Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
bab 47 Makan yang banyak


__ADS_3

Ameera dia langsung pulang ke rumah, dia juga tidak mau jalan-jalan dulu atau misalnya untuk beberapa minggu mungkin akan menjadi murid baik tapi tidak tahu untuk kedepannya. Mungkin akan lebih nakal lagi seperti dulu.


Ameera juga masih mengawasi bagaimana keadaan sekolah itu, dirinya juga kan baru masuk jadi tidak tahu bagaimana keadaan dari sekolah itu, apakah lebih baik dari yang dulu atau mungkin akan lebih bebas. Meskipun banyak aturan kan.


Ameera juga suka disana karena ada teman seperti Agnes yang mau berteman dengannya, tidak takut karena dia anak yang nakal. Ameera masuk kedalam rumah dengan riang sekali.


"Tumben udah pulang jam segini, biasanya pulang malam terus anak perempuan tapi pulangnya malam, tapi sekarang udah dipindahin sekolah pulangnya siang lagi kesambet apa nih, apa ada yang ngekang kamu disana, kalau ada sih aku senang. Jadi kamu ga nakal "


Ameera menatap ibu tirinya "Emang masalah ya buat kamu kalau aku pulang siang ataupun malam. Memangnya aku pernah susahin kamu gitu buat jemput aku pulang enggak kan, aku bahkan nggak pernah nelpon kamu. Bahkan aku juga nggak pernah punya nomor kamu buat apa yang ada nanti ponsel aku bisa mati kalau sampai-sampai aku punya nomor kamu. Aku sebenarnya males pulang ke rumah lihat muka kamu, tapi karena ini rumah Mama aku makanya aku pulang kemari"


"Aku nggak mau saat di hadapan Ayah kamu kamu selalu memojokkan ku, kamu itu harus patuh padaku di sini aku ibu kamu. Kamu harus mengikuti kata-kataku dan aturanku, ini adalah rumahku kamu harus patuh denganku. Mama kamu itu nggak ada berarti rumah ini sudah menjadi milikku bukan lagi milik mamamu, jadi jangan terus mengaku-ngaku seperti itu"


Ameera melangkah lebih dekat ke arah ibu tirinya itu lalu melipat kedua tangannya dengan wajah yang songong "Benarkah ini rumahmu, tapi kurasa Ayahku dulu membelinya dengan ibuku bukan denganmu. Kamu di sini adalah orang baru. Seharusnya kamu yang ikuti aturanku, aturan keluargaku bukannya jadi ibu ratu di sini, kamu bukanlah pemilik rumah ini ingat itu"Ameera menunjuk wajah ibu tirinya itu. Tak peduli dirinya dibilang tak sopan oleh orang lain.


"Dengar ya sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa menggantikan ibuku. Kamu di sini hanya ingin menguras harta Ayahku saja. Jika kamu memang perempuan baik-baik kamu tidak akan mau dinikahi Ayahku saat mendengar dia baru kehilangan istrinya 2 bulan yang lalu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memanggilmu ibu dan sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan harta Ayahku selagi aku masih hidup, kalau kamu mau harta ayahku makan langkahi mayatku dulu. Aku tak akan membiarkan kamu bahagia "


Ameera langsung saja melengos meninggalkan ibu tirinya, sudah lelah sebenarnya selalu bertengkar dengan ibu tirinya tapi mau bagaimana lagi dia yang selalu memulai dan dia juga selalu yang berbicara pada ayahnya.


Untungnya ayahnya tidak terlalu percaya kan, meskipun kadang dirinya suka diceramahin. Ya sudah dirinya juga tidak mau menyerahkan rumah ini pada perempuan itu. Jangan sampai rumah mamahnya ini jatuh pada perempuan jahat itu. Pokoknya rumah ini harus terus dirinya pertahankan sampai kapanpun.


...----------------...


Malam makan malam sudah tiba lagi saja, tak terasa ya udah malam lagi. Ameera yang memang selalu antusias kalau makan langsung duduk di tempat biasa, dia mengambil makanan secukupnya baru saja satu suap Ameera langsung memuntahkannya kembali.


"Ada apa sayang, kenapa tiba-tiba kamu muntahkan makanannya apa tidak enak "tanya ayahnya khawatir sambil memberikannya air minum.


