Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 75 Direstui


__ADS_3

"Delana"


Ameera yang dipanggil langsung mengalihkan pandanganya. Ayahnya yang memangil nama itu. Ayahnya Ameera juga langsung diam saat Ameera dipanggil dengan sebutan itu langsung menatapnya.


Berarti yang dikatakan oleh Ace benar. Sekarang dirinya membuktikan sendiri itu benar adanya, Ace ternyata lebih tahu segalanya tentang anaknya dari pada dirinya. Padahal dirinya adalah Ayahnya Ameera.


"Ada apa Ayah, ada yang ingin ayah bicarakan dengan aku "


"Iya Ayah ingin bicara dengan kamu, ini sangat penting sekali"


Mungkin inilah yang disebutkan oleh istrinya kalau Aldi punya jawaban sendiri, mungkin ya memang Aldi sendiri harus memikirkan solusinya. Dita sudah tiada dan sekarang tanggung jawab Ameera ada pada dirinya seutuhnya.


Ameera segera mengikuti langkah ayahnya. Mereka duduk di depan rumah "Jadi selama ini cerita yang sering kamu ceritakan pada Mama kamu itu benar, semua itu kenyataan Ameera. Ayah kira kamu sedang menghayal dan mengarang cerita saja "


Aldi akhirnya mengungkapkan semua yang dipikirkan nya dulu tentang anaknya Ameera. Memang Aldi menyuruh istrinya untuk percaya tapi tetap saja Aldi menganggap kalau semua itu cuman khayalan saja, karangan anaknya saja.


Ameera yang sudah tahu akan kemana dibawa pembicaraan ini langsung menganggukan kepalanya "Mana mungkin aku berbohong, memang aku ini pernah berbohong pada kalian berdua, tidak kan. Aku ini memang pernah hidup dan terlahir kembali. Bahkan wajahku saja tak berubah masih wajah yang sama Ayah. Kalau ayah ingin tahu ceritanya Ace tahu semuanya dia adalah saksi hidupku yang begitu perih dan banyak sekali rintangannya "


"Ayah sudah bertemu dengan Ace, kita juga sudah bicara "


"Kapan ayah bertemu dengannya" Ameera kaget, Ameera kita Ace hanya berbohong saja akan menemui ayahnya. Tapi ternyata Ace benar-benar bertemu dengan Ayahnya. Ameera jadi takut bicara dengan Ayahnya ini.


"Tadi pagi, Ayah tidak akan pernah melarang hubungan kalian berdua. Tapi Ayah ingin kamu selesaikan dulu sekolah dan kuliah kamu. Ayah ga mau kalau kamu cepat-cepat untuk nikah. Hidup kamu masih panjang dan masa depan kamu juga masih panjang, jadi ayah tidak mau kamu terburu-buru untuk menikah Ameera. Ayah juga ingin menghabiskan waktu banyak denganmu Ameera, kamu anak Ayah satu-satunya kalau sudah menikah nanti kamu mau pasti akan lebih fokus pada suamimu, rumah tanggamu"


Ameera yang mendengar itu begitu senang sekali, bahagia sekali akhirnya Ayahnya mau merestuinya. Ameera kira Ayahnya akan mengusirnya tapi ternyata tidak. Ameera langsung memeluk Ayahnya dengan erat.


Kalau saja masa lalunya itu seperti ini mungkin hidupnya akan bahagia. Ayahnya bisa mendengarkan dulu penjelasannya, mungkin kejadian dulu tidak akan pernah terjadi kan, tapi ya sudahlah namanya juga masa lalu tidak harus diingat-ingat lagi dan diungkit-ungkit lagi, semuanya sudah terjadi dan tidak bisa diulang lagi.


