
Amara ingin melompat dan menari-nari gembira ketika Bian menghujani wajahnya dengan kecupan manis. Namun, Amara memilih untuk membiarkan jantung di balik rusuknya saja yang meletup-letup bahagia karena sikap Bian— meski sebenarnya dia sendiri bisa merasakan pipinya luar biasa panas setelah mendengar apa yang dikatakan suaminya.
Amara memeluk belakang kepala Bian ketika bibir pria itu bergerilya di lehernya.
"Tapi aku jelek," keluh Amara sambil menghidu aroma shampo menthol dan keringat Bian yang entah mengapa justru terasa nyaman. "Mantan istri kamu cantik, toketnya gede, pantatnya gede. Rambutnya bagus, bisa bawa mobil, bajunya bagus, jam tangannya bagus, tasnya keliatan mahal, badanya tinggi—"
"Dia pake high heels dua belas senti, Sayang," tukas Bian sambil tertawa-tawa di antara pay*d*ra Amara. "Aslinya mah pendek—"
"Cantikan mana sama Tiara?"
Bian tak tahu harus bagaimana menanggapi Amara, dan belum mengerti ke mana arah pembicaraan istrinya yang luar biasa menguras pikiran.
"Semua wanita cantik dan punya keunikan tersendiri, susah kalau—"
"Berati kamu setuju kalau aku bilang aku jelek?" Amara mendorong bahu Bian ketika pria itu tengah asyik menciuminya. "Kamu mah gitu ah, nggak asik. Bohong sedikit bisa nggak sih? Aku tau kalau Tiara itu mirip Nabila Syakieb, body sama wajah Yuanita mirip Aura Kasih, aku mah apa atuh?"
Akhirnya Bian tak bisa menghentikan tawanya ketika menyadari bahwa istrinya sedang merajuk. Sadar bahwa pertemuan mereka dengan Yuanita justru membuat Amara kembali tak percaya diri.
Tanpa menghentikan tawanya, Bian mencubit dagu Amara dengan gemas sebelum akhirnya berkata, "Kamu cemburu sama masa laluku?"
"Nggak!"
"Oh, kirain cemburu," goda Bian dengan senyum nakal, sedikit sombong karena sadar kini sedang dicemburui Amara. "Tadinya aku udah seneng dicemburui istri, tapi—"
"Kalau aku cemburu emangnya kenapa?" Amara mendesak.
Bian menatap Amara untuk beberapa saat, mencari-cari sorot mata wanita itu sebelum akhirnya dia kembali mengecup bibir ranum sang istri.
Untuk beberapa saat, Amara tak memberontak ketika Bian ******* bibirnya dengan intens, sementara sebelah tangan pria itu diselipkan ke tengkuk Amara. Bian mencium bibir Amara dengan belaian lembut, lalu dia sendiri yang menarik diri ketika sensasi di tubuhnya kian menyiksa.
__ADS_1
"Kalau kamu cemburu," lanjut Bian sambil menahan napas. "Teruslah kayak gitu. Ada kenikmatan tersendiri saat liat cara kamu ngungkapin kecemburuan dengan semakin manja sama aku. Aku ngerasa jadi kayak orang paling dibutuhin. Dan aku aku seneng kalau kamu butuh aku."
Amara menyipitkan mata dan menatap Bian dengan nakal. "Kalau gitu, aku mau warnain rambut kayak Yuanita—"
"Nggak!" tukas Bian tegas, nada suaranya berubah tak senang saat Amara justru terpikirkan tentang hal itu. "Apaan sih mau nyamain diri sama wanita itu? Kamu jauh lebih berharga dan lebih baik, kamu sempurna dengan cara kamu sendiri. Nggak ada yang bisa kamu tiru dari wanita laknat—"
"Tapi aku mau cantik, ih! Mau ke salon, ke dokter kulit dan kelamin, sama ke klinik kecantikan khusus wanita," pekik Amara kesal. "Pengen facial, manicure— pedicure, ngerawat tubuh, ngerawat wajah, ngerawat Miss V— biar kamu nggak kepincut cewek lain, nggak lirik cewek lain. Kamu itu Om-om sasaran empuk para cabe-cabean, tau nggak?! Aku nggak mau cemburu kalau kamu lagi di luar. Kamu ngerti nggak sih, Om?!"
Bian tak tahu apakah dia harus marah karena suara Amara yang melengking di malam hari, atau tersentuh karena Amara membahas hal sedemikian terperinci padanya.
"Kapan tepatnya kamu pengen ngejalanin serangkaian perawatan itu?" Suara Bian lembut memanjakan, sadar bahwa keinginan Amara jelas-jelas ditujukan untuk dirinya.
