Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 37


__ADS_3

Bian terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Amara. "Aku aja nggak ada yang gaji, Ra."


"Tapi itu kamu ngegaji tiga puluh orang karyawan," kata Amara sambil menunjuk list nama-nama segelintir orang sekeligus nominal dan bonus yang mereka dapatkan. "Aku minta gaji."


Bian tertohok geli melihat Amara menengadahkan tangan.


"Uang belanja yang aku kasih minggu lalu kurang, ya, Ra?" tanya Bian geli, sekaligus terkejut karena sebelumnya Amara tak pernah membahas masalah keuangan. Bahkan, dulu dia terkejut luar biasa saat dia memberikan sejumlah uang belanja bagi wanita itu.


"Dua belas juta di luar anggaran semua kebutuhan Biandra, nggak cukup, ya, Ra?" lanjut Bian dengan lembut, khawatir dia memang tak tahu apa saja yang dibutuhkan Amara. "Coba kamu kasih tau apa aja kebutuhan kamu yang aku nggak tau."


Amara memberengut, tampak berpikir sejenak. "Tapi itu mah uang belanja," kata Amara enteng. "Aku maunya sama gaji. Aku minta gajiku yang nggak kamu bayar."


"Sayang, kamu tau arti gaji?"


"Bayar orang yang kerja sama kita?"


"Yeps, tepatnya, upah kerja yang dibayar dalam jangka waktu yang tetap atau balas jasa yang diterima oleh pekerja dalam bentuk uang berdasarkan waktu tertentu," Bian menjelaskan dengan tenang. "Jadi, kalau kamu bahas-bahas minta gaji, aku nggak tau gaji apa yang kamu maksud. Aku nggak ngerasa pernah mempekerjakan kamu, atau ... mm, sebelumnya kita nggak pernah ada negosiasi atau perjanjian kerja yang—"


"Kata siapa aku nggak kerja?" Amara memungkas dengan galak. "Kamu punya utang banyak ke aku! Sekarang aku mau nagih semuanya."


"Utang?" Bian tertohok melihat ekspresi wajah Amara yang bersungguh-sungguh. "Ra, ini apaan lagi sih maksudnya? Udah bahas gaji, sekarang bahas utang? Aku pernah berurusan apa sampe kamu yakin bener aku punya utang? Ini kok kesannya aku kayak lagi berurusan sama rentenir?"


"Banyak, Om, banyak ..." Amara menaikkan dagu dan menatap Bian dengan angkuh.

__ADS_1


"Misalnya?" Bian menaikkan sebelah alis, mendesak penjelasan yang sama sekali tidak bisa dia pahami.


"Kan waktu itu kamu kasih aku sembilan juta, waktu kamu bilang mau pergi ke Bali sama istri dan anakmu selama sebelas hari, kamu janjinya mau luangin waktu seharian buat aku kalau udah pulang—"


"Ra, aku udah hampir dua minggu ini nemenin kamu seharian, masa kamu masih mau ungkit—"


"Dengerin dulu ih!" gerutu Amara kesal.


Jadi, Bian mengamati Amara sambil menahan sorot geli. Bian menatap Amara lekat-lekat sementara dia menanti untaian kalimat yang akan bergulir di bibir ranum istrinya.


"Nih, yah, dengerin ... Kalau sebelas hari kepergian kamu sama dengan satu hari buat aku, aku perkirakan waktu kita berpisah itu selama dua ratus dua puluh hari, yang artinya utang waktu kamu buat aku itu ada dua puluh hari ..."


Amara memeloti Bian ketika pria itu hampir menertawainya, dan saat Bian mengatupkan bibir, dia kembali melanjutkan, "Karena kita baru damai hari ini, jadi waktu kamu yang hampir dua minggu kemarin itu aku anggap hangus. Berarti utang kamu masih tetep dua puluh hari, yang kalau aku kalikan perharinya sembilan juta ... mm, bentar ... aku pinjem kalkulator—"


Bian mengulurkan ponsel dan mengamati Amara menjumlahkan angka-angka, tak lama kemudian Amara menyeringai lebar sambil menatap Bian.


Amara menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Belum lagi biaya kerugian yang kamu timbulkan saat nuduh aku penyakitan. Biaya test TORCH lengkap sampe hampir tiga juta, ongkos bolak balik ke laboratorium, imunisasi kehamilan perbulan ke puskesmas, beli es sama jajan aku selama perjalanan. Ditambah biaya baju-baju hamil, biaya upah pasang gas di rumah sama angkut galon waktu kamu nggak ada, yang kalau aku kalkulasikan semua totalnya jadi—"


Amara terdiam dan menatap Bian dengan sungguh-sungguh.


"Jadi berapa, Sayang?" tanya Bian yang tak tahan lagi untuk tertawa mendengar serangkaian penjelasan Amara.


