Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 27


__ADS_3

"Selain perasaan ngeri, paranoid, perubahan pola makan, gangguan tidur secara drastis, khawatir secara berlebih, sakit kepala, banyaknya pikiran menakutkan yang datang, mual, serta demam yang Ibu sebutkan barusan, apa ada gejala tambahan lain?"


"Kadang saya ngerasa sulit konsentrasi," Amara menambahkan dengan terus terang. "Terus kalau udah kalut, detak jantung saya kayak lebih cepet, ntarnya tiba-tiba punggung sama tangan keluar keringet dingin."


Dokter lelaki tua itu mengangguk-angguk sambil menggoreskan pena di atas kertas, menuliskan serangkaian lain gejala yang diawali Amara. Sambil memperbaiki kacamata baca yang bertengger di hidungnya, dokter tersebut meraih dokumen hasil pemeriksaan laboratorium milik Amara. Lalu menekuni setiap informasi dan angka-angka yang tertera pada list.


"Ini hasil tes dua minggu lalu, ya?" Dokter itu mengintip Amara sekilas dari atas bingkai kacamata untuk melihat anggukan sang pasien.


"Ya, kurang lebih." Amara memberitahu, mengikuti apa yang dikatakan Bian, agar dia memberitahu segala hal, supaya dokter tersebut lebih murah mendiagnosa. "Tiga hari sebelum ngelahirin, saya periksa lagi setelah sebelumnya tes TORCH pas usia kandungan lima bulan, soalnya sering pusing, takut punya anemia atau darah tinggi."


"Hemoglobin 15,0 g/dl, normal. Leukosit, trombosit, masih terbilang normal," ujar sang dokter tenang. "SGOT— Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase, enzim pada organ hati (liver), jantung, ginjal, hingga otak, angkanya juga normal. SGPT- nya juga bagus …"


Mata sang dokter memindai informasi dan angka-angka di bawahnya, kemudian kembali bergumam, "Menilai dari hasil tes, secara keseluruhan, mulai dari Ureum, kreatinin, albumin, globulin, GDS— Gula Darah Sewaktu, protein urine, bilirubin, glukosa, sel darah merah dan putih, hingga kolesterol, semuanya terbilang normal. Bagus sekali Ibu bawa hasil pemeriksaan di awal konsultasi."


"Suami saya yang ngingetin," Amara mengakui apa adanya.


"Berpengalaman sekali sepertinya," komentar sang dokter dengan langgam tenang. "Apa ibu datang bersama beliau?"


"Ya." Amara mengangguk, lalu menoleh ke samping, pada partisi penyekat ruang konsultasi yang hanya seluar satu setengah meter kali dua meter. Kemudian Amara merendahkan suaranya, sadar bahwa partisi pembatas tersebut hanya setengah dinding, meyakini Bian mungkin saja mendengar percakapannya.


"Suami saya di situ," kata Amara kaku yang dibalas senyum kecil dari sang dokter. "Katanya khawatir aku nggak leluasa waktu sampein semua keluhanku ke dokter."


"Itu benar," kata sang dokter dengan senyum semakin lebar hingga keriput tulang di pipinya semakin kentara. "Ada beberapa hal yang mungkin tak bisa ibu kemukakan di depan suami karena alesan tertentu. Jadi, begini saja lebih baik untuk sekarang. Dan saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan lebih spesifik sebelum akhirnya mendiagnosis."


Jadi, Amara mulai menjelaskan segala hal yang menghantuinya, menjawab semua pertanyaan sang dokter satu demi satu. Mulai dari ketakutan akan kehilangan Biandra, juga hal-hal aneh yang secara garis besar membuat sang dokter terkejut.


"Ada di satu malam saya pernah mikir anak saya tiba-tiba mati karena ketutup payudara saat saya ngasih ASI terus nggak sengaja ketiduran," lanjut Amara sambil bercucuran air mata. "Tapi, di waktu berikutnya, saya pernah mikir untuk bunuh anak saya. Saya pengen bawa anak saya mati sama-sama. Kayak udah lelah aja buat hidup. Saya kehilangan kepercayaan sama semua orang."