"Nggak tau!" gerutu Amara murung. "Kan kayak gitu pasti lama. Biandra pasti ditinggal-tinggal lagi, ntar orang-orang nuduhnya aku ibu yang egois. Ngutamain kayak gitu dari pada ngejaga anaknya di rumah. Udah deh nggak jadi, aku ngebabu aja di sini pake daster! Kamu kalau mau cari yang bening-bening cari aja sana di luaran!"
Bian mengembuskan napas panjang, menghadapi emosional Amara rasanya jauh lebih sulit dari pada menyelesaikan urusan tanah yang bersengketa.
"Panggil orang salon besok ke sini, ya?" kata Bian setelah berpikir keras. "Nanti kalau kamu udah agak mendingan, baru pergi ke dokter kulit dan kelamin. Kan aku nggak pernah jadi cewek, jadi nggak tau tahap apa aja yang kamu maksud, Sayang."
"Itu mah gampang, Ra." Suara Bian mengandung kepasrahan dan ketidakberdayaan. "Intinya, apa yang tadi kamu sebutin, apa yang kamu mau, jangan dibikin beban. Masalah kecil jangan dibesar-besarin. Ngomong baik-baik, jangan marah-marah. Kamunya nanti stres, Ra."
"Yaudah, besok aku mau."
"Ya, nanti aku minta tolong buat nyari orang salon supaya dateng ke sini," kata Bian setelah mengembuskan napas lega.
"Sama instruktur senam kalau boleh," Amara menambahkan.
"Kamu mau manicure pedicure sambil jingkrak-jingkrak, Ra?" Bian mengerutkan kening.
"Nggak sekarang, tapi—"
__ADS_1
Ucapan Amara terputus ketika sayup-sayup mendengar penjaga villa memanggil Bian dan berkata, "Pak, ini HP- nya ketinggalan di luar, dari tadi bunyi terus."
Kemudian suaminya itu berdiri dan segera keluar kamar. Tak lama kemudian Bian kembali sambil berbicara dengan seseorang di seberang panggilan. Amaral tak bisa menebak siapa yang menghubungi Bian di tengah malam seperti ini.
Namun, melihat alis Bian saling bertautan, Amara menduga sesuatu pasti sedang terjadi. Terutama ketika mendengar Bian menggeram dengan suara tak mengenakan, "Emang nggak bisa kamu aja yang urus? Udah jam dua, aku butuh istirahat."
Amara mengamati ekspresi Bian kian memberengut, lalu kembali menyahut, "Yaudah, tunggu bentaran."
"Ada apa?" tanya Amara yang kini terduduk, khawatir terjadi sesuatu serius pada siapa pun yang menghubungi Bian selarut itu.
"Ada operasi tangkap tangan orang yang lagi pake narkoboy di villaku," keluh Bian kesal sambil mengantongi ponsel ke saku celana. "Aku harus ke sana dulu bentaran. Nyusahin emang itu orang."
"Tapi kamu capek, Om," komentar Amara tak tega. "Emang nggak bisa diatasi sama pekerja-pekerja kamu?"
"Adeku bilang pihak berwenang perlu ketemu sama yang punya villa," gerutu Bian masam. "Masalahnya, tamu yang ketangkep itu udah sebulan lebih sewa villaku. Paling males kalau udah ada urusan kayak gini."
Amara tahu, Bian juga tampaknya enggan pergi. Namun, situasi mengharuskan suaminya untuk pergi selarut itu.
"Sini peluk dulu," kata Amara sambil mengulurkan kedua tangan ketika melihat wajah Bian berubah kusut.
Awalnya, Bian masih merasa jengkel karena harus pergi di saat seharusnya dia beristirahat dengan istrinya. Namun, mendapati Amara memeluk dan menciumnya, ada kehangatan tak terelakkan yang menyelimuti palung hati Bian.
Jadi, dia balas memeluk istrinya dan menghujani kecupan-kecupan penuh kasih sayang di wajah Amara. "Kamunya tidur, jangan nungguin aku. Tapi aku usahain pulang cepet kalau udah selesai."
Amara mengangguk dan mencium pipi Bian sekali lagi. "Kamunya juga langsung pulang," kata Amara penuh perhatian. "Hati-hati bawa mobilnya, jangan ngebut. Kamu kurang istirahat."
"Aku inget pesan Istriku," sahut Bian, dan sekali lagi mendaratkan kecupan di bibir Amara. "Ini titip cium buat Biandra."
Namun, kecupan Bian sedikit lama. Bahkan, pria itu menyempatkan diri untuk mengulum bibir Amara. Setelah beberapa saat, Amara menepuk bahu Bian dan melepaskan pagutan bibir suaminya sambil menggerutu, "Kesempatan dalam Kesempitan kamu mah. Mana ada titip ciuman buat Biandra penuh nafsu kayak gitu?"
__ADS_1
"Oh, kalau gitu yang ini buat Biandra," bisik Bian saat mendaratkan kecupan di kening Amara. "Tidur yang nyenyak, Bidadari-bidadariku tersayang."