Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 84


__ADS_3

'Ini garisnya dua, berarti anaknya dua, ya, Neng Amara sayang?'


Jika saja Bian tidak sedang menggendong Biandra di pangkuannya, mungkin Amara sudah melempari suaminya dengan bantal.


Bagaimana mungkin suaminya yang terlanjur tampan itu bisa-bisanya justru menggoda Amara saat dia sedang menangis?


Sebagai gantinya, Amara memelototi Bian dan mendengkus kesal, "Bukan dua, tapi anak kedua!"


Kini Bian yang tertawa terpingkal-pingkal melihat Amara membersit hidung dengan jengkel, tetapi jelas matanya melemparkan lirikan seolah-olah wanita itu ingin mencekiknya.


Well, Bian memang suka menggoda istrinya. Namun, tidak dalam keadaan suasana hati yang luar biasa bahagia karena kehamilan sang istri.


Masih sambil terkekeh geli, Bian mencondongkan tubuh ke arah nakas dan membuka laci dan mengambil sesuatu.


"Nah, karena semalam kamu bilang aku nggak pernah ngasih kamu hadiah ..." Bian tersenyum lebar saat menyodorkan saputangan biru tua yang terlipat-lipat sambil melanjutkan, "Aku punya sesuatu buat kamu, anggap aja sebagai hadiah karena aku bakal punya anak lagi."


Amara menahan tawa histeris ketika melihat lipatan sapu tangan yang diulurkan Bian. "Ah, yaa ... sekalinya dikasih hadiah malah dikasih sapu tangan buat nyeka ingus dan air mata. Mana disuruh nyeka sendiri. Mantan-mantan kamu dapet hadiahnya yang bagus-bagus. Ya Allah, punya laki kok nggak ada romantis-romantisnya! Mana selisih umur hampir 20 tahun, nggak peka juga. Mau ngeluh tapi takut dianggap nggak bersyukur. Nggak ngeluh tapi ini hati kok iri banget sama cewek-cewek yang punya suami muda dan romantis."


Bian tak tahu apakah dia harus tertawa atau mencekik Amara saat mendengar komentar spontan wanita itu.


Karena Amara tak kunjung menerima apa yang dia sodorkan, akhirnya Bian meletakkan Biandra di pangkuan Amara.


Lalu, kemudian dia membuka lipatan sapu tangan tersebut dan mengeluarkan dua set perhiasan emas putih hingga membuat Amara tertohok.


"Itu ...."


"Karena kamu bilang aku nggak romantis," tukas Bian sambil membungkuk dan membuka kerudung dari kepala istrinya. "Aku nggak tau kayak gimana tipe suami ideal bagi kamu. Tapi aku mau belajar buat nyenengin kamu sampai kamu nggak iri lagi sama cewek yang punya suami muda dan romantis."


Bian membuka pengait kalung tersebut dan menyematkan di leher Amara yang kini membisu, tersentuh oleh ucapan Bian yang terdengar begitu tulus.


Ketika Amara hanya bisa terdiam sambil mencium kepala Biandra di pangkuannya, Bian meraih tangan kanan Amara untuk menyematkan cincin di jari manisnya. Lalu melingkarkan gelang senada di pergelangannya.


"Aku baru sadar kalau kamu bahkan nggak pake cincin pernikahan, belum urus buku nikah, nggak terdaftar di kartu keluarga yang sama, cuma dinikahi siri hanya dengan mas kawin satu juta doang ..."


