Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 56


__ADS_3

Amara sedikit menyesali keputusannya setelah meminta pakaian terkutuk itu dari Bian. Dorongan rasa cemburu setelah membaca pesan Tiara membuat dia tak bisa berpikir jernih.


Sekarang, hampir dua jam dia berada di dalam kamar mandi— mondar-mandir sedikit gelisah sambil menggigit bibir.


Untuk keseribu kalinya Amara berbalik dan menghadap cermin, mengamati pantulan dirinya yang persis seorang seperti seorang wanita penggoda. Tak sia-sia Amara meminta Bian agar memanggil orang salon dan instruktur senam dua kali dalam seminggu ke villa.


Dulu Amara tak begitu pandai bermake up, tapi tentu saja dia tak asing dengan berbagai jenis make up look. Lima bulan menjadi seorang janda dan berprofesi sebagai biduan sekaligus 'kembang latar', hal itu mau tak mau membuat Amara terkadang dituntut untuk berpenampilan sedemikian rupa.


Sekarang, setelah hampir satu tahun dia tak mengenakan make up semenjak hamil hingga melahirkan, Amara sendiri terkejut dengan pantulan wajahnya pada cermin besar di hadapannya.


Bisa-bisanya dia bahkan menyapukan maskara yang begitu tebal hingga bulu matanya terlihat lebih lentik dan lebat. Bahkan, dia memalik celak mata dengan segaris eyeliner tipis, sehingga menimbulkan kesan dramatis.


Awalnya dia tak yakin memilih eyeshadow berwarna perunggu pada kelopak matanya yang terkadang tampak sayu. Kini, sapuan blush on nude juga seolah-olah membuat tulang pipi Amara tampak lebih tirus.


Dia menarik lembaran tisu dari kotaknya, tak yakin apakah Bian akan menyukai warna lipstik di bibirnya yang berwarna red wine dikombinasikan dengan coklat muda.


Amara baru saja akan menyeka lipstik tersebut ketika terdengar ketukan di pintu kamar mandi dan suara Bian yang terdengar cemas saat bertanya, "Ra, kamu nggak apa-apa 'kan?"


"Nggak!" Amara menelan ludah dengan susah payah. "Aku belum—"


"Aku masuk, ya? Kamu udah ampir dua jam lho di dalem. Ada apa sih sebenarnya?"


Amara melirik knop berputar sebelum akhirnya pintu berayun terbuka. Dia refleks menyambar handuk kimono putih yang menggantung sebelum Bian muncul, lalu memakainya terburu-buru sambil melompat masuk ke shower room.


Dari pantulan cermin, Bian mengernyit saat melihat Amara tampak kikuk. Wanita itu tampak menundukkan kepala sambil mengikat tali kimono, dan Bian tak tahu seberapa gugupnya Amara saat ini.


Sebenarnya, Bian tak benar-benar tahu kenapa dua jam lalu Amara meminta baju tidur tipis itu darinya.


Bian tak memungkiri bahwa dia ingin sekali segera bercinta dengan sang istri. Namun, cara Amara yang memintanya dengan jengkel membuat Bian sedikit janggal.


Lalu, setelah Bian memberikan lima set baju tidur dengan berbagai warna dan model agar Amara memilihnya sendiri, wanita itu langsung bergegas turun ke kamar di lantai bawah.


Bahkan, hingga Bian menemani Alif hingga tertidur saat pukul sepuluh, lalu membuat susu untuk Biandra, Amara masih tak kunjung kembali ke kamar mereka.


Jadi, tak heran jika dia semakin khawatir dan memutuskan untuk melihat apa yang terjadi pada istrinya.


Sambil berjalan menuju wastafel granit yang berhadapan dengan shower room, Bian melirik sekumpulan peralatan make up yang berantakan, catokan yang masih terhubung ke stopkontak, gumpalan-gumpalan tisu dengan bercak lipstik, dan kaus putih yang sebelumnya dipakai Amara kini melumuk di lantai.