Ameera langsung menuguknya dengan cepat, bahkan mengambil air minum ayahnya. Kenapa makanannya ini begitu pedas sekali. Padahal banyak makanan kesukaannya dan bisa saja habis olehnya malam ini juga.


"Ayah coba Ayah coba makanan ini pedas semua. Mana bisa dimakan kenapa pedas sekali, aduh pedas ayah coba deh ayah "


Aldi segera mengambil satu makanan dan mencobanya benar saja sangat pedas sekali. Aldi langsung memanggil Art nya untuk menghadap padanya. "Bi kenapa makanan ini pedas sekali, bibi tahu kan Ameera tidak terlalu suka pedas. Bibi sudah tahu kan seleranya dari kecil tapi kenapa ini pedas sekali Bi, apakah bibi mulai tidak betah bekerja disini"


"Anu Tuan tadi Nyonya Mita minta kalau semua makanannya harus pedas, katanya dia ingin makan yang pedas-pedas saya sudah bilang kalau Nona Ameera tidak suka pedas tapi katanya tidak masalah, kalau nona Ameera makan yang pedas sehari saja. Saya tidak bisa membantah tuan maafkan saya karena sudah teledor. Saya masih ingat bekerja disini "


Mita langsung memelotkan matanya ke arah Art itu" Kapan juga aku bicara kayak gitu enggak Mas. Aku nggak bicara kayak gitu, mana mungkin aku tega sama Ameera. Ameera itu kan anakku sendiri aku nggak mungkin ngelakuin itu, aku benar-benar nggak lakuin itu buat apa juga kan aku lakuin itu. Ga ada gunanya juga kan "


Ameera yang sudah kesal sekali bertengkar dengan ibu tirinya menyimpan sendok dan garpunya secara perlahan. "Ya udah sih nggak usah dipermasalahkan juga yang pasti juga kamu yang salah kok. Udahlah Ayah aku nggak makan malam ini nggak papa nanti pagi juga aku makan. Bibi juga nggak usah masak apa-apa lagi aku mau langsung tidur aja, aku capek kalau setiap hari harus bertengkar kayak gini terus. Aku juga cape harus nunggu bibi selesai masak pasti akan lama sekali "


Ameera langsung saja melangkah pergi masuk ke dalam kamarnya, tidak ingin bertengkar dan membuat ayahnya pusing kasihan kan. Ayahnya sudah lelah dikantor ditambah lagi dengan pertengkarannya bersama dedemit itu.


"Ada apa sih kamu sampai seperti itu, sampai menyuruh Bibi untuk memasak makanan yang pedas


Kamu bukannya tahu Ameera nggak suka makan pedas bisa nggak sih kalian berdua itu akur Mita. Seharusnya kamu sebagai orang yang lebih tua dari Ameera bisa mendekatkan diri padanya dan membujuknya, jangan seperti ini Mita, kamu malah kayak anak kecil lagi. Jangan mempermainkan makanan mubazir jadi ga kemakan kan makanannya. Atau kamu makan semuanya. Aku mau kamu harus habisi makanan ini ga boleh ada yang tersisa bukannya itu mau kamu kan "


"Aku nggak lakuin itu ya Mas kamu fitnah aku enak aja. Mana mungkin aku tega sama Ameera aku udah tahu apa saja yang nggak disukai Ameera. Itu Bibi aja mungkin salah denger aku nggak nyuruh-nyuruh kok, aku ga mau makan makanan itu ya. Makananya pedes banget deh ah. Aku ga akan sanggup makan itu suruh aja bibi, bibi kan yang masak habisin aja sama bibi "


"Sudahlah aku juga pusing dengan semua ini. Aku juga tidak berselera kalau makanannya sepedas ini. Pokoknya kamu habiskan makanan itu, aku pulang makanan itu harus habis tak boleh ada yang tersisa sedikit pun "


Aldi juga malah meninggalkan meja makan dan meninggalkan istrinya. Aldi berjalan ke arah kamar anaknya dan mengetuk pintunya. Setelah diizinkan masuk oleh Ameera Aldi menghampiri anaknya yang sedang memainkan ponselnya.


