Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 68


__ADS_3

'Nggak keberatan hidup dari nol bareng aku?'


"Apannya yang dari nol?" Amara mendengkus. "Orang mah ngomong hidup dari nol itu beneran nol, Om. Kamu bisa-bisanya ngomong kayak gitu sementara uang kamu milyaran."


Bian tertawa terbahak melihat pelototan Amara. "Maksudku, kalau temenku udah sepakat buat join," lanjut Bian setelah beberapa saat. "Kayaknya setaun pertama ini kita harus hemat dulu. Tabunganku bener-bener mau dikuras, paling ke depannya ngandelin pendapatan dari kafe. Kamu keberatan nggak, Ra?"


Amara memberingis masam. "Emang ada alesan aku harus keberatan?" komentar Amara enteng. "Yang selama ini boros 'kan kamu. Bukan aku. Aku mana pernah minta kamu beliin ini itu? Baju-baju mahal, i-phone, barang-barang dan kebutuhan Biandra yang serba mahal, itu semua kan kamu yang beli. Jangan nyudutin kayak kesannya jadi aku yang—"


Ucapan Amara terputus ketika Bian menangkup wajah wanita itu dan membungkam mulut istrinya dengan ciuman. Amara mendorong bahu Bian ketika pria itu semakin intens memagut bibirnya.


"Sensitif amat sih diajak ngobrolnya?" bisik Bian setelah melepas tautan bibir mereka. "Aku cuma berusaha terbuka sama kamu, Sayang. Kamu malah kesinggung kayak gitu."


Ketika Amara baru saja membuka mulut untuk berkomentar, Bian lebih dulu menambahkan sambil mengacak-acak rambut Amara, "Udah punya Biandra, udah jadi ibu rumah tangga, jangan kayak anak kecil gini, Cinta."


"Kamu yang ketuaan," gerutu Amara, jengkel mendengar Bian menyamakan dirinya dengan anak kecil. "Masa aku harus dipaksa buat punya pemikiran seusia kamu sih, Om?"


"Bocil!" celetuk Bian sambil mencubit pangkal hidung Amara dengan gemas.


"Apaan? Coba bilang sekali lagi?!" Amara mendesak marah.


"Bocah kecil, gadis ingusan, cengeng, kekanakan—"


"Om!" Amara meradang.


"Sekali lagi bilang aku 'om', aku bakal manggil kamu bocah, oke?" Bian menyeringai nakal. "Mau ditiru anak-anak manggil kayak gitu ke ayahnya dengan sebutan 'om'? Tadi udah denger 'kan komentar si Alif kenapa kamu manggil aku kayak gitu?"


Amara yang semula ingin marah kini tersenyum kering, sadar bahwa dia memang salah. Namun, sebelum Amara bisa berkomentar, Bian lebih dulu tersenyum tipis membalas tatapan Amara.

__ADS_1


Bian meraih telapak tangan Amara yang terasa dingin karena mereka masih berada di luar rumah selarut itu, lalu mendekatkan punggung tangan Amara dan berlama-lama mengecupnya.


"Sayang, aku masih ada yang pengen dibahas. Kamu belum ngantuk 'kan?" kata Bian dalam gumaman selembut sutra, Bian ingat seperti apa ekspresi Amara sewaktu Alif membahas Yuanita ketika mereka makan malam.


Jadi, dia merasa perlu memberi pemahaman pada Amara dengan hati-hati.


Walau bagaimana pun, Bian tahu bahwa Amara terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Namun, tetap saja dia juga merasa perlu membahas tentang keluarga. Berdasarkan pengalaman rumah tangganya yang kandas, Bian sadar bahwa komunikasi yang baik antara suami istri memang perlu dijalin sedini mungkin.


Dari tatapan Amara yang menyelidik, Bian mengerti bahwa wanita itu penasaran menunggu apa yang akan dia bicara.


Untuk itulah Bian kembali melanjutkan dengan tenang, "Ngomong-ngomong masalah Alif ... mm, mungkin ke depan nggak hanya Alif. Tapi juga Biandra—"


"Masih kecil, kenapa bawa-bawa Biandra sih?"


Bian sudah menebak bahwa Amara lebih cepat tersinggung.


Mulut Amara terbuka, bersiap untuk menyahut, tetapi Bian buru-buru mendahului dengan menambahkan, "Aku nggak larang kamu buat marah-marah kalau emang lagi kesel, lagi badmood, suasana hati kamu lagi nggak bagus, atau apa pun alesannya. Toh aku sendiri juga orang biasa, punya emosional. Tapi, kalau ke depannya kamu lagi kesel sama anak-anak, nggak peduli itu dari Alif atau dari Biandra, kamu jangan marahin anak-anak, ya?"


