Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 37 Aku sudah lemas


__ADS_3

"Sayang ayo bangun, mamah sudah memasak untuk kita. Nanti kita akan kembali ke apartemen, aku akan bekerja bersama ayahku aku akan membeli rumah untuk kita dan anak-anak kita kelak"


Ace menyiapkan pakaian untuk sang istri, Ace melihat istrinya belum bangun juga "Sayang bangun dulu nanti tidurnya dilanjut, ayo mamah sama ayah sudah nungguin"


Ace sedikit mengguncang tubuh sang istri tapi tak bangun juga "Dela ada apa dengan kamu bangun, Dela"


Tak bangun juga Ace langsung membawa istrinya kerumah sakit, dia juga berpapasan dengan kedua orang tuanya yang akan kemeja makan.


"Ace kenapa dengan Dedes "


"Tidak tahu mah, aku harus kerumah sakit sekarang, Dela tidak bangun mah "


"Mamah ikut "


Ace langsung mempercepat langkah kakinya masuk kedalam mobil dan segera melaju kerumah sakit. "Sayang bangun jangan tinggal kan aku, bangun sayang "


"Ace tenang tak akan mungkin istrimu pergi "


Ace tak menggubrisnya dia makin mempererat pelukannya pada sang istri. Dia sungguh tak mau ditinggalkan oleh istrinya ini.


Ace bahkan sudah menangis bukan cenggeng atau bagaimana dirinya tak mau kehilangan sang istri. Tak mau kehilangan cinta sejatinya.


Setalah sampai dirumah sakit para suster langsung membantu Ace dan membawa Dedes keruang UGD. Ace dan mamahnya hanya bisa menunggu diluar tak bisa masuk.


Ace mondar-mandir tak karuan "Ace duduk dulu "


Ace mengelengkan kepalanya, dia tak sanggup kalau harus melihat istrinya seperti ini lagi, kalau istrinya harus meninggalkannya.


"Duduk Ace "


Ace akhirnya duduk "Tenang semuanya akan baik-baik saja "


Pintu dibuka, Ace berlari kearah dokter "Bagaimana"


Dokter mengelengkan kepalanya "Ini sudah sangat parah Ace, kita hanya perlu menunggu mukjizat saja dari Allah. Dedes sudah sangat lemah sekali dia tak akan bisa bertahan "

__ADS_1


Ace yang kesal malah menarik kerah pakaian dokter "Jangan berbicara yang tidak-tidak istriku pasti akan baik-baik saja "


"Ace jangan seperti itu "teriak mamahnya yang kaget.


Ace menahan nafasnya dan meninju tembok dengan keras, tanpa perintah dari dokter Ace langsung masuk dan melihat sang istri yang mulai membuka matanya.


"Sayang "


Dedes hanya bisa tersenyum dengan lemah, "Sayang kamu akan baik-baik saja, aku akan membawa mu berobat "


Lagi-lagi Dedes hanya tersenyum, tangan Dedes digenggam erat oleh suaminya "Apakah aku boleh minta satu permintaan lagi padamu, ini untuk terakhir kalinya"


"Jangan berkata seperti itu "


"Ace aku tidak bisa bertahan lebih lama, terima kasih karena kamu telah membuatku bahagia. Terima kasih karena kamu telah membuatku menjadi seorang istri, aku senang dan aku bahagia menjadi istrimu mungkin di kehidupan nanti aku akan bisa kembali menjadi istrimu. Aku sudah tidak bisa bertahan aku sudah lemah sekali tubuhku sudah tidak kuat. Aku sangat mencintaimu aku tidak akan pernah melupakan tentang kisah kita berdua ini, tapi aku ingin minta satu hal padamu aku ingin bertemu dengan ayahku. Aku ingin dia memaafkanku dan aku pergi dengan tenang"


Ace langsung melepaskan genggaman tangannya dan membelakangi sang istri, tak mau isterinya melihat kalau dirinya ini menangis.