"Terima kasih Ayah karena Ayah telah mengerti, sungguh aku sangat beruntung menjadi anak Ayah. Terima kasih atas semua keputusan yang telah Ayah ambil, aku kira ayah akan marah dan menyuruhku untuk keluar dari rumah ini, aku sangat takut sekali Ayah "


Aldi menganggukan kepalanya "Tadinya Ayah tidak setuju karena umur kalian yang jauh, tapi Ayah tidak bisa menjauhkan kalian sampai kapanpun. Mau Ayah bawa kamu kemanapun pasti kalau memang kalian sudah jodoh akan kembali lagi dan kembali lagi. Kenapa Ayah harus mengusir kamu Ameera. Ayah tidak akan melakukan hal seperti itu. Ayah tidak akan mungkin melakukan hal itu, kamu adalah satu-satunya yang Ayah punya. Ayah tidak akan gegabah hanya karena mengikuti ego Ayah saja "


Ameera melepaskan pelukannya. Dia tersenyum bahagia, Ameera duduk kembali di samping Ayahnya itu. Akhirnya Ameera bisa tenang. Ameera harus memberi kabar ini pada Ace, tidak mungkin kan Ameera memendam ini sendirian. Ini adalah hal yang paling membuat Ameera bahagia.


Mita menghampiri mereka berdua "Kayaknya lagi ada yang kalian omongin nih, kenapa sih aku ga pernah diajak-ajak sama kalian berdua. Padahal kan aku ini masih bagian keluarga kalian. Masa sih aku didiemin kayak gitu aja"


Ameera sedikit tidak suka saat Tante Mita datang kemari, sebenarnya Ameera ingin berbicara dengan ayahnya tentang Tante Mita yang membawa seorang laki-laki ke dalam kamar, tapi Ameera tidak punya bukti sama sekali.


Takutnya Ayahnya malah tidak percaya, tahu sendiri kan Ayahnya itu apa-apa harus ada bukti tidak mau kalau sampai tidak ada bukti.


"Emang Tante siapa sampai-sampai harus ikut ngobrol sama kita. Kita ini lagi bicara serius emangnya Tante bakal ngerti ga deh kayaknya. Jadi buat apa juga Tante disini. Tante kan lebih suka diem dikamar dari pada kumpul kayak gini "


"Ameera tolong jangan bertengkar dengan mama kamu. Mau bagaimanapun Tante Mita itu adalah mamamu, dia adalah pengganti Mama kamu. Jadi kamu harus hormat padanya jangan seperti itu ya"


Benar kan kata Ameera juga kalau dengan Ayahnya itu harus beserta bukti. Ayahnya pasti akan membela Tante Mita, ya tentu karena dia kan istrinya mana mungkin Ayahnya tidak membelanya.


Bisa-bisa Tante Mita marah besar, seperti saat masalah waktu itu Ayahnya terlalu membelanya dan tentu Tante Mita ngamuk-ngamuk sama Ayah sampai-sampai minggat dari rumah dan disusul oleh Ayah juga, kayak anak kecil banget sih sebenarnya Tante Mita itu.


"Ga bisa Ayah, sampai kapanpun Mama ga akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun, mau dia mirip dengan Mama pun aku tidak akan pernah bisa menerimanya. Aku ga bisa jangan paksa aku Ayah tentang yang satu ini. Aku bisa-bisa marah nanti sama Ayah "


Mita juga tidak menimpalinya lagi. Hanya duduk di samping suaminya, menatap ke arah luar. Mita gagal mencari harta karun di rumah ini. Tidak ada sedikitpun perhiasan ataupun berkas penting, semuanya tidak ada memang sepertinya Aldi menyembunyikannya di suatu tempat.


Mita jadi pusing harus kemana lagi mencari semua itu. Kenapa suaminya ini pintar sekali sih. Padahal kan Mita itu istrinya seharusnya segalanya terbuka tidak seperti ini.


