
'Perlu pembuktian satu ronde lagi?'
Amara langsung mendeklarasikan diri bahwa dia sangat kelaparan. Dia tidak berbohong, faktanya memang seperti itu.
Akan tetapi, di samping itu Amara juga harus bergegas bangun dan menghindar dari suaminya yang super maniak. Terutama dalam keadaan tubuh mereka yang masih telanjang bulat.
Amara tak menampik bahwa dia memang menikmati percintaan yang mereka lakukan setiap malam. Hanya saja, terkadang ada masa di mana dirinya benar-benar lelah dan merasa enggan melayani suaminya.
Namun, Bian tak suka sebuah penolakan. Pria itu selalu memiliki seribu satu cara untuk meluluhlantakkan pertahanan Amara hingga berubah menjadi gairah yang menggebu.
Lagi pula, Bian selalu mengatakan bahwa dia harus mendapatkan kegembiraan itu setelah berbulan-bulan merasakan kehampaan yang mereka lalui. Beruntung pria itu tahu benar bagaimana cara menciptakan kehangatan di atas ranjang.
Di samping itu, Amara tak memiliki alasan lebih untuk menolak sentuhan Bian yang membuat dia mabuk kepayang. Terutama saat dia tahu bahwa suaminya berpotensi menjadi sasaran para wanita.
Bagaimana mungkin dia akan rela kehilangan Bian untuk kedua kalinya?
Amara buru-buru menyambar baju yang berserakan dan mengenakan dengan secepat kilat. Begitu juga yang dilakukan Bian— meski pria itu tertawa terbahak-bahak melihat Amara yang berusaha menghindari ronde kedua.
Takut Bian akan kembali menggodanya jika mereka terus berdua, Amara dengan kikuk menyurut mundur ke arah tangga saat Bian akan menyelesaikan makanan yang diinginkan Amara.
"Jangan lama-lama," pekik Amara.
Bian berhenti menggoda Amara, sadar bahwa istrinya lebih ganas dan berbahaya jika sedang kelaparan. "Tunggu lima menit, Sayang."
Amara buru-buru berlari dan menunggu dalam kamar di balik selimut. Kehangatan yang dia dapat dari mendekap Biandra membuatnya dilanda rasa ngantuk, terutama karena Bian telah menguras habis sisa energinya.
Jadi, ketika tak lama kemudian Bian datang membawa sepiring batagor yang masih hangat, mata Amara sudah kesulitan untuk diajak bekerjasama.
"Ra, katanya lapar," kata Bian yang kini duduk di samping Amara dan mengguncang bahu wanita itu.
"Ngantuk nggak kuat," gumam Amara sambil bergelung menjauhi Bian.
"Ra, kamu bener-bener ngerjain orang, ya!" Bian mendesis pelan sambil berusaha menarik pinggang Amara, sementara sebelah tangannya memegang piring. "Cepetan makan dulu."
Amara meringis kesal dan menangkis tangan Bian dari pinggangnya. "Kamu makan aja batagornya. Jangan dibuang. Aku udah capek-capek bikin."
"Hey, yang barusan melek di depan kompor siapa?" Bian menahan tawa tercekik menanggapi gumaman Amara.
__ADS_1
"Kerasa kan gimana capeknya orang udah masak, terus nggak dimakan?" Amara menyahut tanpa dosa dan segera menarik selimutnya hingga menutupi leher. "Tadi siang juga aku bikinin udang tempura buat kamu, tapi kamu malah makan sama mantan dan temen kamu."
Bian hampir kehabisan kata-kata untuk menyahut ucapan istrinya. Jadi, Amara memang berniat membalas dendam karena dia melewatkan makan siang bersama?
"Nggak harus di jam tiga pagi juga kali bales dendamnya, Ra," keluh Bian sambil menusukkan garpu di potongan batagor dan memakannya. "Cobain dulu dikit aja, ya, Sayang? Tadi katanya laper banget? Kasian anakku kalau kamu malah langsung tidur gitu."
Meski mata Amara terpejam, tetapi dia harus menahan tawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bian yang memelas.
Tanpa membuka mata, akhirnya dia menengadahkan wajah pada suaminya sambil bergumam, "Sesuap aja, ya? Aku lagi diet soalnya."
"Diet macam apaan yang semalem pesen kentang goreng seporsi besar ke kafe?" Bian tertawa geli sambil menyuapi Amara.
Amara berhenti mengunyah, lalu membuka mata dan beringsut bangun untuk menyambar piring batagor dari Bian. "Kan ... kamu emang nggak pernah dukung aku diet. Pake racunin aku batagor jam segini pula."
"Ra ... kamu bener-bener demen banget kayaknya bikin aku naik darah," kata Bian sambil terkekeh-kekeh saat melihat Amara dengan rakus memakan batagor, sementara mata wanita itu terlihat jelas sangat lengket.
Amara tak menanggapi komentar Bian, dengan khidmat menyikat habis makanan yang dibuat suaminya.
"Aku nggak disisain, Ra?" Bian tercengang ketika Amara menyodorkan piring kotor dalam beberapa menit. "Cuma bikin sepiring doang loh."
"Aku kira kamu nggak mau," kata Amara tanpa dosa. Lalu berbaring di paha suaminya. "Kamu besok beli aja pagi-pagi, jangan lupa beliin buat aku."
"Masih sejam lagi subuhnnya, Ay," gumam Amara ketika Bian mengelus-elus punggungnya dengan lembut, sentuhan pria itu selalu memanjakan. "Kamu juga tidur."