"Jangan ke sini!" pekik Amara ketika Bian menoleh ke pintu shower room dan mendapati Amara tampak gelagapan di balik kaca es. "Nanti aku keluar kalau udah selesai."


Barulah saat itu Bian menyadari penampilan istrinya. Sambil tersenyum kecil dan memandang wajah cantik Amara, Bian melangkah masuk meski wanita itu memelotinya penuh ancaman.


"Kenapa marah-marah terus sih? Ada apa?" tanya Bian sambil mengulurkan tangan untuk menarik Amara mendekat.


Namun, wanita itu justru mendorong Bian keluar dari shower room sambil mendesis kesal, "Pikir aja sendiri!"


"Gimana bisa mikir kalau kamunya tiba-tiba marah kayak gini?" Bian menarik pergelangan tangan Amara mendekat, lalu mencubit dagunya agar wanita itu mendongak menatapnya.


Bian menatap manik mata Amara yang memerah terbakar amarah, dibingkai bulu mata lentik bersapu maskara. Sorot mata wanita itu tampak agresif dan membuat Bian semakin bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang membuat sang istri sedemikian marah?


"Kamu bilang sama aku, ada perjanjian apa kamu sama Tiara? Apa yang kalian bahas waktu ketemu malem itu?" Akhirnya Amara tak bisa menahan diri untuk tidak meluapkan kecemburuan yang menguasai hatinya.


Bian mengembuskan napas tak berdaya, lagi-lagi Tiara yang membuat Amara marah. "Dia nelpon?"


"Ya!" Suara Amara diwarnai napas yang tersendat-sendat. "Tiga kali dia nelpon, trus chat kamu minta hubungi dia. Dia bahkan nitip alamat apartemennya ke penjaga villa ..."


Amara menangkis tangan Bian dan meremas kaus pria itu, matanya terus mengunci sorot mata gelap Bian, sementara kecemburuan kian membakar seluruh hatinya hingga tubuhnya gemetar.


"Kamu bilang sama aku," lanjut Amara, sengaja menekankan setiap kata-katanya, "Kamu udah nyimpen alamat dia? Kamu mau ketemu dan balikan sama dia?"


"Nggak, Ra. Aku nggak pernah kepikiran buat balik ke dia. Kamu kenapa masih terjebak di masalah yang sama, Sayang?" Bian menyelipkan sebelah tangan ke tengkuk Amara. "Aku nggak mungkin balik ke dia. Dan aku bahkan nggak tahu kalau dia nitipin alamat. Percaya sama aku, Ra ..."


"Bohong!" Amara merajuk. "Kamu bahkan nggak pernah bilang kalau Tiara pernah ngehubungin kamu—"

__ADS_1


"Aku jujur tentang hadiah itu aja kamu marah sampe mau cerei," Suara Bian terdengar tak berdaya. "Kalau aku jujur lebih banyak lagi, aku nggak tau kamu akan seberapa marah."


"Ya, tapi kalau aku nggak sita hp kamu, kamu juga nggak akan ngasih tahu aku kan kalau Tiara hubungin kamu?"


"Ra, aku udah pernah bilang sama kamu, nggak semua hal harus kamu tahu kalau pada akhirnya cuma bakal jadi bibit penyakit pemikiran kamu—"


"Tapi aku harus tau sebesar apa kamu cinta aku, sejauh mana kamu udah lupain mantan-mantan kamu. Aku cuma takut kamu bakal berpaling dariku dan khianatin aku kalau kita lagi ada masalah."