"Ya udah Ameera masuk ke dalam dulu ya Ayah sama tante bicara aja. Siapa tahu tante pengen bicara sesuatu pada Ayah yang sangat penting. Ayah harus lebih waspada ya. Kita siapa tahu siapa disini pengkhianat "

__ADS_1


"Ya udah kamu tidur ya "


Ameera hanya menganggukan kepalanya dan pergi ke dalam kamarnya. Ameera ingin menghubungi Ace, memberitahu tentang semua ini kabar bahagia ini. Pasti Ace juga akan sangat senang sekali mendengar semuanya.


"Mas kamu nyimpan barang-barang berharga kamu ga di rumah ya" Mita mencoba untuk memberanikan dirinya saja. Semoga saja suaminya tak curiga sama sekali dengan hal ini.


Aldi mengalihkan pandangannya "Kenapa kamu tanya itu ga biasanya, kok tiba-tiba banget kamu tanyain tentang barang-barang kayak gitu"


"Ga aku kan sering pergi-pergi takutnya nanti ada maling atau gimana kan, aku cuman lagi waspada aja. Lagi banyak kan sekarang yang kayak gitu bobol rumah lah apalah aku cuman takut aja"


"Iya aku menyimpan semua hal penting itu dengan aman di suatu tempat dan tidak akan pernah ada yang tahu tempat itu termasuk Ameera anakku sendiri. Dia tidak akan tahu. Aku akan mengeluarkannya kalau Ameera sudah besar dan jika aku butuh juga"


Mita langsung lesu mendengar semua itu. Di mana barang-barang itu. Mita harus mengorek semuanya dari Aldi. Pasti Aldi akan memberitahunya, Mita begitu butuh uang yang banyak "Lalu kamu juga tidak akan memberitahu istrimu ini. Aku kan sudah jadi istrimu seharusnya kamu memberitahu aku. Kalau-kalau nanti sedang butuh uang aku bisa ambil sendiri kan tapi aku juga akan izin dulu padamu"


"Tidak, aku tidak akan memberitahu siapa-siapa hanya aku saja seorang yang tahu. Dita juga tahu tapi Dita sudah tiada kan, jadi hanya tinggal aku saja yang tahu di mana aku menyimpan berkas, uang, perhiasan semuanya"


Mita menganggukan kepalanya. Sepertinya percuma dia mengorek semuanya. Aldi belum percaya 100% pada Mita, bagaimana Mita harus melunasi hutangnya, sedangkan uang bulanan saja kadang Mita potong setengah tapi tetap saja tidak cukup.


Aduh kalau sampai orang yang menagih datang kerumah ini bisa hancur deh semuanya. Mita tak mau sampai diusir dari rumah ini sebelum mendapatkan apa-apa. Mita harus mendapatkan separuh harta dari Aldi ini.


"Mas boleh aku minjem uang sama kamu, aku janji akan balikin lagi, bantu aku ya mas "


"Buat apa, kan setiap bulan aku kasih uang sama kamu, bahkan suka lebih buat kamu belanja pakaian atau yang lainnya. Sebenarnya kamu ini ada masalah apa, coba cerita jangan ditutup-tutupi terus kalau seperti ini aku ga akan tahu"


"Mama aku lagi sakit. Aku butuh uang Mas kamu bisa bantu aku"


Mita akhirnya berbohong saja, maafkan Mita ya Mah sudah membawa-bawa Mama dalam masalah ini. Mita harus melakukannya Mita sudah buntu sekali.


"Kenapa kamu ga bilang, terus sekarang Mama ada di mana. Apa penyakitnya "


"Ya udah besok kita ke rumah sakit, kita ini kan satu keluarga kamu kenapa ga bilang aja ga usah takut kayak gitu. Aku ga akan marah kalau tentang masalah seperti ini "


Mita langsung menggelengkan kepalanya "Jangan biar aku aja yang ke sana. Mas kan sibuk dengan pekerjaan ga papa aku pergi ke sana aja sendirian. Mas kasih uangnya aja sama aku, aku ga akan ambil kok mas "


"Kok gitu sih, aku juga kan ingin melihat keadaan ibu kamu apakah dia baik-baik saja. Aku ingin langsung melihatnya Mita, buat kerjaan aku kamu tenang aja ga akan keganggu kok. Semuanya aman "


"Tidak masalah biar aku saja yang ke sana. Kamu jangan ikut ya, udah biar aku aja yang kesana "kalau suaminya ikut sama saja bohong terbongkar juga semuanya.


