
"Ibu dari mana, Ayah dari tadi mencari Ibu dan kenapa juga rumah dibereskan seperti itu Dedes juga di mana ? "
Bukannya menjawab Ibunya itu malah menangis "Ada apa Bu, kenapa coba jelaskan padaku jangan membuat aku binggung seperti ini "
"Kamu sudah bebas dan kamu bisa menikah bulan depan, beritahu Arjun dia pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini"
Desi mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ibunya "Dedes sudah menemukan orang yang tepat Bu. Apakah pernikahan kami akan dilangsungkan bersama? "
Ibunya tersenyum hambar lalu mengelengkan kepalanya "Itu tidak akan pernah terjadi, Ayahmu telah membuat Kakakmu ditiadakan dalam keluarga kita"
"Maksud Ibu apa "
"Sudahlah kamu jangan memikirkan itu semua, yang terpenting kamu bisa menikah bersama Arjun jadi kamu tidak usah menangis tiap malam lagi Desi. Kamu sudah bebas, kamu akan bahagia bersama pilihanmu. Jangan pikirkan Kakakmu dan jangan ungkit-ungkit masalah ini di depan Ayahmu "
Ibunya langsung saja masuk, Desi yang binggung mencoba untuk menghubungi Dedes ingin menanyakan apa yang terjadi tapi sama sekali tidak diangkat.
Dedes malah terus menolak panggilannya "Ada apa ini, Dedes angkat telfonnya"
...----------------...
Dedes saat bekerja pun masih menangis, masih bingung harus mencari rumah di mana. Dedes sudah menelpon kesana kemari tapi belum ada yang menanggapinya.
Sudah mencari di koran beberapa rumah yang dikontrakkan, tapi semuanya tidak ada yang masuk. Uangnya hanya sedikit dan dari rumah dirinya tidak membawa apa-apa, pakaian pun dirinya tidak membawa.
Dedes kembali beralih ke kasir untuk melayani customer yang datang. Selama melayani pun Dedes banyak melamun dan juga menangis tapi teman-temannya hanya acuh. Tiba-tiba saja telepon kantor berdering.
Dengan cepat Dedes mengangkat teleponnya "Iya Pak tadi saya yang menelpon. Apakah rumah itu kosong"
"Apakah bisa diturunkan sedikit harganya, saya sangat butuh rumah itu Pak sekarang juga. Saya sangat butuh sekali, saya juga cuman tinggal sendirian nanti disana"
"Tolong Pak bantu saya atau mungkin setengah dari harganya dulu saya bayar, nanti setelah itu bulan depan saya bayar full Pak dengan kekurangannya"
"Tolong Pak mengertilah"
"Pak Pak"
Sambungan langsung dimatikan sepihak, Dedes sudah sangat putus asa harus minta bantuan pada siapa lagi, harus tinggal di mana malam ini dan untuk seterusnya. Dirinya tidak punya pelarian, dirinya tidak punya teman dekat satupun.
__ADS_1
"Apa aku harus minta bantuan Ace ? "
"Tapi apakah dia akan membantuku ? Aku sudah banyak merepotkannya"
"Kita coba saja semoga saja dia mau membantu"
Dedes segera berlari ke arah pojok ruangan, dirinya tidak mau ada yang mendengar kalau dirinya sedang menelpon di jam kerja. Untung saja dirinya mempunyai nomor Ace yang waktu itu diberikan oleh Ace.
"Halo maaf aku mengganggu waktumu"
"Bisakah kamu membantuku Ace. Aku sungguh kesulitan untuk mencari rumah. Bisa kamu membantuku ? Aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi, hanya dirimu lah yang aku kenal sekarang"
"Baiklah kita bertemu saat pulang kerja, aku akan menunggu di lobby"
"Terima kasih karena kamu sudah mau membantuku"
Dedes memeluk ponselnya dengan senang. Akhirnya dirinya mendapatkan rumah juga. Baiklah sekarang kita coba fokus untuk bekerja dan nanti sore bertemu dengan Ace.
