
Tepat pukul satu siang di mana terik matahari terasa begitu menyengat kulit, Amara dan Bian berjalan keluar gedung rumah sakit menuju parkiran.
Jika saja bukan karena harus membawa Biandra pergi imunisasi, mungkin Amara akan memilih untuk bergelung malas di tempat tidur.
Terutama setelah mereka melewatkan malam penuh gairah, disusul pagi harinya di mana Bian menghabiskan hampir satu jam untuk menuntaskan h@sr@tnya yang berapi-api.
Jadi, tak heran jika sejak tadi Amara merasakan lututnya masih gemetaran. Bahkan, dia membiarkan Bian menggendong Biandra selagi menunggu antrian, masuk ke ruang dokter dan melewati serangkaian pemeriksaan bagaimana tumbuh kembang putri mereka, hingga mengantri untuk menunggu obat dan menyelesaikan administrasi pembayaran— Amara hampir tak menggendong Biandra.
Kecuali membuatkan susu ketika Biandra sudah kehausan.
Untungnya Bian sadar bahwa Amara tampak kelelahan karena perbuatannya yang tak memberi ampun— meski Amara sudah menyerah karena mencapai puncak berkali-kali.
Tak heran juga jika Bian kini tampak memanjakan istrinya. Dia tahu benar bahwa yang dibutuhkan sang istri adalah bermalas-malasan setelah dia menguras habis energi istrinya.
Bahkan, Bian tak keberatan juga jika dia harus menyetir sambil memerhatikan Biandra yang dibaringkan dalam car seat di kursi samping kemudi, karena Amara memilih untuk masuk ke kursi belakang dan berbaring meringkuk di sana.
Namun, ketika Bian baru saja mengemudikan mobil keluar parkiran rumah sakit, Amara tiba-tiba terperanjat sekali duduk dan mencondongkan tubuh ke depan sambil berseru, "Om, berenti dulu di depan!"
"Ada apa?" Bian memperlambat laju mobil dan menepi ke bahu jalan.
"Ada tukang batagor Bandung yang cuma jualan di rumah sakit ini doang," kata Amara ceria. "Buruan berenti!"
Bian tertawa geli saat Amara mengguncang bahunya dengan tak sabaran, meminta dia menghentikan mobil di jarak sepuluh meter dari area warung tenda.
"Batagornya enak nggak, Yank?" tanya Bian ketika melihat Amara merapikan jilbab putihnya sambil bercermin di spion mobil. "Itu orang yang ngumpul di sana lagi pada antri batagor?"
Amara meniup sudut kerudung di atas dahi, hal yang tidak Bian mengerti apa tujuan dari dia melakukan itu.
Sambil menusukkan jarum di bawah dagu dengan hati-hati, Amara menjelaskan dengan nada ceria, "Nih, yah, kalau Om cari istri yang taunya cuma barang-barang branded dan nguras uang kamu yang nggak abis-abis, aku mundur sekarang juga. Tapi kalau Om cari istri yang tau tempat jajanan murah dan enak, aku maju paling depan. Waktu aku hamil Biandra aku sering beli batagor itu, nggak heran liat mereka antri. Batagornya emang enak, kok."
Bian tak bisa untuk tidak tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Amara. Istrinya itu memang paling tahu bagaimana cara membuat Bian tertawa dengan semua tingkah dan cara bicara Amara yang apa adanya.
"Mau beli berapa bungkus?" tanya Bian sambil mematikan mesin mobil dan menurunkan kaca jendela, dia tahu dirinya harus turun dan mengantri untuk mendapatkan apa yang diinginkan istrinya.
Amara mencondongkan tubuh ke depan dan mencium pipi Bian. "Aku aja yang turun, kamu nggak tau soalnya seberapa banyak sambel yang aku mau."
"Jangan pedas-pedas, nanti—"
"Aku udah nggak ngasih ASI ke Biandra, jadi bisa bebas makan apa aja," pungkas Amara sambil mengecup pipi Bian sekali lagi sebelum turun dari mobil. "Aku mau pesenin buat kamu sama Alif sekalian, ya?"
"Nggak usah, buat Alif aja. Aku nggak suka—"
"Kamu cuma nggak suka pedes, belum tentu kamu nggak suka makanan ini. Dan aku nggak mau kalau nanti kamu nyobain terus akhirnya batagorku abis sama kamu."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Bian, Amara langsung turun dari mobil dan menutup pintu. Bian menggelengkan kepala sambil terkekeh-kekeh, lalu mengamati Amara berjalan dan bergabung dalam sekumpulan orang di depan pedagang kaki lima itu.
