
"Demi Biandra, jangan marah, ya?"
Pada akhirnya Bian selalu berhasil membuat lidah Amara kelu. Faktanya, pria itu menyimpan kartu as milik Amara— senjata ampuh untuk membuatnya tak bisa berkutik, Biandra— malaikat kecilnya.
Kalimat terakhir yang diucapkan Bian membuat Amara seketika tertawa, tawa hampa. Dia terus tertawa, tawa yang tak bisa dihentikan. Bahunya bergetar, dan perlahan tawa Amara berubah menjadi isakan pilu hingga bulir-bulir air mata mulai bercucuran.
Bian menangkupkan telapak tangan di pipi Amara, sementara sebelah tangannya menyentuh bahu wanita itu, berupaya menenangkan.
Namun, Amara beringsut mundur dari hadapan Bian. Mengikis jarak antara mereka dan menatap Bian dengan penuh kekecewaan.
"Jangan pegang-pegang saya," kata Amara pahit. "Dulu kamu selalu ngelakuin itu. Setelah berkomplot dengan orang bank yang bikin aku terpaksa jadi gundik kamu, itu juga yang kamu lakuin sama saya. Kamu megang saya, meluk saya, ngerangkul saya, nawarin bahu kamu sampe saya nyaman dan ngerasa terbang …"
Amara menatap Bian dengan penuh kekecewaan. Dia menelan sumbatan air mata yang menggumpal di tenggorokan dengan susah payah.
Lalu kembali melanjutkan, "Akhirnya apa? Kamu jatohin saya ke dasar jurang, tanpa pernah ngulurin tangan buat bantu saya keluar dari jurang itu. Tanpa kamu tahu segimana sulitnya saya ngerangkak buat berusaha naik dari jurang itu. Rasa sakit di seluruh tubuh saya waktu kamu ngelempar saya ke jurang itu rasanya masih ada—"
"Amara, aku tau kamu masih sakit hati," tukas Bian. "Tapi sekarang ada masa depan yang harus kita—"
"Sekarang apa lagi yang kamu rencanain dengan nikahin saya lagi secara sembunyi-sembunyi kayak gini?" potong Amara perih. "Mau bikin skenario terpahit buat hidup saya? Nyeret saya lagi ke kehidupan kamu, yang sebenarnya kamu sendiri nggak pernah ngizinin saya benar-benar hadir di dalamnya?"
"Sayang, nggak gitu. Sumpah." Bian merendahkan suaranya sambil berupaya melangkah mendekati Amara. "Aku sayang kamu, Ra. Rasa sayang itu makin besar setelah kamu ngelahirin Biandra. Aku nikahin kamu lagi karena aku cuma nggak tau harus gimana buat ngejaga kamu, jaga kalian berdua. Semalem kamu bilang takut dipukulin kakak kamu, takut bapak bakal marah kalau—"
"Terus apa hubungannya dengan nikahin saya?" tukas Amara tak berdaya. "Apa itu bakalan bikin kakak saya nggak—"
"Ya!" sahut Bian, berupaya meyakinkan. "Dengan posisiku sebagai suami kamu, porsiku lebih jelas buat belain kamu, Ra. Kamu denger sendiri 'kan apa komentar temen si Zack waktu semalem dia nyerang kamu kayak gitu? Apa yang mereka pertanyakan? Siapa aku? Siapa kamu bagiku? Aku cuma nggak mau denger kayak gitu-gitu lagi ke depannya, makanya aku jadiin kamu istriku lagi, Sayang."
Amara menatap Bian dengan rumit, tampak mempertimbangkan apa yang diucapkan pria itu. Untuk sementara, Amara membiarkan tatapan mereka terkunci, tanpa kata. Seolah-olah sedang berkomunikasi dalam kebisuan— meski sesungguhnya saat ini otak Amara terasa kosong.
Sebenarnya, Bian memang tak berniat untuk mengajak Amara rujuk dengan cara seperti itu. Namun, ketika tadi Bian tiba di rumah orang tua Amara tepat pukul tujuh pagi, dia mendengar percakapan tak mengenakan antara bapak Amara dan lelaki yang Bian yakini sebagai Risman— kakak Amara.
Dan Bian terus terpikirkan bagaimana semalam Amara ketakutan akan reaksi kakaknya, jika mengetahui apa yang disembunyikan Amara di belakang keluarganya.
