Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 70


__ADS_3

Lima menit lalu, Amara masih tersenyum dan tertawa sewaktu berteleponan dengan Bian. Namun, kini, saat memantau monitor CCTV dan mendapati siapa tamu yang duduk di meja nomor 14, mau tak mau mood Amara seketika anjlok seketika.


Meski warna rambut wanita yang terekam kamera CCTV itu kini berwarna burgundy, tetapi Amara tentu saja tak siapa pemilik wajah bermake up menor itu.


Memang, semenjak kejadian Alif yang melarikan diri dari kediaman Yuanita, dan mengetahui bahwa Mirna mengancam akan melaporkan Yuanita jika berani menampakan diri lagi, sejak saat itu Yuanita tak pernah mencari gara-gara secara langsung atau pun yang melibatkan Alif.


Namun, bukan berarti mantan istri Bian itu tidak mengganggu ketenangan Amara dan suaminya selama dua bulan ini.


Amara ingat betul tiga hari pasca kejadian itu Yuanita menambahkan pertemanan ke akun FB pribadi milik Bian, meski pada akhirnya Bian memblokir pemilik akun bernama 'Mama Alif'.


Hanya saja, seolah tak puas karena upayanya tak berhasil, beberapa hari selanjutnya pemilik akun bernama 'Pusvita' menambahkan pertemanan ke akun pribadi milik Amara Cake and Cookies.


Amara jarang bersosial media, tetapi bukan berarti dia tak pernah menengok ke jejaring sosial dan memeriksa akun miliknya. Terlebih lagi, semenjak membuka kafe, Amara kerap kali mempromosikan berbagai macam menu yang ada di kafe milik mereka.


Awalnya Amara tak tahu bahwa pemilik akun bernama 'Pusvita' itu adalah mantan istri Bian, tetapi beberapa hari setelah dia menerima permintaan pertemanan di Facebook- nya, pemilik akun itu mulai mengunggah foto-foto Yuanita sewaktu masih bersama Bian.


Sebagai wanita yang tak luput dari rasa penasaran, akhirnya Amara terdorong untuk membuka profil milik Yuanita. Hasilnya, darah Amara mendidih saat melihat ratusan foto unggahan Yuanita bersama Bian dan Alif.


Bukan hanya sekedar foto-foto keharmonisan mereka di masa lalu yang membuat Amara sakit hati, tetapi caption yang ditulis Yuanita- lah yang membuat Amara benar-benar terluka.


Pasalnya, dalam postingan itu Yuanita menuliskan (Aku dan keluarga kecilku sebelum suamiku dipelet oleh wanita penggoda)


Saat itu, Amara tak menghiraukan foto-foto unggahan Yuanita yang memamerkan berbagai macam hadiah pemberian Bian di masa lalu. Mulai dari ponsel, sekumpulan perhiasan yang Amara yakin harganya mencapai puluhan juta, tas-tas mahal, juga pakaian serta sepatu branded.


Akan tetapi, lagi-lagi caption Yuanita yang bertuliskan (Semoga suamiku disadarkan dari pengaruh pelet wanita penggoda itu. Hadiah-hadiah ini adalah bukti suamiku itu cinta mati sama aku, lalu sekarang tersesat sama bocah ingusan yang serakah dan hanya mau sama suami orang)


Awalnya Amara tak mengadu pada Bian bahwa dia sedang sakit hati karena sudah melihat akun Facebook milik mantan istrinya. Lagi pula, sejak dulu Bian selalu mewanti-wanti agar Amara tak perlu mengorek-ngorek masa lalu.

__ADS_1


Memang salah dia sendiri kenapa harus penasaran dan membuka profil milik mantan istri Bian. Jadi, Amara menelan rasa sakit akibat postingan-postingan tersebut.


Namun, pada akhirnya Amara meledakkan kecemburuan pada suaminya, dan sejak saat itulah Bian menutup akun sosial media milik Amara dan miliknya sendiri.


Sejak ditutupnya akun sosial media mereka, Amara memang semakin nyaman dan sadar memang ada kalanya dia tak perlu mengetahui hal apa pun. Terutama tentang masa lalu suaminya.


Sekarang melihat Yuanita muncul di kafenya dan memaksa karyawan untuk bertemu dengan pemilik kafe, Amara sadar bahwa tujuan kedatangan Yuanita adalah untuk mencari perkara, atau mungkin memang ingin bertemu Bian.


Sesungguhnya, dia gerah dan geram oleh sosok bernama Yuanita yang ternyata belum berhenti menjadi bibit masalah dalam keluarganya. Sungguh disayangkan Bian saat ini tak ada bersamanya. Namun, bukan berarti dia tidak berani menghadapi Yuanita.