Bian sadar, Amara terlalu banyak memiliki perbedaan di antara wanita-wanita yang pernah bersama Bian— yang cenderung bersikap jaim, gengsi— dan mau dilayani tanpa balas melayani.
Namun, Amara tidak. Istrinya itu bukan tipikal orang yang tidak menghargai orang yang berbuat baik padanya, dia sadar hal itu.
Menyenangkan rasanya saat semua perhatian yang Bian curahkan padanya berbalas lebih besar dari wanita itu. Jika Bian memberikan rembulan untuk Amara, Bian bahkan tahu bahwa Amara akan memberikan surga beserta seluruh kebahagiaannya untuk Bian.
Tak sia-sia dia bertahan dengan sikap kasar dan betapa keras kepalanya Amara— jika pada akhirnya dia mendapat limpahan kasih sayang yang lebih besar.
Bian masih memikirkan betapa beruntungnya dia memiliki wanita seperti Amara, hingga tak sadar sekumpulan orang di sana sudah berangsur berkurang. Lalu, dering ponsel berhasil membayarkan lamunan Bian, dia merogoh ponsel blackberry Gemin milik Amara dari saku celana.
Kemudian wajahnya berkerut suram ketika membaca nama 'Kang Jagal'.
Sialan, Bian tahu bahwa Amara menyimpan nomor kontaknya dengan nama seperti itu, dan Bian tak ingin menggantinya sendiri. Biarkan saja Amara menamai apa yang dia inginkan— meski Bian tak tahu alasan kenapa Amara menyebutnya 'kang Jagal'.
"Ya, kenapa?" tanya Bian sambil menatap ke depan, Amara sudah tak ada dalam sekumpulan orang di sana.
"Om, aku lupa bawa dompet," kata Amara dari seberang panggilan, bersahutan dengan kebisingan mobil-mobil yang melintas, orang saling berbicara, dan Bian melihat wanita itu muncul sambil melambaikan tangan ke arah mobilnya. "Kamu turun ke sini, bawain uangnya. Aku udah pesen, takutnya nanti antrianku diserobot orang. Tadinya aku mau traktir Om makan batagor, tapi sekarang traktirnya pake uang Om dulu aja, ya? Cuma lima belas ribuan kok seporsi."
Bian hanya mengembuskan napas, geli dengan apa yang dikatakan Amara. Wanitanya itu memang terlalu berhemat dan lupa bahwa Bian tak mungkin mempermasalahkan uang, terutama jika nominalnya bahkan sekecil itu.
"Untung sayang," gumam Bian geli.
Bian menoleh sekilas pada Biandra, memastikan bahwa bayinya tak akan bergerak berlebihan, dan Bian tahu benar car seat itu sudah terikat— sehingga Biandra tak mungkin terjatuh.
Amara tampak bercakap-cakap dengan wanita seusianya yang juga menunggu antrian.
Ketika Bian tiba di hadapan mereka dan mengulurkan dompet pada Amara, wanita di samping Amara menatap takjub pada Bian— mengamati sosoknya yang bertubuh tinggi dan terlihat santai dalam balutan polo shirt putih yang dipadu jeans di bawah lutut.
Masih sambil menatap Bian tanpa berkedip, wanita itu bertanya pada Amara, "Ini Om-nya, Teh? Mukanya nyegerin banget, kayak sprite. Boleh dong dikenalin? Aku masih single lho."
Bian menahan tawa ketika melihat Amara langsung memberengut masam.
"Kenapa ke sini sih?" desis Amara sambil menyambar dompet yang diberikan Bian. "Nggak sadar apa kalau kamu itu selalu narik perhatian para cewek?!"
Bian tak tahu harus berkata apa mendengar pertanyaan Amara. Tak heran jika terkadang Bian terlalu gemas hingga ingin menggigit Amara, lagi dan lagi.
"Perlu aku yang gantiin antrian kamu?" Bian tersenyum jahil, menggoda Amara yang kini pipinya semakin memerah. Dia tahu, istrinya tak senang jika ada wanita lain yang meliriknya. "Kasian kamunya pegel berdiri di sini. Mending kamu nunggu di mobil temenin anak kita, Istriku tercinta."
Bibir Amara seketika tersenyum lebar, sadar bahwa Bian secara tak langsung menghindari guyonan wanita di samping Amara. Jadi, tak heran jika sekarang wanita di samping Amara itu langsung tercengang.
