Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 81


__ADS_3

Entah seberapa kuat Bian membujuk Amara agar pergi ke rumah sakit guna memeriksa kondisinya yang kemungkinan sedang mengandung, wanita itu tetap saja bersikukuh menolak ajakan Bian.


Bahkan, Bian sedikit kesal dengan sikap Amara yang terlalu keras kepala hingga akhirnya mereka berselisih hingga malam hari.


Amara dengan tanpa dosa membiarkan Bian di kafe, sementara dirinya memilih tidur lebih awal karena takut Bian akan kembali ke kamar dan membujuknya lagi ke rumah sakit.


Setelah kafe tutup pukul sepuluh malam, Bian masih tak kunjung kembali ke kamar. Namun, saat waktu menunjukkan hampir pukul satu dini hari, Bian mengembuskan napas panjang saat membuka pintu kamar.


Tampaknya Amara sengaja mengajak Alif tidur di sana. Bahkan, anak lelaki itu seolah-olah sengaja disuruh tidur di tempat tidur. Sudah dapat Bian duga bahwa itu adalah upaya Amara agar dia tidak tidur bersama mereka.


Akan tetapi, bukan Bian namanya jika harus tidur di sofa atau di kamar Alif. Dia tak bisa membiarkan Amara tidur nyenyak bersama kedua anaknya.


Setelah mencuci muka dan mengganti baju dengan pakaian tidur, Bian menyelinap masuk ke dalam selimut.


Beruntung ranjang itu berukuran besar, sehingga Bian bisa mendesakkan tubuh di antara kaki mungil Biandra dan membaringkan kepala memeluk perut Amara. Sengaja mengganggu wanita itu agar memberi ruang untuknya.


Bahkan, pria itu dengan nakal mencium di perut Amara hingga istrinya menggeram jengkel dan menyibak selimut yang menutupi kepala Bian.


"Apa-apaan sih?" desis Amara dengan suara mengantuk sambil menepuk bahu Bian. "Kebiasaan banget suka gangguin orang tidur!"


"Kamu yang kebiasaan banget gangguin orang kalau lagi seneng-seneng," sahut Bian tanpa dosa sambil menggesek-gesekkan wajah di perut istrinya.


"Geli ih!" Amara beringsut mundur hingga tubuhnya hampir terjatuh dari tempat tidur. "Sana tidur di kamar Alif aja!"


Bian buru-buru menangkap tubuh istrinya sambil tertawa terkekeh-kekeh di balik selimut. "Enakan di sini desak-desakan sama anak istri," kata Bian dengan pelukan yang semakin posesif.


Amara terlalu mengantuk untuk menanggapi Bian. Pada akhirnya dia membiarkan pria itu menggeserkan Biandra berdampingan dengan Alif, sementara Bian sendiri tidur di antara Biandra dan Amara.


"Dasar laki kurang ajar!" gerutu Amara sambil memukul punggung Bian yang tidur membelakanginya saat memeluk Biandra.


"Kamu Bunda kurang ajar," goda Bian tanpa berbalik menghadap Amara. "Sama anak sendiri aja cemburu."

__ADS_1


Amara menendang belakang betis Bian dari dalam selimut Bian tanpa membuka mata. "Emang faktanya kamu lebih peduli sama Biandra daripada sama aku."


Bian tertawa geli mendapati sikap Amara. Tak peduli meski Biandra terlelap, dia membawa anak itu tidur ke dalam pelukan dan berbaring terlentang.


Lalu, kemudian Bian menyelipkan tangan kiri ke bawah pinggang Amara dan menariknya ke dalam pelukan sambil bergumam, "Nggak usah marah. Ujung-ujungnya juga nanti meluk kamu, Ra."


Amara mendengkus parau, "Mana ada kamu meluk aku? Adanya aku yang meluk kamu kalau lagi tidur. Dasar pria egois."


Bian memutuskan untuk tidak menanggapi Amara, atau mereka akan beradu mulut hingga pagi karena wanita itu tak pernah mau mengalah. Padahal, Bian selalu memeluk Amara dan Biandra setiap malam, tetapi seperti itulah istrinya yang selalu mau menang sendiri.


Bersama Amara yang tidur di samping kiri, dan dua anak yang berada di sisi kanan Bian, pria itu merasakan ketenangan hingga seluruh otot-ototnya terasa rileks dan lebih cepat tertidur.


Bian yakin belum lama tertidur ketika dia mendengar isakan kecil yang menyayat hati dan terdengar begitu sedih. Dia berusaha keras melawan rasa ngantuk dan mencoba membuka mata, lalu mendapati Amara tidur memunggunginya sambil terisak-isak.


Mau tak mau Bian melepas pelukannya dari Biandra, lalu berbalik memeluk Amara sambil bertanya dengan suara mengantuk, "Kenapa nangis malem-malem, Sayang?"


"Lapar," kata Amara dalam isakannya yang membuat Bian mau tak mau langsung terduduk. "Pengen makan batagor bandung yang dijual di rumah sakit."