"Utang kamu banyak," Amara mengerutkan alis. "Itung sendiri. Aku bego kalau urusan itung-itungan."

__ADS_1


Bian mengacak-acak rambut Amara dan menarik wanita itu ke dalam pelukan sambil berbisik, "Sejak kapan kamu jadi perhitungan? Aku masih inget pas pertama kali kita ketemu, uang lima ratus ribu aja masih kamu simpen diem-diem dua ratus ribu di saku jaketku."


Amara mendongak dan menatap Bian dengan serius. "Sejak aku tau kalau utang sebesar tiga puluh juta yang ditinggalin mantan suamiku di bank, ternyata harus dibayar sama harga diri, penderitaan, kekecewaan, air mata yang terbuang sia-sia, belum lagi biaya akumulasi dari rasa sakit karena merindukanmu."


Bian menangkupkan telapak tangan di pipi Amara, menatap ke kedalaman manik mata Amara setelah wanita itu selesai berbicara. Akhirnya dia mengerti, bukan uang yang sedang dibahas Amara, tetapi seberkas kekecewaan yang tampaknya masih melekat di dasar hati istrinya.


Bian tak banyak berkomentar, dia memilih beranjak dari tempat duduk dan mengulurkan tangan agar Amara berdiri.


Sejurus kemudian, pria itu menggendong Amara dalam sekali hentakan. Amara yang terkejut tentu saja langsung berpegangan dengan melingkarkan kedua tangan di leher pria itu.


Sambil melesat masuk melewati ruangan menuju kamar, Amara mendongak dan menatap Bian dengan ekspresi penuh tanya, "Jadi, kamu udah punya perkiraan berapa total utang yang harus kamu bayar? Utang kamu banyak 'kan?"


"Ya, kamu benar, utangku banyak. Sekarang ... uang aku, berarti uang kamu," kata Bian sambil membuka lebar pintu kamar dengan kakinya. "Jangan bahas-bahas uang lagi, karena semua yang aku punya sekarang cuma buat kamu. Bukan cuma tentang uang, tapi juga waktuku, hartaku, jiwaku, hatiku, cintaku, kasih sayangku, perhatianku, hidupku, dan napasku, semua buat kamu, Istriku."


Meski bibir Amara membentuk senyum kecil, tetapi matanya terasa pedas ketika melihat sorot mata Bian memancarkan kasih sayang tak terbantahkan.


"Beneran?" tanya Amara pelan ketika Bian membaringkan tubuhnya di tempat tidur. "Kamu nggak takut aku bakalan nyuri uang dan semua harta kamu, terus aku pergi?"


Bian tersenyum kecil ketika dia menyelimuti tubuh Amara sambil bergumam, "Yang aku takut bukan hartanya yang dicuri dan dibawa lari pergi, tapi takut kehilangan kamunya. Karena nyatanya, semua yang aku punya nggak bisa ngehibur aku saat kamu nggak ada, saat kita nggak bersama."


"Bohong," komentar Amara sambil menarik tangan Bian agar duduk di sampingnya. "Mustahil bisa sampe segitunya? Padahal, waktu yang kita lewati singkat banget. Seharusnya bukan aku yang bikin kamu kesepian. Bisa aja sosok itu Tiara, yang katanya hampir sepuluh tahun pacaran sama kamu. Atau Yuanita, yang jelas-jelas jadi temen hidup kamu selama sepuluh tahun. Aku kan nggak tau isi hati kamu kayak gimana?"


Bian tersenyum pahit sambil memegang tangan Amara, meremas jemari istrinya seolah tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan agar Amara percaya, bahwa yang dia katakan bukan dusta semata.

__ADS_1


"Nggak peduli seberapa lama mereka di sampingku," kata Bian akhirnya dengan ragu. "Faktanya, sesingkat apa pun kehadiran kamu dan kebersamaan kita dulu— semua nggak sebanding dengan orang-orang yang sekarang nggak ada di kehidupan aku. Yang nggak nemenin aku, yang nggak bisa aku miliki, yang nggak mau memilikiku, dan yang ..."


Bian membungkuk untuk dengan lembut mendaratkan kecupan di kening Amara sambil melanjutkan, "Dan anugrah terbesar yang nggak bisa mereka kasih ke aku, dan cuma kamu yang ngasih kebahagiaan itu. Kamu bertahan untuk ngandung anakku sendirian, di mana sebenarnya ada pilihan bagi kamu untuk g*g*rin dia. Tapi kamu milih bertahan di tengah badai meski aku nggak di sampingmu. Itu semua cukup jadi alasan kalau kamu punya tempat tersendiri di hatiku, yang nggak bisa dibandingin sama siapa pun. Percaya nggak?"


__ADS_2