Ketika alis Amara saling bertautan dan siap protes mendengar penuturan Bian, lagi-lagi pria itu berucap dengan nada yang semakin lembut, "Sebagai gantinya, kamu boleh luapin amarah kamu sama aku. Tapi jangan sama anak-anak. Aku nggak pernah nuntut seorang istri untuk menjadi sosok sempurna, toh aku sadar aku juga banyak kekurangan. Tapi kalau untuk masalah marahin anak-anak, aku bener-bener minta sama kamu, tahan sebisa mungkin emosinya, ya?"


"Emang kamu pernah liat aku marah-marah ke Alif atau Biandra?" protes Amara heran. "Paling parah aku cuma ngomong keras doang, itu pun kalau Alif nggak denger pas aku—"


"Nah, itu maksudku," sahut Bian sambil mengelus-elus pipi Amara dengan ibu jarinya. "Memang, menjadi ibu yang baik itu bukan berarti nggak boleh marah. Tapi, seenggaknya kamu bisa nahan emosi bentar aja, terus nanti kamu bisa luapin unek-uneknya ke aku. Kan kamu sendiri yang bilang kalau dibentak-bentak itu nggak enak, sakit hati, dan kamu bahkan selalu bilang sampe sekarang sakit hatinya nggak berkurang kalau inget gimana kakak kamu bentak-bentak kamu kayak anak kecil?"


Amara terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yang dikatakan suaminya. Air wajahnya berusaha sedikit tak senang, tatapi setelah beberapa saat dia kembali membalas tatapan Bian dan mengangguk yakin.


"Tapi kamu nantinya jangan marah-marah kalau aku lampiasin kekesalannya sama kamu?" desak Amara dengan penuh rajukan. "Ntar kamu malah balik bentak-bentak aku padahal aku lagi—"

__ADS_1


"Nggak akan," pungkas Bian sambil menarik Amara ke dalam pelukan. Lalu mendekatkan bibir di telinga istrinya dan melanjutkan, "Asalkan kamu marah-marahnya dalem hati."


"Sama aja bohong!"


Bian menahan gelak tawa ketika Amara mencubit perutnya sambil menggertakkan gigi. Namun, hal itu justru membuat Bian semakin erat memeluk Amara. "Bercanda, Sayang. Aku serius kok. Aku nggak akan bentak-bentak kamu, asalkan kamu mau janji nggak akan bentak anak-anak, nggak peduli gimana mereka nguji kesabaran kamu."


"Tapi sabar itu ngeselin," Amara mencicit pelan ketika meletakkan dagunya di bahu Bian, sementara dia melingkarkan kedua tangan di leher suaminya. "Kayak tadi ... itu sebenarnya aku bukan kesel ke Alif, tapi cemburu waktu tau kamu sama mantan istri kamu manggilnya mama papa, kayaknya mesra banget kalau lagi berduaan sama Yuanita—"


"Hey, jangan cemburu sama masa laluku," bisik Bian sambil menggerakkan telapak tangannya di punggung Amara, menenangkan. "Wanita itu bukan orang yang layak buat dicemburuin. Nggak ada yang istimewa tentangnya, kecuali cuma mimpi burukku selama sepuluh tahun. Ngomong-ngomong, Ra, ada masalah penting banget yang nggak bisa ditunda."


Amara menjauhkan tubuhnya ketika mendengar suara Bian berubah serius.


"Kenapa lagi? Masih ada masalah—"


"Ini masalah besarnya."


Amara tak berhasil menyelesaikan kalimatnya ketika Bian tiba-tiba membimbing tangan Amara menuju celana Bian. Pria itu memberitahu istrinya bahwa gairah Bian lebih cepat bereaksi ketika sedang memeluk Amara, dan hal itu membuat Amara langsung menarik tangannya dari area bawah tubuh Bian.


"Nggak usah ngada-ngada, aku lagi—"


"Jangan bilang lagi nggak bisa diserang dengan alesan flek," sahut Bian dengan suara serak berbahaya. "Tadi sore kamu mandi besar, terus sholat magrib dan isya, mau alesan apa?"


"Aku lagi capek," keluh Amara dengan pipi yang mulai memanas. "Udah ngantuk, nggak kuat pengen tidur—"


"Sekali doang, Ra," desak Bian. "Abis itu langsung ..."


"Bohong ah kamu mah," keluh Amara sambil mendorong bahu Bian yang berupaya menciumnya. "Bilangnya sekali, ntar udah selesai satu kali bilang sekali lagi. Terus aja kayak gitu sampe aku bilang mau pingsan, baru kamu—"

__ADS_1


"Beneran, kali ini cuma satu ronde," sergah Bian yang kemudian langsung mengangkat Amara ke dalam pangkuan sebelum wanita itu bisa berontak.


__ADS_2