Amara berpikir keras apa yang harus dilakukan untuk menyingkirkan Yuanita. Bukan saja mengusir dia dari kafenya malam ini, tetapi Amara ingin mantan istri Bian itu selamanya tak kembali muncul mengusik mereka.


Alis Amara saling bertautan ketika teringat infotainment news— tontonan berita gosip tentang selebriti yang akhir-akhir sering menemani Amara sewaktu mengasuh Biandra sore hari.


"Ikut ke kamar Teteh, jagain Biandra, Ka," kata Amara pada Eka setelah beberapa saat dan merasa harus melakukan sesuatu.


Belum sempat Eka menjawab, Amara buru-buru menarik tangan adiknya keluar dari ruangan dan membawa ke kamarnya.


"Terus siapa yang jagain kasir—"


"Udah diem," tukas Amara sebelum Eka menyelesaikan kalimatnya. Tanpa harus repot-repot berganti piyama tidur, Amara menyambar kerudung instan yang melumuk di atas sofa. "Jangan ninggalin tempat tidur pokoknya, Biandra makin nggak bisa diem tidurnya. Kalau mau pipis tahan aja bentaran doang."


Amara tak memberi kesempatan pada adiknya untuk menjawab, dia buru-buru keluar dari kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Lalu meraih ponsel dan menghubungi Bian terlebih dahulu. Walau bagaimana pun, dia ingin memastikan bahwa apa yang akan dia lakukan sekarang harus mendapat perlindungan dari suaminya.


Meski ragu akan mengganggu Bian yang pasti sedang rapat, tetapi Amara tetapi mencoba peruntungan. Beruntung panggilan langsung terhubung di dering kedua panggilan berlangsung.


"Ya, Sayang, kenapa?" Suara Bian dari seberang panggilan terdengar sedikit berbisik.

__ADS_1


"Kamu udah mulai rapatnya, Ay?" tanya Amara, berusaha menjaga suaranya agar tak terdengar janggal— meski sekarang lututnya sedikit gemetar menahan kesal.


"Baru aja mulai," sahut Bian. "Ada apa?"


"Nggak ada apa-apa sih," kata Amara sambil menuruni undakan anak-anak tangga. "Ay, kalau ada yang macem-macem sama aku, kamu mau belain aku nggak?"


"Siapa yang berani macem-macem sama kamu?" Kekhawatiran mewarnai suara Bian. "Ada apa? Kenapa?"


"Jawab aja pertanyaanku," Amara mendesak dengan suara rendah saat berjalan menuju ruang operator di ujung karidor yang berdampingan dengan ruang ganti bagi para karyawan. "Kalau ada yang mukul aku, kamu bakal ngapain orang itu—"


"Ra, jangan bikin cemas orang," tukas Bian dengan suara meninggi, lalu terdengar langkah kaki dari seberang panggilan diiringi suara pintu dibuka dan ditutup. Tampaknya Bian mencoba keluar dari situasi rapat. "Ada apa? Ada masalah?"


"Nggak ada, Ay," Amara menahan napas, terpaksa bersikap demikian karena tak ingin mengganggu Bian yang tengah bekerja. "Abis baca berita gosip kasusnya Nik*ta M*rzni yang akhir tahun lalu mukul orang di rooftop Kemang Paviliun itu. Dia kan dijerat hukuman—"


"Kamu kebiasaan kebanyakan nonton gosip, ah," gerutu Bian dari seberang panggilan. "Bikin orang panik setengah mampus, padahal yang dibahas cuma gosip artis."


"Maafin." Amara tertawa kaku. "Yaudah, kamu lanjutin sana, jangan pulang malem-malem."


"Tapi kamu beneran nggak apa-apa?"


"Nggak," kata Amara berupaya meyakinkan.


"Yakin?"


"Udah ih, nggak enak sama temen-temen kamu kalau ninggalin rapatnya."


Amaral tak menunggu jawaban Bian dan langsung mengakhiri panggilan, lalu menemui petugas operator dan berbicara sambil memberikan ponsel berisi segelintir bukti kebusukan Yuanita.

__ADS_1


Setelah itu, dia bergegas keluar ruangan. Berjalan melewati koridor dan melintasi deretan kursi kafe.


Ketika Amara baru saja melangkah ke luar melewati pintu kaca yang dibuka lebar, dia langsung mendapat tatapan tajam dari dua orang tamu perempuan yang duduk di kursi nomor 14.


__ADS_2