Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 76


__ADS_3

Meski semalam terjadi kekacauan di kafe, tetapi bukan berarti Bian dan Amara tak berencana membuka kafenya hari ini.


Seperti yang biasa dilakukan Bian sebelum kafe buka, pria itu turun lebih awal untuk memimpin briefing.


Bagi Bian, briefing singkat sebelum memulai pekerjaan di kafe sangat penting dilakukan sebagai tumpuan atau forum di mana dia bisa memberikan pengarahan, masukkan, motivasi, informasi, bahkan bertanya dan diskusi bersama para karyawan tentang hal-hal yang dianggap perlu dilakukan demi kelancaran operasional kafe.


Sehubungan dengan insiden penganiayaan yang terjadi semalam, Bian pun mengingatkan pada sebelas orang pekerjanya agar tak langsung melibatkan Amara jika menemukan tamu yang berbuat onar.


"Kalian kan bisa lapor dulu ke captain waiter, atau ke Dika di ruang operator," Bian menambahkan dengan santai. "Jangan sampe kejadian kayak semalem terulang lagi."


"Masalahnya, Pak, semalem itu captain waiter-nya pergi sama bang Dika," Tari menjelaskan. "Saya juga kepaksa minta Eka laporan ke si Ibu karena selain nyiram saya pake jus, tamu itu juga ngancem mau nampar saya kalau nggak manggil yang punya kafe."


"Bener, Pak," karyawan lain menambahkan, "Kita kan mana tau kalau orang itu emang mau nyari masalah. Padahal saya sama Eka juga udah nyoba nemuin dan jelasin kalau yang punya kafe nggak bisa turun. Eh, tamunya malah ngotot mau ngacak-ngacak kafe."


Kemudian, Bian mendengar seluruh aduan para pegawainya satu persatu tentang berbagai keluhan yang mereka hadapi yang membuat mereka terpaksa melapor pada Amara.


"Terus, waktu si ibu tiba-tiba turun," tutur karyawan lainnya. "Tamu itu tiba-tiba naik ke panggung dan bikin pengumuman. Bahkan, si Ibu itu nggak ada instruksi kita harus ngapain. Dia cuma nyuruh kita ngeluarin tamu yang bawa anak kecil. Selanjutnya, yah ... langsung ribut kayak gitu. Kan kita bingung pas tau ternyata orang yang bersangkutan itu ternyata mantan istri Bapak. Jadinya kita cuma bisa diem."


Bian tersenyum geli mendengar aduan mereka, mengerti situasi semalam memang tak memungkinkan mereka berbuat sesuatu.


"Iya, yang semalem kan udah kejadian," kata Bian tenang. "Tapi, maksud saya, kedepannya kalau nemuin lagi tamu yang kayak gitu baik pria atau pun wanita, jangan libatkan lagi si Ibu kalau saya lagi nggak ada. Kalau emang tamunya rese banget dan situasinya memang menyulitkan, kalian bisa telepon saya atau usir aja tamunya langsung."


"Nah, Pak, kalau kita ngusir tamu yang rese kayak gitu," kata Eka dengan polos. "Nanti kita dipecat nggak, Pak?"


Bian menahan tawa tercekik mendengar pertanyaan adik iparnya. Eka dan Amara memiliki terlalu banyak kesamaan. Tak heran mereka adalah kakak beradik. Kedua wanita itu memiliki kecenderungan untuk memikirkan konsekuensi dan resiko jangka panjang.


"Kalau tamunya emang rese banget, langsung usir aja nggak apa-apa. Nggak akan bikin kalian dipecat tanpa alasan," ujar Bian sekali lagi dengan menekankan setiap kata-katanya. "Bodoh kalau saya kehilangan para karyawan terbaik yang saya punya hanya karena demi satu orang tamu yang belum tentu nguntungin bagi saya."

__ADS_1


Ketika para karyawan tersenyum lebar, Bian mengangkat arloji dan mendapati briefing sudah berlalu selama hampir tiga puluh menit. Padahal, biasanya briefing itu hanya berjalan sekitar lima belas menit.


Jadi, Bian berdiri dari tempat duduk dan berkata, "Oke, itu aja dari saya. Selamat bekerja, teman-teman. Semangat!"


"Siap, Pak!" seru para karyawan serentak sebelum akhirnya bubar dan mengerjakan tugas masing-masing.


Ketika Bian baru saja naik ke lantai atas dan bergabung kembali dengan anak istrinya, Amara langsung mengeluh murung, "Lama amat sih briefing-nya, Ay? Biasanya juga nggak lebih dari lima belas menit."


Bian menghampiri Amara yang menggendong Biandra sambil membuat susu untuk anaknya. Bukannya menjawab pertanyaan Amara, dia justru mengambil Biandra dari gendongan istrinya, tetapi mata Bian memindai wajah Amara yang tampak semakin redup.


Bahkan, dia bisa melihat bibir Amara sedikit pucat meski wanita itu sudah mengulas lipgloss. Lalu, Amara berbalik dan berjalan ke arah dispenser untuk menuang air panas ke dalam botol susu.


