Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 43 Perubahan Ameera


__ADS_3

10 tahun kemudian


Ameera menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kenapa pelajarannya sangat lama sekali. Dirinya ingin cepat-cepat usai. Bel berbunyi setelah ini akan ada pelajaran olahraga dan itu adalah waktunya untuk dirinya bolos, ya seperti biasa menjadi anak nakal.


Bosan menjadi anak baik, tapi dunia tak pernah berpihak padanya. Sampai-sampai orang yang dirinya cintai dan sayangi harus pergi dari sampingnya. Kenapa begitu tega dunia ini pada dirinya.


Akhirnya bel pun berbunyi, kelas 11 IPA 2 akhirnya berganti pelajaran menjadi olahraga. Teman-temannya sibuk mengganti pakaian ke kamar mandi sedangkan Ameera dia sama sekali tidak peduli dia melengos begitu saja masuk ke dalam kamar mandi yang cukup jauh dari kelasnya, mungkin ini kamar mandi yang tidak terpakai tapi Ameera suka tempat ini.


Menenangkan dan bisa membuatnya tenang, sambil santai-santai disini. Mungkin sampai pulang bisa dirinya terus disini, enak kan tak ikut pelajaran. Tak akan ada yang mencarinya dirinya yakin tak akan ada yang mencarinya. Punya teman saja tidak, mana mungkin ada yang peduli pada dirinya ini.


Ameera mengeluarkan satu bungkus rokok dan juga pematiknya. Dia langsung menyalakan rokoknya dan benar Ameera merokok di sekolah sendirian, di kamar mandi yang cukup kumuh dan tidak terawat. Dia tidak peduli dengan pelajarannya hari ini yang terpenting dirinya bisa bolos untuk hari ini.


Mungkin untuk hari-hari berikutnya dirinya juga akan bolos. Mengikuti pelajaran pun percuma karena dirinya tak akan mengerti, pelajaran tak akan masuk ke kepalanya ini.


Sedangkan guru olahraga di lapangan sedang mengabsen satu satu siswanya. Hanya Ameera yang tidak ada. Ameera yang sedang asyik juga tidak peduli dengan keberadaannya yang tidak ada di lapangan.


Tanpa Ameera ketahui ada seorang OB yang melihat kelakuan Ameera. Melihat Ameera masuk dan melihat kepulauan asap yang keluar dari kamar mandi yang tidak terpakai itu. OB itu sudah beberapa kali melihat Ameera masuk kesana dan dirinya juga melihat beberapa puntung rokok saat akan membersihkan itu dan selalu dirinya yang membuang.


Tapi untuk sekarang dirinya harus berbicara pada salah satu guru, ini sudah hal yang tidak baik. Murid masa merokok, apalagi ini diarea sekolah bukan dirumahnya. Ada-ada saja anak sekolah sekarang berani sekali.


OB itu langsung pergi ke ruangan guru, dia bertemu dengan seorang guru yang bertubuh cukup gemuk dan langsung memberitahu tentang keberadaan Ameera dan guru itu langsung saja pergi tidak banyak bicara lagi.


Karena dia sudah tahu siapa dia, siapa yang sudah membuat ulah. Siapa lagi kalau bukan Ameera karena adanya dia saja anak paling nakal disekolah ini. Kalau yang lain nakalnya masih bisa diatur tapi Ameera sudah dilevel berbeda.


Guru itu langsung membuka pintu kamar mandi, sampai-sampai Ameer kaget dan berteriak "Wey ngagetin aja ya, lagi nyantai nih kalau mau ikutin biasa aja kali jangan main buka-buka aja ga sopan ya"


"Ameera sudah berapa kali kamu merokok. Kamu ini bagaimana sih jadi perempuan kenapa seperti ini. Kamu ini sudah beberapa kali membuat onar di sekolah ini. Apa kamu tidak lelah melakukan kenakalan seperti ini, ayolah Ameera kamu ini cantik jangan jadi perempuan nakal "


"Bapak namanya siapa aku lupa"Ameera bukannya menjawab malah bertanya pada gurunya ini.


