
Pagi-pagi sekali mereka sudah ada di pasar. Ace yang memang baru kesini menjadi kebingungan. Apalagi dari tadi mereka berdua hanya diam saja.
"Em Dela apakah kamu sering datang ke pasar seperti ini "
"Iya sering. Setiap minggu aku bersama Ibu selalu pergi ke pasar untuk belanja makanan dan juga barang-barang di rumah yang kurang dan yang lainnya"
"Baguslah, karena aku binggung "
Dedes hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja, pertama mereka pergi membeli sayur-sayuran dulu, lalu beli daging ayam dan ikan serta yang lainnya.
"Kamu ingin membeli apa lagi Dela "
"Aku ingin beli itu dulu perabotan dapur, kamu tidak masalah "
"Tentu aku tidak masalah ayo "
Mereka segera membeli apa saja yang dibutuhkan. Setelah selesai Ace celingak-celinguk mencari tempat makan.
"Kita makan dulu ya"
"Boleh "
"Ayo kita ke restoran itu"
Ace mengambil alih barang-barang yang dibawa Dedes mereka masuk dan segera memesan. Minuman yang datang terlebih dahulu.
Dedes yang binggung karena minuman Ace lebih besar darinya langsung menukarnya "Aku ingin yang ini saja, sepertinya yang ini lebih seger"
"Jangan Dela itu alkohol"
Tapi percuma Dedes sudah meminumnya sampai habis, Dedes diam dia menatap Ace dengan mata sayu nya.
"Dela kamu baik-baik saja"
Bukannya menjawab Dedes malah berpindah duduk disamping Ace dan memeluk tangannya, lalu Dedes tertawa.
Ace melihat sekitar dan mengangkat tangannya, untuk meminta maaf pada orang-orang yang merasa terganggu.
"Dela kenapa kamu minum jadi kamu mabuk"
"Aku tidak mabuk, aku sehat "
Dedes berdiri dan naik keatas meja tersenyum pada Ace yang hanya bisa menepuk jidatnya. "Turun Dela"
"Tidak aku tidak mau, aku suka seperti ini aku bebas. Aku bahagia "
"Kemarilah kamu naik kemari "
Dedes malah berjoget-joget tak karuan, Ace menurunkan Dedes dengan perlahan dan menyimpan beberapa lembar uang.
"Kita pulang saja "
"Tidak, aku tidak mau pulang aku senang disini aku mau disini "
"Kamu mabuk "
__ADS_1
"Aku tidak mabuk "
Dedes memeluk Ace dan menyenderkan kepalanya di dada Ace "Kamu itu siapa calon suamiku ? "
"Bisa kamu anggap seperti itu "
"Yey aku akan menikah "
Dedes makin memeluk erat Ace, Ace segera membawa keluar Dedes meski sulit tapi Ace tak meninggalkan Dedes yang terus saja memeluknya dengan erat.
Ace memasukan Dedes kedalam taksi, supir taksi juga membantu barang-barang yang Ace bawa untuk dimasukan kedalam bagasi.
"Sini ayo duduk, aku sedang bersandar di dadamu yang empuk kemarilah "
Ace segera masuk dan Dedes kembali memeluk Ace, kembali Dedes meracau tak tentu. "Kamu tahu aku suka pada laki-laki yang ada ditempat kerjaku. Tapi jika kamu memang calon suamiku ya sudahlah aku lupakan saja dia"
Ace langsung menatap Dedes "Siapa laki-laki itu " tanya Ace dengan tangan yang terkepal erat.
"Andreas laki-laki tampan yang selalu dikelilingi perempuan, aku suka dia baik, perhatian dan saat diajak bicara pun dia asik"
"Kalau aku "
"Kamu ? Kita kan baru kenal kita baru bertemu kan, namamu siapa aku lupa " sambil memegang kepalanya.
Dedes memain-mainkan tangan Ace, tangan yang tadi mengepal dilepaskan oleh Dedes, Dedes hanya fokus menghitung jari Ace.
Ace yang muak mendengar jawaban dari Dedes, mencengkam rahangnya dan membuat Dedes mendongak menatapnya.
"Tatap aku, lupakan laki-laki itu "
"Ya "
"Tidak bisa " Dedes langsung tertawa dan melepaskan cengkraman Ace.
...----------------...