"Akan aku pikirkan dulu. Aku hanya ingin melihat keadaan ibumu saja, sekalian aku ingin mengobrol dengannya. Ada apa dengan kamu apa kah ada yang sedang kamu tutup-tutupi dari aku Mita. Sampai-sampai aku tidak boleh ikut melihat Ibumu sendiri. Padahal dia kan Ibu mertuaku lalu apa yang salah"


"Tidak, tidak ada yang sedang aku tutup-tutupi. Aku hanya tidak mau membuatmu repot saja, itu saja sih"


"Aku tak pernah direpotkan dengan istriku sendiri, apalagi dia adalah ibu mertuaku masa aku tidak datang saat dia sakit seperti itu"


"Iya juga sih" Mita akhirnya pasrah juga. Binggung harus bagaimana ini suaminya mau ikut terus.


Mita makin bingung kan, Mita menata ponselnya yang berdering. Mau apa coba nelfon malam-malam seperti ini. Ini bukan waktu yang tepat Mita tak akan berani mengangkat telfon ini.


"Angkat aja Mita siapa tahu penting, jangan dibiarin gitu aja dong "


"Iya nanti aku angkat, nanti aja deh kan aku lagi sama kamu. Ini juga ga penting-penting banget dari temen aku biasa dia pengen curhat kebiasaan"


"Angkat aja aku juga kan sering angkat telepon di depan kamu"


Mita mengelengkan kepalanya, Mita malah mematikan ponselnya. Mita tidak mau sampai suaminya tahu tentang semua ini, apalagi selama ini Mita selingkuh dan menikah dengan Aldi karena ingin hartanya saja.

__ADS_1


Aldi menatap Mita dengan curiga, tapi Mita mencoba untuk tenang. "Kenapa mas kamu natap aku kayak gitu. Kamu curiga sama istri sendiri "


"Sedikit curiga, kamu ga mau angkat telepon di depan aku sering loh, kamu kayak gini bukan satu kali atau dua kali aja, sering banget sampai aku harus terus berfikir positif "


"Ya udah kalau kamu curiga terus sama aku lihat aja nih ponsel aku, periksa aja sama kamu semuanya "


"Sini biar aku periksa semuanya. Mumpung kamu mengizinkannya kan, maka aku akan periksa semuanya sesuai dengan apa yang kamu katakan"


Wajah Mita langsung tegang, padahal tadi cuman bohongan saja tapi kenapa jadi beneran seperti ini. Mita menelan ludahnya dengan susah payah.


"Mana Mita biar aku lihat ponsel kamu. Dulu aku sama Dita ga pernah tuh ada yang disembunyikan kita selalu terbuka, bahkan aku sering pakai ponsel Dita"


Mita begitu berat ingin memberikan ponselnya. Masalahnya semuanya ada disini. Mita tak mungkin memberikannya begitu saja.


Mita langsung memegang perutnya "Aduh tiba-tiba aku sakit perut. Aku ke kamar mandi dulu ya"


Mita langsung berlari sebelum suaminya menahannya dan melihat semuanya. Sungguh Mita sangat takut sekalian.


Aldi yang melihat Mita istrinya pergi tersenyum sinis, selama ini berarti kecurigaannya benar kalau Mita menyembunyikan sesuatu darinya.


Mita sepertinya ingin menghianati Aldi, sampai-sampai tadi minta dengan berani menanyakan tentang harta-hartanya, itu sangat janggal sekali kan.


Aldi akan terus menyelidiki Mita. Mita sudah melenceng dan ingin memerasnya. Kita lihat saja besok apakah benar ibunya yang sakit atau ini hanya permainan Mita saja.


...----------------...