"Mau makan malam bersama ayah, hanya kita berdua saja tidak bersama ibumu. Kita makan di tempat kesukaan kamu. Ayo sayang "


Ameera mengangkat kepalanya "Gak deh ayah aku mau tidur aja aku capek, aku mau istirahat aja. Tadi saat disekolah aku main basket dan lama banget jadi sekarang aku kecapean ayah "


"Hanya sebentar sayang kita makan malam berdua saja, ibu kamu nggak akan ikut kita hanya pergi berdua saja ya nggak apa-apa kok kalau kamu mau pakai baju tidur juga nggak masalah. Ayah ga akan marah atau ngelarang kamu "


"Kalau Ayah nggak malu nggak apa-apa sih, aku pakai baju tidur aja yuk pergi. Aku juga pengen makan yang aneh gitu yuk ayah kita cari makanan yang banyak "


Cepat sekali Ameera berubah pikiran, dia langsung menggandeng tangan ayahnya dan saat berpapasan dengan ibu tirinya langsung menjulurkan lidahnya. Aldi juga tidak menjawab pertanyaan istrinya yang bertanya dia ingin ke mana.


Masih kesal dengan kelakuan istrinya itu, seperti anak kecil saja istrinya ini. Apa susahnya sih akur dengan anaknya. Ameera kan anak baik kalau mereka dekat kan enak dirinya.


...----------------...


Ameera memesan banyak makanan, Aldi tidak mempermasalahkannya mau memesan berapapun asal Ameera bisa menghabiskannya "Ayo ayah cepat ayo kita makan aku sudah sangat lapar sekali, perutku ini sudah berdemo dari tadi, cacing-cacing ku bisa mati kalau aku sampai tidak memberinya makan ayah "


Aldi hanya bisa tersenyum mendengar perkataan anaknya, benar-benar anaknya ini ya bisa saja membuatnya tersenyum "Baiklah sayang ayo makan. Ayah sudah lama tidak melihatmu makan banyak, ayo habiskan semuanya ya. Kalau masih kurang kamu pesan lagi ya. Ayah tak akan masalah kok "


"Nah begitu ayah aku kan jadi tenang, lebih baik saat makan Ayah kita berdua saja, jangan dengan dia, aku pasti akan lebih lahap dan banyak makannya Ayah. Kalau tidak Ayah bawa aku pergi makan seperti ini ini pasti akan enak sekali ayah "


Ameera segera melahap makanan pertamanya, emm enak sekali. Ameera hanya fokus saja pada makanannya dia juga tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya karena datang ke sebuah restoran ternama dengan memakai pakaian tidur, dengan sandal bulunya lucu sekali.


"Ameera ya "


Ameera mendongakan kepalanya dengan mulut yang penuh, dia mengerutkan keningnya saat melihat laki-laki yang ada di hadapannya. Ameera menelan makanannya lalu baru bertanya pada laki-laki itu "Iya siapa ya, emang kita saling kenal enggak kan. Benar kan ga saling kenal "


Laki-laki itu tak langsung menjawab. Dia langsung menyalimi tangan ayahnya Ameera "Halo Om aku temennya Ameera namaku Kevin, sebenarnya kita sih belum kenalan tapi aku tahu Ameera karena dia kan anak baru terus banyak banget yang bicarain dia. Boleh gabung Om. karena kursi juga pada penuh aku binggung "


"Tentu aja boleh, sini duduk di sini gabung aja kevin"


Laki-laki itu menatap lagi Ameera "Aku Kevin anak 11 IPA 2"


"Oh iya tadi udah dengar kok saat kamu perkenalkan diri sama ayah aku, ga usah diulang dua kali juga" hanya itu saja yang dikatakan oleh Ameera dia malah fokus lagi pada makanannya, biarkan saja Kevin berbicara dengan sayunya.

