Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 7 Runtuh sudah


__ADS_3

Dedes melihat wajah Ayahnya yang begitu kecewa padanya, tapi ini semua salah faham. Ini tidak sesuai dengan apa yang terlihat.


Dedes mendekati Ayahnya kembali, meski pipinya masih perih "Ayah kita pulang aku akan jelaskan semuanya dengan baik-baik. Ini semua cuman salah paham, semuanya salah paham aku bisa menjelaskan semuanya. Ayo Ayah kita pulang aku akan menjelaskan semuanya dirumah tolonglah Ayah dengarkan aku dulu"


Ayahnya Dedes masih diam saja, dia menatap kearah satpam dan dia langsung maju "Biar aku jelaskan Pak kejadiannya, begini tadi jam 03.00 subuh, saya melihat kalau Dedes pergi ke rumah laki-laki ini, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri"


"Lebih baik bicarakan dulu di rumah Pak, saya tahu anak muda memang seperti ini. Kadang-kadang mereka itu suka nakal. Tapi kan ini masalah keluarga lebih baik dibicarakan saja dulu di rumah agar tenang dan juga semuanya selesai dengan baik-baik. Toh selama ini pun Dedes tidak pernah membuat masalah mungkin Bapak bisa mendengarkan dulu penjelasan anak Bapak ini" ucap tetangga memberi solusi.


Tapi Ayahnya Dedes masih saja diam, dia malah mengeluarkan ponselnya.


"Istriku, bereskan rumah dan juga telepon Pak ustad untuk datang ke rumah hari ini, kita adakan pengajian"


"Mulai hari ini Delana Dedes Pitaloka sudah mati, dia sudah tiada siapkan semuanya dan kita adakan pengajian"


"Beritahu Desi juga sekarang, tidak ada penghalang untuk anak bungsu kita menikah, karena Delana sudah mati dia sudah tiada sejak hari ini dan sampai nanti anak kita hanya Desi saja "


Sambungan langsung dimatikan, Dedes syok mendengar ucapan Ayahnya. Dedes tak bisa bicara mulutnya tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


"Bapak-bapak selepas isya datang ke rumahku, untuk tahlilan anakku Delana hari ini sampai nanti 7 hari. Tolong beritahu tetangga yang lain untuk datang ke rumahku. Mulai sekarang anakku Delana sudah tiada"


Ayah Dedes langsung pergi bersama warga yang lain, Dedes begitu lemas sampai-sampai di tak bisa menopang tubuhnya sendiri.


Kenapa harus begitu, kenapa Ayahnya tak mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Padahal dirinya ingin meminta bantuan datang kemari.

__ADS_1


Kenapa dunia begitu jahat padanya, Dedes mengusap air matanya dan bangkit kembali, mencoba untuk tegar dan menguatkan hatinya.


"Maaf karena telah membawamu dalam masalah ini"


"Seharusnya aku yang minta maaf "


"Tidak ini memang salahku "


"Mau kemana Dela "


Dedes tak menjawab, dia terus berjalan dengan gontai keluar dari rumah itu, rasanya bebannya makin bertambah, dianggap mati oleh orang tua sendiri itu rasanya sakit sekali.


Bahkan lebih sakit dari pada saat dihina oleh teman-temannya, dunianya runtuh dan hancur. Apakah dirinya punya semangat hidup lagi.


Dedes berjalan keluar gedung, fikirannya kosong, tapi tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Saat Dedes berbalik ternyata ibunya.