Bian mengangkat alis dan menatap Amara dengan serius. Dia mengulurkan tangan dan membelai lembut pipi Amara. "Kamu pernah mikir nggak, apa aku punya alasan untuk khianatin dan berpaling dari kamu? Kamu cantik, kamu sempurna, kamu—"


"Akan selalu ada alasan bagi cowok buat selingkuh. Bahkan, walaupun lelaki udah punya istri yang membuat dia nyaman, kalau ada kesempatan dari wanita jenis Tiara ini yang katanya siap nunggu kamu buat balikan, lelaki itu pasti beralibi dari istrinya dengan berkata, 'aku emang nyaman sama istriku, tapi berada dengan kamu aku lebih nyaman'. Laki-laki selalu punya berjuta alasan untuk selingkuh, terutama jika ada kesempatan—"


"Dan aku nggak akan ngebiarin kesempatan itu masuk," tukas Bian dengan penuh percaya diri.


Amara menatap Bian lekat-lekat, mencoba untuk mempercayai dan memegang kata-katanya.


"Tapi mantan istri kamu yang speknya kayak Aura kasih aja masih kamu khianati, terus gimana sama aku yang—"


"Berenti ngerasa diri paling kecil," tegur Bian sambil menarik Amara ke dalam pelukan. "Kamu wanita satu-satunya yang aku dapetin dengan cara paksa. Kamu wanita satu-satunya yang bikin hidupku terasa lebih hidup, dan kalau kamu mau tau seberapa besar aku cinta kamu— biar aku kasih tau sekarang."


Lalu, kemudian Bian mengangkat pinggang Amara, menggendong wanita itu hingga Amara membelitkan kedua kaki dipinggang Bian.


Sambil berjalan keluar dari kamar mandi, Bian mengecup kepala Amara yang membenamkan wajah di bahunya, sementara Amara berpegangan melingkari leher Bian dengan kedua tangannya.


Bian menelan ludah dengan susah payah sewaktu membaringkan Amara di tempat tidur.


Wanita itu menarik tali kimono hingga menampilkan pakaian tidur transparan berwarna hitam.


Kulit Amara tampak bercahaya di bawah sinar lampu kamar, dan hal itu membuat tenggorokan Bian semakin terasa kering.


Lingerie tersebut didesain agar Amara tak mengenakan bra, sehingga Bian bisa melihat pay*dara Amara yang menyembul tampak mengencangkan.


"Kamu cantik," kata Bian serak.


Kecupan yang awalnya dimulai dengan lembut, perlahan berubah menjadi menuntut. Amara membuka bibirnya, membiarkan lidah Bian menjelajahi setiap inci rongga mulut.


Pria itu mengerang setiap kali Amara membalas ciuman Bian dengan posesif, intens, dan perlahan berubah menggebu.


Amara merasakan letupan-letupan sensasi liar mulai menjalar ketika Bian menimpanya. Tangannya yang hangat menyentuh setiap inci kulit Amara yang panas karena desiran darah yang cepat.


Pria itu melepas tautan bibir mereka ketika napas Amara mulai terengah-engah. Lalu, kemudian bibirnya bergerilya di leher Amara. Desauan napas Bian yang semakin panas menjalari bahu Amara, melewati tali gaun yang begitu kecil sebelum akhirnya Bian menurunkan tali gaun tersebut. Membebaskan pay*dara Amara yang tak mengenakan bra, tubuh wanita itu menegang, pay*daranya terlihat semakin kencang.


Bian menunduk, memandanginya seperti macan kelaparan yang baru berhasil mendapatkan buruan.


"Istriku tersayang," kata Bian sambil mendekatkan bibirnya ke puncak pay*dara Amara, menciuminya dengan penuh dahaga hingga lidahnya yang hangat menjelajah berlama-lama di sana. "Kamu wanita tercantik yang pernah aku punya."


Lalu, Bian melanjutkan penjelajahan— memberikan sensasi menggelitik pada Amara hingga wanita itu menyentuh kepala Bian, menyelipkan jemari ke rambut pria itu dan meremasnya ketika Bian menggigit kecil— meninggalkan kissmark di beberapa tempat yang membuat Amara menggelinjang nikmat.


Seolah tak cukup hanya menyentuh tubuh Amara dengan tangannya, Bian memanjakan Amara dengan menciumi setiap inci tubuhnya dengan penuh pemujaan.