Bian mengembuskan napas berat, lalu tersenyum kecut sambil mengambil sepasang anting dan menyematkan di telinga Amara. "Nggak heran kenapa kamu iri sama mereka. Tapi, ke depannya aku janji bakalan bikin mereka iri sama kamu, dan bikin kamu nggak nyesel udah jadi istriku—"


"Tapi aku nggak bener-bener gitu, kok," sahut Amara penuh sesal. "Sumpah, Ay ... walaupun kamu nggak ngasih hadiah apa pun, aku udah seneng kok hidup sama kamu. Itu cuma keceplosan doang karena aku kadang emang gak bisa jaga mulut, kamu tau 'kan? Coba kamu pikir, apa yang nggak patut aku syukuri saat kamu udah ngejamin semua kebutuhan keluargaku? Bapak sama Ibu udah nggak perlu terlalu capek karena anak-anak udah dibiayain sekolahnya sama kamu."


Setelah selesai memakaikan anting di kedua telinga istrinya, Bian kembali duduk dan mencondongkan tubuh sambil menggenggam sebelah telapak tangan Amara.


Untuk beberapa saat, Bian hanya memandang Amara dengan tatapan dalam, penuh pemujaan, dan rasa bangga.


Dulu, saat sumber kebahagiaannya direnggut paksa, Bian bahkan tak berani bermimpi akan mendapat pasangan hidup yang lebih baik.


Lalu, kerikil-kerikil tajam yang terus menghujani sepanjang perjalanan rumah tangganya dengan Yuanita, nyatanya hal itu memperparah mindset Bian, yang membuat dia mau tak mau dan terpaksa berlapang dada menerima guratan hidupnya.


Tak berbeda dengan pria-pria lainnya, Bian pun memiliki harapan untuk pencapaian kehidupan tersendiri.


Bohong jika seorang pria mengatakan dia sudah cukup bahagia hanya dengan kekuasaan, pencapaian karir yang cemerlang, mobil dan rumah mewah, serta berbagai kesenangan lainnya yang bisa memuaskan diri.

__ADS_1


Faktanya, seorang pria tetap akan merasa puas jika sudah berhasil memiliki harta, tahta, dan wanita. Mungkin sekarang sudah saatnya untuk menggaungkan bahwa dirinya puas dengan apa yang dia miliki saat ini.


"Kamu kapan beli ini?" tanya Amara sambil melirik satu set perhiasan lagi yang Bian letakan di atas meja di samping tempat tidur. "Ini bukan bekas mantan istri—"


"Bukan, Sayang, semuanya baru," tukas Bian cepat-cepat. "Waktu kita beli kebutuhan Biandra dan ketemu Zack di pusat perbelanjaan, kamu inget 'kan?"


"Udah lama?" selidik Amara tak percaya.


Bian mengangguk dan meremas jemari Amara seraya tersenyum kecil. "Kalau semalam kamu nggak bahas perhiasan, mungkin aku nggak bakalan inget kalau perhiasan itu aku simpen di mobil. Semalam mau aku kasihin ke kamu, tapi kamunya langsung tidur setelah makan. Sengaja nggak pakai box karena waktu itu cuma pengen ngasih kejutan buat kamu. Tapi bener-bener terlupakan sampe semalem diingetin lagi sama kamu."


Amara menelan gumpalan yang mengganjal di kerongkongan. Dia tak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang. Sesungguhnya, dia tak benar-benar mengeluh atau menuntut hadiah dari suaminya.


Baginya, apa yang diberikan Bian untuk keluarganya sudah lebih dari cukup, sehingga dia tak berani banyak meminta apa pun lagi.


Lagi pula, hidup bersama Bian jelas tak hanya membuat kehidupannya saja yang berubah, tetapi juga orang tua dan ketiga adiknya.


Adapun keluhan yang dia lontarkan, Amara yakin semua itu hanya karena dia terlalu banyak melihat postingan di media sosial milik Yuanita beberapa bulan lalu, di mana mantan istri Bian itu kerap memamerkan apa yang diberikan saat mereka berumah tangga.


Ditambah ucapan Yuanita yang membuat semua kecemburuan Amara terakumulasi menjadi lebih besar.


Sekarang, saat dia benar-benar mendapatkan hadiah dari suaminya. Amara tak tahu kenapa lututnya terasa lemas, bahkan jemarinya sedikit tremor karena dia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dalam hidupnya.