Dedes melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Ibunya" Aku melakukan ini untuk bisa berubah, agar adikku bisa menikah. Ibu aku sudah berjanji pada Desi kalau aku akan berjuang dan membuat dia bisa menikah, aku akan melakukan berbagai cara untuk bisa membuat Desi menikah "


"Tapi kenapa harus begitu caranya, kenapa kamu harus menemui laki-laki itu. Kenapa kamu tidak bicara dulu pada Ibu "


"Itu jalan satu-satunya. Aku tidak mau membebani Ibu dan Ayah lagi, aku sudah terlalu menyusahkan kalian berdua. Yang terpenting sekarang Desi bisa menikah Bu aku tidak apa-apa dianggap Ayah sudah tiada aku mengerti perasaan Ayah. Aku menghormati keputusan Ayah tolong Ibu jangan terus sedih aku akan baik-baik saja beri tahu Desi tentang kabar bahagia ini ya Bu. Dia pasti akan sangat bahagia "


"Kenapa kamu bicara seperti itu. Ibu tidak bisa tanpa kamu. Ayo kita bicara lagi sama Ayah ya sama-sama Ibu bantu bicara, kita perbaiki sama-sama "

__ADS_1


"Jangan Bu, nanti malah Ibu yang dimarahi. Ibu tahu sendiri kan Ayah ga bisa dibantah sedikitpun. Yang ada Ibu nanti yang Ayah sakiti. Dedes ga papa kok pergi, Dedes ga apa-apa ga dianggap dalam keluarga ini. Yang terpenting keluarga kita bahagia Desi bahagia dia bisa menikah tanpa harus menunggu aku dulu untuk menikah Bu, aku akan senang sekali nanti Saat Desi menikah"


"Tapi biarkan Ibu untuk terus menelponmu dan mengunjungimu, beritahu Ibu di mana tempat tinggal mu nanti Ibu akan selalu datang"


"Apa Ibu sudah berbicara pada Ayah untuk selalu menghubungiku ? "


"Ibu tidak mungkin bicara pada Ayahmu "


"Lebih baik tidak usah Bu, nanti yang ada Ayah makin marah padaku dan juga Ibu. Aku tidak mau nanti Ayah malah melampiaskan semuanya pada Ibu. Biar aku yang menanggung semua kesalahan ini, yang perlu Ibu tahu aku dan Ace tidak melakukan apa-apa, kami berdua sungguh tidak melakukan apa-apa Bu, itu semua salah paham"


Air mata Dedes kembali mengalir. Dengan cepat dia mengusapnya, tak mau membuat Ibunya makin sedih. Kalau dirinya menampakan wajah sedih terus nanti Ibunya akan kepikiran dan juga sakit.


"Kalau begitu kamu pergi saja ke rumah bibi ya, tinggal di sana saja agar Ibu tenang sayang "


"Tidak usah Bu, aku tidak mau merepotkan orang lain biar aku mencari rumah sendiri. Sekarang aku mau kerja dulu mungkin kalau aku kerja akan sedikit melupakan kejadian ini Bu"


Dedes mencoba tersenyum pada Ibunya, meski sangat sulit sekali. Meski air mata terus mengalir. "Lebih baik kamu istirahat "Ibunya mengusap wajah Dedes dengan sayang.


"Tidak Bu, tidak ada gunanya aku beristirahat lebih baik aku pergi. Selama tinggal Bu hiduplah bahagia bersama Ayah dan juga Desi. Ibu jangan pernah menangis ya ikuti apa kata-kata Ayah, jangan pernah membantahnya kalau Ayah menyuruh Ibu melakukan itu maka Ibu harus melakukannya. Jangan bela aku di depan Ayah biarkan kemarahan Ayah reda"


Dedes langsung saja meninggalkan Ibunya, Dedes bahkan tak melihat kebelakang lagi. Dia langsung naik kedalam bus.


Selama didalam bus juga Dedes hanya menundukan kepalanya, tidak mau ada yang melihat kalau dirinya ini sedang menangis.

__ADS_1


'Ya Allah jika memang ini jalannya untuk membuat adikku bahagia dan kedua orang tuaku bahagia, aku ikhlas aku ikhlas dianggap sudah tiada oleh Ayahku sendiri, asalkan keluargaku selalu bahagia 'ucap Dedes dalam hati.


Dedes mengusap air matanya dan turun dari bis, baik lebih baik kerja sambil mencari rumah yang cocok untuknya. Semoga saja dirinya bisa menjalani hidup ini meski nanti banyak rintangan untuknya.


__ADS_2