Hari ini Amara memang terlihat lebih lesu dari biasanya, dan Bian masih menduga itu disebabkan oleh kejadian semalam. Memang, akhir-akhir ini istrinya selalu bersikap lebih manja dan sedikit sensitif, tetapi hari ini Bian benar-benar sadar bahwa Amara memang tak biasa.


Amara berbalik dan menyerahkan botol susu pada Bian, lalu pria itu memasukkan dot ke dalam mulut Biandra dengan hati-hati. Posisi Bian berdiri sambil menggendong Biandra di lipatan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegangi botol susu. Jadi, dia tak bisa mengangkat dagu Amara untuk melihat raut wajah wanita itu, memastikan bahwa ada yang tak beres dengan istrinya.


"Sayang, biar Alif aja nanti yang beresin mainannya kalau dia udah selesai mandi," kata Bian lembut ketika melihat Amara menggigit bibir seolah menahan sakit. "Bisa nggak sehari aja cuek liat rumah berantakan—"


"Nggak enak diliatnya, nanti kamu nggak nyaman kalau di rumah berantakan," sahut Amara sambil membungkuk dan meraih mainan di bawah meja. "Ntar nyari kenyamanan di luar rumah. Gitu emang laki-laki, semua hal kecil di rumah bisa dijadikan alesan."


"Kamu gitu amat sih, Ra, mikirnya? Sirkuit otak kamu rusak karena jatoh semalem?" balas Bian sambil menatap Amara yang masih enggan berhenti beres-beres. "Dari pagi kamu ngajak ribut terus lho, Ra, sadar nggak?"


Barulah Amara menoleh dan menatap Bian dengan tak habis pikir. "Apanya yang ngajak ribut? Aku kan cuma jawab omongan kamu."


"Tapi yang aku omongin apa, kamu jawab ke mana," sahut Bian sedikit kesal. "Mana sinis banget lagi nada bicaranya. Aku ngomong baik-baik dari pagi, Ra, kamunya yang sensitif kebangetan hari ini. Aku cuma nyuruh kamu istirahat karena muka kamu pucet banget, Sayang. Kamunya malah nyolot bahas aku nggak nyaman lah, inilah, itulah. Mau kamu apa sih, Ra?"


Amara menelan gumpalan yang menyumbat kerongkongan. Dia menatap Bian dengan mata memerah dan berkabut, lalu meletakkan mainan di tangannya dan mengambil Biandra serta botol susu dari pangkuan Bian.

__ADS_1


"Kalau udah bosen sama aku ngomong aja," kata Amara sambil menelan air mata yang membuat tenggorokannya nyeri. "Nggak usah bentak-bentak kayak gitu. Dari semalem pas dateng kamu bentak aku, sekarang—"


"Siapa yang bentak kamu?" sahut Bian bingung. "Kamunya yang sensitif kebangetan dari bangun tidur. Semalem itu aku cuma khawatir sama kamu, bukan—"


Ucapkan Bian terputus ketika terdengar salah satu karyawannya yang berkata, "Pak, maaf, ada tamu yang nyariin Bapak di bawah."


Mengingat saat ini waktu baru saja menunjukkan pukul setengah sebelas, Bian tak bisa menebak siapa tamu yang datang mengunjunginya sepagi itu.


"Siapa?"


"Bahtiar sama Tiara katanya," si karyawan menjelaskan. "Tadi katanya udah nyoba nelpon Bapak buat ngabarin, kalau mereka lagi dalam perjalanan ke sini buat nuker mobil sekalian bahas hasil rapat semalam karena Bapak pulang duluan."


Sejak terakhir kali menerima telpon dari Yuanita tadi pagi, Bian memang langsung mematikan ponselnya karena tak ingin ada yang mengganggu. Dia meraih ponsel di atas meja di dekat Amara dan menyalakan ponsel, lalu melihat beberapa chat yang dikirim Bahtiar.


Isi pesan itu tepat seperti yang dijelaskan karyawannya. Jadi, Bian berkata, "Biar mereka tunggu dulu sekalian tolong siapin minum, Ya? Sebentar aku turun."


"Ya, Pak."


Mendengar nama Tiara disebut-sebut, Amara langsung menatap Bian dengan curiga setelah karyawannya beranjak turun.


"Tiara mantan kamu?" tebak Amara tanpa basa-basi.


"Iya ..."


"Oh, pantesan kamu bentak-bentak aku pas pulang. Keganggu, ya?" pungkas Amara sinis. "Padahal aku nggak minta kamu pulang—"


"Ya Alloh, Ra ... ini kamu mau bahas apa lagi?" Bian hampir saja kehabisan cara menghadapi sikap Amara. "Nggak ada hubungannya sama sekali dengan—"

__ADS_1


Bian tak berhasil menyelesaikan kalimatnya ketika Amara langsung masuk kamar dan menutup pintu keras-keras.


__ADS_2