Mungkin memang sudah takdirnya yang harus terus berurusan dengan pria itu, tidak masalah dia tidak jahat dia baik dan selalu membantunya. Anggap saja dia sekarang sebagai temannya.
...----------------...
"Kamu lihat aku sudah mencoba mencari di sini, tapi tidak ada satupun yang aku temukan"
"Kenapa tidak bicara dari tadi, dari awal mungkin kamu tidak usah mencari rumah. Aku bisa membantumu kamu bisa mengandalkan ku kapan saja"Ace duduk disamping Dedes.
"Dedes"
Dedes membalikkan tubuhnya, saat ada yang memanggilnya ternyata itu Andreas dan juga dua temannya Andreas "Dedes kita ada pertemuan dengan klien dan jalannya melewati rumahmu, mau pulang bersama "
"Tidak terima kasih"
"Ayo tak masalah Des, jangan takut dan sungkan"
"Sudahlah Andreas biarkan saja, mungkin dia sedang PDKT dengan laki-laki itu. Kamu tidak lihat dia sedang bersama seorang laki-laki. Biarkanlah dia mencari pacar sudah lama kan dia tidak punya pacar"
Andreas malah tersenyum mendengar semua itu "Apakah kamu benar sedang dekat dengan laki-laki itu" tanya Andreas dengan penasaran.
__ADS_1
Dedes yang bingung ingin menjawab apa akhirnya memperkenalkan mereka berdua saja "Andreas ini Ace dan Ace itu Andreas dan kedua temannya Andreas"
Ace hanya menatapnya sebentar lalu kembali acuh, memang dia sangat dingin pada orang lain tapi pada Dedes entah kenapa berbeda.
"Ayo kita pergi sekarang, kita ke rumah itu agar kamu juga cepat-cepat istirahat"
"Baiklah "
Dedes langsung pergi bersama Ace, Andreas masih disana menatap kepergian Dedes dan laki laki itu.
"Ayo Andreas kenapa malah diam di sini, kamu cemburu melihat Dedes bersama laki-laki lain jangan bilang kalau kamu suka sama perempuan itu"
"Apaan sih, engga kata siapa. Cuman aneh aja dia bisa deket sama laki-laki. Ya udah yuk pergi"
...----------------...
"Ini rumahnya kamu suka"
"Terima kasih karena kamu telah membantuku. Aku tidak tahu kalau tidak ada kamu aku harus minta bantuan pada siapa lagi "
"Ayo Lihat dulu rumahnya baru berterima kasih. Kamu kan belum lihat ruangannya seperti apa, rumahnya seperti apa"
Ace membuka gerbangnya dan terpampang lah rumah itu. Rumah yang cukup besar dan Dedes suka malah bersyukur mendapatkan tempat tinggal "Terima kasih aku suka tempatnya"
Ace menganggukan kepalanya, mereka berdua masuk. Ace juga menunjukan kamar untuk Dedes "Ini kamarmu. Maaf sedikit berantakan soalnya aku tidak sempat untuk membereskan semuanya"
"Tidak masalah nanti akan aku bereskan"
Dedes berkeliling di kamar itu, sangat luas sekali bahkan tempat tidur, lemari, kaca semuanya sudah ada di sini. Sebenarnya ini sangat sudah lengkap untuknya, tinggal dibereskan sedikit semuanya akan rapi.
Setelah puas berkeliling, Dedes kembali mendekati Ace "Bagaimana kalau besok kita berbelanja stok makanan dan juga barang-barang yang belum ada di sini. Aku akan mengantarmu"
"Aku bisa pergi sendiri, tapi jika kamu ingin ikut tidak masalah kita pergi bersama-sama tapi aku tidak memaksa ya"
"Aku kan yang tadi menawarkan mu"
"Hemm iya "
__ADS_1
Ace yang akan mengusap kepala Dedes tidak jadi, karena Dedes langsung mundur seperti takut padanya"Maaf " ucap Ace
Ace langsung saja pergi dari ruangan itu, meninggalkan Dedes. Dedes yang merasa bersalah juga malah diam saja. Bukannya dirinya takut pada Ace, tapi hanya kaget saja.