__ADS_1


"Maafkan anak Om ya Kevin, dia kalau sudah bertemu dengan makanan kesukaannya ya seperti ini dia akan fokus pada makanannya dan tidak akan pernah fokus dengan sekitarnya. Sudah begini wataknya susah diubah "


"Tidak masalah Om, lebih baik seperti itu kan daripada harus memainkan ponsel sambil makan, lebih baik fokus pada makanannya "


"Iya benar juga kamu sudah pesan makananmu"


"Udah Om, tadi aku udah pesen kok, tinggal nunggu aja. Paling sebentar lagi juga sampai kok om "


"Ya udah Om tunggu ya"


"Ga usah om, om makan duluan aja ga usah nunggu aku om "


"Ga apa-apa nanti kita makan sama-sama, biar enak kita makan sama-sama "


Akhirnya Kevin tidak berdebat lagi, dia mengobrol cukup banyak dengan ayahnya Ameera dengan sesekali menatap Ameera yang masih lahap memakan makanannya.


Ameera hanya fokus saja dengan makananya, tak menghiraukan sekitar bahkan Ameera tak berbicara sama sekali pada mereka. Ameera asyik saja dengan makanannya itu.


...----------------...


Mereka menghabiskan makanannya berbarengan. Ameera mengusap perutnya yang sudah sangat kenyang sekali, dia sudah habis 4 piring makanan. Tentu saja berbeda-beda tidak sama semuanya tapi ya porsinya cukup banyak.


Bahkan Kevin pun yang melihatnya sampai melongo, adakah perempuan seperti ini tidak jaim sama sekali saat ada laki-laki di sampingnya. Dia menghabiskan banyak makanan, belum lagi minuman dan makanan penutupnya.


Ameera yang merasa diperhatikan langsung menatap ke arah Kevin "Ada apa kamu lihat aku, ada nasi ya di pipi ku ini, atau ada es krim yang nyangkut "


"Enggak cuman ya maksudnya kamu kan perempuan biasanya perempuan itu suka jaim kalau ada laki-laki makannya, tapi kamu sama sekali engga kamu acuh dan hanya fokus sama makanan kamu "


"Perempuan itu beda-beda nggak sama semuanya, kalau aku ga peduli ada siapapun yang terpenting aku kenyang, selagi perut aku masih menampung semua makanan ini "


"Ayah pergi dulu ke toilet ya Ameera, kamu di sini dulu sama Kevin. Ayah ga akan lama kok "


"Iya yah, aku tunggu ayah disini ya "


"Terus kenapa tiba-tiba kamu ada di sini "tanya Ameera saat ayahnya sudah melangkah pergi ke kamar mandi.


"Memangnya restoran ini punya kamu, aku juga lagi mau makan di sini ya nggak sengaja aja kita ketemu. Emang sehari-hari di rumah pakai baju tidur ya sampai-sampai ke restoran aja kamu pakai baju tidur kayak gini. Kamu suka banget ya pake baju tidur kayak gini saat keluar "


"Kenapa sih pergi ke restoran aja harus ribet-ribet ganti baju, pakai gaun atau pakai baju yang bagus sama aja kan datang ke sini buat makan bukan buat gaya-gaya, jadi mau pakai apapun ya nggak masalah yang penting beli dan bayar itu aja sih buat aku simple nggak usah diajak ribet. Ga usah fikiran kata-kata orang lain. Mereka cuman bisa ngeritik tapi ga bisa bayarin makanan kita "


"Emm iya juga sih, porsi makan kamu segini tapi badan kamu kecil kayak gini " tanya Kevin yang memang penasaran dengan badan Ameera yang kecil tapi makannya begitu banyak dan masuk semuanya.


"Ya emang kayak gini badan aku, tapi aku suka jadi aku ga perlu diet. Tunggu tunggu tunggu ada satu yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa tadi kamu lihatin aku saat main basket ada apa, kamu mau jadi mata-mata ya "


"Enggak aku cuman penasaran aja soalnya wajah kamu itu sama banget sama foto yang ada di rumah aku yang disimpan sama ayah aku, makanya aku terus lihatin kamu mau deketin kamu juga aku sungkan takut kamu tiba-tiba marah dideketin sama aku karena kelihatannya kamu bukan perempuan yang gampang untuk didekati, jadi aku cuman bisa lihat kamu aja dari jauh "


"Ga ada sih itu juga fotonya dipajang di kamar ayah aku dan perempuan itu juga ada yang foto bareng Ayah banyak deh fotonya, tapi aku nggak pernah tahu siapa itu karena Ayah kalau ditanya juga cuma senyum aja sambil pergi, ga pernah jelasin siapa perempuan itu, bahkan keluarga yang lain juga sama gitu aja "