Beruntung ada Biandra dalam pangkuan, sehingga Amara kembali menunduk dan menciumi kepala putrinya sebagai upaya menyembunyikan air mata yang kembali berurai.


Bian mengernyit heran dan mengangkat wajah Amara, sadar bahwa istrinya kembali bersedih.


"Seneng," kata Amara sambil menggigit bibir. "Makasih."


Bian merengkuh Amara dan Biandra ke dalam pelukan dan menghujani puncak kepala wanita itu dengan kecupan penuh emosional. Terkadang, Bian tak tahu bagaimana harus bersikap terhadap Amara yang emosionalnya luar biasa sulit ditebak.


"Jangan nangis lagi," bisik Bian sambil mengecup dahi Amara. "Gimana aku mau ngasih hadiah lagi kalau baru dikasih kayak gini aja kamu nangis?"


Dan Bian tak pernah main-main dalam ucapannya. Hari itu menjadi awal di mana Amara mendapatkan hadiah bertubi-tubi dari suaminya, tak terkecuali hadiah panas di atas ranjang.


Tak ingin melewatkan masa-masa kehamilan Amara di mana istrinya itu jelas membutuhkan dia di sisinya, sudah dapat dipastikan Bian akan mengesampingkan pekerjaan.


Hanya saja, bukan berarti Bian mengabaikan investasi miliaran rupiah yang baru dia rintis dua bulan terakhir bersama kawannya. Jika sebelumnya Bian pergi tiga kali dalam seminggu meninggalkan Amara, Kini dia bahkan tak berani pergi untuk sekedar mengikuti rapat.


Akhirnya lagi-lagi Bahtiar harus datang ke kafe Bian satu pekan kemudian.


Amara ingin memahami bahwa kehadiran Bahtiar bersama Tiara hanya untuk membahas pekerjaan, tetapi tetap saja dia khawatir benih-benih cinta di masa lalu antara mereka berdua akan kembali tumbuh.


Jika sebelumnya Amara tak ingin tahu apa saja yang dilakukan suaminya dan hanya memantau melalui CCTV, Amara membulatkan tekad untuk turun seraya membawa Biandra.


Saat dia berjalan melewati pintu kafe, Amara terdiam sejenak saat dari kejauhan melihat paras Tiara yang duduk berdampingan dengan teman lelakinya.


Untuk pertama kalinya dia melihat Tiara secara langsung, dan wanita itu lebih cantik dari apa yang pernah digambarkan oleh Julie.


Jika Julie mengatakan bahwa Tiara adik kelas Bian, Amara memperkirakan bahwa Wanita itu sudah berumur sekitar 37 tahun atau mungkin lebih. Lalu, dia mengingat Bian pernah memberitahu bahwa Yuanita berusia di awal tiga puluh.

__ADS_1


Namun, mata Amara tidak buta untuk meyakini bahwa Tiara jauh lebih cantik dibandingkan Yuanita. Wanita itu mengenakan dress rajut berwarna nude yang dipadu cardigan putih tulang. Panjang dress tersebut hanya selutut, sehingga Amara bisa melihat betisnya yang berkulit langsat dan mulus.


Parasnya anggun dan tenang, bertolak belakang dengan aura Yuanita yang tampak bringasan.


Dan Amara harus mengakui bahwa wanita itu sejuk dipandang. Amara menghela napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian saat menghampiri mereka.


Ketika langkah Amara semakin mendekat, wanita itu mengalihkan pembicaraannya dari Bian dan Bahtiar, lalu menatap ke arah Amara yang kini berdiri di samping Bian.


Untuk beberapa detik, Amara kesulitan mengendalikan debaran jantungnya yang berdentang-dentam saat melihat Tiara mengukir senyum hangat yang menampilkan lesung pipi.


