
Seperginya Bahtiar dan Tiara, Amara merasa dirinya sangat perlu menyidak Bian setelah melihat bagaimana mesranya teman dan mantan kekasih Bian.
Dia menarik Bian ke ruang tamu di lantai atas, dan tak membuang waktu lagi untuk mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
Jika sebelumnya Bian tidak mendengar apa yang dibisikan Amara, kini istrinya itu yakin Bian akan mendengar suaranya saat dia berkata, "Lingkungan pertemanan kamu benar-benar ngeri. Kok bisa sih itu Bahtiar sama Tiara tingkahnya mesra kayak orang pacaran?"
Ketika Bian baru saja membuka mulut untuk menyahut, Amara lebih dulu menambahkan dengan curiga, "Jangan bilang kelakuan kamu juga kayak gitu kalau di luaran, ya? Di rumah bisa mesra sama istri, di luar malah mesra-mesraan sama cewek lain. Inget, waktu aku jadi istri muda kamu, kamu juga sebegitu mesra sama Yuanita. Malahan aku ingat bener waktu kamu nerima telepon dari Yuanita saat di kontrakan kita. Udah—"
"Sayang, jangan mulai deh. Aku lagi nggak mau ribut—"
"Jangan motong omonganku, ih!" gerutu Amara. "Nih, ya ... waktu itu Yuanita di kontak kamu dinamain 'my wife'. Aku bahkan bisa dengar pas kamu ngomong, kamu manggil dia pake sebutan 'sayang'. Sekarang ke aku juga manggil 'sayang'. Sampai aku minta kamu kalau jawab telepon Yuanita, jawabnya di luar. Barulah kamu berhenti terima telpon dia di dekat aku. Jangan-jangan kamu sengaja manggil 'sayang' ke semua orang biar nggak ketuker, ya 'kan?"
"Ya Allah, Bunda ... ini kenapa kamu harus bahas—"
"Dengerin dulu!" Amara menatap berang suaminya saat dia belum puas berbicara. "Waktu aku jadi istri simpanan kamu, kamu bilang jangan ngehubungin kalau kamu lagi sama Yuanita. Nah, sekarang kamu juga sering matiin HP kalau lagi sama aku, jangan-jangan kamu—"
"Nggak, Bunda, ah ... kamu bikin aku serba salah kan jadinya." Bian mengusap wajahnya dengan gusar. "Jangan samain aku kayak dulu bisa nggak? Itu udah setahun lebih, masa kamu masih aja—"
"Oh, jadi aku nggak boleh cemburu sama kamu?" Amara menatap Bian dengan galak.
"Bukan nggak boleh, kamu paham bener ke mana maksud pembicaraanku. Aku cuma nggak mau kamu bahas terus-terusan—"
"Bukan bahas, aku cuma ngingetin kalau kamu pernah ada di titik nggak pernah ngehargain perasaan aku," timpal Amara sengit. "Kamu sadar nggak gimana waktu itu cara kamu dapetin aku? Kamu berkomplot sama orang bank, sampai aku sendiri lupa kalau aku jatuh cinta sama pria yang sangat licik kayak kamu. Sampai aku lupa bahwa kamu memperlakukanku dengan mesra kalau aku lagi merajuk—"
Bian menahan diri saat Amara terus menambahkan, "Bahkan, aku dengan begonya nggak pernah peduliin kalau namaku di kontakmu cuma MTS, bukan my wife atau 'Amara'. Nggak heran kenapa aku namain kamu tukang jagal. Faktanya kamu emang sesadis itu. Kamu motong-motong hati dan perasaanku saat nuduh aku penyakitan sampai nyerein aku tanpa alesan jelas, dicincang-cincang sampai hatiku patah, sampe aku berani bilang kalau hatiku bukan cuma retak, tapi remuk dan tak berbentuk—"
"Sayang," gumam Bian sambil membalas tatapan Amara dengan tak berdaya. Faktanya, wanita itu tak pernah pulih dari rasa sakit yang pernah ditorehkan.
__ADS_1
"Kamu ngerti nggak kalau aku cuma nggak mau kamu nyakitin aku lebih parah lagi?" lanjut Amara. "Aku cuma perlu ingetin ke kamu, kalau suatu hari kamu nyakitin aku dengan pengkhianatan, ada orang ketiga yang narik perhatian kamu, baik itu dari masa lalu atau orang baru, mungkin aku nggak akan segan buat minta kamu lebih baik mengakhiri hidupku. Sampai sini kamu paham nggak kenapa aku terlalu posesif sama kamu?"
"Bunda—"
"Tapi kamunya malah bilang aku terlalu cemburuan. Aku kayak anak-anak. Kamu nggak nyaman sama kecemburuanku. Kamu bilang aku ngajak ribut kalau lagi bahas kayak gini," keluh Amara pahit. "Bahkan kamu harusnya sadar, aku bukan nggak pernah nyoba lari dari kehidupan kamu. Tapi sekali lagi kamu nyeret aku ke kehidupanmu, dan dengan lancangnya bikin aku terus jatuh cinta sama kamu. Kalau udah kayak gini, apa aku salah kalau aku takut kehilangan kamu lagi?"
Bian tak ingin menanggapi Amara dengan terlalu serius. Bukan, dia bukan tak peduli pada wanita itu. Saking pedulinya, Bian tak ingin membuat Amara selalu bersedih.