Andai Bian tidak mendengar dan melihat langsung bagaimana sikap Risman saat berbicara dengan bapak Amara, mungkin Bian akan menduga apa yang pernah Amara ceritakan tentang kakaknya hanya ketakutan wanita itu saja.
__ADS_1
Ingatan Bian kembali menguar pada kejadian beberapa jam lalu, tepat saat dia menginjakkan kaki di teras rumah orang tua Amara.
Saat itu, Bian tak datang dengan sepeda motornya yang memang kemarin ditinggalkan di kontrakan Amara.
Dia datang ke sana mengendarai mobil bersama sopir, yang kemudian pekerjanya itu pulang membawa motor Bian— karena kontrakan Amara saat ini kosong.
Setelah menginstruksikan pada Akew agar membawa beberapa barang kebutuhan Amara dari kontrakannya, barulah Bian menemui orang tua Amara— bermaksud untuk membahas kemungkinan mereka sudah mendengar informasi tak mengenakan dari Niken, atau siapa pun yang semalam bertemu di pusat perbelanjaan.
Tampaknya semua yang dikhawatirkan Amara benar terbukti adanya. Gosip miring tentang Amara yang menjadi pelacur begitu cepat berembus ke telinga orang tua Amara, tak terkecuali kakak lelaki Amara yang kebetulan ada di sana.
Meski Bian datang di waktu yang tepat, tepat ketika Risman dengan kesal berkata pada orang tua Amara, "Itu karena kalian selalu belain si bengal itu. Udah dibilang anak itu emang bawa sial dari lahir! Liat aja gimana dia selalu bikin aib di keluarga. Bener-bener harus dikasih pelajaran itu anak!"
Jadi, Bian menahan langkahnya di teras rumah saat mendengar pak Yunus berkata, "Seburuk-buruknya Amara, dia tetep anak bapak. Bapak nggak rela kalau kamu ngeganjar dia kayak dulu. Jangan macem-macem, kasian dia baru ngelahirin, jangan dibikin—"
"Iya, ngelahirin anak tanpa suami! Baru berapa bulan dia cerei, udah kegatelan sampe hamil di luar nikah. Udah berapa banyak masalah yang ditimbulkan gara-gara anak sialan—"
"Bapak udah bilang kalau Amara bukan hamil di luar nikah," bantah bapak Amara dengan suara rendah. "Dia udah nikah, Man, udah nikah. Tapi rumah tangganya cuma sebentar. Si Amara minta cerei dari suaminya, tapi dia sendiri nggak tau kalau dia lagi hamil. Kamu jangan benci-benci banget atuh sama si Neng. Dia teh ade kamu satu-satunya yang satu ibu, harusnya kamu yang jagai—"
"Tapi dia juga yang bikin ibu mati!" Suara Risman terdengar meninggi. "Harusnya dia aja yang mati, bukan ibu!"
Bian tertegun mendengar penjelasan bapak Amara. Bukan saja karena dia kini mendengar lebih jelas tentang apa yang pernah diceritakan Amara tentang ibunya yang wafat saat melahirkan dia, tetapi dua nama itu— Diman dan Narti.
Bian berupaya menepis bayangan almarhum mertuanya, orang tua Yuanita. Yang katanya meninggal bunuh diri, setelah dicurigai mereka mengidap gangguan jiwa karena kerap didatangi makhluk halus.
Bukan waktunya Bian memikirkan hal itu. Lagi pula, itu pasti sudah puluhan tahun lalu terjadi, dan dia tak benar-benar yakin tentang nama kedua orang itu. Mungkin hanya kebetulan sama.
"Alah, terus aja bapak belain Amara. Udah bikin malu keluarga sedemikian rupa, masih aja dibelain!"
Suara tinggi Risman membuat Bian tak bisa menahan diri lebih lagi, atau mendengar lebih banyak makian tentang Amara— yang ironisnya kata-kata itu terlontar dari kakak kandungnya sendiri.
Jadi, Bian langsung mengetuk pintu yang sedikit terbuka dan berucap, "Assalamualaikum, Pak, Bu."
Meski Bian mengucapkan kalimat itu dengan rendah dan sopan, tetapi sekilas dia memindai sosok lelaki muda yang tampak masih begitu emosi.