"Coba dong fotoin nanti, aku pengen tahu dan aku pengen liat juga penasaran nih "


"Iya nanti aku fotoin deh. Tapi gak janji ya soalnya sudah dapetin fotonya. Susahnya tuh bener-bener susah banget "


"Kenapa kayak gitu, emangnya dijaga ketat gitu fotonya sampai-sampai susah kamu foto. Kamu akan anaknya masa sih ga bisa masuk kamar ayah kamu sendiri. Aku aja suka kok masuk kamar ayah sama mamahku "


"Ya emang bener-bener susah. Kamar Ayah tuh susah banget suka dikunci pintunya, jadi aku nggak bisa leluasa masuk kamar ayah kayak gitu aja. Pokoknya nanti suatu saat aku akan perlihatkan foto itu sama kamu tapi aku nggak tahu kapan itu akan aku perlihatkan, atau mungkin kamu nanti main ke rumahku"


Kevin sedang menunggu respon Ameera semoga saja dia mau diajak main kerumahnya. Sekalian kan kalau nanti Ameera jadi pacarnya sudah kenal dengan keluarganya jadi ga susah lagi buat deketin mereka.


Ameera berdecak kesal mendengar jawaban dari Kevin. Kalau gitu ga usah bilang "Bilang aja kalau kamu mau aku singgah di rumah kamu, nggak usah bilang ada foto yang sama kayak aku. Nyebelin deh aku nggak akan mau pergi ke rumah kamu. Kalau mau main kamu aja kerumah aku, tapi engga deh jangan ah, aku ga terima tamu kayak kamu "


Kevin malah tertawa "Aku beneran berkata jujur, emang ada foto yang mirip banget sama kamu tapi foto itu udah lama banget udah bertahun-tahun malahan. Oke deh kalau sudah kamu perbolehkan untuk main kerumah kamu aku akan datang kerumah kamu setiap hari ya "


"Hemm, tersehat ah tapi aku ga akan terima kamu, aku akan kunci pagar rumah aku ga terima tamu kayak kamu yang nyebelin banget"


Ameera menyandarkan tubuhnya ke kursi. Karena perutnya sakit terlalu banyak makan dan juga dirinya memesan berbagai minuman yang cukup banyak, belum lagi es krim ayahnya benar-benar membebaskannya untuk makan apa saja dan dirinya senang bahagia sekali.


Sudah lama mereka tak seperti ini menghabiskan waktu, dua tahun kemari ayahnya hanya sibuk dengan ibu tirinya. Mereka selalu jalan-jalan dan menginap kadang pulang cuman 1 Minggu sekali.


"Kapan-kapan boleh jemput kamu ke rumah ya, aku pengen kali-kali jemput kamu. Nanti aku sendiri deh yang bilang sama ayah kamu "


"No no no no no no aku bisa pergi ke sekolah sendiri, tanpa dijemput sama kamu. Aku nggak mau repotin orang lain, jangan jemput pokoknya aku akan marah kalau kamu jemput nanti "


"Kalau berteman bagaimana, kali-kali bertemu ya"


"Boleh tapi kamu jangan kaget nanti kalau lihat aku, karena aku nggak baik-baik banget sih. Aku itu anak nakal bukan anak baik kayak orang-orang yang ada disekolah "


"Sama kok aku juga nggak baik-baik banget, aku cuman manusia biasa kadang bisa nakal dan baik"


Ameera langsung menatap Kevin dengan semangat" Beneran kamu nggak baik-baik banget, terus kamu nakal gitu di sekolah. Kamu suka ngelakuin apa aja"


"Ya nggak nakal-nakal juga sih"Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ih nggak bener banget sih nyebelin ya, bicara sama kamu tuh nyebelin banget. Aku ga suka bicara kamu ah"

__ADS_1


"Ya emangnya nakal kayak gimana dulu kan, banyak nakal itu beda-beda nakal itu. Coba contohin nakal yang kayak gimana "