Ditambah lagi, istrinya sedang hamil muda, dan dokter mengatakan suasana hati Amara yang sering berubah-ubah adalah bagian dari perubahan hormon karena kehamilannya.
Setelah Amara memaparkan isi hatinya dengan wajah murung, Bian menjawil hidung Amara dan menariknya dengan gemas sambil tertawa-tawa.
"Aku emang nggak membenarkan gimana tingkah Bahtiar sama Tiara," kata Bian enteng. "Mereka emang udah kayak gitu dari dulunya. Pinkan— istrinya Bahtiar sama Tiara itu udah kayak ade kakak. Mereka berdua sama-sama nggak punya saudara, mungkin secara nggak langsung Bahtiar ngelindungi Tiara kayak ke adiknya sendiri. Tapi ... kamu jangan khawatir, Istriku. Aku dan Bahtiar adalah dua orang yang berbeda. Aku jarang berinteraksi sampai kayak gitu sama temen—"
"Tapi kamu dulu kan tukang booking pelacur, bahkan aku jadi—"
"Dan kamu jadi yang terakhir," tukas Bian lembut. "Ngomong-ngomong soal nama kontak. MTS itu—"
"Sayang, bukan itu artinya—"
"Nggak usah panggil-panggil sayang gitu deh, aku ngeri dengernya. Nggak tahu seberapa banyak cewek yang kamu panggil sayang sebelum aku."
"Bunda ...," gumam Bian pasrah. "Istriku, Bidadariku. Jangan galak-galak sama suamimu yang ganteng ini bisa nggak? MTS itu Malaikat Tanpa Sayap. Karena pada dasarnya kamu emang kayak malaikat, terlalu baik dan—"
"Dan kamu iblisnya."
"Dan aku luar biasa bersyukur bisa dapetin malaikat kayak kamu ... walaupun caranya sedikit licik," Bian mengembuskan napas panjang yang kemudian tersenyum kecil saat melihat pipi Amara bersemu merah.
__ADS_1
"Liciknya banyak," gumam Amara sambil mengalihkan tatapan dari Bian dan menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.
Dia melepas jarum dari kerudungnya di bawah dagu, butuh udara segar saat melihat senyum Bian yang terkadang membuat ruangan terasa semakin sempit.
"Kamu cantik kalau lagi nervous," puji Bian bangga, lalu mencondongkan wajah dan mendaratkan kecupan di alis istrinya. "Satu-satunya alasan yang bikin aku nggak mau ribut, bukan karena aku risih sama sikap kamu yang sering bahas itu-itu aja. Tapi aku nggak tahan lihat kamu ujung-ujungnya nangis atau sedih. Ditambah lagi, Sekarang kamu lagi hamil. Kata dokter jangan terlalu stress."
"Kamunya yang bikin aku stress," gerutu Amara ketika Bian menghujani wajahnya dengan kecupan-kecupan penuh kasih sayang. "Udah bagus usaha villa, kenapa malah ke hotel dan kerjasama sama Tiara. Berarti setiap kamu pergi ke hotel, kamu ketemu sama dia kan?"
Bian ingin menyebutkan kata 'sayang' seperti yang biasa dia lakukan. Namun, dia tak ingin Amara akan kembali melayangkan protes dengan ekspresi yang begitu ngeri.
"Nggak, Bunda ...," kata Bian yang menjaga suaranya agar tetap tenang. "Awalnya aku kira si Bahtiar punya cukup uang buat investasi saat nawarin aku join. Dua bulan pertama itu aku fokus sama dia urus berbagai prosedur. Nah, waktu minggu kemarin saat terakhir kali ketemu, aku juga kaget kenapa Bahtiar bawa Tiara. Akhirnya aku paham setelah dia kasih tau kalau uang yang di-invest Bahtiar cuma 30 M. Selebihnya punya Tiara—"
"Aku nggak seneng kalau kamu sering-sering ketemu dia," keluh Amara blak-blakan. "Bisa nggak sih kamu batalin aja investasinya?"
"Nggak bisa. Udah jalan dua bulan ini, Ra." Suara Bian sedikit rendah dan serba salah. "Say ..."
Ucapan Bian terputus ketika melihat Amara melotot dengan kesal. Lagi-lagi dia harus berusaha keras mengganti nama panggilan tersebut.
"Jadi, Bundaku tercinta, Istriku yang paling absurd ...," lanjut Bian dengan gemas. "Yang paling penting sekarang buat aku yaitu kamu dan anak-anak. Kamu harus percaya kalau aku nggak mikirin apa-apa lagi selain masa depan rumah tangga kita. Lagian, kayak yang sering kamu bilang ke aku kalau aku itu udah tua. Nggak mungkin aku neko-neko—"
"Beneran?" Amara memastikan dengan serius.
"Trust me, My angel ... please." Bian menyeringai lebar sambil mengangkat dua jemarinya membentuk huruf v.
"Kalau kamu macem-macem, aku bakal racunin kamu. Eh ... nggak! Aku mau r@cunin anak-anak dan bawa mereka mati bareng—"
"Ra, istighfar, hey! Kamu apaan sih ngomong kayak gitu?" Bian menarik Amara ke dalam pelukan, sadar bahwa istrinya kerap kali berbicara blak-blakan.
__ADS_1
Namun, dia sadar bahwa kalimat itu menunjukkan ultimatum penuh keputusasaan.
Jadi, dia menciumi puncak kepala Amara sambil bergumam menahan rasa takut. "Jangan ngomong gitu lagi. Kamu tau bener kalau aku butuh kalian."