Bibir Bian perlahan menuruni pay*dara Amara, menyusuri perutnya dari balik gaun transparan dan berakhir di sana— di area istimewa milik Amara dan membuat tubuh wanita itu semakin tegang.


"Jangan dibuka gaunnya," kata Amara sambil menggigit bibir, sedikit tak percaya diri lagi ketika pria itu akan menarik lepas pakaian tersebut. "Ada strech mark di sana. Kamu nggak boleh liat, nanti ilfeel."


Bian mendongak menatap Amara, sadar bahwa istrinya kembali kehilangan kepercayaan diri. Namun, Bian berusaha meyakinkan Amara bahwa itu bukanlah masalah besar.


"Kamu wanita sempurna, Sayang," bisik Bian yang kemudian menarik lepas gaun tersebut.


Beberapa guratan merah tak membuat Bian terganggu. Dulu dia pernah melihat tubuh Amara yang begitu mulus, dan sadar bahwa guratan merah tersebut didapatkan Amara setelah mengandung Biandra.


Jadi, tak ada alasan bagi Bian untuk tidak mencintai Amara lebih banyak. Yang Bian tahu, dia harus membuat Amara kembali percaya diri seperti dulu. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah memuja dan memuji istrinya dengan segenap hati, mengapresiasi dan menegaskan bahwa Bian tak pernah menuntut hal sempurna, terutama hanya karena sedikit guratan spele.


Seolah tak ingin konsentrasi mereka terpecah, Bian menarik satu-satunya kain yang menutupi tubuh Amara bagian bawah. Mengentak lepas dalam satu tarikan, lalu kembali menunduk dan mencium area istimewa sang istri.

__ADS_1


Tubuh Amara semakin tegang, pinggulnya terangkat ketika Bian menyapukan lidahnya dengan gerakan sensual, memberikan sensasi liar asing yang tak pernah dia rasakan.


"Om ..." Satu erangan tertahan akhirnya lolos dari kerongkongan Amara ketika gerakan bibir dan lidah Bian semakin mendesak.


Amara mengangkat kepalanya, meremas rambut Bian ketika g@ir@hnya semakin meronta-ronta, meminta Bian segera menuntaskan h@sr@tnya. "Aku nggak tahan."


Desauan Amara membuat Bian kian antusias menciumi milik Amara, sengaja berlama-lama memainkan bibir di sana.


Amara memegang bahu Bian yang masih mengenakan pakaian lengkap, meminta pria itu mendekat karena dia butuh memeluknya.


Bian menjauhkan tubuh, meloloskan kaus dari atas kepala dengan gerakan cepat. Lalu melucuti celananya hingga tubuh mereka kini polos, tanpa sehelai benang pun yang menutupi.


Bian tak lantas memberikan apa yang Amara inginkan. Senang melihat wanita itu meronta-ronta dan meloloskan erangan penuh gairah. Gairah yang membuat Bian ingin sedikit bermain lebih lama dengan sang istri. Lagi pula, Bian tahu dirinya akan langsung meledak jika mereka langsung menyatu.


Jadi, dia memilih untuk memuaskan Amara terlebih dulu.


Bian kembali menindih Amara. Menopang tubuh dengan sebelah lengannya yang berotot. Dia menciumi bibir Amara dengan posesif dan intens, sementara tangannya kembali bermain-main di sana.


"Om ..." Sekali lagi Amara mendesau ketika Bian memasukkan satu jemari di sana, kedua pahanya semakin tegang hingga mampu menggigit telunjuk Bian di sana. "Aku nggak tahan ... pengen itu."


"Pengen apa, Sayang?" Bian menggoda Amara, sengaja bermain-main lebih lama dengan istrinya.


Letupan gairah di mata Bian kian berkobar saat melihat istrinya meronta di bawah kungkungannya. Dia suka melihat gerakan agresif Amara, gerakan liar yang membuat fantasi Bian semakin membabi buta.


