Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 24 Untung cepat dibawa


__ADS_3

"Jadi kamu dipenjara selama ini bukan karena kesalahan kamu, kamu membela orang yang telah mengasuh mu dari dulu, lalu kenapa orang tua kamu tidak mau mendengarkan semuanya dan tidak mau membelamu juga "


"Sebenarnya setelah aku di penjara orang tuaku tahu semuanya, tapi mereka tidak mau melepaskan aku. Katanya biar saja aku di penjara makanya aku saat keluar dari dalam penjara itu aku tidak langsung pulang, kamu tahu kan apartemen yang aku tempati itu adalah apartemen Bi Diah. Dia memberikan apartemennya padaku, aku senang sekali dan bahagia sekali"


"Baik sekali ya Bi Diah, mungkin dia ingin membalas apa yang pernah kamu lakukan padanya. Maksudnya membalas apa yang pernah kamu berikan padanya dengan membelanya dan juga membiarkan diri kamu di penjara di sana"


"Ya begitu lah, kita turun ya kita harus pulang"


"Boleh membeli gula-gula "


"Tentu boleh "


Ace segera membantu Dela untuk turun, dia masih menggenggam erat tangan itu lalu memberi gula-gula. Ace membelikan boneka juga untuk Dela.


"Kamu mau belikan boneka ini untuk siapa"


"Jelas untuk kamu, agar kamu nanti tidur ada yang menemani saat aku tidak ada menemanimu di rumah sakit, ada teman yang akan menemanimu nanti bisa kamu peluk dan cium "


Ace membantu Dedes masuk kedalam taksi, mereka duduk bersampingan. Untung saja ada taksi yang diam disini. Jadi Ace tak perlu menunggu lama lagi, apalagi cairan infusnya akan habis.


"Terima kasih, tapi hidupku tidak akan pernah lama lagi. Bagaimana dengan bonekanya nanti dia akan sendirian "


"Sudah aku bilang jangan katakan itu lagi, aku akan terus berjuang untuk kesembuhan kamu, mau berapapun biayanya untuk kesembuhan kamu akan aku sanggupi semuanya"


"Padahal aku tidak mau mencemaskan kamu lagi. Padahal aku tidak mau membuat kamu terbebani oleh aku Ace, aku sudah terlalu banyak membebani mu"


"Jangan berkata seperti itu, semuanya sudah aku yang mengatur ya kamu hanya perlu fokus dengan kesembuhan kamu. Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa pada kamu. Kamu adalah segalanya untukku"

__ADS_1


"Terima kasih atas semua bantuannya. Aku tidak tahu kalau kamu tidak ada di sampingku "


Ace memeluk Dela dengan erat, sedangkan Dela dia menatap ke arah depan, tapi sangat buram sekali pandangannya bahkan makin meredup dan sekarang gelap.


"Apa kamu mau menerima pinangan ku, aku benar-benar serius "


"Dela kenapa kamu diam saja "


Ace melepaskan pelukannya dan melihat Dela yang sudah memejamkan matanya, dengan panik Ace segera meminta supir untuk lebih cepat lagi.


"Tolong pak lebih cepat lagi, tolong pak cepat pak "


"Baik tuan sabar sabar "


"Dela bangun, jangan tinggalkan aku, Dela jangan tinggalkan aku tolong sadarlah jangan seperti ini. Dela bangun Dela "


...----------------...


"Berhentilah menangis, aku tidak suka kamu terus menangis sangat berisik "


"Kamu menyuruhku untuk berhenti menangis, sedangkan keadaan Dedes saja aku tidak tahu, kamu tidak melihat tadi anak sulung kita memakai infus datang kemari. Apakah kamu ini seorang iblis sampai-sampai tidak punya perasaan pada anak sendiri, bagaimana kalau Dedes mengidap penyakit yang begitu parah. Karena ucapanmu itu karena kamu menyumpahinya untuk meninggal"


"Ya mungkin itu sudah saatnya untuk dia tiada. Kenapa harus diributkan sekali, baru saja kita bahagia anak kita Desi menikah"


