Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 61


__ADS_3

Amara terduduk di lantai bersandar pada tempat tidur, sementara tangisnya luar biasa pecah. Jadi, ketika Bian berjalan masuk dengan tergesa-gesa, Amara langsung menyambar bantal dari tempat tidur dan melempar Bian.


"Semuanya gara-gara kamu!" pekik Amara di tengah isakannya. "Kalau aja kamu dulu nggak nikahin aku, nggak mungkin mantan istri kamu bilang kalau aku perebut suami orang!"


Bian berhasil menangkap bantal dan berjalan ke arah Amara. Dia menghela napas berat sebelum bertanya, "Kamu berantem sama Yunita?"


"Siapa yang berantem?" Amara meradang. "Apa kamu sekarang mau nyalahin aku kalau aku berantem sama dia? Dulu juga kan kamu sampe cerein aku karena ngebela Yunita ..."


Pada akhirnya, luka lama itu kembali mencuat dalam hati Amara.


"Sekarang apa? Kamu dateng ke sini buat nyalahin aku juga karena pernah nyaranin kamu supaya batasin Alif nggak ketemu Yunita?" Amara membersit hidung dengan ujung tunik putih yang dia pakai. "Terus aja semuanya salahin aku! Padahal mereka nggak tahu kalau kamu yang nyeret aku ke dalam hidup kamu! Masih mending kalau iya aku sama dia berantem, seenggaknya aku bisa ngelawan dia ..."


Amara mendorong Bian ketika pria itu memegang tangannya, berusaha menarik Amara ke dalam pelukan.


"Adanya aku cuma dimarahin, aku dihina, aku dimaki-maki, dituduh ngerebut kamu, uang kamu dan Alif dari dia," lanjut Amara ketika tangisnya semakin kencang. "Aku sakit hati, kamu tau nggak?!"


___


Tak heran jika Bian langsung mendidih diselimuti amarah saat melihat Amara tampak terluka, terutama ketika wanita itu menjabarkan apa yang dilakukan Yunita.


Mungkin Bian masih bisa sabar jika seseorang menghina ataupun hingga meludahi wajahnya jika orang itu membenci dirinya sendiri.


Namun, dia tak akan bisa tahan jika orang yang menjadi korban amukannya adalah keluarganya— terutama Amara, wanita yang dia cintai sekaligus ibu dari anaknya tercinta.


Sebenarnya, saat ini yang ingin Bian lakukan adalah menenangkan Amara. Hanya saja, tampaknya kejengkelan pada Yunita lebih dominan dan mengambil alih pertahanan Bian.


Semenjak mengetahui apa yang sudah Yunita lakukan pada dirinya dan keluarganya, Bian luar biasa membenci wanita itu hingga benar-benar tak menginginkan Alif dekat dengan Yunita.


Jika saja tidak ada keterlibatan dengan Alif, andai saja Alif bukan keponakannya, andai saja Alif orang lain— yang mungkin bisa Bian abaikan begitu saja, mungkin Bian sudah menghabisi Yunita setelah mengetahui wanita itulah yang mengirimkan santet hingga papa Bian wafat.


Persetan jika dia harus mendekam di balik jeruji selama dirinya bisa melenyapkan Yunita. Sayangnya, ada Alif yang menjadi bahan pertimbangan Bian, dan dia tahu bahwa Alif belum benar-benar bisa menerima fakta bahwa Yunita bukan ibu kandungnya.


Terbukti dari bagaimana menurunnya semangat dan keceriaan Alif. Meski beberapa bulan belakangan Bian mengizinkan Yunita bertemu Alif, tetapi nista baginya jika sampai melihat wanita itu, dan semua itu dia lakukan hanya demi bisa melihat Alif kembali ceria seperti dulu.


Jauh dari lubuk hati Bian, dia tak pernah rela jika Alif terkurung dalam kesedihan karena dia tahu benar bagaimana rasanya menjadi anak broken home.

__ADS_1


Saat ini, dia hanya berusaha sebisa mungkin agar di masa depan, Alif tidak salah memilih pergaulan karena segelintir kenangan pahit di masa kecil yang anak itu alami.


Sekarang, aduan Amara yang begitu sakit hati oleh kelakuan Yunita, tampaknya benar-benar berhasil mengambil alih kendali diri Bian.


Tanpa banyak berbicara, Bian tergerak bangkit dan hendak berjalan keluar membawa serta kedongkolan yang tertanam dalam kepala.


Namun, baru saja dia melangkah, Amara turut berdiri sambil menyelidik dengan sengau, "Mau ke mana?"


"Ngasih pelajaran sama orang kurang ajar itu," desis Bian sambil berjalan keluar. "Emang nggak bisa didiemin lagi itu orang. Makin lama makin ngelunjak. Asal kamu tau aja, Ra ... nggak ada yang nyalahin kamu. Pada dasarnya tabiat si Yunita emang picik ...."