Lalu, Bian berbaring mendesakkan tubuh di belakang Amara dan memeluk perut wanita itu. "Besok pergi ke dokter kandungan pagi-pagi, ya, Sayang," bisik Bian sambil mencium belakang kepala Amara.
Amara mengembuskan napas panjang karena Bian yang masih berusaha memaksa dan meyakini dirinya sedang hamil. Padahal, Amara sendiri tak merasakan dirinya tengah berbadan dua.
Akan tetapi, bukan berarti dia pun mengabaikan keyakinan Bian. Semalam dia sudah memesan pada Eka agar membelikan tespek dan membawanya saat datang bekerja.
Jadi, ketika keesokan harinya sebelum Bian akan memulai briefing pagi, Eka lebih dulu naik dan memberikan tespek tersebut pada sang kakak.
Sementara Bian melangsungkan briefing di bawah, Amara dirundung keresahan setelah mencelupkan alat uji kehamilan ke dalam pot berisi urine pagi hari.
Meskipun dia sudah memiliki Biandra, tetapi tetap saja dia merasa gugup saat memastikan kehamilannya. Terlalu banyak hal yang Amara pikiran dan membuat dia cemas.
Pertama, Biandra baru berusia empat bulan lebih. Jarak mereka benar-benar terlalu dekat jika Amara langsung memiliki anak lagi. Kedua, Amara sedikit takut saat mengingat bagaimana sakitnya ketika area privasinya robek dan mendapat beberapa jahitan.
__ADS_1
Ditambah lagi, dia khawatir akan kembali mengalami Postpartum anxiety yang memang belum sepenuhnya pulih, juga berbagai kekhawatiran lain.
Dia baru saja berhasil mengembalikan bentuk tubuhnya kembali ramping. Entah mengapa saat membayangkan tubuhnya kembali gemuk, Amara takut Bian tak akan menyukainya.
Terlebih lagi, sekarang Tiara bahkan berani datang ke kafe mereka dengan alasan membahas kerjasama.
Memikirkan segala hal itu membuat Amara tak senang, suasana hatinya semakin kacau saat melihat hasil tespek menunjukkan garis dua.
Alih-alih senang, Amara menjadi sedikit frustrasi dan menyesal kenapa dia tak mengonsumsi pil kontrasepsi diam-diam.
Suasana hati Amara yang kacau tampaknya dirasakan oleh Biandra, sehingga anak itu rewel tak berkesudahan dan membuat Amara turut menangis karena tak bisa menenangkan anaknya.
Bahkan, karena tak ingin Alif menjadi sasaran emosinya, Amara menyuruh anak itu keluar dari kamar. Biasanya Alif pergi sekolah di jam sembilan seperti ini, tetapi tentu saja anak itu libur saat hari Minggu.
Frustrasi karena tangis Biandra tak kunjung reda meski dia yakin perut anak itu sudah kenyang setelah memberinya susu, Amara berjalan turun ke kafe saat Bian sedang memimpin briefing.
Bian yang duduk di salah satu kursi dan kerumunani karyawannya langsung beranjak bangkit ketika mendengar Biandra yang terus menangis. Namun, saat dia mengambilnya dari Amara, Bian menyadari bahwa pipi Amara juga basah.
Padahal, saat Bian turun beberapa menit lalu Amara baik-baik saja. Jadi, ketika Amara langsung berbalik tanpa banyak bicara, Bian langsung menyusul wanita itu dengan diselimuti kekhawatiran.
"Ra, ada apa?" tanya Bian sambil berjalan menjajaki tangga dan mengelus-elus punggung Biandra di pangkuannya. "Ada masalah apa? Kenapa pagi-pagi udah nangis? Alif godain Biandra lagi? Dia ngeselin kamu?"
"Kamu yang bikin kesel!" Amara masuk ke kamar dan berjalan ke meja rias, lalu mengambil hasil tes kehamilan dan menyerahkan pada suaminya. "Liat tuh hasil perbuatan kamu."
Alih-alih marah, Bian justru tertawa senang melihat dua garis merah yang ditunjukkan benda kecil tersebut. Dia bukan remaja yang tak tahu apa arti dari dua garis merah itu.
Hanya saja, Bian tak menduga akan sebegitu gugup saat mengetahui istrinya benar-benar hamil. Bahkan, tak hanya tangannya yang sedikit gemetaran saat memegangi tespek, tetapi suaranya pun sedikit tersendat-sendat.
Bohong jika Bian tak terharu dengan kabar kehamilan Amara. Di usianya yang seperti ini, ternyata dia masih memiliki kesempatan untuk memiliki anak. Harapan-harapan yang dulu sempat hampir terkubur karena tak kunjung memiliki keturunan bersama Yuanita, kini dia dapatkan segalanya dari Amara.
Hanya saja, Bian sedikit terheran kenapa Amara justru bereaksi yang sebaliknya. Padahal, seharusnya kabar kehamilan itu menjadi berita yang menggembirakan bagi mereka.
Namun, bukan Bian namanya jika tak bisa menghilangkan kesedihan dari istrinya. Saat Amara duduk di tepi ranjang sambil terisak-isak sedih, Bian menarik kursi di depan meja rias dan menatap Amara dengan terkagum-kagum.
"Kamu beneran hamil, Neng?" Suara Bian terdengar lembut memanjakan.
"Iya, itu udah jelas-jelas garisnya dua!" sahut Amara di tengah isakannya yang jelas tak terdengar senang. "Masa kamu nggak paham sih?"
__ADS_1
"Ini garisnya dua, berarti artinya anaknya dua, ya, Neng Amara sayang?" Bian menyeringai tanpa dosa hingga Amara tersedak air matanya.