
"Ibu apakah Dedes sudah menelepon, apakah dia sudah bisa dihubungi "tanya Desi yang penasaran.
"Belum ada, bahkan Ibu sudah menelpon Dedes tapi, dia tidak mengangkat teleponnya. Ibu juga sudah memberikan undangan itu pada laki-laki yang selalu bersama Dedes"
"Apa Dedes belum menerimanya, mungkinkah laki-laki itu tak akan memberikannya pada Dedes"
"Pasti dia akan memberikannya pada Dedes. Mana mungkin tidak diberikan "
Desi diam, dia menatap Ibunya lalu kembali berbicara "Tapi bisa saja kan Bu tidak diberikan olehnya, kan bisa saja dia hanya berpura-pura akan memberikannya. Padahal dia buang undangan itu, aku ingin sekali Dedes ada saat aku menikah mau bagaimana pun dia adalah kakakku"
"Ibu juga mau Dedes ada disini. Ibu juga mau dia ada bersama kita"
"Apakah perlu kita mencarinya "
"Kemana Desi, kemana kita harus mencarinya kemana"
"Hemm, benar kita harus mencarinya kemana"
__ADS_1
"Yang sabar, kita tunggu saja kedatangan Dedes, pasti dia akan datang kesini dan ada saat kamu menikah"
"Dia tidak akan pernah ada"
Desi langsung menatap orang yang berbicara itu, ternyata itu Ayahnya. Kenapa juga Ayahnya harus mendengar pembicaraan ini.
"Dedes itu sudah mati apa kalian lupa, kalian itu hilang ingatan kalau anak itu sudah tiada, dia sudah lama tiada. Jangan pernah mengharapkan seseorang yang sudah tiada untuk kembali lagi, karena itu tidak akan pernah terjadi ingat itu"
"Tapi Ayah Dedes itu belum meninggal dia masih hidup. Bahkan dia masih ada di kota yang sama dengan kita, kenapa Ayah begitu keras padanya. Kenapa Ayah tidak mau mendengarkan dahulu penjelasannya"
"Satu lagi, kalau kalian mengundang Dedes kemari aku akan membatalkan pernikahan kamu Desi dihadapan banyak orang ingat itu. Jangan pernah anggap remeh kata-kataku itu"
Ayahnya langsung pergi begitu saja. Desi langsung menggenggam tangan Ibunya dengan sangat erat sekali.
"Ibu lebih baik iku Desi setelah menikah. Ibu ikut saja bersama Desi ya kalau Ibu terus bersama laki-laki itu yang ada Ibu akan gila. Lebih baik kita pergi sama-sama Ibu ikut denganku, nanti aku akan bilang pada suamiku dia tidak akan keberatan Bu "
Ibunya malah mengelengkan kepalanya, tak lupa dengan senyum manisnya "Tidak bisa, Ibu tidak akan pernah bisa meninggalkan Ayahmu. Dia adalah suami Ibu maka kemanapun dia pergi Ibu harus mengikutinya, kamu bahagia saja nanti bersama suamimu jangan pernah pikirkan Ibu. Ibu di sini akan baik-baik saja"
__ADS_1
"Baik bagaimana Bu, Ibu lihat saja kelakuannya dari dulu tidak pernah berubah, dia selalu saja egois tidak mau mendengarkan penjelasan dari kita semua. Kita semua harus mengikuti apa kemauannya. Kita semua tidak bisa bergerak dengan leluasa, bahkan kita tidak bisa menentukan pilihan kita sendiri. Kalau saja aku tidak ngotot untuk memilih Arjun mungkin dia akan menjodohkan ku dengan laki-laki lain Bu "
"Jangan berkata seperti itu Desi, mau bagaimanapun dia adalah Ayahmu. Dia adalah kepala keluarga di sini. Dia adalah orang yang mengurusmu jangan seperti itu. Sekeras-kerasnya Ayahmu dia adalah orang yang sangat penyayang"
Desi malah menangis, kenapa Ibunya begitu baik. Kenapa Ibunya mau bertahan. Kalau saja dirinya ada diposisi Ibunya mungkin dirinya akan menyerah saja.
"Kenapa Ibu begitu sabar, kenapa Ibu ingin bertahan dengannya "
"Kalau Ibu tidak bertahan, bagaimana dengan kalian"
Desi langsung memeluk Ibunya dengan erat, "Kalau begitu sekarang tidak ada alasan untuk Ibu bertahan, kita bisa pergi jauh darinya Bu. Aku bisa membuat Ibu bahagia"
Ibunya mengelengkan kepalanya "Tak apa biarkan Ibu menghabiskan waktu bersama Ayahmu. Dia baik Ibu tak akan mungkin meninggalkan Ayahmu. Kamu setelah menikah harus bahagia dan jangan pernah membantah suami mu ya "
"Ibu keras kepala sekali "
Mereka makin mempererat pelukan mereka. Tangis pun tak henti-hentinya keluar.
__ADS_1