Bian berbalik menghadap Amara ketika wanita itu menarik punggung bajunya, napasnya masih memburu— tampak dikuasai amarah.


Sebelum Amara bisa membuka mulut, Bian menambahkan dengan serius, "Dan perlu kamu inget, nggak ada yang ngerebut aku dari siapa pun. Menikah dengan kamu atau bukan, pada dasarnya aku dan Yunita pasti bercerai. Dan udah aku pernah bilang sebelumnya, sebelum aku ketemu kamu, Yunita bukan wanita yang bisa ngejaga kesetiaannya. Udah pernah aku jelasin talakku ke Yunita jatuh dengan sendirinya kalau dia ngulangin kesalahan. See ... kamu nggak bersalah sama sekali dan nggak berhak disalahkan, apalagi sampai disebut-sebut sebagai perebut suami orang."


"Tapi kenapa dia sebegitu yakin kalau di sini akulah yang bersalah atas perpisahan kalian?" protes Amara dengan air mata yang kembali mengalir, "Kok kesannya Yunita nggak pernah berbuat salah sama sekali, justru akan kamulah yang luar biasa bejad."


"Aku udah pernah bilang kalau dia selingkuh," Bian bersikeras meyakinkan Amara agar wanita itu tak merasa bersalah dan marah-marah. "Apa perlu aku tunjukin semua bukti-bukti perselingkuhan dia ke kamu? Apa perlu aku kasih liat ke kamu video panas dia dan selingkuhannya sewaktu masih jadi istriku?"


Seolah butuh meyakinkan diri bahwa Bian dan Yunita memang pasti bercerai dengan atau tanpa kehadiran dirinya, Amara mendongak mengangkat dagu dan mendesak, "Mana buktinya kalau memang benar itu masih ada. Aku perlu modal dan bukti buat ngebalikin bahwa dia juga bukan wanita baik-baik, bahwa bukan aku yang menyebabkan kalian bercerai, bukan aku bikin kamu berpaling, dan aku bukan perebut suami orang seperti yang dia bilang."


"Sekarang aku cuma perlu datengin Yunita karena aku nggak bisa ngebiarin Alif lama-lama sama dia, dan aku nggak bisa terima dengar kamu dihina kayak gitu sama orang yang jauh lebih buruk dari pada sampah—"


"Tapi kamu jangan pergi sekarang!" tukas Amara sambil menarik tangan Bian, lalu menatap pria itu dengan penuh permohonan. "Jangan masuk ke dalam jebakannya, karena satu-satunya yang aku yakini itu cuma cara dia biar kamu dateng. Dia bilang bakalan ngerebut kamu lagi dari aku, dan aku yakin dia tau benar Alif adalah sumber kelemahan kamu— yang bahkan kamu bilang sampai rela ngasih apapun yang dia mau asalkan bisa ambil alih Alif. Please ... jangan pergi sekarang, aku takut kamu bakal—"


"Tapi aku sakit hati liat kamu kayak gini, kamu ngerti nggak?!" Bian memelototi Amara sambil meremas bahu wanita itu. "Kamu pikir aku bakal diem denger istriku dihina sampe nangis-nangis kayak gini? Emang pada dasarnya Yunita harus mati—"


"Terus kamu masuk penjara dan ninggalin aku sama Biandra? Gitu maksud kamu?" pekik Amara frustrasi. "Kamu pikir semua bisa diselesaikan dengan emosi? Kamu mikir nggak, kalau kamu nggak ada nantinya gimana aku sama Biandra? Gimana aku harus ngejelasin ke Alif sama Biandra kalau kamu dipenjara selama bertahun-tahun sampe mereka gede? Mikir nggak gimana nantinya aku besarin anak-anak tanpa kamu? Mikirin nggak dampak ke depannya bakalan kayak gimana kalau kamu beneran gelap mata sampe bunuh Yunita?"


Bian membisu, mencoba meredam emosi yang menggelegak dalam jiwa. Tangis dan ucapan Amara yang semakin menjadi tampaknya menjadi bahan pertimbangan bagi Bian. Istrinya benar, dia tak bisa gelap mata dan harus memikirkan resiko ke depannya.


Jadi, Bian menarik dan merengkuh Amara ke dalam dadanya. Memeluk wanita itu dengan erat, sementara dia menciumi puncak kepala sang istri dengan penuh emosional.


"Terus aku harus gimana ngadepin Yunita, Ra?" gumam Bian setelah beberapa saat. "Wanita itu akan selamanya jadi masalah buat rumah tangga kita. Aku harus apa, Ra?"


Amara mendongak menatap Bian, lalu tangan Bian terulur untuk menyeka pipi Amara yang masih bercucuran air mata.