__ADS_1


Sang dokter mencabut beberapa lembar tisu dari kotaknya dan menyodorkan pada Amara, merasa prihatin dengan kondisi wanita itu.


"Baik, Ibu," kata sang dokter dengan tenang. "Menilai dari semua gejala dan keluhan, saya rasa tak cukup dini untuk mendiagnosa bahwa ibu terserang Postpartum anxiety— atau yang biasa disebut kecemasan pasca persalinan."


"Suami saya kemarin bilang saya kayak orang kena baby blues." Amara membersit hidung dengan tisu dan membuang gumpalan tisu tersebut ke tempat sampah di dekat meja. "Apa itu sama? Tapi sebenarnya dua-duanya juga saya nggak tau artinya."


"Kalau Ibu sudah mendengar istilah baby blues atau depresi postpartum (postpartum psikosis), ini merupakan kondisi gangguan mental pasca melahirkan. Salah satu yang juga sering dialami ibu setelah melahirkan, itu yang seperti saya bilang tadi, postpartum anxiety atau kecemasan pasca persalinan …"


"Gangguan kecemasan pasca persalinan ini juga memang masih ada hubungannya dengan Postpartum Depression— PPD, dilansir dari American Pregnancy Association, hal itu


mempengaruhi sekitar 10 persen ibu baru," lanjut sang dokter diplomatis. "Semua tanda-tanda yang Ibu alami menggiring ke sana."


"Beberapa kekhawatiran terkadang bersifat adaptif— mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Kecemasan memang respon alami untuk melindungi bayi yang Ibu lahirkan, dan seringkali itu diekspresikan dengan kewaspadaan dan kewaspadaan yang terlalu berlebihan."


"Kok bisa saya ngalamin kayak gitu?" tanya Amara, merasa gelisah. "Apa penyebabnya? Padahal, dulu saya nggak gini. Saya bisa mengontrol emosi saya."


Sang dokter memperbaiki kacamata bacanya lagi saat melanjutkan, "Saat kekhawatiran Ibu mulai irasional— tidak berdasarkan akal, dan tak terkendali, itu berarti Ibu sudah mengalami postpartum anxiety (PPA). Beda dengan depresi postpartum yang lazimnya meninggalkan rasa sedih, atau ketidaktertarikan ekstrim pada bayi. PPA itu secara umum meninggalkan perasaan khawatir dengan terus menerus. Dan Ibu yang mengalami PPA, cenderung kehilangan kemampuan untuk tenang dan menyeimbangkan antara pikiran dan realita."


Amara mengangguk-angguk sambil menyambar beberapa lembar tisu yang disodorkan sang dokter.


Sementara dokter itu kembali menjelaskan, "PPA juga sering disebut sebagai gangguan yang tersembunyi, karena memang seringkali diabaikan dan tidak teridentifikasi, lho. Padahal, kondisi ini bisa menjadi tahap awal menuju depresi postpartum."


"Postpartum itu bahaya nggak?" tanya Amara sengau. "Bisa sembuh nggak?"


"PPA jelas-jelas berbeda dengan kondisi baby blues yang lazimnya bertahan sekitar dua minggu saja. Salah satu alasan kenapa Ibu perlu waspada dengan kondisi yang satu ini, adalah karena PPA bisa bertahan tanpa batas waktu, dan tidak bisa hilang dengan sendirinya."


Ketika Amara bergidik ngeri, sang dokter menambahkan, "Kondisi ini mungkin bisa membaik. Tapi tidak akan benar-benar tuntas tanpa penanganan yang serius. Kalau dibiarkan begitu saja, Postpartum Anxiety bahkan berpotensi termanifestasi dalam bentuk gangguan mental yang lebih parah dan bersifat jangka panjang seperti depresi."

__ADS_1


"Menurut para ahli Departemen Psikiatri Universitas, mereka berpendapat bahwa ada perubahan hormonal yang besar tingkat estrogen dan progesteron meningkat 10 hingga 100 kali lipat selama kehamilan, kemudian turun menjadi nol pada dasarnya dalam 24 jam setelah melahirkan. Di hari-hari berikutnya, Ibu menghadapi kurang tidur, perubahan dalam hubungan, serta tanggung jawab yang baru, termasuk juga perawatan bayi yang baru lahir sepanjang waktu. Sementara setiap ibu baru dapat mengembangkan Postpartum Anxiety, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko, seperti, riwayat kecemasan pribadi atau keluarga, gangguan PMS, pengalaman sebelumnya dengan depresi—"


"Saya pernah diperkosa …" Ucapan Amara berhasil menghentikan penjelasan sang dokter yang langsung terkejut mendengarnya.