Mita yang ada di kamar mandi langsung menyalakan ponselnya, menelpon orang tadi lagi. Semoga saja suaminya tak membuntutinya.


"Kamu ini ga salah nelpon aku malam-malam kayak gini. Kamu mau Aldi tahu tentang semua ini tolong dong jangan bikin aku sulit. Aku ini lagi pusing cari uang, kamu terus aja telepon aku, ga ada kerjaan banget. Seharusnya kamu itu bantu karena ini juga hutang kamu kan"


Mita begitu kesal sekali, sungguh laki-laki ini tidak tahu diri. Mita disini pusing cari uang dia hanya tanya mana-mana dan mana enak sekali hidupnya itu.


"Uang itu harus ada besok, kamu ini gimana sih udah cari belum uang suami kamu. Masa sih dia ga nyimpen uang di rumah sama sekali, terus kamu ga dikasih kartu ATM apa atau kartu kredit gitu suami kamu itu orang berada, jangan di sembunyi-sembunyiin dong kita ini lagi butuh uang banyak tahu "


"Aku tahu suamiku orang berada. Tapi aku ga bisa gegabah. Apalagi disini tidak ada satupun harta berharga, hanya rumah ini saja yang besar, dia sudah sembunyiin semuanya dia kayak yang udah tahu kalau aku datang ke rumah ini ada maksud"


Mita sesekali melihat kearah pintu dan bawah pintu takut-takut ada yang mengintip. Kalau ada orang akan terlihatlah dari bawah akan ada bayangannya.


"Ya makanya jangan terlalu memperlihatkannya, gimana dong besok harus ada uangnya. Aku nggak mau ya sampai orang itu datang ke rumahku. Malu banget aku mau ditaruh di mana wajahku ini kalau sampai orang-orang tahu"


"Enak banget kamu bilang. Seharusnya kamu juga cari uangnya dong jangan aku terus yang cari uang dan aku terus yang bayarin. Aku ini sebenarnya pacar kamu atau cuman ATM berjalan kamu aja sih. Kamu minjem sana sini pakai identitas aku, uangnya habis sama kamu tapi aku yang bayar. Aku tanya sekali lagi uang itu kamu kemana kan, di pakai apa ga mungkin kan uang sebanyak itu buat hidup kamu aja kamu itu hidup sendiri. Ga mungkin akan habis uang sebanyak itu"


"Itu bukan urusan kamu. Mau hidup aku bagaimanapun bukan urusan kamu. Kamu pengen aku ceritain semuanya sama suami kamu tentang hubungan gelap ini. Tentang rencana-rencana kamu itu pengen aku ceritain semuanya, aku bisa aja loh putar balikin faktanya semuanya aku punya semua buktinya Mita"


"Gila ya kamu, emang bener-bener kamu itu cuman mau manfaatin aku aja. Seharusnya dari pertama aku tuh ga pernah percaya sama kamu "


Mita makin takut saja sudah diancam seperti ini, kenapa jahat sekali laki-laki ini. Mita sudah percaya padannya dan memberikan hidupnya untuknya. Bahkan uangnya pun Mita berikan tapi ini balasannya sungguh tak masuk akal sekali.


"Makanya jangan pernah percaya sama laki-laki, pokoknya uangnya harus ada besok sampai ga ada lihat aja aku akan datang ke rumah kamu"


Sambungan langsung dimatikan begitu saja. Mita menarik rambutnya dengan kesal. Kenapa malah seperti ini, kenapa malah menjadi rumit sekali. Hidupnya kenapa jadi berantakan seperti ini.


"Aku dari awal seharusnya tak percaya, seharusnya aku ini pintar malah tertipu seperti ini. Bagaimana ini aku butuh uang. Aku harus dapat dari mana"


Mita terduduk dengan lemas, tak peduli pakaiannya basah. Mita sudah buntu tak tahu harus bagaimana lagi, hidupnya akan hancur semuanya akan hancur.

__ADS_1


__ADS_2