"Ace, aku tahu kamu tidak suka dengan ayahku, tapi mau bagaimana pun dia adalah ayahku tolong aku, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin melihat wajahnya untuk terakhir kalinya tanpa ada kebencian sedikitpun padaku"


"Baiklah sayang, aku akan membawa ayahmu kemari, kamu disini baik-baik ada mamah aku akan menyusulnya kemari ya "


Ace mencium seluruh wajah sang istri tak lupa mencium bibirnya juga "Aku berangkat dulu ya"


Dedes menganggukan kepalanya dan pergi, dia juga sudah menitipkan sang istri pada mamahnya.


"Dedes sayang "


Dedes menatap ibu mertuanya dan mengangkat tangannya untuk menggapai tangan ibu mertuanya"Sayang kamu harus bertahan "


"Terimakasih karena sudah menjadi mamahku, aku senang bisa mengenal mamah, aku senang bisa bersama mamah, mamah menerimaku dengan apa adanya. Aku bahagia sekali menjadi bagian dari keluarga mamah"


"Mamah juga bahagia bisa mempunyai anak perempuan sebaik kamu, mamah yakin kamu akan sembuh kita berobat ya. Kita pergi keluar negeri untuk mengobati penyakit kamu "


Dedes menjadi terharu, mendengar ucapan mamahnya Ace ini " Terimakasih mah, tapi Dedes sudah tidak bisa bertahan lagi, Dedes sudah lelah. Dedes minta tolong untuk selalu jaga Ace, Ace pasti akan sangat terpuruk sekali. Aku ingin pergi dengan tenang Ace harus baik-baik saja "

__ADS_1


"Tidak sayang, kamu istirahat ya, istirahat mamah akan menemani kamu tidur "


Diusapnya kepala Dedes dengan sayang, mati-matian mamahny Ace untuk tak menangis dia hanya tersenyum saja pada Dedes.


Perlahan mata Dedes tertutup dan tertidur. Barulah disitu mamah Ace menangis, menangis tanpa suara takut menanggu Dedes tidur.


...----------------...


"Ada apa lagi kamu datang kesini "


"Kalau ini bukan permintaan istriku, aku tidak akan pernah kesini, aku hanya ingin memberitahu pada kalian kalau Dela sedang sakit dia ingin bertemu dengan anda tuan"


Ayah Dedes malah berdecak "Alah alasan saja, dia tadi baik-baik saja tidak kenapa-napa, lalu tiba-tiba sore harinya malah sakit. Itu hanya alasan saja kalian ingin membohongiku. Memangnya tidak membutuhkan uang untuk bolak-balik seperti itu paling juga sakit biasa"


"Sekali ini saja temui Dela, dia sakit parah. Aku disini mau merendahkan diri karena hanya untuk Dela istriku. Datanglah ini uang untuk mengganti ongkosmu tadi kerumahmu dan ini untuk pulang pergi kerumah sakit"


Ace menyimpan satu gepok uang, dan menyimpan alamat rumah sakit juga. Lalu pergi dari sana. Lebih baik pergi dari pada nanti malah bertengkar istrinya sedang sakit dirinya tak boleh membuat ulah.


"Mau kemana kamu "


"Aku akan kerumah sakit, terserah kamu saja mau datang atau tidak. Aku akan menemui anakku dia tetap darah dagingku "


Mamahnya Dedes mengambil alamat rumah sakit itu dan mengambil tasnya tanpa mengambil uang dari Ace tadi.


Ayahnya Dedes diam merenungkan semuanya, apakah benar Dedes sakit, sakit apa "Kamu sakit apa Des kenapa tak datang pada ayah kenapa ayah malah jadi orang terakhir yang tahu "


Ayahnya Dedes menurunkan egonya dirinya juga khawatir mendengar kalau anaknya sakit. Dari dulu kalau Dedes sakit dirinya yang selalu menjaganya.


Ayahnya Dedes pergi tergesa-gesa untuk mengejar istrinya, semoga saja belum jauh dan bisa tersusul "Kenapa hariku jadi tak tenang seperti ini, apakah begitu parah "


"Pak tolong cepat sedikit ya, ikuti mobil taksi itu"


"Baik pak "


"Semoga saja kamu baik-baik saja dan tak terjadi apa-apa padamu Des. Ayah minta maaf sekali, ayah memang egois sekali"

__ADS_1


__ADS_2