"Kamu yah lupa dengan guru sendiri, masa kamu lupa

__ADS_1


Saya ini guru BK yang selalu urusin masalah kamu. Sekarang kamu ikut ke ruangan saya, saya juga akan panggil wali kelas kamu, ayo cepat Ameera jangan menghabiskan waktu saya"


"Pak padahal cuman ngerokok aja, emang bapak nggak pernah ngerokok gitu. Ini tuh enak banget tahu Pak. Bapak mau nyobain ga "


"Ameera "teriak guru itu sampai melengking karena saking kesalnya dengan tingkah Ameera yang tidak pernah bisa berubah. Pasti setiap hari dia membuat masalah, tak pernah ada berhentinya Ameera ini.


Rokok itu langsung diambil dari tangan Ameera dan diinjak di hadapan Ameera sendiri. Ameera langsung dibawa oleh guru BK itu, tangan Ameera ditarik agar tak bisa kabur. Dirinya tak akan terkecoh lagi dengan kelakuan Ameera "Pak nggak usah tarik-tarik Pak, aku bisa jalan sendiri kok pak, nggak usah digandeng kayak gini Pak malu loh sama murid yang lain gimana kalau murid yang lain mikir yang lain "Ameera malah berbicara melantur.


"Kamu mungkin yang pikirannya aneh-aneh, sudah ikut saya sekarang juga kamu ini bagaimana sih bukannya menjadi murid yang teladan malah seperti ini, kamu ini sebentar lagi akan lulus sekarang kelas 11 sebentar lagi kamu akan naik ke kelas 12. Seharusnya kamu itu belajar yang tekun biar bisa dapet nilai yang bagus "


"Ya kan masih muda pak aku ini, jadi ingin coba-coba. Bapak ini kayak ga pernah muda aja ah " Ameera bahkan mengeplak bahu gurunya sambil cengengesan.


"Ga bisa gitu Ameera, kamu perempuan ga boleh ngerokok kayak gitu. Duduk dan tunggu wali kelas kamu ke sini, saya akan mengambil berkas-berkas kamu "


Ameera langsung saja duduk, dia bahkan mengangkat kakinya tapi langsung dipukul oleh guru BK tadi untuk segera turun kakinya itu. Dengan perlahan Ameera menurunkannya dan mengusap kakinya yang sakit.


Memang tidak terlalu keras memukulnya, tapi tetap saja sakit. Ada-ada aja gurunya ini. Nyebelin banget deh. Siapa sih guru ini namanya dirinya sampai lupa saking malasnya mengigat nama gurunya.


"Ameera apa lagi yang kamu lakukan. Ibu tuh sudah pusing sekali dengan kelakuan kamu "tanya wali kelasnya yang baru datang.


Wali kelas Ameera sampai menggelengkan kepalanya mendengar ocehan muridnya ini, anak satu ini tidak bisa diubah. Ameera sangat sulit untuk dirubah, bagaiman coba ya merubahnya.


"Ameera kamu ini perempuan, jangan seperti ini sayang. Jangan nakal lagi lah nak "


"Iya Bu Ameera tahu kok Ameera perempuan. Sejak lahir pun Ameera perempuan bu bukan laki-laki, ibu mau ngecek boleh kok. Kita kan sama-sama perempuan Bu. Gimana Bu mau kekamar mandi untuk mengecek "


"Ya maka dari itu kamu nggak boleh ngerokok. Kamu di sini dulu ya bicara sama Pak Budi. Ibu harus urus-urus yang lain "


"Oh jadi yang tadi bawa aku itu namanya Pak Budi ya Bu, aku baru tahu loh Bu. Kenapa ya aku baru tahu namanya Bu "


"Iya dia namanya Pak Budi Ameera, udah dengerin dia ya Ibu mau ke ruangan kepala sekolah dulu. Ada sesuatu yang harus dibicarakan "

__ADS_1


"Siap Bu laksanakan"


Wali kelasnya hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya dengan tingkah muridnya yang satu ini. Sungguh di luar perkiraannya gadis cantik yang begitu terlihat anggun, tapi ternyata sikapnya seperti ini tidak sama dengan penampilannya sangat beda sekali.


