Delana Dedes Pitaloka

Delana Dedes Pitaloka
Bab 17 Memberikannya


__ADS_3

"Dela "


"Apa. Kenapa kamu tidak memukulnya saja Ace, kenapa kamu diam saja melihat aku dipermalukan seperti itu. Aku dipermalukan oleh mereka kenapa kamu diam saja"


"Aku tidak mau memperumit masalahnya dulu. Aku kira tadi bisa diselesaikan dengan kita berunding terlebih dahulu"


"Ya tapi nyatanya apa, tidak bisakah semuanya sia-sia saja semuanya tidak ada gunanya"


Dedes menghapus lipstik dan riasan yang lainya, air matanya juga sudah tak mau berhenti. Dedes membuka rambutnya yang sudah disanggul.


"Aku kecewa Ace, aku marah sekali "


Ace mencoba meredakan emosi dari Dela. Ace memeluknya dengan erat dari belang, tapi Dedes langsung menepisnya dan masuk kedalam mobil di ikuti oleh Ace yang sama kecewanya juga.


Didalam mobil pun tak ada pembicaraan mereka sama-sama diam, apalagi Dedes dia masih menahan rasa sakit itu.


Dulu dirinya selalu ditolak saat laki-lakinya melamar, sekarang menikah dirinya juga ditolak. Sebenarnya dirinya ini kenapa, kenapa bisa seperti itu...


"Apakah aku seburuk itu Ace ? "


"Tidak, mereka saja yang tak bersyukur mendapatkan kamu "


"Aku selalu gagal dalam segala hal, apakah aku tidak pantas untuk bahagia. Apakah aku harus begini terus sampai nanti sampai mati"


"Jangan berbicara seperti itu " reflek Ace sambil memegang tangan Dela.


Tapi Dedes lagi-lagi melepaskan pegangan tangan itu, malah dia beralih menatap keluar jalan, Ace hanya bisa menghembuskan nafasnya mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Dela.


Dia sedang patah hati, dia sedang sakit hati jadi dirinya tidak akan terbawa suasana. Ini semua memang diluar pemikirannya.

__ADS_1


Dirinya kira kalau pernikahan ini akan berhasil, Dela akan bahagia dengan pilihannya. Tapi nyatanya malah salah besar. Pernikahan ini malah membuat Dela malu.


Mobil sampai dirumah Dedes, Ace masih setia mengikutinya. Saat pintu dibuka rumah sudah dihias dengan kelopak mawar merah, Dedes menginjak-injak bunga itu.


Dedes berjalan lebih masuk kedalam kamarnya, disana bahkan sudah dibentuk menjadi love dan juga ada angsa yang berbentuk love.


Sama itu juga tak luput dari amukan Dedes, Dedes menghancurkan itu semua. Tak ada yang tersisa lagi. Kelopak bunga itu sudah berhamburan dilantai.


"Sudah hentikan "


Dedes membalikan badannya dan menatap Ace dari atas sampai bawah "Kamu bisa bantu aku untuk melupakan ini semua "


"Ya aku bisa, bagaimana caranya aku akan membantumu beritahu aku caranya aku akan melakukannya untuk mu "


"Sentuh aku "


Tangan Ace ditarik oleh Dedes dan diletakkannya di dadanya, Ace menarik tangannya "Kenapa apakah kamu juga tidak sudi memegang ku Ace, apakah kamu juga sama seperti laki-laki yang lain "


"Aku tidak akan pernah menyesal sampai kapan pun Ace, bantu aku agar aku bisa melupakan segalanya. Melupakan semua rasa sakit itu. Aku tidak bisa begini terus Ace. Aku butuh sesuatu yang menghangatkan tolong aku, aku hanya bisa minta bantuan padaku "


"Aku tanya sekali lagi, apakah kamu tidak akan menyesal "


"Tidak akan "


Dedes mendekati Ace dan mengalungkan tangannya ke leher Ace, dengan pelan tapi pasti Dedes mengecup bibir Ace.


Ace masih belum membalas tapi lama kelamaan Ace membalasnya juga, tak bisa dipungkiri Ace juga menginginkan ini tapi bukan begini caranya.


Ace melepaskan ciuman mereka, menatap wajah Dela dengan pasti"Setelah ini aku akan menikahi mu "

__ADS_1


Ace membawa Dela ketempat tidur dan membaringkannya dengan sangat hati-hati. Diusapnya air mata itu dan dikecupnya dengan sayang.


"Jangan pernah menyesal Dela karena aku telah menyentuhmu "


Dan pada saat itu juga Ace segera melakukan apa yang diminta Dela. Jangan sampai Dela berfikir kalau dirinya tak menginginkan Dela.


...----------------...


Andreas duduk dengan sangat gusar, dia menggenggam tangannya dengan sangat erat. Apakah keputusannya sudah benar dengan membatalkan pernikahan ini.


Andreas mengacak rambutnya dengan kesal, seharusnya dirinya tadi menemui Dedes dengan baik-baik.


"Apalagi yang kamu fikirkan Andreas"


"Aku seperti pengecut Bu, aku seharusnya tak menyakiti Dedes "


"Makanya kalau apa-apa itu dipikirkan dulu. Apalagi ini menikah. Menikah itu harus ada restu dari kedua belah pihak apalagi orang tua itu lebih penting. Kamu memberitahu kami setelah kami datang kemari kamu akan menikah. Bagaimana kamu ini, pernikahan itu bukanlah hal yang harus dimain-mainkan dan terburu-buru seperti ini "


"Aku mengerti, aku sangat mengerti bukannya Ibu juga pernah bilang kan akan merestui aku menikah dengan siapapun. Sekarang aku sudah menentukan pilihanku tapi Ibu tidak merestuinya"


"Kamu salah memilih perempuan, kalau saja dia tidak dibuat mati oleh keluarnya aku tak akan membatalkan pernikahan ini. Aku pasti akan merestui kalian. Carilah perempuan lain, masih banyak disini perempuan cantik dengan keluarga yang baik-baik "


Andreas mengusap wajahnya dengan kasar "Tapi aku hanya mencintainya Bu, hanya dia yang aku inginkan"


"Ya sudah kalau begitu, kamu tidak usah menikah saja. Sampai aku matipun aku tidak akan merestui pernikahan kalian berdua ingat itu. Aku tidak akan pernah rela "


"Terserah Ibu saja, ini juga tak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Semuanya sudah hancur, entah bagaimana aku harus berbicara lagi pada Dedes"


"Kamu pergi menemui perempuan itu berarti kamu siap untuk tidak dianggap oleh keluarga ini "

__ADS_1


Andreas yang pusing meninggalkan Ibunya, percuma berbicara dengan Ibunya yang ada tidak akan ada ujungnya.


__ADS_2