Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 90


__ADS_3

Bahtiar masih mempertimbangkan apakah dia harus memberitahu Bian atau tidak. Setelah argumentasi tadi siang dengan Tiara dan mengetahui wanita itu bersikeras akan pergi besok pagi, akhirnya Bahtiar memutuskan untuk menelpon Bian selepas maghrib.


Butuh upaya keras bagi Bahtiar untuk mengumpulkan keberanian membahas tentang Tifany.


Ketika panggilan terhubung pada Bian, Bahtiar mendadak otaknya merasa kosong. Untaian kalimat yang sudah terkumpul dalam kepala sebelumnya seolah melebur begitu saja.


"Kenapa?" tanya Bian dari seberang panggilan ketika Bahtiar tak kunjung berbicara.


"Sibuk ente, Bung?" Akhirnya Bahtiar berhasil berbasa-basi.


Namun, sebelum Bian sempat menjawab, dari seberang panggilan terdengar suara istri Bian yang samar-samar berkata, "Kakak, ayo dong buka pintunya. Jangan ngambek terus, Sayang. Kakak belum makan loh dari siang. Buka pintunya, Kak."


Bahkan, Bahtiar bisa mendengar tangisan kecil bayi— yang dia yakini itu adalah suara Biandra. Lalu, terdengar lagi ketukan pintu yang cukup keras dan suara Amara yang tampaknya kembali membujuk Alif.


Hal yang tak pernah diduga oleh Bahtiar adalah, dalam otaknya tiba-tiba terngiang ucapan Bian sewaktu di kafe yang berkata dengan bangga, 'Namanya Amara Maisara. Harim gue sekaligus bundanya anak-anakku. Dan ngomong-ngomong, dia lagi hamil anak kedua.'


Kalimat yang diucapkan dengan penuh rasa bangga itu berhasil membuat tenggorokan Bahtiar seolah tercekik sesuatu. Bahtiar menoleh pada istri dan kedua anak lelakinya yang sedang asyik menonton televisi sambil menyantap camilan.


Sejauh ini, rumah tangga Bahtiar dengan Pinkan berjalan harmonis. Terutama ketika sang istri mengandung anak ketiga, yang dia harap akan melahirkan anak perempuan.


Dan sebagai seorang suami, dia tak akan rela jika melihat istri atau anaknya bersedih. Saat mengingat kembali bagaimana keharmonisan Bian dan Amara saat di kafe, Bahtiar sadar bahwa kabar yang akan dia sampaikan tentang Tifany pasti menciptakan riak-riak masalah dalam rumah tangga sahabatnya.


Dan sebagai sahabat Bian, Bahtiar bukan tidak tahu bahwa pria itu kurang beruntung dalam percintaan. Yang Bahtiar sadari setelah Tiara kembali dan memberitahunya bahwa Tifany anak Bian, saat itulah Bahtiar sadar mengapa Bian seolah terperangkap bertahun-tahun dalam masa lalu.


Namun, setelah melihat Bian tampak bahagia dengan istri dan anaknya, rasanya Bahtiar akan menjadi orang paling busuk jika menaburkan kerikil masalah ke dalam rumah tangga sahabatnya.


Memang, sejatinya setiap rumah tangga tak pernah luput dari masalah. Namun, sekarang Bahtiar berpikir bahwa dia tak ingin masalah yang mungkin dialami Bian disebabkan dari mulutnya.


Menjaga jalinan pertemanan agar tetap utuh bertahun-tahun bukanlah hal yang mudah. Dan Bahtiar tak ingin berspekulasi hubungan baiknya dengan Bian akan retak.


Hanya saja, dia juga tak bisa mengabaikan nuraninya yang terus merongrong untuk membantu Tiara dan anak gadis, yang jelas-jelas darah daging Bian.


"Hallo?" Suara Bian dari seberang panggilan berhasil menyeret Bahtiar kembali pada realita. "Lu masih di situ, Bung?"


"Oh, sorry," kata Bahtiar bingung. Dan tiba-tiba meyakinkan diri bahwa apa yang dikatakan Tiara memang benar, belum saatnya dia memberitahu Bian— mengingat pria itu baru beberapa bulan memiliki istri dan anak. "Ada waktu bentaran nggak? Ada yang mau ane omongin agak seriusan dikit."


"Tumben?" Suara Bian terdengar heran. "Biasanya kalau mau ngomong sesuatu tinggal ngomong doang. Ada apaan?"


Bahtiar mengembuskan napas panjang sebelum berkata, "Tiara mau pergi besok pagi."


"Biasanya kalian emang nggak pernah lama kan di sini?"


"Maksudnya bukan gitu, Bung," sahut Bahtiar sambil berjalan menuju balkon kamar. "Dia mau pergi ke Batam, dan kayaknya mau tinggal di sana."