__ADS_1


"Dia bilang ke kakak kamu kalau Alif mau dibawa nginep seminggu," jelas Amara ketika Bian melesit hidung Amara dengan jemari tangannya. "Terus dia ngancam bakalan ..."


Amara menarik napas banyak-banyak, suaranya berubah menjadi bisikan penuh ketakutan ketika kembali menenggelamkan wajah dalam pelukan suaminya.


"Dia bilang bakalan nyantet aku kalau aku provokasi kamu buat ngambil Alif," lanjut Amara sambil memeluk pinggang Bian erat-erat. "Ikutin aja dulu maunya Yunita ngajak Alif nginep seminggu. Aku takut dia bakal beneran kirim santet kalau kamu ngambil Alif sekarang—"


"Dia nggak bakalan bisa nyantet kamu, Istriku sayang," tukas Bian sambil mengembuskan napas panjang. "Satu-satunya dukun santet yang sering dia datangi udah mati dibakar warga lima bulan lalu."


"Dari mana kamu tau kalau dia sering datengin dukun santet?" Amara kembali mendongak dan menatap Bian dengan tak percaya.


Bian diam sejenak, sorot matanya seolah menelusuri labirin-labirin gelap yang tersembunyi dalam benaknya. Sekali lagi Bian menarik napas panjang, lalu kembali membenamkan kepala Amara di dadanya.


"Kan udah aku bilang kalau hp dia aku sita sewaktu aku dan dia berantem," Bian menjelaskan setelah beberapa saat. "Dari sana aku liat jejak digital dia sama Icha— temen sekaligus mantan kakak iparnya. Mereka ngebahas tentang dukun, dan bikin aku makin curiga. Dari sana juga aku manggil Icha, terus maksa dia buat cerita. Sejak saat itu aku ngirim orang buat nelusuri keberadaan dukun itu. Ternyata dukun itu diincar sama warga sekitar karena keberadaan dan praktiknya di dunia hitam memang meresahkan. Jadi, nggak heran kalau pada akhirnya dukun dan mediator itu dibakar warga hidup-hidup."


Amara hampir tak bisa berkata-kata mendengar penjelasan Bian, meski pria itu tak sepenuhnya mengungkap bahwa Yunita jugalah yang mengirim santet untuk ayah Bian.


Terlalu banyak alasan yang membuat Bian sebegitu membenci Yunita dan dukun itu. Terutama saat melihat foto hitam putih bapak Amara yang juga berada di gubuk dalam hutan itu.


Semua terasa masuk akal ketika Amara pernah memberitahu bahwa ibunya wafat akibat santet yang dikirim untuk bapaknya, lalu beliau yang justru menjadi korban akibat kebiadaban orang-orang tak berperikemanusiaan. Ironisnya, sang pelaku yang memakai jasa dukun itu adalah orang tua Yunita sendiri.


Entah motif apa yang melatar belakangi hingga orang-orang itu sampai hati membuat Amara kehilangan ibunya. Yang Bian tahu, dia tak mungkin memberitahu Amara bahwa Yunita adalah anak dari orang yang sudah membuat Amara tak memiliki ibu.


"Tapi, gimana kalau Yunita nyari dukun lain dan beneran nyantet aku?"


Bian bisa menangkap nada ketakutan dalam suara Amara. Terutama saat wanita itu melanjutkan, "Kan aku pernah bilang kalau ibuku meninggal karena santet salah sasaran. Gimana nanti Biandra kalau aku beneran—"


"Nggak mungkin, Sayang," tukas Bian, menenangkan. Namun, bohong jika dia pun sedikit ngeri ketika mengingat bahwa Yunita adalah orang yang nekat. Memikirkan hal itu membuat Bian semakin erat memeluk Amara dan mengelus-elus punggungnya— berharap hal itu tak pernah terjadi. "Kita akan baik-baik aja, Ra. Kamu nggak akan kenapa-kenapa."


"Tapi aku tetep takut."


Jika saja kata itu diucapkan oleh orang yang berpikiran jernih, mungkin Bian akan kesal karena Amara tak kunjung bisa mengerti. Namun, kalimat itu terucap dari wanita yang mengidap rasa cemas dan khawatir berlebihan.


Jadi, Bian lagi-lagi hanya bisa mendaratkan kecupan di puncak kepala Amara dengan dalam. "Ada aku di sini. Kamu jangan takut."


"Kamu jangan ke mana-mana," kata Amara dalam gumaman lirih. "Kalau beneran santet itu datang dan jemput ajalku, siapa yang bakalan nalqin dan bisikan kalimat syahadat di telingaku? Please ... jangan jauh-jauh sedetik pun. Aku takut."

__ADS_1


"Ra, jangan ngomong gitu." Bohong jika Bian tak takut saat mendengar nada keputusasaan yang diucapkan istrinya. "Sabar, Istriku."


__ADS_2