"Ya kayak bolos, nggak belajar terus ngerokok, tawuran banyak deh, kamu yang mana, ada salah satu yang aku sebutin ga kenakalan kamu siapa tahu kita bisa temenan "


"Aku engga deh, aku ga kayak gitu aku ga nakal kayak gitu sih, bisa-bisa aku digantung sama ayah kalau kayak gitu "


"Berarti kamu itu baik, anak baik bukan anak nakal udah ah bosan bicara sama kamu. Kamu mah ga bener banget. Aku jadi males bicara sama kamu "


Ameera memanyunkan bibirnya dan melipat tangannya, pasti kalau sedang kesal Ameera seperti itu menyebalkan sekali. Kevin ini katanya tadi bilang dia nggak baik-baik banget tapi sekarang malah bilang dia nggak lakuin kayak gitu, jadi yang bener gimana sih.


"Udah jangan manyun kayak gitu kayak bebek, jelek ih kayak bebek udah mah bajunya warna kuning udah cocok banget deh jadi bebek"


"Biarin deh bibir-bibir aku ini bukan bibir kamu. Kalau kamu mau samain aja bibirnya kayak aku manyun kayak gini "


"Ameera kita pulang Ayah udah bayar semuanya, yu sayang pulang udah malam kamu harus cepat-cepat tidur nanti besok malah kesiangan lagi kalau jam segini belum tidur "


"Boleh Ayah ayo pulang, aku juga udah mulai gantuk ayah aku pengen bobo. Perut aku juga sudah kenyang banget ayah "


Kevin menganggukan kepalanya. Setelah dia berbincang dengan ayahnya Ameera, Ameera dan ayahnya pergi sedangkan Kevin masih ada di sana dia menatap Ameera yang pergi dari hadapannya.


Kevin mulai tertarik dengan perempuan itu, dengan Ameera meskipun ada kesamaan Ameera dan juga foto yang ada di rumahnya, yang selalu Ayahnya peluk dan hanya dipajang di kamar Ayahnya saja, tapi itu tidak membuatnya mundur untuk mendekati Ameera.


Mereka itu kan berbeda tidak sama, perempuan dalam foto itu yang selalu Ayahnya peluk pasti sudah hidup bertahun-tahun lamanya sedangkan Ameera seumuran dengannya kan jadi tak mungkin mereka sama dan satu orang yang sama.


Mereka benar-benar berbeda tidak sama, ya dirinya yakin itu. Tak mungkin mereka sama. Hanya wajah mereka saja yang sama.


...----------------...


"Ayah sepertinya nanti pagi aku tidak akan sarapan, kamu lihat perutku ini sudah buncit aku sudah kekenyangan sekali Ayah, makanan di sana sangat enak-enak sekali. Aku suka sekali makanan disana. Terimakasih ya ayah sudah membawaku makan disana, aku senang sekali. Apalagi ayah tak membawa perempuan itu "


"Mau setiap hari makan di sana ayah akan terus membawamu ke sana, ayah akan terus membahagiakan kamu"


"Tidak mau Ayah, nanti yang ada badanku akan gemuk. Aku tidak mau seperti itu nanti aku akan kesulitan untuk bergerak, aku masih ingin tubuhku seperti ini ayah "


"Pokoknya kalau kamu mau makan di sana lagi bilang pada ayah, ayah akan menemanimu ya kita makan sama-sama lagi di sana. Kamu boleh makan sepuasnya pokoknya kamu boleh pesan apa saja yang kamu mau "


"Tapi hanya berdua kan ayah, jangan sampai membawa perempuan itu. Aku tidak mau ada dia aku tidak akan berselera makan. Kenapa sih ayah harus buru-buru menikah lagi dengan perempuan itu " Ameera wajahnya langsung murung lagi.


"Iya kita berdua saja, kita akan berdua tidak bersama mamah kamu, jangan bicarakan tentang pernikahan ayah lagi ya, banyak sekali yang sudah ayah pertimbangan sayang dan ini demi kebaikan kamu"


"Nanti aku akan berbicara pada Ayah kalau aku mau makan banyak seperti tadi "


Aldi mengusap kepala anaknya dengan sayang, rasanya bahagia sekali melihat Ameera kembali ceria, meskipun hanya makan bersamanya berdua saja dulu saat ada Dita mereka selalu makan di luar bertiga.


