Apakah aku boleh memikirkannya dulu, nanti kalau sudah ada yang cocok akan aku pilih "


"Hemm, baiklah mau pulang sekarang sayang "


"Boleh ini sudah malam "


"Baiklah sayang mari "


Mereka segera keluar dari dalam restoran, Andreas merangkul Dedes dengan mesra, Andreas tak mau melepaskan Dedes dari dekapannyannya.


...----------------...


Ace datang kerumah bukannya tidur tapi dia malah mabuk, Ace naik keroftop dan berteriak sekencang-kencangnya.


"Akhh kenapa begini, kenapa harus begini jalan hidupnya. Apakah aku tak bisa bahagia. Apakah aku harus terpuruk terus "


Ace menegak alkohol itu satu botol sekaligus. Ace terengah-engah, menahan amarahnya yang begitu besar ternyata sulit sekali..


Ace menghapus air matanya yang tiba-tiba saja mengalir, Ace menghapusnya dengan kasar. Rasanya menyesakan sekali.


"Apakah aku terlihat buruk didepan mu Del, aku begitu mencintaimu apakah kita tak bisa bersama aku sakit Dela. Aku sakit hati akhh, aku harus bagaimana"


"Aku sangat mencintaimu, aku begitu menginginkan mu tapi kamu sama sekali tak melirikku, aku memang senang melihat kamu bahagia tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam sangat sakit"


Ace membaringkan tubuhnya melihat langit yang begitu gelap, hanya beberapa bintang yang ada disana. Ace tertawa bertapa hidupnya ini tak pernah beruntung dari dulu.

__ADS_1


Mungkin lebih nyaman dipenjara saja, tak akan ada cinta, tak akan ada perempuan yang bisa menarik perhatiannya seperti sekarang.


__ADS_2