Dedes langsung terbangun dengan kepala yang sakit, orang yang pertama dirinya lihat adalah Ace "Aku dimana "
"Tentu saja di rumah. Tadi kamu mabuk jadi kita tak jadi untuk makan. Bukannya kamu punya janji. Apakah jadi untuk aku antar"
"Hemm, iya aku lupa jadi tapi kepalaku sakit sekali"
"Kamu dari tadi aktif sekali "
"Benarkah "
"Ya begitulah "
"Segeralah bersiap kita akan pergi sekarang. Nanti kalau kemalaman tak enak juga kan. Ayo cepat aku tunggu diluar "
"Hemm baiklah, aku akan bersiap"
Setelah Ace keluar Dedes memegang kepalanya "Ya ampun kenapa aku bisa mabuk. Apa yang dipikirkan Ace tentangku. Ihh dasar kamu ini ya Dedes bisa-bisanya mabuk dihadapan dia. Malu sekali "
Dedes segera bangkit dan bersiap, Dedes menatap dirinya di cermin "Baiklah jangan malu, aku tak boleh malu kasian dia sudah menunggu "
__ADS_1
Dedes membawa tasnya dan turun kebawah menemui Ace yang sedang merokok "Ayo aku sudah siap "
"Ayo "
Ace berjalan terlebih dahulu, Dedes tak berani berjalan bersisian dengan Ace karena malu, tapi Ace tiba-tiba saja berhenti berjalan.
"Berjalanlah disampingku, jangan dibelakang seperti itu, aku seperti sedang diikuti "
"Hemm, baiklah ada yang ingin aku tanyakan Ace "
"Apa "
"Saat mabuk aku bagaimana "
"Maksudnya? "
"Ya aku sikapnya seperti apa, apa membuatmu malu apakah aku menangis, tertawa atau apa "
"Kamu memelukku terus, dan kamu juga menceritakan sesuatu padaku "
Dedes langsung memeluk tubuhnya sendiri "Kamu tidak bohong kan Ace, apa saja yang aku bicarakan"
"Ya, untuk apa aku berbohong memang benar kamu memelukku dengan erat ada saksi matanya. Banyak orang yang melihat itu. Bahkan kamu menceritakan berbagai hal padaku, tapi itu rahasia aku tidak akan memberitahunya padamu"
Dedes mengigit bibir dalamnya apa saja yang dirinya ceritakan, kenapa bisa seceroboh itu "Katakan padaku apa yang aku ceritakan padamu "
"Rahasia. Sudah kamu tunggu disini saja aku akan membeli minum dulu. Aku kehausan karena minumanku dihabiskan oleh mu "
Dedes akhirnya hanya diam saja, Dedes menundukan kepalanya, aduh bagaimana ini apa yang harus dirinya lakukan.
Mau ditaruh dimana mukanya ini, sangat memalukan sekali. Kenapa sampai harus memeluk Ace dan menceritakan sesuatu padanya.
Dedes tiba-tiba melihat ada dompet yang jatuh, dengan cepat Dedes mengambil dompet itu. Tapi dompet itu langsung direbut oleh pejalan kaki yang lain.
"Ini milikku "
"Bukan, ini bukan milikmu, tapi milik Ibu yang itu jangan ambil ini sini biar aku berikan padanya"
"Sudahlah kita bagi dua saja, ini akan menjadi milik kita berdua "
"Tidak jangan "
"Ada apa ini "tanya Ace yang baru saja datang.
"Ini lihatlah Ace, tadi ada dompet yang jatuh itu punya ibu-ibu yang di sana yang akan masuk mobil itu, tapi dia mengambilnya dan mengatakan ini punya dirinya tapi aku yakin ini bukan milik dia"
Ace langsung mengambil dompet itu dan melihat tanda pengenalnya. Saat tahu itu punya siapa Ace langsung melemparkannya.
Dedes yang kaget langsung menangkapnya "Kenapa kamu melemparkannya "
"Buang saja, itu tak penting, biarkan saja "
"Tak bisa Ace aku harus mengembalikannya"
Dedes langsung berlari kearah ibu-ibu itu, Ace yang binggung mencoba mengejarnya untuk menggapainya tapi malah tak bisa. Sudah terlanjur Dedes berhadapan dengan ibu-ibu itu.
__ADS_1