Amara meremas bahu Bian yang tegap, sedikit mencakarnya karena dia tersiksa oleh hasrat yang semakin merongrong meminta dikeluarkan.


"Pengen itu, ih!" Amara menggertakkan gigi, ingin sekali memukul Bian karena pria itu tak kunjung menyatukan tubuh mereka. "Cepetan coba, Om."


Bian mengulum senyum ketika mencium bibir Amara. Sementara jemarinya bergerak semakin perlahan, membiarkan Amara tersiksa oleh kebutuhannya.


"Panggil dulu aku suami, bukan om," kata Bian sambil menciumi pipi Amara dan meloloskan erangan mendesak, sadar bahwa Bian sendiri juga ingin segera menyatu dengan istrinya.


Amara ingin sekali mencekik suaminya, sadar bahwa pria itu kini sedang mempermainkannya. Namun, Amara tak memedulikan hal itu, kebutuhan dan desakan gairah membuat dia tak malu bersikap melebihi seorang ******. Dia butuh menuntaskan g@ir@hnya.


"Suamiku, aku pengen itu," kata Amara akhirnya, mengalah karena tak tahan lagi ingin segera menyatu.


"Pengen apa, Cinta?" Tangan Bian berhenti bergerak di sana hingga bisa merasakan Amara kembali berdenyut.


"Pengen diituin ih, aku nggak tahan." Amara mencakar punggung Bian, meronta-ronta dan ingin sekali mengambil kendali.


"Teriak dulu yang keras, Sayang, aku kangen denger ******* kamu." Suara Bian semakin serak ketika Amara menggerakkan pinggulnya, membuat Bian ingin segera mengganti jarinya yang dijepit Amara dengan miliknya.


Amara merasakan kepalanya hampir meledak, jadi dia langsung berteriak penuh permohonan, "Suamiku, aku nggak tahan lagi, cepetan."


Bian tersenyum puas, lalu menarik lepas jarinya dan melebarkan kedua kaki Amara. Bian menahan napas, ketika mencoba menyatukan tubuh mereka— khawatir dirinya akan langsung meledak ketika berhasil menyatu.


Amara meremas bantal, terkejut ketika milik Bian terasa memenuhi tubuhnya, memberi kehangatan yang sudah terlalu lama tak dia rasakan.


Mata Bian menggelap ketika berhasil menerobos masuk dan menyatukan tubuh. Dia terdiam sejenak, mengambil napas banyak-banyak.


Namun, ketika Amara menggerakkan pinggulnya dengan tak sabaran, Bian langsung meremas bumper belakang Amara sambil mengerang, "Sayang, jangan dulu digerakin, aku bisa langsung meledak."


"Tapi aku nggak tahan, sama pengen—"


Ucapan Amara terputus ketika Bian tiba-tiba menciumnya dengan agresif, sementara tubuhnya bergerak cepat hingga Amara membelitkan kedua kaki di betis Bian.


Tanpa bisa dikendalikan, keduanya gencar berlomba-lomba mencapai satu tujuan— puncak kenikmatan. Desauan dan erangan lolos dari tenggorokan mereka ketika fokusnya sama-sama kian mengerucut.


Bian mendesakkan tubuh, ketika Amara memberikan denyut-denyut kebahagiaan yang menyeret Bian dan membuat dia tersesat dalam gelombang tak terlukiskan.


"Suamiku," Amara memekik ketika h@sr@t itu akhirnya meledak, "Aku cinta kamu."


"Aku juga cinta kamu, Ra." Bian mengerang penuh kemenangan saat meluruhkan gejolak terakhir, memenuhi tubuh Amara dengan h@sr@tnya yang bergelora. "Aku butuh kamu, butuh kamu ...." Sekali lagi Bian menghentak tubuh Amara sambil menger@ng nikmat, "Butuh kamu, Istriku."

__ADS_1


__ADS_2