Tapi Tuhan malah mengambil Dita dengan cepat dan membuat anak semata wayangnya sedih seperti ini, menjadi anak pendiam dan juga dingin sekali. Bahkan saat awal-awal Ameera selalu mengurung dirinya didalam kamar.


"Ayah nanti kalau sudah sampai rumah bangunkan aku ya. Aku mengantuk kalau sudah makan banyak seperti ini rasanya ingin tidur dan memeluk bantal gulingku"


"Iya nanti ayah bangunkan kalau sudah sampai depan rumah ya, kamu istirahat saja dulu ayah tak akan menganggu kamu sayang "


"Oke ayah aku tidur ya. Jangan ganggu aku ayah, aku akan tidur dengan nyenyak ayah "


"Iya Ayah tidak akan mengganggumu tidur sayang, Ayah tidak akan mengganggumu"


Ameera menganggukan kepalanya, dia membenarkan duduknya dan memejamkan kedua bola matanya rasanya mengantuk sekali. Apalagi besok harus pergi pagi-pagi ke sekolah pasti akan mengantuk juga nanti di sekolah, bisa sajalah nanti tidur minta duduk belakang aja biar bisa tidur nyenyak di belakang nggak ada yang ganggu.


Ya itu adalah ide yang bagus. Enak juga kan tidur siang sambil di dongengkan sama ibu dan bapak guru. Pasti akan nyenyak sekali tidurnya itu.


Aldi menatap anaknya yang tertidur dengan lelap, Aldi kasian pada anaknya kalau harus dibangunkan. Aldi mengangkat anaknya untuk ditidurkan kekamar.


Untungnya anaknya tidak terusik setelah menyelimuti anaknya Aldi keluar dan istrinya sudah menunggunya didepan pintu kamarnya.


"kenapa belum tidur, harusnya kamu tidur ini sudah sangat malam sekali "


"Masih ingat sama aku, kenapa kalian ga nginep aja di tempat makannya. Kamu jahat ga bawa aku, aku juga mau makan sama kamu kenapa sih kamu ini ga adil banget sama aku, kenapa cuman bawa anak kamu aja"


"Kalau bawa kamu yang ada rusuh dan anak aku ga akan makan. Kamu udah habisin semua makanan pedas itu "


"Ga, ga mau aku makan itu. Kamu aja yang makan ga sudi aku makan makanan pedas "


"Makannya jangan aneh-aneh kamu pengen anak aku ga makan, tapi malah bikin makanan mubazir itu semua aku beli pake uang bukan pake daun "


"Kenapa kamu malah ungkit-ungkit semuanya, kenapa sih cuman gara-gara makan itu aja kamu udah ribet banget kayak gitu "


"Bukannya ribet ini pelajaran buat kamu jangan sampai kamu ngelakuin kayak gini lagi. Siapa yang makan ga ada yang makan di luaran sana masih banyak yang butuh makan"


"Aku mau pulang aja kerumah mamah aku, aku disini malah disalahin terus. Ribet hidup sama kamu "


"Silahkan kalau kamu mau pergi, mau pulang juga ga masalah yang terpenting bukan aku yang usir kamu itu kamu sendiri yang mau pulang, silahkan kamu bawa pakaian-pakaian kamu ya. Aku nanti akan bicara sama orang tua kamu kalau kamu emang mau udahan sama aku "


"Kenapa sih, aku cuman mau pulang aja kerumah mamah sebentar kamu ini kenapa "


"Ga kenapa-napa kamu yang kenapa, harusnya aku yang bertanya seperti itu. Udah ah aku pusing bicara sama kamu ga ada ujungnya "

__ADS_1


Aldi benar-benar masuk kedalam kamar, membiarkan istrinya sendirian. Mita mengeram kesal "Awas saja aku celakakan anak kamu, aku buat mati dia. Aku ga akan segan-segan buat habisin anak kamu itu yang nyebelin "


Mita ikut masuk kedalam kamar, melihat suaminya tertidur dengan lelap memang suaminya ini sudah tak sayang lagi padanya. Suaminya sudah membela lagi anaknya.


__ADS_2