"Kenapa kamu merokok Ameera, ada masalah apa kamu bisa berbicara pada bapak tidak usah melampiaskan dengan merokok nak "


Ameera mengalihkan pandangannya ke arah Pak Budi, lalu menjawabnya "Hanya untuk senang-senang saja Pak. Awalnya sih hanya coba-coba eh ternyata enak terus deh pak sampai sekarang. Emangnya Bapak nggak ngerokok"


"Nggak saya nggak ngerokok, ngapain juga ngerokok malah habis-habisin uang dan saya malah punya penyakit nantinya. Lebih baik dibelikan makanan saja uanganya Ameera "


"Cobain deh pak, ngerokok itu enak tahu nggak sih Bapak nggak tahu ya sensasinya gimana. Awal juga saya nggak suka karena ada pahit-pahitnya gitu, tapi setelah sekian lama terus coba-coba enak Bapak mau coba nggak, pasti bapak ketagihan deh "


"Memang kamu masih punya ada" bisik pak Budi sambil melihat kanan kiri.


"Masih ada Pak, aku tuh belinya satu bungkus baru tadi aku pakai satu ada pematiknya juga kok. Mau sekalian kita ngerokok bareng gitu Pak enak kali sambil ngopi "


"Mana sini bagi Bapak rokoknya, keluarin dong rokoknya "


"Boleh banget pak, kenapa nggak dari tadi aja mendingan tadi kita di kamar mandi ngerokok bareng kan daripada harus ke ruangan bapak dulu terus diceramahin sana sini bikin telinga sakit aja deh pak"


Ameera mengeluarkan rokoknya dan memberikannya kepada Pak Budi. Entah dia polos atau apa dia memberikannya pada pak Budi semuanya. Lalu ada sebuah ketukan ternyata itu Ayahnya yang datang.


"Ayah kenapa datang kemari, mau gabung juga "


"Maaf Pak Budi atas kelakuan anak saya, sekali lagi saya minta maaf "bukannya menjawab pertanyaan Ameera tapi ayahnya Ameera meminta maaf pada Pak Budi, karena kelakuan anaknya ini. Setelah sedikit basa-basi ayahnya Ameera segera membawa Ameera pulang.


"Kenapa Ayah harus datang kesini coba "


"Ya karena kamu, karena kamu buat masalah kayak gini. Kalau kamu nggak buat masalah kayak gini ayah juga ga akan datang. Ameera bisa nggak sih sayang kamu nggak buat onar seperti ini. Kamu ini perempuan jangan ngerokok kayak gitu jangan buat masalah lah Ameera. Ayolah na jangan seperti itu semenjak ibu kamu nggak ada kenapa kamu berubah kayak gini, kamu dulu ga gini sayang "


"Aku udah bilang kan sama ayah kalau aku nggak bisa kehilangan Mama. Saat Mama nggak ada di dunia ini aku runtuh , aku tidak punya peganggan lagi dan tak punya tempat mengadu. Ditambah lagi Ayah cuma sibuk terus Ayah cuman mikirin tentang istri baru Ayah, terus aku dibiarin gitu aja. Ayah terus sibuk dengan dunia ayah sendiri sedangkan dengan aku nggak, ayah itu nggak pernah peduli sama aku ayah itu cuman peduli sama kehidupan baru ayah aja "

__ADS_1


Ameera mengusap air matanya yang tiba-tiba saja turun, dia tidak boleh terlihat cengeng di hadapan siapapun. Semenjak Mamanya pergi 2 tahun yang lalu ayahnya mulai sibuk kerja, menikah lagi pokoknya ayahnya seperti tidak mencintai ibunya lagi.


Ameera langsung saja masuk ke dalam mobil dia tidak memperdulikan ayahnya yang diam di luar. Rasanya hancur sekali saat ditinggalkan oleh mamahnya. Mamanya adalah penyemangatnya selama ini dia adalah satu-satunya orang yang selalu ada di sampingnya, yang selalu mendukungnya dalam hal apapun.


__ADS_2