"Oke, baik," sang dokter mengangguk-angguk dan menatap Amara dengan kasihan. Lalu terdiam sejenak, seolah baru saja menemukan akar masalah terbesar yang dihadapi Amara. "Bayi ibu berjenis kelamin laki-laki atau—


"Perempuan." Amara memberitahu dengan getir.


"Apa hal ini juga yang mendorong ibu untuk melukai bayi Ibu sendiri hingga terpikir untuk membunuhnya?" tanya sang dokter lagi ketika teringat Amara mengatakan kehilangan kepercayaan pada orang-orang.


"Ya." Amara mengangguk. "Atau banyak faktor lain, misalnya, saya sering dipukulin sama kakak laki-laki saya. Saya sering diejek. Kadang juga saya ngerasa diasingkan sama keluarga saya. Orang-orang bilang saya nggak layak hidup, saya cuma takut … s-saya takut anak saya bakalan ngalamin hal yang sama kayak saya. Diintimidasi, dirundung, dibully, diperkosa, dikhianati, direndahkan, dianggap sampah, nggak dihargai, nggak didenger. Jadi saya pengen bawa dia mati, biar bisa lindungin dia selamanya. Biar bisa sama saya selamanya. Orang-orang di dunia ini nggak ada yang bisa saya percaya. Semuanya nyakitin saya—"


Amara tak tahu sejak kapan dia mulai sesenggukan, seolah setiap pertanyaan yang terucap dari sang dokter berhasil menghipnotis untuk membuat dia meluapkan seluruh emosionalnya.


"Saya cuma pengen bilang … jangan sakiti saya," lanjut Amara di tengah isakannya. "Karena saya adalah anak perempuan yang hidupnya biasa menggenggam luka seorang diri, dan tak pernah bercerita pada siapa pun walau sama keluarga sendiri—"


Ucapan Amara terputus ketika Bian tiba-tiba muncul dari balik partisi dan berdiri di sampingnya. Sejak awal, Bian memang sudah mendengar bagaimana percakapan Amara dan dokter tersebut.


Namun, dia berupaya menahan diri untuk tidak ikut, khawatir luapan emosional Amara justru tertahan karena keberadaannya. Sekarang, setelah mendengar bahwa Amara bisa mengatakan dengan gamblang apa yang dia alami, yang tidak Bian ketahui, tentu saja Bian tak bisa menahan diri lebih lama lagi.


Terlebih lagi, Bian cukup tersentak mendengar pengakuan Amara yang bahkan ingin melenyapkan Biandra. Hal yang tak pernah Bian duga, bahkan benar-benar di luar nalar.


Akan tetapi, setelah mendengar alasan apa yang mendorong Amara hingga berpikir demikian, akhirnya Bian tahu bahwa sekujur tubuh Amara memang dibalut luka yang tampaknya tak pernah mengering.


Untuk sesaat, Bian tak mengindahkan tatapan terkejut sang dokter yang melihat keberadaannya. Karena hal pertama yang Bian lakukan adalah duduk di kursi samping Amara, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan.


"Sabar," bisik Bian sambil mengelus-elus punggung Amara dan menciumi puncak kepala istrinya. "Aku nggak tau kalau kamu terluka sebegitu parah. Aku nggak akan nyakitin kamu lagi, Ra. Aku janji. Aku bakalan lindungin kamu sama Biandra. Aku janji."

__ADS_1


"Bohong," kata Amara sambil tersedu-sedu dan mencengkram punggung Bian. "Nggak ada laki-laki yang pernah belain saya selain bapak. Nggak ada. Sekarang bapak udah tua. aku nggak mungkin ngegantung terus sama bapak. Tapi aku juga nggak bisa gantungin hidup sama kamu."


__ADS_2