"Istighfar istighfar Dedes juga masih anak kita, hanya karena satu kesalahan saja kamu seperti ini. Aku harus pergi aku tidak bisa kalau terus melihat anak aku seperti itu. Kamu sudah sangat keterlaluan menjadi suami dan ayah yang tidak becus, tidak mau mendengarkan kata-kata keluarga apalagi anak sendiri"


Ibunya Dedes akan pergi, tapi tangannya langsung dicengkram dan didorong masuk ke dalam kamar "Tidak boleh ada yang pergi dari sini. Diam saja dia bukan anak kita lagi. Biarkan laki-laki bertato itu yang mengurusnya. Dia sudah membuat kesalahan maka dia harus menerima hukumannya "

__ADS_1


"Kamu terlalu mengekang dia. Kamu terlalu jahat pada anak sendiri, lepaskan aku harus menemui anakku. Aku tidak mau di sini yang ada aku bisa gila"


"Diam atau aku akan pergi ke hadapan anak itu dan aku buang jauh-jauh darimu maka dia tidak akan kembali. Diam jangan terus membantah kata-kataku, nanti juga kalau sudah waktunya aku akan pertemukan kalian, sudah diam tidak usah menangis seperti itu "


Pintu langsung dikunci dari luar, ibunya Dedes terus saja menggedor gedor pintu dengan Kuat "Ya Allah kenapa harus seperti ini, aku begitu khawatir dengan keadaan anakku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya. Ya Allah tolong selamatkan anakku tolong jangan kamu ambil anakku. Aku tidak akan pernah bisa menerimanya dan aku juga tidak akan pernah bisa sanggup tolong ya Allah kabulkanlah doa hamba"


Ibu Dedes terduduk dengan lemas memeluk foto anaknya, foto yang selama ini dirinya sembunyikan sudah banyak barang Dedes yang dibuang oleh suaminya.


...----------------...


"Untung saja kamu tidak telat membawanya ke mari Ace, kalau saja tidak sudahlah aku tidak tahu. Sudah aku bilang kan dia itu jangan kecapean, jangan terlalu banyak berkeliling tadi aku sudah bilang kan padamu. Setelah dari undangan itu maka langsung pulang ke rumah sakit"


"Iya aku tahu maafkan aku, aku tadi hanya ingin membuatnya senang dia ingin sekali pergi dan naik kincir angin hanya itu aku harus mengabulkannya, aku ingin membuatnya selalu bahagia"


"Iya, tapi itu bisa membahayakan nyawanya juga kan, kamu tahu dia sedang sakit tubuhnya sedang tidak sehat "


"Iya aku tahu, aku tidak akan membawanya lagi dokter. Aku berjanji aku akan terus menjaganya dia tidak akan kemana-mana lagi"


"Baiklah kamu boleh ke ruangannya, temui dia pasti dia sedang menunggu kamu. Jangan lupa selalu perhatikan makannya ya. Dedes sepertinya tidak mau makan makanannya dengan benar"


"Baik dokter "


Ace melangkah pergi ke ruangannya Dela, tapi dia belum masuk dia masih takut, takut kehilangan Dela saat tadi Dela sudah tidak sadarkan diri. Dirinya sudah tidak tahu harus memikirkan apa apalagi kalau sampai ditinggalkan.


Ace mengusap air matanya, lagi-lagi air matanya mengalir lagi rasanya tidak kuat menerima semua ini. Kalau dirinya tahu dari awal kalau Dela mengidap penyakit yang begitu ganas seperti ini, kalau saja dirinya dulu memeriksakan tubuh Dela mungkin tidak akan terlambat dan masih bisa diselamatkan tapi sekarang bagaimana.


Tapi tidak jangan menyerah, dirinya yakin semuanya akan baik-baik saja. Dela akan sembuh. Dia akan bisa hidup bersamanya sampai akhir hayat nanti.

__ADS_1


__ADS_2