Amara dengan senang hati menarik tangan Bian. "Boleh antri, tapi berdua sama aku. Kamu bahaya soalnya kalau dibiarin kelayaban sendirian. Lagi musim selingkuh soalnya sekarang."
__ADS_1
Bian lagi-lagi hanya terkekeh geli sambil menggandeng tangan Amara, lalu bergumam, "Makanya, aku bilang berenti manggil Om. Tunjukin dong bukti kepemilikan kamu, kasih tau mereka kalau aku cuma milik kamu. Suami kamu."
Amara tersenyum lebar, hatinya meletup-letup diselimuti kebahagiaan. Jadi, dia merangkul lengan Bian dengan posesif sambil berkata, "Suamiku, aku sayang kamu banyak-banyak."
Lalu pipi Amara terasa panas ketika beberapa orang menoleh ke arahnya. Bagaimana mungkin dia bisa spontan mengatakan hal itu dengan suara keras? Memalukan!
Akhirnya mereka selesai mengantre dan membawa tiga porsi batagor dalam styrofoam, meski Amara sedikit malu ketika lagi-lagi menjadi pusat perhatian.
Namun, dia bisa bernapas lega ketika mereka kembali ke dalam mobil.
"Lain kali kalau mau keluar kamu pake masker, pake topi, pake apa aja yang bisa ngembunyiin wajah kamu," keluh Amara ketika Bian mulai menyalakan mobil.
"Udahan atuh cemburunya, Ra," kata Bian sambil tersenyum dan memanuver persneling. "Nggak capek apa dari kemarin cemburu kayak gitu terus?"
"Salah sendiri kenapa kamunya ganteng!" gerutu Amara sambil membuka salah satu batagor miliknya, dan Bian hanya bisa mengembuskan napas tak berdaya.
"Ra, aku kasih tau, ya ... cari suami itu mending yang ganteng dan tajir sekalian," ujar Bian dengan tenang. "Minimali, kalau ke depannya cowok itu nyakitin hati kamu, seenggaknya mata kamu nggak sakit-sakit banget liat tampangnya yang pas-pasan, banyak tingkah pula."
Amara hampir tersedak batagor yang sedang dia kunyah mendengar ucapan Bian. "Emang kamu ada rencana mau nyakitin aku?" tanya Amara galak.
"Nggak, Sayang, nggak," ujar Bian penuh sesal. "Maksudnya—"
"Maksudnya kamu mau bilang kalau aku beruntung dapetin suami yang ganteng dan tajir kayak kamu? Gitu?"
"Bukan aku yang bilang," kata Bian enteng.
"Tapi aku sadar kamu emang ganteng dan tajir, kok," Amara mengakui tanpa malu-malu. "Makanya aku takut kamu digoda cewek lain. Apa lagi si Tiara masih nunggu kamu. Belum lagi barusan cewek itu terang-terangan mau kenalan sama kamu pas nyangka kalau kamu Om aku. Jadi, aku bilang kamu itu bahaya kalau keluar tanpa aku."
Bian baru saja akan membuka mulut ketika mendengar ponselnya berdering. Amara tampak mengulurkan tangan meraih ponsel, lalu melihat nama kakak Bian muncul di layar ponsel.
"Kakak kamu," kata Amara sambil mengulurkan tangan dan memberikan ponselnya pada Bian.
"Kamu jawab aja, loudspeaker."
Jadi, Amara langsung menuruti apa yang dikatakan Bian dan memegangi ponsel tersebut. Lalu, terdengar suara Mirna yang tampak cemas saat memberitahu, "Kamu masih di mana?"
"Di jalan pulang. Kenapa?"
"Si Alif nggak ada di sekolahan, udah dicari ke sana ke sini nggak ketemu."
"Kok bisa nggak ada sih, Ni?" tegur Bian serius. "Kamu baru jemput dia sekarang? Udah jam satu lewat lho ini."
"Eh, aku ke sekolah jam setengah sebelas," Mirna menjelaskan dari seberang panggilan. "Tapi nggak tau kalau sekarang lagi UKK, jadi pulangnya lebih awal lima belas menit. Aku sama Dika udah mencar ke temen-temen kelas Alif, nggak ada yang liat Alif katanya."
__ADS_1
Bian mengembuskan napas gusar. "Cari lagi sampe ketemu! Itu anak nggak biasanya pergi-pergi gitu aja kalau aku belum jemput."
"Eh, ini udah muter-muter ke sana ke sini. Tetep aja si Alif nggak ketemu. Harus nyari ke mana lagi coba?"