__ADS_1
Awalnya dia pikir lelaki itu semengerikan makian yang dilontarkan pada bapak Amara, tetapi ketika melihat sosoknya yang jauh lebih muda dari pada Bian, ingin sekali dia mencekik lelaki itu karena bersikap kurang ajar.
Dan hal yang membuat emosi Bian terasa bergejolak adalah, tentu saja karena laki-laki itu terus menyebut Amara sebagai pembawa sial. Namun, mana mungkin Bian menyerang Risman di depan pak Yunus — meski sebenarnya dia ingin sekali melakukan itu.
"Waalaikumussalam," jawab mereka serempak.
Ibu Amara langsung bangun dari karpet dan menyambut Bian. Kekhawatiran jelas mewarnai suara wanita renta itu saat bertanya, "Ah, Nak Bian, kebetulan sekali kamu datang. Ibu udah cemas dari kemarin bolak-balik ke kontrakan. Si Neng Amara sama cucu ibu di mana? Mereka udah pulang 'kan?"
Ada rasa bersalah di hati Bian ketika melihat sorot mata wanita tua itu yang tampak cemas. Tindakan dia kemarin yang membawa pergi Biandra ternyata tak hanya membuat Amara terluka, tetapi jelas orang tuanya juga terlihat sangat khawatir.
Jadi, dengan penuh sesal Bian berkata, "Amara ada di tempat saya, Bu, Pak ... Maaf, saya baru sempet dateng dan ngasih kabar. Tapi Amara sama Biandra baik-baik aja di sana."
Tentu saja Bian tidak memberitahu yang sebenarnya bahwa Amara tak ingin pulang, karena terlalu ketakutan untuk berhadapan dengan orang tua Amara, terutama kakak lelakinya— yang sebenarnya tak ada kesan atau aura mengerikan yang pantas untuk ditakuti.
Namun, setelah mengetahui dan menyaksikan hal ini langsung, akhirnya Bian mengerti kenapa Amara sangat takut pada Risman. Bian tak bisa membayangkan seberapa terlukanya Amara jika sejak dulu terus mendengar bahwa kehadirannya tak pernah diharapkan.
Oleh sebab itulah Bian langsung membuat keputusan sebelah pihak, tanpa memikirkan konsekuensi Amara akan murka karena dia kembali menikahinya dengan cara seperti ini.
Namun, sejak detik itu juga Bian bertekad akan membawa Amara pergi dari kehidupan lamanya, dan membuka lembaran baru.
Saat itu, Bian hanya tak bisa membayangkan bagaimana Amara bisa tampak terlalu tabah di usianya yang masih semuda itu, sementara kakak lelaki yang seharusnya melindungi dia, justru menyerang mental Amara dengan membabi buta.
Lamunan Bian buyar ketika tiba-tiba terdengar suara Alif yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar sambil berseru, "Papa, kata Ibu sarapan buat ... emmh ..."
Alif menggantung kalimatnya saat melihat ke arah Amara dengan ekspresi bingung, tak tahu harus memanggil wanita yang tadi turun sambil marah-marah itu dengan sebutan apa.
"Kata ibu sarapan buat si Teteh itu mau dibawa ke kamar apa nggak?" lanjut Alif akhirnya dengan memasang wajah tanpa dosa, sedikit takut ketika mengingat bagaimana tatapan tajam Amara ketika mengambil Biandra di lantai bawah beberapa menit lalu.
Bian menoleh lagi pada Amara yang masih berdiri di hadapannya sambil menimang-nimang Biandra. Dia mengulurkan tangan untuk dengan lembut menyeka air mata di pipi Amara.
"Sarapan dulu, ya?" bisik Bian lembut. "Semalem kamu makan cuma sedikit. Mau sarapan bareng kakakku dia bawah, apa di sini aja?"
"Nggak nafsu," kata Amara dengan suara tersendat. "Kamu kalau mau makan pergi aja sana."
__ADS_1
"Dibawa ke sini aja, ya?" Bian tersenyum membujuk.
Ketika Amara mengangguk ragu-ragu, Bian mengusap-usap kepala Amara dan menunduk untuk mengecup Biandra sambil bergumam, "Tunggu sebentar, bidadari-bidadariku."