"Ra, yang bener aja minta batagor bandung jam segini," kata Bian sambil menggosok-gosok wajah, berharap mengurangi rasa kantuk yang bergelayut. "Makan yang lain aja aku bikinin, ya —"


"Aku cuma minta batagor yang harganya cuma lima belas ribu," sahut Amara sambil berbalik dan menatap Bian dengan tersedu-sedu. "Bukan minta perhiasan seharga belasan juta kayak Yuanita, bukan minta tas mewah atau make up mahal. Lima belas ribu aja kamu nggak mau beliin buat aku—"


"Sayang, jangankan batagor seharga lima belas ribu," gerutu Bian sambil menggaruk-garuk rambut dengan frustrasi. "Roll Royce seharga 15 miliar aja aku sanggup beliin buat kamu. Tapi jangan sekarang, nggak di jam tiga pagi juga kamu mintanya. Besok pagi-pagi kita—"


"Tuh kan bener apa yang dibilang Yuanita, kamu emang udah cinta mati sama dia sampai menuhin semua permintaan dia. Padahal permintaan aku nggak seberapa," keluh Amara yang kembali memunggungi Bian dan terisak-isak seolah Bian sudah membuat kesalahan besar. "Aku mana pernah minta kamu beliin aku perhiasan kayak Yuanita, hadiah mahal, mobil dan rumah, liburan ke mana-mana ..."


"Ra, kenapa jadi ngomong gitu sih?" Bian mendesah putus asa. "Ini perkara batagor kenapa jadi ngungkit yang lain? Jangan nyari masalah malem-malem—"


"Iya, iya ... besok aku pulang, kamu memang nggak pernah sayang sama aku. Cuma aku doang yang terlalu sayang dan bego ngarep dicintain sama kamu—"


"Amara," tegur Bian lelah. "Masalahnya, tukang batagor mana ada yang buka jam segini, Sayang?"

__ADS_1


Amara tak menyahut untuk beberapa saat, tetapi bahunya tampak masih bergetar dan terisak-isak. "Nggak mau tau, aku maunya batagor sekarang."


Bian menatap Amara dengan tak habis pikir. Bahkan, wanita itu lagi-lagi menangkis tangannya ketika Bian berusaha membujuk untuk menenangkannya.


"Katanya kamu koki," kata Amara setelah beberapa saat. "Bikinin batagor bandung yang sama persis kayak yang dijual si amang-amang di depan rumah sakit— kalau emang kamu sayang sama aku."


Bian tercengang tak percaya dengan permintaan Amara. Baginya, hal itu sungguh di luar nalar.


"Sayang, jam tiga pagi minta aku bikinin batagor? Kamu nggak lagi bercanda kan, Ra?" kata Bian dengan suara serak. "Kamu nggak kasihan sama aku yang baru tidur dua jam ...."


Bian menjeda kalimatnya ketika tiba-tiba teringat ucapan Amara beberapa bulan lalu yang berkata, 'Waktu aku hamil Biandra, aku sering beli batagor itu.'


Dalam sekejap mata, rasa kantuk dan kekesalan Bian pada Amara berubah menjadi tatapan memanjakan. Tak peduli rasa kantuk begitu bergelayut, Bian beranjak turun dari tempat tidur tanpa banyak berbicara.


Ketika Bian baru saja akan membuka pintu, Amara tiba-tiba berkata, "Bahan-bahannya nggak ada di dapur kita. Kamu bikin aja di dapur kafe ke bawah."


"Iya, bawel," gumam Bian yang kemudian keluar dan menutup pintu kamar.


Sambil berjalan menuruni tangga, Bian diingatkan dengan keluhan Amara yang katanya tak pernah memberikan dia hadiah. Bian sadar, ucapan itu memang tidak salah. Selama beberapa bulan mereka kembali rujuk, dia memang belum pernah lagi mengajak Amara pergi atau memberikan hadiah apa pun pada istrinya.


Entah karena mereka terlalu sibuk dengan aktivitasnya yang baru, atau mungkin karena istrinya jarang meminta sesuatu.


Atau, mungkin juga Bian terlalu lelah memberi banyak hadiah pada para wanita yang ujung-ujungnya mereka berakhir menyakitinya.


Jadi, tak heran jika semua itu membuat Bian lupa bahwa dia tidak bersikap terlalu romantis pada istrinya. Padahal, dari semua wanita yang pernah bersamanya, seharusnya Bian sadar bahwa wanita itulah yang sangat spesial.


Amara terlalu berbeda dengan dengan wanita-wanita lain yang pernah bersamanya. Wanita itu cenderung meminta sesuatu hanya untuk keluarganya, bukan bagi dirinya sendiri.


Dan ketika terpikirkan tentang perhiasan, Bian teringat dia pernah membelikan dua set perhiasan mahal yang hingga saat ini dia lupa berikan pada Amara.


Ketika tiba di lantai bawah, Bian tak lantas pergi ke dapur untuk membuat apa yang diinginkan Amara. Namun, dia berjalan menuju garasi dan mengobrak-abrik mobil untuk mencari di mana perhiasan yang dia beli empat bulan lalu.

__ADS_1


__ADS_2