Sialan wanita itu. Pesonanya tak hanya mampu membius kaum adam, tetapi Amara yang sebagai wanita pun mengakui dirinya terhipnotis oleh parasnya yang rupawan.


"Sayang ..." Suara Bian yang mengalun lembut berhasil membuyarkan pemikiran Amara.


Amara menoleh ketika Bian menyentuh tangannya dan membawa duduk berdampingan, tepat di hadapan Tiara.


"Akhirnya kamu mau turun," gumam Bian. Dia melemparkan lirikan pada Bahtiar agar mematikan rokoknya, lalu mengambil Biandra dari pangkuan Amara dan menambahkan, "Nah, Sayang ... kenalin, dia Bahtiar Lazuardi, temen sejak SMA yang akhirnya merantau bareng ke Jakarta, terus dia terdampar di kapal pesiar waktu aku kerja di hotel Hy***."


Bian melirik Tiara yang jelas-jelas sejak tadi mengamatinya, lalu kembali menoleh pada Amara dan berkata dengan tenang, "Namanya Mutiara, dia—"


"Aku adik kelas Fabian waktu SMP," Tiara melanjutkan saat tahu Bian bingung harus memperkenalkan dia sebagai apa.


Saat Tiara mengulurkan tangan pada Amara untuk menyelaminya, Bian mengatakan dengan bangga, "Namanya Amara Maisara, harim gue sekaligus bundanya anak-anakku. Dan ngomong-ngomong, dia lagi hamil anak kedua."


"Yaelah, baru mau punya anak dua aja sombong ente, Bung," celetuk Bahtiar saat berjabat tangan dengan Amara setelah istri Bian itu berjabatan dengan Tiara. "Anak laki ana udah kelas 1 SD, yang kecil udah udah TK. Sekarang lagi proses anak ketiga."


"Kata siapa cuma punya dua?" Amara tersenyum lebar. "Kita juga udah punya anak kelas 1 SD—"


"Serius, Bian?" Bahtiar tercengang menatap Bian. "Bini ente masih muda gini udah punya anak SD? Berapa tahun pas nikah?"


"Gausah pura-pura idiot!" gumam Bian jengkel yang membuat Bahtiar tertawa terbahak-bahak.


Sebagai karib lama, tentu saja Bahtiar tahu bahwa Bian mengalami kegagalan rumah tangga, dan Amara adalah istri keduanya. Hanya saja, Bahtiar tak menduga bahwa Bian mendapatkan istri yang benar-benar masih sangat muda.


Mereka berbincang ringan dan Amara mulai mengerti bahwa Bahtiar dan Tiara memiliki saham investasi lebih sedikit dibandingkan Bian.


Melihat bagaimana keakraban Tiara dan Bahtiar yang seperti pasangan kekasih, Amara menduga mereka memang menjalin hubungan.


Mungkin sebaiknya Amara berhenti mencemburui Tiara, atau seperti yang dikatakan Bian nantinya dia sendiri yang akan tersiksa oleh kecemburuan itu.


Obrolan di antara mereka tak membuat Amara canggung, lalu dengan enteng dia bertanya, "Kapan kalian mau nikah?"


Bahtiar nyaris tersedak dan tertawa-tawa mendengar pertanyaan Amara, begitu pula dengan Tiara yang justru tertawa kecil.


"Bahtiar itu udah punya istri. Istrinya Bactiar itu temennya Tiara," Bian menjelaskan dengan lembut. "Sedangkan Tiara masih dalam proses perceraian."


Amara langsung terdiam mendengar apa yang diucapkan Bian. Dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan ketidaksenangannya di depan mereka.


Namun, tetap saja Amara mencondongkan wajah ke telinga Bian dan berbisik pelan, "Ay, circle pertemanan kamu kok ngeri, sih? Masa udah punya istri bisa mesra-mesraan sama teman istrinya?"

__ADS_1


__ADS_2