"Lalu?" Bian menganggapi dengan tenang.


Terjadi keheningan sejenak, kemudian Bian seolah-olah baru sadar sesuatu.


"Oh, sorry ... sorry, gue agak gagal fokus." Terdengar kekehan kecil dari Bian. "Terus masalah invest dan profit gimana kalau dia pergi?"

__ADS_1


Akhirnya Bahtiar bisa bernapas lega ketika Bian menemukan topik pembicaraan yang tak terpikir oleh Bahtiar.


"Nah, itu yang mau ane bahas," kata Bahtiar yang berkonsentrasi dan berusaha keras agar tidak keceplosan membahas Tifany. "Maksudnya gini, Bung. Bisnis ini kan emang pada dasarnya ada di sini, terus pengalaman bisnis ane sama Tiara di bidang akomodasi ini kan terbatas banget, beda jauh sama ente yang sepak terjangnya memang di bidang akomodasi. Jadi ...."


Jauh dari Bahtiar, Bian mendengarkan dengan serius ketika sahabatnya menjelaskan perubahan perjanjian keuntungan yang akan mereka dapat— berhubung Tiara akan pergi, dan jelas tak terlibat langsung dalam invest mereka.


Sesekali alis Bian berkerut ketika menukas ucapan Bahtiar, tetapi kemudian kembali serius ketika Bahtiar berbicara lagi.


"Ya udah, asal dianya ngerti kalau profit Ayudi's Hotel bisa kita dapatkan tiap akhir tahun," Bian menjelaskan. "Setelah sepuluh tahun perjanjian, ke depannya kan keputusan ada di tangan dia mau perpanjang invest atau mau diambil aja itu saham."


"Iya, ane udah jelasin sama dia," kata Bahtiar, lalu terdiam sejenak seolah ada hal lain yang perlu dibicarakan. "Dia ngerti kalau saham utama nggak akan balik sebelum tempo perjanjian berakhir."


"Lalu?"


"Ya nggak ada sih, udah gitu aja berarti ..." Bahtiar menggantung ucapannya, dan Bian tahu masih ada hal yang perlu dia katakan.


"Lu kalau mau ada yang mau dibahas lagi, ya udah tinggal ngomong," desak Bian. "Istri gue udah manggil-manggil ngajakin makan malem."


Tarikan napas Bahtiar terdengar sedikit berat. "Bung, sekarang ada duit nganggur nggak?"


"Hah?" Bian tergelak tawa mendengar ucapan Bahtiar kali ini. "Berapa?"


Yang Bian tak tahu, Bahtiar hanya berupaya untuk membekali Tiara dan memastikan bahwa wanita itu dan Tifany akan aman di perantauan. Jika lidah Bahtiar tak mampu memberitahu Bian yang sebenarnya, setidaknya dia berpikir Tiara dan anak Bian tak kekurangan suatu apa pun.


"100—"


"100 atau 300jt!" Suara Bahtiar dari seberang panggilan terdengar jengkel. "Ada masalah urgent nih, sekalian buat pegangan lahiran bini ane. Kan ente tau semua tabungan ane udah di-invest."


"Anjir! Mana ada duit segitu?" Bian nyaris tersedak mendengar nominal yang disebut Bahtiar. "Nggak ada. Telat lu ah. Seminggu lalu baru beliin mobil buat harim gue. Tapi nanti gue liat dulu keuangan kafe, kalau ada gue kabarin."


"Oke, thanks, Bung!"


Lalu, Bian mengakhiri panggilan yang berlangsung selama lebih dari dua puluh menit, dan segera menghampiri istri dan anaknya di meja makan.


"Kamu teleponan sama siapa sih?" tanya Amara ketika Bian baru saja duduk di kursi yang berdampingan dengan Alif. "Kebiasaan suka ngulur-ngulur waktu makan. Nelpon cewek, ya?"


"Bahtiar, Ra," kata Bian singkat. "Cewek dari mana sih? Keluyuran aja nggak pernah."


Bian menoleh sekilas pada Alif yang masih tampak murung setelah dia terpaksa menjelaskan pada anak itu, bahwa bukanlah ayah kandungnya.


Bukan hal mudah bagi Bian untuk mengatakan hal itu dan kembali memberikan pukulan mental kedua kali pada anak lelakinya. Tak heran jika anak itu mengurung dirinya dalam kamar hampir seharian.


Sewaktu Bian memberitahu Alif bahwa Yuanita bukan ibu kandungnya, Bian kesulitan untuk menangani Alif yang tenggelam berlarut-larut dalam kesedihan.


Namun, dia tak tahu kenapa Alif bisa melunak di tangan Amara. Mungkin istrinya itu memiliki seribu satu cara yang tidak diketahui Bian untuk menghibur Alif. Tak heran kenapa Bian menyebut istrinya sebagai malaikat tanpa sayap.


Di balik sikapnya yang terkadang memiliki cakar tajam, dan ucapannya yang cenderung menyakitkan seperti ular berbisa, tetapi Bian tak bisa memungkiri ada hati selembut sutra di balik kegarangan sang istri.


"Bahtiar apa Tiara?" Kecurigaan yang mewarnai suara Amara membuat Bian langsung menoleh sambil tertawa terkekeh-kekeh.

__ADS_1


"Bahtiar, Ra ... nanti kamu periksa aja histori panggilannya kalau nggak percaya—"


"Bisa aja kontak Tiara dinamain cowok, iya 'kan?" tukas Amara sambil cemberut ketika menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piring suaminya. "Cowok kan biasanya gitu, nama Tina dinamain Toni, Winda dinamain Wandi—"


"Ra, jangan mulai, Ra," pungkas Bian sambil tertawa geli. "Kamu kayak yang pernah aja jadi cowok, sampai tahu detail itu sifat-sifat—"


"Emang bener 'kan kalian kaum adam emang pandai bersandiwara?" sahut Amara yakin.


Bian hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa samar, dan mulai fokus menikmati makanan yang disajikan istrinya.


Melihat Amara tampak kerepotan makan sambil memangku Biandra di pahanya, Bian lebih dulu memisahkan duri dari ikan bakar dan memindahkan ke piring istrinya agar lebih mudah.


Amara menyeringai lebar dan menoleh pada Bian, lalu mengerucutkan bibir membentuk ciuman dan berkata, "Makasih suamiku. Kamu emang pengertian banget jadi suami."


"Tentu," kata Bian sombong.


"Ngomong-ngomong," lanjut Amara enteng. "Kalian bahas apaan sih? Emang tadi siang nggak selesai itu ngobrol panjang lebar waktu di bawah?"


Bian tak menceritakan bahwa Bahtiar memberitahu Tiara akan pergi. Lagi pula, dia memang tak merasa hal itu perlu dibahas.


"Mau minjem duit buat istrinya lahiran, sekaligus lagi ada masalah darurat katanya," ungkap Bian dan sekali lagi memilah duri ikan untuk Alif. "Tapi aku lagi nggak ada, tabungan terakhir abis kemarin—"


"Buat lahiran?" Amara menukas, lalu terdiam sejenak seolah tak tega saat mendengar jika hal itu berkaitan dengan urusan seorang istri. "Berapa dia mau minjemnya?"


Bian menjelaskan nominal yang dibutuhkan Bahtiar, lalu dia kembali terdiam. Tiba-tiba Amara berhenti makan, dan beranjak dari tempat duduk sambil membawa Biandra, berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan.


"Mau ke mana?" tanya Bian heran. "Makanan kamu belum abis udah ditinggal—"


"Bentaran."


Bian hanya mengernyit ketika istrinya masuk kamar tanpa menutup pintu, tak lama kemudian Amara kembali dan melanjutkan makan.


Namun, dia terlebih dulu meletakkan kartu ATM di samping piring Bian dan membuat suaminya langsung bertanya, "Apaan ini?"


"Itu tabunganku tiga bulan terakhir ini. Kalau nggak salah ada 35jt," kata Amara sambil membenarkan Biandra di pangkuannya. "Kasian Bahtiar kalau emang lagi butuh uang. Sisanya kamu nyari aja tambahanny."


Bian terdiam sejenak dan mengamati Amara dengan bangga dan tak menduga.


"Sayang," kata Bian menatap Amara dengan lembut, terharu dengan sikap istrinya, sekaligus bingung bagaimana Amara bisa mengatur uang belanja yang dia berikan. "Kamu nabung dari ... mm, ada yang pengen kamu beli?"


"Nggak, apa lagi yang aku butuhin? Semua keperluan kan udah kamu penuhin, makanya aku bisa tabung sisa uang belanjaku," sahut Amara yang kemudian melahap makanannya lagi. "Rencananya kalau uang udah cukup mau berangkatin bapak sama ibu umroh, tapi masih jauh kayak—"


"Kok nggak bilang-bilang aku sih?" pungkas Bian yang sekali lagi dibuat takjub oleh keinginan istrinya. "Kan kamu bisa ngomong kalau emang pengen—"


"Masa harus terus-terusan bilang ke kamu kalau aku pengen apa-apa?" gerutu Amara. "Malu kali harus ngomong terus sama—"


"Kan aku suami kamu, Ra," bisik Bian. "Lagian yang kamu pengen kan bukan hal yang—"


"Udah deh, kamu kasih dulu aja sama Bahtiar. Kasian dia kalau emang lagi butuh duit."

__ADS_1


__ADS_2